Twince LA

Twince LA
Sudah Melewati Masa Kritis


__ADS_3

"Om, tante" panggil Angga kepada kedua orang tua Erlan.


"Ga" panggil mommy Erlan dengan memeluk tubuh Angga dengan sangat erat.


"Bagaimana dengan Erlan, tante?"


Tante menggeleng "semakin memburuk, Ga"


Angga semakin mengeratkan pelukannya kepada mommy Erlan ketika mendengar kabar yang tak ingin di dengarnya itu.


"Tante kuat ya, Angga yakin Erlan pasti bisa melewati ini semua" yakinnya.


Mommy Erlan mengangguk "iya Ga tante juga yakin kalau Erlan pasti kuat"


"Dimana nona Kia?" tanyanya.


"Sama Ardan" jawabnya dan diangguki oleh Angga.


Selama Kia bersama dengan Ardan, pasti Kia akan baik-baik saja, maka Angga tidak perlu begitu mengkhawatir tentang Kia.


"Nak" panggil daddy Erlan.


"Iya om"


"Bagaimana dengan Ivan?" tanyanya.


Daddy Erlan memang sangat tahu tentang keadaan Ivan, tentunya dari anak buahnya dan juga mommy Adin yang melihat itu.


"Membaik dad" jawabnya dan diangguki oleh daddy Erlan.


"Mommy daddy" teriak seorang wanita yang berpura-pura kuat padahal dirinya sangat rapuh, terlihat dari tatapan matanya yang penuh luka dan kesedihan.


Semua orang yang berada di depan ruang Erlan pun menoeh ke asal suara "sayang" panggil sang mommy sambil merentangkan tangannya untuk memeluk sang putri tercintanya, Tisha.


Ya yang datang adalah Tisha dengan rombongannya, "mommy" panggilnya lagi dan langsung mendekap kepada tubuh sang mommy yang masih terawat itu.


Walaupun mommy tak ikut pulang ke mansion, jangan salah, daddy Ardi sangat menjaga wanita tercintanya itu. Daddy Erlan sampai harus menyiapkan satu kamar untuk istri tercintanya daddy Ardi atas permintaan daddy Ardi. Sungguh cinta yang tak pernah luntur walaupun sudah berumur.


"Bagaimana keadaanya?" tanya Tisha kepada sang mommy dan mommy menggeleng lemah.


"Mom jangan seperti itu, mommy harus yakin kalau Abay aku itu kuat. Pasti akan kembali lagi, pasti akan membuka matanya" ucapnya dengan penuh senyuman.


"Aku mau masuk mom" pintanya kepada sang mommy, sang mommy yang mendengar hal itu melihat ke arah sang suami dan juga kepada daddy Erlan.


Seakan mengerti, keduanya menganggukkan kepalanya.


"Boleh nak, mau di antar siapa?" tanya sang mommy.


Tisha menggeleng "Tisha mau sendiri aja mom di dalamnya, boleh?"


"Boleh, di dalam sudah ada dokter, kalau Tisha merasa terganggu, Tisha bisa meminta kepada dokter ya nak"


Tisha mengangguk "baik mom"


"Tisha permisi dulu" pamitnya dan masuk ke dalam ruangan Erlan.


...****************...


"Hay" sapanya kepada Erlan yang memang terlihat begitu nyaman dalam tidurnya.

__ADS_1


"You can go!" Perintah dokter kepada para suster yang merawat Erlan.


"Ok Doc!" jawab para suster dan pergi meninggalkan ruangan Erlan.


"Saya pamit pergi dulu nona muda" kata Dokter.


"Disini saja dok, anda bisa kembali ke tempat anda"


"Baik nona muda" jawabnya. Dokter tersebut pun kembali ke tempatnya, duduk di tempat yang memang sudah di sediakan.


Tisha kembali melihat ke arah Erlan "kamu tetep engga mau liat aku? hem?"


"Kamu tau ya kalau aku marah?"


Tisha terkekeh kecil "aku emang marah sama kamu Bay, tapi tenang aja aku udah engga marah ko sama kamu, tapi kamu harus buka mata kamu"


Tanpa terduga Abay mengeluarkan air matanya, Tisha yang melihat itu tersenyum dan menghapus air mata Erlan "engga usah nangis kamu jelek kalau nangis kaya gitu om" ledeknya lagi sambil terkekeh mengingat bahwa dirinya pernah memanggil Abay dengan sebutan 'om'


"Kamu lebih keren kalau lagi pake kemeja tangan panjang terus tangannya di gulung, kaya waktu itu kamu nolongin aku om"


"Pantes aku ngerasa nyaman banget sama kamu, biasanya aku engga pernah kaya gitu tau om kalau sama orang baru"


"Emang om engga kangen sama Zahra?" tanyanya lagi sambil terkekeh.


"Dia pasti kangen banget sama om om sugarnya" ledeknya lagi sambil terkekeh.


"Kamu tau engga sih kalau aku itu lagi ada yang deketin, emang om engga takut kalau aku di pelet orang? hem?"


"Takut lah" jawabnya dengan suara serak dan lemah.


Tisha menajamkan pendengarannya dan membukatkan matanya ketika melihat mata Erlan yang terbuka.


"Abay" panggilnya.


Tisha tersenyum penuh haru "dok, dokter!" teriak Tisha.


"Ya nona muda"


"Abay bangun dok"


"Saya akan memeriksanya nona muda, tunggu sebentar" katanya dan langsung memencet tombol darurat untuk memanggil para suster agar kembiali ke dalam ruangan.


"Baik dok" jawab Tisha.


"*Check back young master Erlan"


"Ok Doc"


"I will inform the patient's family, that ghe patient has passed his critical period"


"Ok Doc*"


"Bagaimana dok?" tanya Tisha.


"Tuan muda Erlan sudah melewati masa kritisnya nona muda, ini adalah suatu keajaiban yang diberikan Tuhan kepada tuan muda. Saya akan memberitahukan kepada keluarga Tuan Muda"


"Baik dok, terimakasih" kata Tisha da diangguki oleh dokter tersebut.


Setelah dokter tersebut pergi Tisha kembali mendekat ke arah Abay "it's done young lady, we'll excuse ourselves to go out first"

__ADS_1


"Ok nurse"


"Hay om" sapanya.


Abay tersenyum melihat Tisha yang sudah ada di depan matanya "hay tomboy"


"Kamu jahat" ucap Tisha dan langsung memeluk tubuh Abay dengan pelan.


"Kamu jahat" isaknya.


Abah tersenyum dan menepuk punggung Tisha dengan pelan "maaf" katanya.


Tak ada jawaban dari Tisha hanya terdengar isakan saja.


"Maaf" katanya lagi.


"Iya udah aku maafin dengan kamu membuka mata saja aku sudah bahagia, Bay"


"Udah jangan nangis lagi ya"


"Iya" katanya sambil melepaskan dekapannya.


"Om nakal deh" ledeknya.


Abay terkekeh pelan mendengarnya "udah ya udah" katanya lagi sambil mebgusap lembut air mata Tisha.


"Ah meleleh hati ade bang" ~author


"Bagaimana kabarmu?" tanya Erlan.


"Baik"


"Bohong ya? Ko ini kantung matanya hitam? Maaf ya udah bikin kamu khawatir"


"Iya aku maafin, tapi jangan kaya gini lagi ya"


"Iya"


...****************...


"Tuan besar" panggil dokter yang menangani Erlan.


"Iya dok, bagaimana dengan kondisi Erlan dok? Kenapa tadi para suster berlarian masuk ke dalam?" tanya daddy Erlan.


Dokter tersenyum mebdebgar pertanyaan dari daddy Erlan "Tuan muda Erlan membuka matanya, tuan besar" jelasnya dengan nada bahagia.


Mendengar hal itu semua yang berada di depan ruangan Erlan tersenyum penuh kebahagiaan "apakah itu benar dok? anak ku membuka matanya?" tanya sang mommy Erlan dengan penuh permohonan.


Dokter pun mengangguk "bebar nyonya, saat ini tuan muda sedang berbicara bersama dengan nona muda Tisha" jelasnya.


"Allhamdulilah, dok" ucap mommy Erlan penuh syukur.


"Apa kami boleh bertemu?"


"Boleh nyonya, tetapi tuan muda harus di pindahkan terlebih dahulu ruangannya"


"Baik dok"


"Saya akan mengurusnya terlebih dahulu"

__ADS_1


"Baik dok"


Dokter pun pergi untuk mengurusi ruangan VVIP untuk Erlan dan juga Ivan bersama dengan Angga.


__ADS_2