
Terlihat pria yang masih berseragam putih Abu-Abu lengkap dengan hoodie yang melekat pada tubuhnya dan kaca mata hitam yang sudah bertengger pada wajahnya kini sedang berdiri dengan senyum manis yang menghiasi wajah tampannya.
"Hay Vi" sapa Gema dengan menyimpan bunga yang ia beli tadi sebelum sampai di makam keluarga Alexander.
Makam keluarga yang tidak bisa di datangi oleh sembarang orang dan hanya orang-orang tertentu sajalah yang bisa leluasa keluar masuk makam keluarga Alexander tersebut, termasuk Gema, Kalan dan juga Fredika Sahabat dekat Viona Alexander.
"Kamu tetep cantik ya, pasti yang rawat kamu rajin banget" ucapnya lagi dengan mengusap tanah makam Viona.
Memang, makam keluarga Alexander ini di jaga dan di rawat dengan sangat apik, sehingga makam keluarga Alexander ini selalu bersih dan membuat nyaman semua keluarga dan sahabat untuk kembali lagi berkunjung, sama seperti ketiga sahabat Viona yang selalu datang untuk sekedar berziarah ataupun hanya sekedar mengobrol dengan foto yang berada dekat dengan batu Nisan yang bertuliskan nama Viona Alexander.
"Vi, sorry nama lo harus selalu di sebut ketika masalah itu kembali muncul. Tapi gue juga bingung Vi buat selesain masalah itu harus mulai dari mana? Lo tau kan pasti, lo juga pasti liat dari atas sana kalau gue sama Kalan sekarang bener-bener engga deket Vi, sekarang kita di kubu yang berbeda. Boro-boro gue mau selesain masalah Vi, baru liat gue aja dia udah engga bersahabat banget, langsung aja masang muka kaya mau nerkam gue. Lo juga tau pasti kalau Kalan lagi marah gimana? Kaya singa lapar bukan?"
"Ah Vi, sorry banget ya, gue cemen" lanjutnya lagi dengan suara yang mulai serak.
"Gue engga bisa kalau harus ditinggalin sama elo Vi"
"Sabar" ucap seorang wanita yang baru saja datang dengan pakaian serba hitam dengan kaca mata yang juga bertengger di wajah cantiknya.
Gema menoleh "Fredika" panggilnya.
"Hay Gema" sapa Fredika ikut berjongkok bersama dengan Gema setelah menyimpan bunga di dekat bunga milik Gema.
"Yang tenang ya" lanjut Fredika.
"Viona engga akan senang kalau kamu seperti ini terus, kamu juga pasti tau kalau Viona itu wanita yang baik, cantik dan juga ceria" jelasnya dan diangguki oleh Gema.
"Jadi kamu harus kuat, kamu juga harus bisa lewatin ini semua"
"Kamu tau?" tanya Gema.
Fredika mengangguk "aku tau semua, Gem"
"Kamu pasti bingung aku tau dari mana?" tanya Fredika lagi dan diangguki oleh Gema.
Fredika tersenyum "dari Vionanya langsung"
"Viona?"
"Iya"
"Bukannya Viona itu langsung koma dan... "
"Kalau engga kuat udah jangan di lanjutin" katanya dan tersenyum melihat Gema, setelah itu beralih untuk melihat foto Viona.
"Hai Vi"
"Apa kabar?"
"Kamu semakin cantik ya"
"Oh ya, aku udah bawain bunga kesukaan kamu"
"Vi, aku kangen banget sama kamu"
"Sering sering ya datang ke mimpi aku" katanya lagi sambil tersenyum.
"Kamu udah selesai?" tanya Fredika kepada Gema.
Gema mengangguk "udah" sebenarnya Gema belum selesai, tetapi jika sudah ada orang lain di sekitar sini dirinya tidak leluasa untuk mengungkapkan semuanya.
"Kamu juga udah?" tanya balik Gema.
"Iya udah"
"Ayo kita duduk dulu di cafe dekat sini" ajak Gema sambil berjalan meninggalkan makam Viona.
__ADS_1
"Bukannya kamu sekolah?"
"Iya aku sekolah"
"Ko bisa ada disini?"
"Tadi izin dulu sebentar"
Fredika mengangguk "oh, terus kenapa kamu ajak aku ke cafe?"
"Ya cuma sekedar ngobrol aja"
"Engga apa-apa? Kan kamu harus sekolah"
"Engga apa-apa, santai aja"
"Oyaudah kalau gitu, boleh deh ke cafe dulu sebentar"
"Eh bentar, emang udah ada cafe yang buka?" tanya Fredika ketika mengingat bahwa kini masih terlalu pagi untuk sekedar nongki.
Gema melihat pergelangan tangannya "heheh belum" jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Yaudah ke warung depan aja yang deket-deket sini" kata Fredika.
"Oke"
"Tapi kamu engga lagi sibuk 'kan?" tanya Gema.
"Engga"
"Kamu engga kerja?"
"Kerja ko, nanti jam 10"
"Oh" jawab Gema dengan menganggukkan kepalanya.
...****************...
"Sst... Diem aja deh" ucap Tisha dan diangguki oleh Reysha.
"El, El" panggil Agas.
"Apa Gas?"
"Si Sai engga masuk?"
"Engga tau deh gue, coba nanti gue tanyain ke si Tikha dulu"
"Oke"
"Kha, si Sai engga masuk sekolah?" tanya Elvana kepada Tikha yang berada di sebelahnya.
"Loh, emang dia engga ada?"
"Kayanya sih engga ada, soalnya si Agas nanyain ke gue"
"Gue juga engga tau tuh, engga ada kabar juga"
"Oh yaudah, gue bilangin lagi ke si Agas" katanya dan diangguki oleh Tikha.
"Gas, Gas"
"Gimana?"
"Tikha juga engga tau, katanya engga ada kabar"
__ADS_1
Agas mengangguk "Oke" jawabnya dan kembali melihat ke arah depan karena upacara aka segera di mulai.
...****************...
Di belahan jalan lain, terlihat seorang pria yang sedang kencang membawa motor sport miliknya karena dirinya sudah telat dari jam masuk sekolah.
"Jam berapa ini brother?" monolog Sailendra pada diri sendiri.
Ya, yang kini sedang lencang membawa motornya adalah Sailendra, yang tadi sedang di bicarakan oleh temannya, kini Sailendra masih di dalam perjalanan untuk menuju ke sekolahnya dengan menggunakan motor sport kesayangannya setelah mengantarkan wanita pujaan hatinya.
"Mantap, lagi pada upacara ini pastinya" monolog Sailendra lagi ketika melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 7.15 WIB.
Ckiit....
"Eh eh kaya kenal" ucap Sailendra ketika melihat seseorang yang sepertinya ia kenal sedang duduk di warung bersama dengan wanita.
Sailendra memundurkan motornya untuk melihat siapa dengan jelas siapa pria itu.
Berkali-kali Sailendra mengucek matanya takut dirinya salah penglihatan "itu Gema 'kan?" tanyanya pada diri sendiri.
"Engga salah liat 'kan gue? Itu Gema? Sama cewe?" lanjutnya lagi.
"Ko bisa?"
"Masa sih?"
"Tapi iya itu tuh si Gema" katanya lagi dengan pikiran yang sudah banyak pertanyaan.
"Ini jam gue juga engga mati 'kan?" monolognya lagi sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Kenapa tuh orang ada disini? Ini kan jam sekolah" monolognya dan Sailendra pun melihat ke sekeliling.
Dan
Tap
Terlihat lah papan nama bertuliskan "Makam Keluarga Alexander" yang besar dan bagus itu.
"Alexander?" katanya sambil berfikir, sepertinya dirinya pernah mendengar Marga itu.
"Ngapain coba Gema ke makam kleuarga ini?"
"Saudara? Tapi kan dia marganya Dermawan"
Dan
Ting
"Viona?" celetuknya.
"Iya gue inget, bang Kalan pernah bilang kalau Viona itu bermarga Alexander"
"Apa dia dari makam Viona?"
"Ab udahlah nanti gue coba obrolin lagi sama abang Kalan, sekarang itu gue harus sampe ke sekolah dulu, dari pada gue jadi santapannya bang Kalan" katanya lagi sambil menyalakan kembali motornya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Guys sekedar info, cerita Kalan dan Gema itu engga akan aku masukin ceritanya ke sini, karena Kalan akan aku buatkan lapak tersendiri 🤗 thankyou yang udah penasaran, dan tetap mau membaca ceritaku