
Dengan berat Kalan menganggukkan kepalanya "i.. itu benar de, yang di dalam adalah Abay, pria mu, pria masa lalu mu dan pria yang kamu sudah tunggu sejak lama" jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
"Kakak bohong 'kan? Ah kakak sama aja kaya daddy tukang bohong" ketusnya sambil tertawa sinis dan Kalan menggelengkan kepalanya.
"Kak" panggil Nathan dan Tisha menggelengkan kepalanya dan memberikan kode untuk tidak mendekat ke arahnya.
"Apa? Kamu juga sama mau bilang kalau yang di dalam itu adalah Abayku?" tanyanya kepada Nathan, Nathan hanya mampu menundukkan kepalanya saja tak mampu untuk menjawab pertanyaan sang kakak.
"Kalian semua di sini sama aja, tukang bohong. Eng.. Engga mungkin 'kan?" teriaknya dengan muali meneteskan air matanya.
"Ini cuma mimpi 'kan?" tanyanya lagi dengan tubuh yang mulai bergetar karena shock, Tisha langsung mendudukkan dirinya karena tak bisa lagi menahan tubuhnya yang sangat terasa semakin lemas.
"Engga mungkin 'kan Abay yang ada di dalam, itu engga mungkin" ucapnya lagi sambil menangis ketika mengingatnya.
"Abayku baik-baik aja, engga mungkin Abayku yang ada di dalam, itu engga mungkin" ucapnya lagi dengan masih menangis.
"Queen" panggil Kalan dan mendekatlah Kalan ke arah Tisha.
Tisha mendongakkan kepalanya dan melihat kakaknya yang kini berada di hadapannya, terbesit separuh ingatan dari percakapannya bersama dengan sang kakak ketika di perjalanan tadi, "I hope you are strong to face whatever is in front of you later. Hug sister tightly if it feels really heavy, queen"
"Iy.. iya prince. I promise"
Tisha langsung memeluk tubuh kakaknya dengan tangan yang masih bergetar hebat "bang" lirihnya.
Semua yang menyaksikan itu semakin meneteskan air matanya, inilah sisi rapuh dari Tisha si tomboy dan periang harus menangis sangat rapuh karena pria yang sudah ia tunggu-tunggu sejak lama.
"Bang" lirihnya lagi.
Hiks.. Hiks.. Hiks.. "Bang bilang kalau itu semua bohong, bang"
"Abang jawab aku baang, jawab!" tegasnya dengan masih menangis karena kenyataan ini.
"Yang sabar queen"
"Bang aku engga rela"
"Baang" lanjutnya lagi.
"Kenapa harus dia? Kenapa harus Abayku?" tanyanya dengan menangis tersedu-sedu. Ah lihatlah siapapun yang melihatnya akan ikut menangis, bahkan author juga ikut menangis 😂😂 siapa yang tidak menangis, di saat kita sudah menunggu seseorang dengan jangka waktu yang lama malah mendapatkan kabar yang buruk seperti saat ini. Itu tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
"Kenapa aku harus dapat kabar seperti ini kak?" lanjutnya lagi.
"Ke... Kenapa juga dia engga pernah bilang kalau dia itu Abay?"
"Kenapa baang, kenapa harus kaya gini?" tanyanya lagi dengan memukul pundak Kalan.
"Aku engga bisa bang"
"Abang tau 'kan kalau aku nungguin dia bang, aku mau ketemu banget sama Abay. Tapi kenapa di saat aku udah ketemu, tapi ketemunya kaya gini bang, kenapa?"
"Bang jawab jangan diem aja" lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Kamu harus kuat" katanya dan Tisha menggelengkan kepalanya dengan tangan yang masih bergetar.
"Mommy" panggil Tikha dengan semakin mempererat pelukannya kepada sang mommy.
"Adikmu adik yang kuat bukan?" tanyanya dan Tikha menganggukkan kepalanya.
"Dad" panggil mommy Erlan yang ikut menangis tersedu-sedu melihat Tisha yang rapuh. Sang suami hanya mampu menjawab dengan mengecup pucuk kepala sang istri dan mengelus punggungnya pelan
"Dan" panggil Kia yang melihat itu.
Ardan menghapus air matanya yang menetes "Tisha anak yang kuat, sayang" katanya.
"Tisha pasti sangat terpuruk" katanya dengan sangat lirih.
"Pasti sayang" jawabnya.
"Aku engga sekuat itu aaabang" lanjut Tisha lagi.
"Aku.. Aku engga bisa! Aku engga mau! "
"Hatiku terluka bang"
"Rasanya sangat sakit"
"Sungguh bang"
"Rasanya sangat sesak" lirihnya lagi.
Tisha menggelengkan kepalanya "aku juga wanita bang, yang memiliki titik rapuh, aku udah nunggu dia dari lama bang, udah lama, bahkan sampai bertahun-tahun lamanya. Abang tau 'kan aku sampai meminta abang untuk cari tahu tentang dia tapi engga pernah bisa"
"Enggs pernah bisa di temuin, tapi ketika dia datang dan baru ketemu satu hari itu engga cukup rasanya bang, apalagi dia engga pernah nunjukin bahwa dia adalah Abayku"
"Kenapa dia harus kaya gini, abang?"
"Satu hari itu aku selalu judes sama dia bang, tapi dia selalu baik dan tersenyum"
"Apakah itu senyum terakhir yang aku lihat?" lirihnya semakin menangis tersedu-sedu.
"Abaaaaang" teriaknya.
"Sayaang sabar. Abang tau kamu kuat, Sha"
"Aku harus ke dalam bang, aku harus pastiin ini semua"
"Kuatkan dirimu terlebih dahulu sayang" ucap daddy Ardi dengan khawatir.
Tisha menggelengkan kepalanya "aku harus liat dia sekarang!" ucapnya dengan berusaha untuk berdiri.
"Boleh aku liat dia sekarang?" tanya Tisha dan diangguki oleh nyonya dan tuan Arayyan.
Tisha mulai melangkahkan kakinya menuju pintu masuk ruangan Erlan dengan Kalan yang berada di sampingnya dengan merangkul pundak sang adik.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti masih dengan isakan kecil yang terdengar, kini Tisha dapat melihat dengan jelas prianya, Abaynya yang sudah ia tunggu sejak lama sedang berbaring dengan damai di atas brankar dengan tubuh yang sudah di penuhi oleh alat-alat medis.
Tisha semakin terisak dan kembali membuat tubuhnya bergetar "ha.... Hai" sapanya ketika sudah berada tepat di samping Erlan.
"Ka... Kamu apa kab... Kabar?" tanyanya, lihatlah Kalan kembali meneteskan air matanya melihat ini.
"Ak.. Aku engga yakin ka.. Kalau kamu adalah Abayku"
"Ta.. Tapi ketika melihat reaksi mereka, se.. Sepertinya kamu memang benar Abayku"
"Ka... Kamu jahat" katanya sambil menutup mulutnya yang sudah tidak sanggup untuk berbicara dengan tangan yang bergetar hebat.
"Ka... Kamu jahat" lanjutnya lagi.
"De udah" ucap Kalan dengan suara yang sudah parau.
Tisha menggelengkan kepalanya dan kembali memeluk Kalan "bang"
"Di... Dia bukan Abay 'kan?" tanyanya kembali.
"Dia beneran Abay, de"
"Di.. Dia jahat bang, dia bukan Abayku"
"Tolong kuatkan dirimu, sayang" katanya dan Tisha mulai melepaskan pelukannya dari sang kakak.
"Bantulah dia untuk kembali"
"Bimbing dia" lanjutnya lagi.
Tisha kembali mendekat dan menyimpan tangannya di dahi Erlan.
Tisha tersenyum secara paksa "ba... bangun ya, aku tunggu kamu. Kamu harus bisa kuat"
"Kaya aku yang kuat walaupun itu hanya pura-pura"
"Bertahanlah"
"Kita harus kembali bertemu dengan cara yang benar, bukan seperti ini"
"Aku tunggu kamu"
Tisha menundukkan kepalanya "love more Abayku" bisiknya dengan sangat lirih tepat di telinga Abay.
Lihatlah Abay juga ikut meneteskan air matanya, sepertinya dia juga sangat merindukan pujaannya saat ini.
"Jangan sedih, aku engga suka" ucap Tisha dengan menghapus pelan air mata Erlan.
^^^~Bukan seperti ini pertemuan yang ku inginkan^^^
^^^•Tisha^^^
__ADS_1