
"Males banget nih pelajaran sejarah, ke rooftop aja kuy" ajak Sailendra kepada teman-temannya.
"Kuy" jawab Tisha.
"Heh Tisha mau kemana kamu?" tanya Tikha.
"Ayo Kha kita rooftop aja, males banget ketemu sama gurunya curhat masa lalu mulu" jelas Tisha.
"Kuy" jawab Reysha.
Sailendra, Twince, Reysha, Elvana dan Agas pergi ke rooftop untuk sekedar menyegarkan otaknya setelah pelajaran Ekonomi selesai.
"Mereka mau pada kemana?" tanya Naomi kepada Salsa ketika melihat geng Tisha yang keluar secara bersamaan.
"Rooftop kali" jawab Salsa.
"Oh"
"Eh Salsa"
"Iya nomnom kenapa?"
"Eumm.. Menurut kamu Sailendra ganteng engga sih?"
Salsa meletakkan ponsel yang ada di genggamannya ketika mendengar pertanyaan dari Naomi "lo suka sama si Sailendra, Nom?" tanyanya.
"Ih Salsa apa sih, kan aku cuma nanya aja kenapa jadi bilang kalau aku suka Sailendra"
"Yakan biasanya kalau orang yang udah nanya kaya gitu, tandanya dia suka sama orang itu Nomnom"
"Oh gitu ya, tapi aku cuma nanya aja ko Sa"
"Ah yang bener kamu?"
"Bener Salsa, Nomnom engga suka ko sama Sailendra"
"Bagus deh, jangan cari masalah sama Ayumi ya Nomnom" katanya.
"Iya Salsa, Nomnom tau ko"
"Pinter"
***
"Liat-liat ya woy takut ada ka Kalan" ucap Sailendra.
"Bener juga lo, ka Kalan kan ketua OSIS disini"
"Ya mangkanya liat-liat nati kita jadi santapan empuknya kakak" timpal Tikha.
***
"Akhirnya sampai di tempat tujuan dengan selamat" celetuk Agas.
"Bener juga lo, jantung gue udah disko tau kaga dari tadi takut ketauan ka Kalan" timpal Sailendra.
"Bener-bener" timpal Elvana.
"Kan enak di sini bisa rebahan" kata Sailendra lagi merebahkan tubuhnya di bangku panjang yang berada di rooftop sambil memakai earphones nya.
"Bagus juga ya kalau di liat dari sini" kata Elvana ketika melihat ke arah bawah yang dimana dibawah adalah letak kantin dan parkir motor mobil untuk para siswa dan siawi SMA SATYA.
__ADS_1
"Iya bener, ternyata sebagus itu" kata Reysha.
"Itu gitar siapa?" tanya Tisha ketika melihat gitar yang berada di ruang kosong.
Di rooftop SMA SATYA ini memang tersedia ruangan kosong untuk menyimpan peralatan milik siswa dan siswi yang sering berada di rooftop tersebut.
"Engga tau gue" jawab Agas.
"Boleh kali di pinjem ya?"
"Boleh aja. Lagian kan ini di sekolah jadi sah-sah aja kan kalau misalkan peralatannya di pake" jelas Agas.
"Bener juga. Yaudah gue ambil gitar dulu"
"Oke"
Tisha melangkahkan kakinya menuju ruangan tersebut untuk mengambil gitar.
"Bagus juga nih ruangan, kayanya di urus bener-bener deh" monolog Tisha ketika melihat rapihnya ruangan tersebut.
"Eh eh itu siapa?" tanyanya ketika melihat seperti ada seseorang yang sedang merokok.
Tisha membulatkan matanya ketika melihat Gema lah yang sedang mengisap sebatang rokok dengan enaknya.
Merasa seperti ada yang mendekat Gema menoleh ke arah belakang, sama seperti Tisha yang terkejut begitu juga dengan Gema yang tak kalah terkejut ketika melihat wanita yang di idam-idamkannya datang ke ruangan yang sangat di sukai oleh dirinya "loh Tisha?" katanya sambil mematikan rokok miliknya.
"Kamu ngapain disini? Sama siapa?" tanyanya sambil mendekat ke arah Tisha.
"Mau ngapain lo?" tanya Tisha ketika melihat Gema yang mendekat ke arahnya.
"Engga ngapa-ngapain, Sha"
"Gue mau minjem gitar itu, itu punya lo?" tanya Tisha to the point sambil memasang wajah yang waspada.
"Oke thanks" ucapnya dan segera mengambil gitar yang terletak tidak jauh dari dirinya.
Gema tersenyum melihat tingkah Tisha yang menurutnya sangat menggemaskan itu "gimana gue mau ngelepasin adik elo itu Lan, dia terlalu gemesin buat gue" gumamnya dalam hati. Gema memilih duduk kembali dengan tempat yang berbeda, yang dimana kini dirinya bisa melihat Tisha dan teman-temannya dengan jelas tanpa ada yang menghalanginya.
***
"Gila lo Lan, lo langsung terbang ke sini pas gue kirim email?" tanya Ivan ketika pagi-pagi sudah melihat Erlan dan juga Angga di perusahaannya.
"Lo yang gila, bisa-bisanya masalah sebesar ini mau di kerjain sendiri" celetuk Angga yang memang sudah tau masalah apa yang dihadapi oleh Ivan, tentu saja Angga tahu dari Erlangga.
"You crazy?" tanya Erlan dengan nada dingin.
"Sorry sorry, bukan maksud gue mau nutupin"
"Terus?"
"Gue kasian sama kalian terutama lo Lan, gue engga mau ya ganggu waktu kalian di sana. Lagian pasti rumit juga masalah yang bakal lo hadapi, ini masalah cewe bukan masalah perusahaan. Gue tau elo jago di bidang bisnis tapi lo engga jago di bidang percintaan" jelas Ivan.
"Ya gue tau, Van gue emang engga jago di bidang percintaan tapi setidaknya lo harus kasih tau kita-kita kalah misalkan lo dalam kesulitan!"
"Iya sorry"
"Yaudah gue berangkat, Lan"
"Lah lo mau kemana, Ga?" tanya Ivan.
"Gue mau balik lagi lah ke Indo, ngurusin perusahaan bokapnya dia" jelasnya sambil menunjuk ke arah Erlan.
__ADS_1
"Lo ikut juga, Lan?" tanya Ivan.
Erlan menggeleng "engga gue engga ikut, gue di sini dulu sampe masalaha di sini selesai"
"Yaudah kalau gitu, sorry ya"
"Santai"
"Lo hati-hati, Ga"
"Oke" jawab Angga dan pergi meninggalkan Ivan dan juga Erlan.
"Gimana sama cewe di sana, Lan?" tanya Ivan ketika Angga sudah pergi.
"Gue udah ketemu sama keluarganya ko, tinggal pendekatan sama cewenya aja"
"Syukur deh kalau gitu, gue ikut seneng dengernya"
"Van?" Panggil Erlan.
"Ya?"
"Kumpulkan dewan redaksi hari ini jam 10 pagi"
"Oke, gue siapkan"
"Oke" jawab Erlan, dan Erlan kembali fokus pada dokumen yang sedang ia genggam.
***
"Loh pada kemana ini Tisha dan teman-temannya?" tanya Guru Sejarah.
"Keluar bu" jawab Ayumi.
"Keluar kemana?"
"ke rooftop bu palingan"
"Nathalio" panggil bu Ayu.
"Iya bu"
"Tolong panggilkan Tisha dan teman-temannya untuk mengikuti pelajaran saya"
"Baik bu" jawab Lio dan melangkahkan kakinya menuju rooftop.
Sesampainya Lio ke rooftop "loh ko engga ada siapa-siapa?" monolognya sambil melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari Tisha dan teman-temannya.
Meyakinkan bahwa memang tidak ada siapapun akhirnya Lio kembali ke kelas "maaf bu, di rooftop tidak ada siapa-siapa" jelasnya.
"Tidak ada siapa-siapa?"
"Benar bu"
"Yasudah kamu kembali ke kursi mu"
"Baik bu"
***
"Untung aja engga ketauan" ucap Tisha.
__ADS_1
"Bener, untung aja lo kasih tau kita-kita Gas" timpal Sailendra.
Memang tadi Agas sempat pergi ke kantin untung membeli minuman, tanpa sengaja Agas mendengar bahwa bu Ayu memberikan perintah kepada Lio untuk memabggil Tisha dan kawan-kawannya, maka dari itu Agas secepat kilat memberitahukan kepada teman-temannya untuk bersembunyi di tempat yang aman agar tidak ketahuan.