
"Gua juga engga ngerti si Ga kenapa gue bisa jatuh cinta sama dia. Padahal dulu tuh gue dibilang cengeng sama dia" jelasnya dengan menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti kenapa dirinya bisa sampai jatuh cinta kepada Tisha.
"Serius lo?"
"Serius gue, awalnya ya biasalah gue dibilang culun coy sama anak tetangga komplek eh gue nangis. Terus ada dia tuh sama kembarannya datang, terus apa coba yang dia lakuin, dia langsung nonjok anak itu tau engga lo. Gila banget 'kan tuh cewe?" jelasnya lagi sambil terkekeh mengingat masa kecilnya.
"Hahaha berarti lo itu dulu seculun itu ya, Erlan"
"Gila sih gue juga engga ngerti kenapa gue bisa seculun itu" katanya dan mereka pun berbincang mengenai hal-hal lain yang mampu membuat mereka tertawa.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, kini semua siswa dan siswi sudah di bebaskan untuk bersantai ataupun ingin beristirahat terlebih dahulu pun tidak apa-apa, karena game yang tadi dimainkan oleh mereka selesai pada pukul 17.30 WIB dan langsung dilanjut dengan acara sholat berjamaah dan juga makan malam.
"Diluar yuk, di depan api unggun" ajak Elvana kepada ketiga temannya.
"Yuk yuk. Nanti aku pinjem gitar ke ka Ardan. Kita sambil nyanyi-nyanyi aja di depan" timpal Reysha.
"Ayo ayo" jawab Tikha.
Reysha, si kembar LA dan juga Elvana pun keluar dari tendanya dan duduk di dekat api unggun, kebetulan di sana sudah ada Ayumi and the geng, Sailendra, Ka Gema dan kedua temannya, Ka Kalan dan kedua temannya, dan ada Kia, Rea dan juga Marsha yang sedang bernyanyi bersama-sama. Sejenak Gema dan juga Kalan melupakan masalah yang sedang mereka hadapi berdua.
Tikha pun duduk disebelah sang kakak begitu pun Tisha mengikuti tempat duduk Tikha dan akhirnya mereka semua mengelilingi api unggun.
***
Terlihat Kalan dan yang lainnya menikmati petikan gitar yang dimainkan oleh Ardan dan juga alunan lagu yang dinyanyikan oleh Gema terdengar sangat indah, berbeda halnya dengan Tisha yang kini tengah melamun sembari melihat ke arah gelang pemberian dari pria masa kecilnya.
Flashback on
“Aaaaaka” teriak Nathan ketika melihat kedatangan ketiga kakaknya itu. Nathan pun langsung berlari ke arah Kalan dengan membawa bolanya yang sedang ia pegang.
“Kakaknya ganti baju dulu ya, Nathan” ucap sang mommy yang menyusul anak bontotnya itu.
Kalan, Tikha dan Tisha yang melihat sang mommy pun mendekat ke arahnya untuk mencium tangan sang mommy. Itu yang biasa di lakukan ketiganya.
“iya kakak ganti baju dulu ya de” timpal Kalan.
Nathan yang mendengarnya pun memajukan bibirnya karena tidak setuju.
“Sebentar saja” lanjut Kalan ketika melihat Nathan yang merajuk. Nathan pun menganggukkan kepala nya ketika mendengar kata ‘sebentar’ dari sang kakak.
“Kalan ganti baju dulu ya mom” ucapnya kepada sang mommy. Dan mommy pun menganggukan kepalanya.
Kalan meninggalkan sang bunda dan adik bontotnya di ruang keluarga. Begitu pun dengan Tikha yang sudah pergi terlebih dahulu ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Berbeda halnya dengan Tisha yang lebih memilih memakan kue yang berada di meja di hadapannya saat ini.
“Aka endak anti aju?” tanya sang adik bontot kepada kakaknya.
“Engga ah, nanti aja sore sekalian aku mandi” jawabnya dengan masih mengunyah kue.
“Ish aka au tau” kata Nathan ketika mendekat ke arah Tisha sambil menutup hidungnya.
Tisha yang mendengar kata ‘bau’ dari sang adik pun langsung mengendus ngendus badannya “Engga ah de” katanya.
“Au aka”
“Engga de”
“Au”
“Engga”
“Au”
“Engga” sang bunda hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah kakak beradik itu.
“Ini balu wani” ucap Nathan ketika melihat kedatangan Tikha dan juga Kalan.
“Aka Alan ayo ain” lanjutnya langsung menggandeng tangan sang kakak sulungnya itu.
Tisha yang mendengarnya memajukan bibirnya “yaudah sana kamu main aja sama ka Kalan. Awas ya kalau aku abis mandi engga boleh peluk-peluk” judesnya.
“Adikmu hanya bercanda saja sayang” timpal mommy.
“'Kan mommy udah bilang sama kamu, kalau abis pulang sekolah itu langsung ganti baju, kalau udah ganti baju bebas kamu mau ngapain aja” lanjutnya. Begitulah cara sang mommy menasehati anak-anaknya.
“Iya mom”
__ADS_1
“Tisha ganti baju dulu” lanjutnya.
“Gimana tadi sekolahnya?” tanya mom Adin kepada Tikha ketika Tisha sudah pergi ke kamarnya.
“Seru mom, tadi kita berdua kenalan di depan kelas”
“Wah, sudah banyak teman dong kalian” Tikha pun mengangguk cepat.
“Eh iya mom, tadi itu Tisha sempet kesel sama anak cowo di kelas kita”
“Loh kenapa?”
“Itu mom gara-gara, pas kita lagi kenalan nih ya, si cowo itu tuh langsung nyela omongan Tisha, jadinya Tisha kesel deh sama orang itu. Kalau engga salah namanya Galih mom” adunya.
“Tapi Galihnya engga di apa-apain 'kan sama Tisha?” tanya mommy, karena dirinya sangat tau bahwa anak gadisnya yang satu itu sangatlah berbeda dengan kembarannya, Tisha lebih tomboy, bisa bela diri dan sangat sulit menahan emosinya. Tisha tidak akan segan-segan untuk langsung memukul ataupun menonjok orang yang telah membuatnya emosi. Hanya keluarganya sajalah yang bisa menahan dirinya.
***
Sore hari
“Tikha, Tikha” panggil Tisha ketika Tikha sedang menonton televisi di ruang keluarga bersama dengan Nathan.
“Iya, Sha?”
“Kita main sepeda yuk Kha keliling komplek aja” ajaknya.
“Boleh”
“Mommy mana?”
“Di kamar, Sha”
“Oh, yaudah Tisha izin mommy dulu yak, Kha” Tikha pun mengangguk.
5 menit kemudian..
“Tikha ayo, mommy udah izinin” ucapnya.
“Oke” ucap Tikha dan beranjak dari duduknya. Nathan pun yang di tinggalkannya masih tidak bergeming dari tontonan yang sangat amat seru itu. Karena sekarang Nathan sedang menonton kartun kesukaannya ‘Shaun The sheep’.
“Oke deh” lanjut Tikha.
Mereka berdua pun menggoes sepedanya dengan pelan-pelan, sambil menikmati angin sorenya.
“Tisha enak ya angin nya adem”
“Iya Kha bener, adem banget”
“Besok kita main sepeda lagi ya, Sha”
“Oke kha”
Sedang asik menikmati angin sepoy-sepoy yang sangat adem itu pun Tikha dan Tisha sama-sama saling pandang ketika ada anak kecil yang sedang berkerumun di hadapannya.
Dan.
Ckiit… mereka berdua pun mengeremkan sepedanya di kerumunan anak kecil itu.
Si kembar pun turun dari sepedanya masing-masing dan mendekat ke arah kerumunan itu.
“Hey kalian, ko kalian kumpul-kumpul gini, emangnya ada apa?” tanya Tisha.
“Nih ada anak culun yang jatoh dari sepeda kakinya berdarah” jawab salah satu anak laki-laki yang berada disitu.
“Ko engga di tolongin sih?” timpal Tikha dan mendekat ke arah pria tersebut.
“Iya kenapa engga kalian tolongin?” timpal Tisha.
“Buat apa di tolongin, orang dia culun. Meningan kita tinggalin aja yuk” ajak anak laki-laki yang perawakan agak besar itu.
Dan.
Buk…
“Tishaaaaa” teriak Tikha. Tikha dan anak yang lain pun terkejut ketika Tisha tiba-tiba menonjok wajah anak laki-laki itu. Tikha pun langsung berdiri dan menarik Tisha.
Ketiga anak pria itu pun langsung membangunkan anak cowo yang di hajar oleh tisha “heh kamu kurang ajar ya” teriak pria yang tadi di tonjok oleh Tisha.
__ADS_1
“Kamu yang kurang ajar, kamu engga punya hati tau engga. Masa cuma karena dia culun aja kamu engga mau nolongin” ucap Tisha engga kalah nyaringnya.
“Aku bilangin ya kamu sama papah ku” ucapnya.
“Bilangin aja sana, aku engga takut. Kasih tau nama aku ke papah kamu LA TI SHA” kata Tisha dengan menekan namanya.
“Ayo teman-teman kita pulang aja” ajak pria tersebut. Dan keempat pria itu pergi meninggalkan Tikha dan Tisha dan satu anak laki-laki yang sedang terluka.
“Kamu engga apa-apa?” tanya Tisha kepada pria culun, memakai kaca mata besar, baju kebesaran dan di masukan kedalam celananya. Si anak laki-laki itu pun diam saja dengan tetap melihat lukanya.
“Kita antar dia aja ke rumahnya” ucap Tikha kepada Tisha.
“Engga usah engga apa-apa” akhirnya pria itu pun menjawab perkataan si kembar.
“Engga apa-apa ayo, kamu sendiri 'kan?” tanya Tikha dan diangguki oleh anak laki-laki itu.
“Ayo aku tuntun kamu” ucap Tisha sambil memberikan tangannya kepada anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu mendongakan wajahnya untuk melihat siapa yang mau memberikan uluran tangannya kepada dirinya yang selalu di hina oleh teman-teman sebayanya.
“Ayo” lagi lagi Tisha mengajaknya dan menggoyangkan tangan kanannya itu. Dan anak laki-laki itu pun tersenyum dan menyambut uluran tangan Tisha “terimakasih” ucapnya kepada Tisha, ketika dirinya di bopong oleh Tisha.
“Jangan dulu bilang terimakasih, kan belum aku tolongin” kata Tisha kepada pria itu.
“Tapi ini kaa..”
“Sssht.. ini kan belum nyampe rumah kamu jadi jangan dulu bilang terimakasih” potongnya. Dan anak laki-laki itu menganggukan kepalanya.
“Tikha kamu bawa sepeda dia ya, biar aku yang bopongnya” titahnya kepada Tikha.
“Oke”
***
Di perjalanan
“Aku Abay, kalian berdua siapa?” tanyanya.
“Aku Tisha dan itu kakak ku Tikha” jawab Tisha dan Abay pun menganggukan kepalanya.
“Kalian kembar?” tanyanya dan diangguki oleh kedua nya.
“Cara bedainnya?” tanyanya lagi.
“Dari poni kami, Abay” kini Tikha yang menjawabnya. Dan lagi-lagi Abay menjawabnya dengan menganggukan kepalanya.
“Kamu cape ya?” tanyanya kepada Tisha, karena Abay melihat Tisha yang sudah berkeringat dan juga terdengar nafasnya yang tersengal-sengal.
“Banget nih” jawabnya.
“Mau gantian, Sha?” timpal Tikha.
“Engga usah Kha engga apa-apa, aku kan kuat” katanya.
“Oke deh”
“Rumah kamu di mana sih, Bay? Jauh banget” keluhnya.
“Itu di depan, sebentar lagi juga sampai”
“Hem” jawab Tisha dan mereka bertiga pun kembali melanjutkan jalannya.
“Haaaah akhirnya sampai juga” ucap Tisha setelah Abay memberitahukan bahwa ini adalah rumahnya.
“Makasih ya udah mau anterin aku” ucap Abay.
“Iya Abay sama-sama” ucap Tikha.
“Yaudah kita pulang” timpal Tisha.
“Inget ya, jadi laki laki itu jangan cengeng” lanjutnya dan langsung meninggalkan Abay dan juga Tikha.
“Ini sepedanya, kita duluan ya, Bay” ucap Tikha dan Tikha pun berlari mengejar Tisha yang sudah jauh dari pandangannya.
Abay yang melihat itu pun hanya tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk menuju rumahnya itu.
Flashback Off
__ADS_1