
"Cha, kenapa?" bisik Tikha kepada Tisha ketika Tikha sedari tadi memperhatikan Tisha yang melamun sambil memperhatikan gelang yang selalu di pakainya.
Tisha pun menoleh ke arah Tikha dan tersenyum "aku engga apa-apa ko, Kha"
"Jangan bohong, Cha. Kita ini kembar, aku bisa ngerasain apa yang kamu rasain" jelasnya.
Tisha menganggukkan kepalanya "aku tau ko, kha" Ucapnya lagi sambil menganggukkan kepalanya.
Tikha pun mengusap punggung kembarannya "jangan khawatir, dia pasti akan kembali" semangatnya.
Tisha kembali menganggukkan kepalanya dengan mantap "aku percaya ko, Kha. Dia pasti akan nepatin janjinya" semangatnya pada diri sendiri.
"Pasti, Cha"
Mendengar bisik-bisik dari sebelah, Kalan sang kakak pun melihat ke arah adik kembarnya, Kalan mengeretnyitkan dahinya ketika si kembar masih asik berbisik-bisik.
"Ada apa?" tanya Kalan membuat si kembar tersentak kaget.
"Ehehehe engga ada apa-apa ko ka, suer" jawab Tikha sambil nyengir kuda dan mengangkat dua jarinya.
Kalan menaikkan satu alisnya tanda tak mengerti.
"Kita engga apa-apa kak, serius deh" timpal Tisha yang mengerti arti tatapan itu.
"Baiklah" final sang kaka.
Kalan pun melanjutkan bernyanyinya bersama dengan yang lain begitu juga dengan yang lain.
"Gema ganteng banget ya kalau lagi main gitar kaya gini" gumam Marsha dalam hati.
Memang kini Gema yang mengambil alih gitar yang tadi di pegang oleh Ardan.
"Kenapa ka Gema semakin hari semakin ganteng aja sih" gumam Ayumi.
Bagaimana tidak tampan, kini Gema memakai celana jeans yang di padupadankan dengan hoodie berwarna navy dan rambut di biarkan acak-acakan ciri khas dari seorang Gema.
Berbeda dari dua wanita itu, Gema kini sedang memperhatikan Tisha yang duduk berhadapan dengannya. Senyumnya tak pernah pudar dari wajahnya ketika melihat wanita pujaannya berada di hadapannya saat ini dengan senyum yang selalu mengembang dan rambut yang indah bergoyang kesana kemari terbawa oleh angin.
"Cantik banget sih, Tisha" gumam Gema dalam hati sambil terus memetikan senar gitarnya.
"Aku harap kamu akan kembali di saat yang tepat ya, Abay" gumam Tisha dalam hati sambil memejamkan matanya dan memaksakan untuk tersenyum.
***
__ADS_1
Malam semakin larut, kini siswa dan siswi SMA SATYA sudah terlelap semua dalam tendanya masing-masing, besok malam adalah malam terakhir mereka di puncak, karena besok malam pukul 7, mereka semua akan kembali lagi ke Jakarta, sesuai dengan rutinitas seperti biasa.
"Huh, gue harus gimana lagi untuk dapetin hati Gema, kayanya susah banget deh" gumam Marsha dalam hati.
Sedari tadi Marsha tidak bisa tidur memikirkan langkah apa yang harus ia tempuh untuk mendapatkan pria pujaan hatinya, Gema.
Gema adalah pria yang di sukainya sejak dirinya dan juga Gema duduk di bangku kelas 10 SMA, awalnya Marsha yang sedang duduk dan melihat betapa tampannya seorang Gema yang notabennya adalah ketua tim basket di Sekolahnya. Tinggi, putih, cool, ketua tim basket, siapa yang tidak suka dengan Gema? Ya walaupun Kalan yang masih ada di peringkat pertama yang selalu di gendrungi oleh para siswi karena tampan, pintar dan juga ketua OSIS SMA SATYA.
"Gema Gema, kenapa sih ini otak selalu aja ada nama Gema" gerutunya.
"Pokoknya gue harus bisa dapetin, Gema. Apapun caranya" ambisinya lagi, dan perlahan tapi pasti rasa kantuk menyelimuti Marsha, dan Marsha pun terlelap.
***
"Mik, Miko" panggil Ardan yang kini sedang berbaring bersebelahan dengan Miko, dan Miko bersebelahan dengan Ardan dan juga Kalan, karena posisi Miko berada di tengah-tengah antara Ardan dan juga Kalan.
"Apaan sih, Dan?" gerutu Miko yang kesal kepada Ardan karena mengganggu waktu tidurnya.
"Kia cantik banget ya tadi"
"Ck. Biasa aja" jawab Miko.
"Mata lu peang biasa aja, segitu cantiknya"
"Ck, tidur mulu lu" ucap Ardan.
"Bodo amat" finalnya dan Miko pun memejamkan matanya.
***
Flashback On
“Aden kenapa den ko bisa begini?” tanya sang bibi yang sedang mengobati kaki Abay.
“Den” panggilnya lagi.
“Eh iya bi kenapa?”
“Ih si Aden malah melamun. Melamunin apa sih den?” tanyanya.
“Engga bi, Abay engga lagi melamun”
“Mau bohong ya sama bibi? Ga bisa den, aden engga bisa bohong sama bibi”
__ADS_1
“Bi cewe yang tadi itu lucu ya”
“Yang mana den? Yang bawa sepeda Aden?”
“Bukan bi. Yang tadi bawa Abay, yang di kuncir itu loh”
“Oh yang itu den. Iya den lucu langsung pulang gitu aja pas udah sampe rumah”
“Haha iya bi bener”
“Mereka anak blok sebelah kali ya bi?” lanjutnya.
“Kayanya gitu sih Den. Soalnya kan kalau di blok ini bibi jarang liat mereka berdua” jawabnya dan diangguki oleh Abay.
“Eh tapi mereka kembar ya den?” tanyanya.
“Iya bi. Yang tadi bawa sepeda namanya Tikha kalau yang di kuncir namanya Tisha bi” jawabnya dan diangguki oleh sang bibi tanda mengerti.
"Jadi, aden suka yang mana? Yang di kuncir itu?" ledeknya.
Abay pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya "iya bi" Jawabnya mantap.
Sang bibi pun ikut tersenyum mendengarnya.
Flashback Off
"Bos" panggil Angga kesekian kalinya.
"Eh iya kenapa, Ga?" tanya Erlan ketika sudah sadar dari lamunannya.
"Saya sudah menyiapkan mansion untuk anda tempati" jelas Angga.
Angga akan kembali menjadi seorang asisten ketika sedang di luar dan Angga akan menjadi seorang sahabat ketika mereka sedang berdua ataupun bertiga dengan Ivan. Erlan sebenarnya tidak ingin seperti itu, tetapi Ivan dan Angga lah yang meminta ingin seperti itu, katanya agar tahu batasan.
Erlan yang tak bisa menolak pun mengiyakan permintaan teman-temannya, tak apalah pikir Erlan, yang penting mereka nyaman itu saja sudah cukup.
Erlan menganggukkan Kepalanya "kita ke rumah utama dulu, baru setelah itu kita ke mansion" jawab Erlan.
Erlan dan keluarga memang sudah pindah dari komplek yang dahulu mereka tempati. Kini rumah utama tetap berada di Jakarta selatan hanya saja terletak agak jauh dari perkotaan, karena memang ketika keluarga Arayyan kembali ke Indonesia setelah pindah dari London memutuskan untuk menghabiskan masa tuanya di Jakarta dengan letak rumah utama sedikit agak jauh dari Perkotaan.
Berbeda dengan mansion milik Erlan yang berada di perkotaan, walaupun begitu Mansion tersebut sangat nyaman untuk di tempati dengan mansion yang sangat luas dan di desain sedemikian rupa oleh Erlan untuk keluarga kecilnya nanti.
"Kita akan bertemu sebentar lagi, Sha" monolog Erlan dalam hati sambil tersenyum manis.
__ADS_1