
Tiga bulan sudah twince, Reysha dan Sailendra bersekolah di SMA SATYA dan selama itu pula Gema terus gencar mendekati Tisha walaupun Tisha sudah sering mengomel jika Gema sudah mendekat ke arahnya dan selama itu pula Erlan tidak kunjung kembali ke Indonesia karena masalah yang dihadapi perusahaannya yang tak kunjung selesai. Terakhir Tisha mendapatkan kabar mengenai Erlan karena Zahra yang menandai Erlan dalam status milik Zahra setelah itu tak ada lagi kabar cerita mengenai Erlan. Erlan seperti di telan bumi.
"Bener 'kan ka Gema ganteng banget" ucap salah satu siswi SMA SATYA yang kini sedang melihat Gema sedang bermain basket dengan timnya melawan tim dari sekolah lain.
"Iya bener, ganteng banget engga ada lawan" balas sang temannya.
Memang sejak dulu tampang bad boy Gema tidak ada yang mampu mengalahkannya, bahkan Lio, Sailendra dan Rendra pun belum mampu mengalahkan ketampanan dari sang king bad boy Gema, apalagi jika sedang berkeringat seperti ini membuat ketampanannya semakin maksimal saja.
"Emang menurut kamu ka Gema engga ganteng, Sha?" bisik Elvana.
"Ganteng" jawabnya.
"Emang ganteng, terus kenapa engga lo terima aja ka Gema?"
Tisha menggelengkan kepalanya "banyak pertimbangan kalau gue sama ke Gema"
"Apa karena ka Kalan?" tebak Elvana.
Tisha menganggukkan kepalanya "salah satunya"
"Salah satunya?"
Tisha menganggukkan lagi kepalanya "kalau salah satunya, berarti ada banyak pertimbangan dong ya?" tebak Elvana lagi.
Lagi dan lagi Tisha mengangguk "gue masih nunggu dia, El"
"Dia?" dahi Elvana mengkerut.
"Siapa dia?" tanyanya lagi.
"Bocah culun yang udah janjiin gue kalau dia bakal balik lagi cuma buat gue, El"
"Terus kamu percaya?"
"Percaya, gue percaya dan yakin kalau dia bakal balik gue demi gue"
"Seyakin itu? Bukannya gue mau ikut campur urusan lo atau bikin lo goyah ya, Sha. Tapi menurut gue itu kan bocah ya, apa harus di percaya segitunya? Gimana kalau dia udah nikah sekarang? Atau dia udah lupa sama kata-kata yang dia ucapin ke elo? Atau yang lebih parahnya maaf-maaf gimana kalau dia... Udah engga ada?"
Mendengar perkataan Elvana Tisha melihat ke arah Elvana dan kembali lagi melihat lurus ke depan tanpa menjawab sepatah kata pun, karena dirinya juga bingung ingin menjawab apa, semua apa yang dikatakan oleh Elvana memang ada benarnya.
Melihat tak ada jawaban dari Tisha, Elvana kembali membuka suaranya "apa dia yang kasih kamu gelang ini, Sha?" tanya Elvana karena selama ini Elvana selalu memperhatikan Tisha, ya tentu saja tentang gelang itu, gelang yang tidak pernah lepas dari tangan Tisha.
"Kamu tau tentang ini?" tanyanya.
"Kamu tau engga tau sih Sha, yang aku tau cuma kamu yang engga pernah lepasin gelang ini" jelasnya.
Tisha tersenyum dan kembali mengingat masa dimana dirinya di pakaikan gelang ini oleh Abay.
"Ica" panggil Abay kepada Tisha yang sangat menggemaskan itu.
"Iya Abay"
"Aku mau kasih kamu sesuatu"
__ADS_1
"Apa?"
"Kamu tutup mata dulu dong"
"Kamu udah kaya orang dewasa aja deh, Abay" ucapnya sambil terkekeh kecil.
Abay yang mendengarnya ikut terkekeh "nanti 'kan kita mau jadi dewasa, jadi kita coba dari sekarang" katanya.
"Yaudah nih aku tutup mata" ucap Tisha yang kemudian menutup matanya.
Melihat itu Abay tersenyum dan mengeluarkan gelang dari saku celananya yang sudah dirinya siapkan untuk Tisha.
"Sekarang kamu boleh buka mata kamu" perintahnya.
Tisha membuka matanya dan melihat sebuah gelang yang berada di tangan Abay "wah gelangnya bagus" pujinya.
"Ini buat kamu, Ica"
"Buat aku?"
"Iya buat kamu, liat disini gelangnya ada hurufnya, ada huruf A yang dimana huruf A ini adalah huruf pertama nama aku dan huruf terakhir dari nama kamu" jelasnya.
Tisha tersenyum mendengar penjelasan itu "sini aku pakein" lanjutnta lagi. Tisha mengangguk dan Abay memakaikan gelang itu di tangan Tisha.
"Maaf ya aku cuma bisa kasih ini ke kamu" ucapnya.
"Engga apa-apa ko Abay, Ica juga seneng di kasih gelang kaya gini, gelangnya bagus, makasih ya"
"Oya Ica"
"Kenapa?"
"Abay mau pamit"
"Pamit? Ko pamit sih? biasanya juga Abay anterin Ica dulu ke rumah" tanyanya karena kini keduanya berada di taman bermain anak, Abay yang mengajak Tisha untuk bermain sebentar.
"Nanti juga Abay anterin Ica pulang lagi ko"
"Terus Abay mau pamit kemana?"
"Abay mau pindah, Ca"
"Pindah rumah?"
"Iya"
"Pindah kemana?"
"Kata daddy, kami sekeluarga akan pindah ke London Ca, karena daddy, mommy dan adik aku udah di London jadi nanti malam aku di jemput sama daddy buat ke London"
"London?"
"Iya"
__ADS_1
"Itu 'kan jauh Abay" ucapnya sambil matanya mulai berkaca-kaca. Karena Tisha bukan tipe anak yang cengeng jadi dia masih bisa menahan air matanya untuk tidak menangis.
"Maafin Abay ya Ica. Tapi Ica tenang aja kalau nanti Abay udah besar Abay pasti bakal kesini lagi ko buat nemuin Ica dan ajak Ica buat menikah"
Dahi Tisha berkerut "menikah? Menikah itu apa Abay? Emang Abay tau?" tanyanya polos.
Abay terkekeh dibuatnya, sebenarnya dirinya pun tidak tau apa itu menikah "Abay juga engga tau apa itu menikah, tapi kalau kata si mbo kita itu akan selalu terus bareng-bareng sama orang yang kita suka sampai tua"
"Oh, emang Abay suka sama Ica?"
Abay mengangguk "suka banget"
"Jadi Ica harus tunggu Abay disini ya, Ica engga boleh kemana-mana, inget ya Abay suka Ica, Ica engga boleh sama siapa-siapa sampe Abay balik lagi ke sini" jelasnya.
Tisha kembali mengangguk "Ica engga akan kemana-mana ko Abay, Ica janji"
Abay tersenyum dibuatnya "yaudah Abay pamit pulang ya, sampein ke mommy Abay engga bisa pamit sama mommy" ucapnya karena kini keduanya sudah berada di depan gerbang rumah Tisha.
"Iya nanti Ica sampein"
"Yaudah Abay pulang ya, dah Ica"
"Dah Abay" ucapnya dan Abay kembali ke rumahnya.
^^^Jika suatu HADIAH itu adalah tanda untuk KEPERGIANMU aku tidak akan mau menerima itu. Karena kepergianmu adalah LUKA terbesarku, tanpa ada obat yang mampu MENGOBATI luka itu. ^^^
^^^~Latisha^^^
"Sha, hey" panggil Elvana lagi ketiga kalinya.
"Eh iya kenapa, El?" tanya Tisha.
"Lo kenapa? Ko malah melamun?" tanya Elvana.
"Engga apa-apa kok"
"Jangan bohong"
"Engga bohong dong"
"Eh iya gimana-gimana? Sekolah kita menang 'kan ya?" lanjutnya lagi untuk mengalihkan pertanyaan-pertanyaan yang akan terlontar dari mulut Elvana.
"Pasti menang dong, siapa dulu ketua tim basketnya" puji Elvana dan Tisha tersenyum dibuatnya.
"Sha?"
"Iya El"
"Apapun keputusanmu semoga itu yang terbaik buat kamu"
"Iya El, makasih ya"
"Iya"
__ADS_1