Twince LA

Twince LA
King AEIRa


__ADS_3

"Axel.... " teriak Cheryl ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa kini markas milik suaminya sudah habis.


Hiks.. Hiks.. Hiks... "Axel" lirihnya lagi sambil mendudukkan tubuhnya karena sudah tidak kuat lagi untuk menahan tubuhnya.


"Tenang nyonya" ucap salah satu anak buah yang sangat di percaya oleh Axel untuk menjaga Cheryl.


"Cepat cari bos Axel! Walaupun sudah rata dengan tanah cari petunjuk yang berguna untuk kita!" perintah Rio kepada anak buahnya yang tersisa.


Cheryl menggelengkan kepalanya "kenapa bisa seperti ini, Yo!" katanya.


Rio! adalah anak buah yang sangat di percaya oleh Axel, Rio bisa dikatakan sebagai tangan kanan Axel Candrio, maka dari itu tak heran jika Cheryl sangat dekat dengannya.


"Siapa yang sudah melakukan ini semua?!" teriaknya.


"King AEIRa, nyonya"


"Siapa mereka?"


"Erlangga, pria yang sudah anda perintahkan kepada kami untuk membunuhnya"


Deg..


"Erlan?"


"Bagaimana bisa? Selama ini yang aku tau Erlan adalah pria yang kutu buku, hanya ingin membaca dan membaca saja!"


Cheryl menggelengkan kepalanya sangat kuat "engga mungkin!"


"Itu benar nyonya, yang melakukan penyerangan tadi adalah King AEIRa!"


"Mari kita kembali ke mansion, nyonya. Di sini sudah tidak aman untuk anda" perintahnya.


"Enggak, saya mau di sini saja!"


"Nyonya, itu tidak aman bagi keselamatan anda! Saya takut ada serangan tiba-tiba dari pihak lain, karena setelah ini kita bukanlah lawan yang di takuti lagi oleh Mafia lain, nyonya!" jelasnya.


Mendengar itu Cheryl pun menganggukkan kepalanya "kita harus membalaskan dendam kematian Axel kepada mereka, Rio!" tegas Cherul ketika sudah bangun dari duduknya dengan menghapus air matanya.


"Itu pasti nyonya, jadi lebih baik nyonya istirahat terlebih dahulu di mansion, setelah Anda tenang baru kita memikirkan ke depannya akan seperti apa!" jelasnya.


"Baik" jawab Cheryl dan kembali ke mansionnya.


...****************...


"Doctor! Doctor!" teriak Miko sambil mendorong Brankar Ivan.


"Astaga, Miko!" ucap mommy dengan penuh terkejutan.


"Ada apa ini, Miko?" lanjutnya mommy ketika melihat Miko yang turun dari mobil dengan tergesa-gesa sambil memanggil dokter dan suster di EAARAYY'S HOSPITAL.


"Nanti akan Miko jelaskan, mom" katanya sambil tetap mendorong Brankar Ivan.


"Doctor, Doctor!" teriak mommy ikut mendorong Brankar Ivan.


"Lo harus bertahan, Van" bisik Angga tepat di telinga Ivan ketika Ivan akan di masukan ke dalam ruang operasi.


Angga menutup matanya dengan bersandar di dinding depan pintu ruang operasi Ivan "gue harap kalian berdua bisa melewati ini semua!" gumam Angga.


Tak lama Angga kembali membuka matanya ketika ponselnya bergetar, tertulis nama Rasya yang ada di layar ponselnya.


📞 Rasya

__ADS_1


"Halo, Sya"


"Gimana keadaan Ivan, Ga?"


"Baru masuk ruang operasi"


Terdengar hembusan nafas pelan dari Rasya "semoga semua baik-baik saja!"


"Iya"


"Gimana penyerangan itu?"


"Mereka sudah rata dengan tanah, Ga!"


"Hah?" ucapnya dengan membukatkan matanya.


"Bagaimana bisa" pikirnya.


"Lo pasti kaget bukan? Sama gue juga kaget pas tau kalau mereka udah rata sama tanah" ucapnya sambil terkekeh.


"Tapi lo yakin mereka rata sama tanah?"


"Yakin seratus persen gue, gue di sana sampai akhir"


"Semua berkat tuan Nicholas" lanjutnya lagi.


Mendengar itu Angga melirik ke arah Miko dan menjauh dari ruang tunggu operasi Ivan "maksudnya gimana?" tanyanya ketika sudah menjauh dari ruang tunggu operasi.


"Dia sudah menyiapkan semua, dan bom juga sudah beliau siapkan di setiap sudut markas"


"Serius?"


"Ya gue serius, Ga! Gue juga sempet ketar ketir dengernya tapi pas udah di lakuin seru juga, kayanya kita harus belajar banyak tentang mafia kepada beliau, Ga. Kayanya dia tau semua tentang dalam-dalamnya dunia hitam"


"Masih ada yang tersisa?"


"Ya! Tangan kanannya Axel dan beberapa anak buahnya yang melindungi Cheryl!"


Angga menganggukkan kepalanya "kita bahas nanti tentang itu. Elo engga ke rumah sakit?"


"Oke"


"Nanti gue ke sana sama anak-anak yang lain"


"Oke"


"Gue sama anak-anak yang lain siap-siap dulu, kalau ada apa-apa langsung hubungi gue aja!"


"Oke"


Tuuut... Panggilan pun terputus.


Angga kembali ke ruang tunggu depan pintu operasi Ivan.


"Apa anda tidak kembali ke ruangan Erlangga saja, tuan muda Miko?" tanyanya.


Miko menggelengkan kepalanya, "Tidak tuan Angga, setelah ini saya akan kembali ke mansion karena tuan muda Kalan dan nona muda sudah berada di sana" jawabnya.


Angga menganggukkan kepalanya "baiklah"


"Terimakasih atas bantuannya" ucapannya lagi.

__ADS_1


"Sama-sama.Jika terjadi sesuatu segeralah memberi kabar kepada saya atau kepada papah saya, agar kami bisa membantu"


Angga menganggukkan kepalanya "baik"


"Jangan sungkan untuk meminta bantuan, dan tolong panggil saya dengan nama saja, jangan ada embel-embel 'tuan'" ucap Miko.


"Baik, anda juga jangan memanggil saya dengan embel-embel 'tuan'" ucapnya.


"Baik"


...****************...


"Istirahatlah" perintah Kalan kepada kedua adiknya dan juga Sailendra.


"Iya kak" jawab Tikha.


"Kha" panggil Tisha setelah keduanya berada di kamar.


"Hem?"


"Aku engga bisa" katanya dengan air mata yang kembali keluar tanpa di perintah.


Melihat itu Tikha mendekat ke arah kembarannya dan merangkul sang adik dengan mengusap lembut kepalanya dan mengecup lembut kepala sang adik "sabar Sha, aku tau kamu kuat"


"Aku engga bisa, Kha" ucapnya lagi.


"Keluarkan semua yang kamu rasain Sha, jangan kamu pendam. Aku ada di sini buat kamu" katanya.


Terdengar tabgisan Tisha semakin kencang namun sangat lirih jika di dengar "kenapa harus dia, Kha? Kenapa?"


"Karena kamu dan dia siap untuk melewati ini semua bersama, kalian adalah dua insan yang sangat kuat untuk melewati semuanya, percayalah semuanya akan selesai sebentar lagi"


"Aku engga mau kehilangan dia, Kha"


"Aku yakin kamu engga akan kehilangan dia, Sha"


"Sha?" panggil Tikha.


"Ya?"


"Jika Abaymu telah kembali"


"Ya?"


"Bagaimana dengan, Gema?" tanya Tikha.


Deg..


Hati Tisha berdetak sangat kencang.


"Yang aku tau, selama ini kalian sangatlah dekat"


"Aku rasa kamu juga merasa nyaman saat bersamanya"


"Apa itu betul?" tanyanya Tikha namun tetap tak ada jawaban dari Tisha.


"Aku tau kamu pasti bingung, tapi ini semua sudah terjadi, Sha. Aku rasa kini Gema semakin ingin mendapatkan kamu, semakin suka sama kamu"


"Kamu harus bisa menyelesaikan ini semua Sha, jika Abaymu sudah kembali"


"Kamu harus pilih salah satu di antara mereka berdua"

__ADS_1


"Atau"


"Kamu tidak pilih salah satu di antara mereka. Memang itu sangat menyakitkan bagi keduanya tetapi menurutku itu adalah hal yang paling baik jika harus memilih satu di antara mereka" jelasnya.


__ADS_2