
Uxio bangkit dari duduknya, "bos gue mau minta maaf sebelumnya" ucapnya membuat Sailendra mengerutkan keningnya.
"Kenapa?"
"Maaf karena gue udah teledor bos, dan gue engga bisa jaga keluarga lo"
Bugh... satu hantaman dari Sailendra lolos di wajah Uxio.
Uxio tersungkur, Zayn dan Ezra membantu Uxio untuk bangkit.
"Apa maksud lo, Uxio?" tanya Sailendra kepada Uxio dengan nafas yang masih memburu.
"Yang melakukan penyerangan pada saat itu ke SMA SATYA adalah sepupu gue Dafa" lanjutnta lagi.
Bugh..
Satu bogeman mentah kembali di layangkan oleh Sailendra kepada perut Uxio.
"Brengsek, gara-gara sepupu lo Tikha sampe sakit dan harus di rawat. Gara-gara sepupu lo juga trauma Tikha muncul lagi" teriak Sailendra.
"Bos udah bos, Uxio engga salah. Uxio bisa mati!" terik Zayn dengan menarik Sailendra dari tubuh Uxio.
Sailendra menatap nyalang ke arah Uxio "dimana dia sekarang?" tanya Sailendra.
"Sudah berada di tangan tuan muda Erlan, bos" jawab Uxio.
"Erlangga maksud lo?" tanya Sailendra dan diangguki oleh Uxio.
"Bawa gue ke tempat Erlangga sekarang juga!" perintah Sailendra.
"Baik bos" jawab Sailendra dan meninggalkan ruangannya.
"Lo engga apa-apa, Xio?" tanya Ezra.
"Gue engga apa-apa Zra, santai" jawabnya.
Ezra mengangguk, Uxio memang sangat kuat di bandingkan yang lain, namun Ezra adalah tukang bogem yang paling baik diantara mereka berempat.
"Lo tau tempat Erlangga?"
Uxio mengangguk, "gue udah simpen GPS di ponselnya Daffa"
"Oke. Lo sama gue" kata Ezra dan Uxio mengangguk.
Akhirnya mereka berempat pun pergi ke tempat Erlangga, tentu bukan Perusahan RAYY group melainkan mansion milik Erlangga, karena Uxio yakin kini Daffa bukan berada di perusahaan RAYY melainkan mansion milik Erlangga, karena melihat dari GPS Daffa yang mengarah ke salah satu mansion yang berada di Jakarta.
Sailendra berboncengan dengan Zayn, dengan Sailendra yang membawa motor milik Zayn, sedangkan Ezra bersama dengan Uxio, dengan Ezra yang membawa motor miliknya dan Uxio berada di belakangnya.
...****************...
Di perusahaan RAYY group
"Bawa Ivan kembali ke London!" perintah Erlangga dengan tegas.
"Hubungi jet pribadi milik kita yang berada di London untuk menjemput Ivan di Indonesia!" lanjutnya.
Daffa, Devan dan Angga membukatkan matanya terkejut mendengar penuturan dari Erlangga.
"Baik bos" jawab anak buah Erlangga.
"Ini semua gara-gara lo tau engga Dafa!" teriak Devan kepada Daffa.
Seakan tersadar atas kesalahannya Dafa menatap nanar ke arah sang adik, "sorry Van"
"Penyesalan lo itu udah engga ada gunanya lagi! Gue udah pernah peringatin lo bukan? Gue bilang jangan sentuh keluarga Wijaya dan keluarga Arayyan!" teriak Devan yang sudah tidak bisa lagi untuk menahan amarahnya.
"Lan, lo engga bisa kaya gini!" timpal Angga.
__ADS_1
"Engga usah lo belain siapapun disini Angga, Ivan sudah pernah berjanji jika adiknya Daffa membuat ulah dia sendiri yang akan bertanggungjawab!"
Deg...
Seperti tertusuk tombak, dalam waktu sesaat jantung Daffa berhenti berdetak.
"Kak Ivan, maaf" ucapnya.
Ivan melihat ke arah sang adik tersenyum dan berkata, "engga apa-apa Fa, ini emang udah jadi tanggung jawab gue sebagai kakak lo"
"Kak sorry, gue emang bukan adik yang baik buat lo"
Ivan kembali tersenyum, "engga apa-apa Fa"
Bugh..
Bugh..
Bugh...
Tanpa di duga, Devan melepaskan cengkramannya dari anak buah Erlangga, setelah terlepas Devan pun memberikan beberapa bogeman mentah kepada Dafa sang kakak kembarnya.
"Jangan bilang gue lemah, gue selama ini diem karena lo itu adalah kakak gue, Daffa"
"Daffa, Devan" teriak Ivan dan melerai mereka berdua.
"Jangan seperti ini!" tegasnya.
"Biar, biar dia mati aja kak" teriak Devan sambil menunjuk Daffa yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
Daffa menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Bawa mereka berdua ke mansion!" perintah Erlan kepada anak buahnya.
"Baik bos" jawab anak buah Erlangga dengan patuh.
"Lo akan tetap terbang ke London, Van" ucap Erlangga kepada Ivan.
Erlangga mengangguk, "gue engga akan apa-apain adik lo, Van. Lo tenang aja, sedari tadi juga gue nyerang lo bukan nyerang adik lo, kalau gue engga inget sama kata-kata lo kalau lo sayang banget sama dia, dia udah mati di tangan gue, Van" jelas Erlangga.
Ivan mengangguk, "thanks Lan, lo emang sahabat gue yang terbaik"
"Gue engga janji dengan keluarga Wijaya" celetuk Erlangga membuat Ivan teringat bahwa kini sang adik bukan hanya bermasalah dengan Erlangga melainkan dengan Wijaya juga.
"Gue masih boleh ikut ke mansion 'kan Lan? Perasaan gue engga tenang" tanya Ivan.
Erlangga mengangguk, "sampai masalah ini selesai, lo masih ada di Indonesia buat lindungi adik-adik lo, Van"
"Makasih banyak Lan" ucap Ivan dan diangguki oleh Erlangga.
Erlangga pun berjalan keluar dari ruangannya untuk pergi ke mansion nya.
"Lo engga apa-apa, Van?" tanya Angga kepada sahabatnya.
Ivan menggeleng, "engga apa-apa Ga, santai aja. Gue tau gue bakal kaya gini sama Erlangga"
Angga mengangguk, "kita berdua udah sama-sama tau sifat Erlangga"
Ivan ikut mengangguk, "tapi gue masih bersyukur ketemu sama Erlangga, walaupun kaya gitu, dia masih mandang gue sahabat nya Ga. Dia masih mau turutin apa yang gue omongin ke dia" jelas Ivan dan diangguki oleh Angga.
"Sebrengsek apapun Erlangga, dia masih punya hati nurani, Van"
"Iya Ga" jawabnya.
...****************...
"Asik banget nih makan makan begini, next siapa lagi nih?" tanya Kenan kepada temannya, kini geng Lio sudah akan menjadi teman akrab geng Tikha karena Rendra yang sudah mempublikasikan hubungannya dengan Elvana.
__ADS_1
"Eh btw, ko Agas doang sih yang di palak? Noh couple yang ono kaga di palak juga?" tanya Reysha dengan menunjuk ke arah Elvana dan juga Rendra.
"Agas bayarin minum, gue yang bayarin makannya" jawab Rendra.
Nah Rendra memang tidak pernah mengeluarkan suaranya, tapi jika sudah mengeluarkan suaranya berarti itu sudah termasuk kedalam kriteria penting.
"Nah cakep" kata Reysha dengan memberikan jempolnya ke hadapan Rendra.
"Mantap kan kalau begini" kata Kenan.
"Lah iya ko lo udah nge langkahin si bos aja si Ndra?" tanya Kenan dan membuat Lio terdesak ketika sedang minum.
Uhuk.. Uhuk.. Uhuk...
"Pelan-pela Lio" kata Tikha dan fiangguki oleh Lio.
"Lah iya gue baru sadar" kata Lio.
"Sorry bos" timpal Rendra.
"Santai aja Ndra, gue nemenin si Kenan yang jomblo ko kasian dia kalau jomblo sendiri" ledek Lio kepada Kenan.
Kenan kembali di buat terbatuk-batuk
"Kenapa jadi gue?"
"Ya emang lo sasarannya"
"Dih engga ikut-ikutan gue mah" kata Kenan dan kembali memakan baksonya.
"Kamu pulang bareng gue atau Tikha, Rey?" tanya Agas kepada kekasihnya.
Reysha mengangguk, "sama lo aja Gas"
"Lagian gue engga ke rumah utama kok" lanjutnya lagi dan diangguki oleh Agas.
"Lo engga apa-apa Tik pulang sendiri?" tanya Agas kepada Tikha.
"Engga apa-apa Gas, santai aja"
"Oke"
"Kita pulang bareng 'kan?" tanya Rendra kepada Elvana dan diangguki oleh Elvana.
"Kalian udah biasa pulang bareng?" tanya Tikha dan diangguki oleh Elvana.
"Anjir bisa-bisanya pulang bareng tapi engga ketauan sama kita-kita" ucap Reysha.
"Main bersih dong" jawab Elvana.
"Engga nyangka gue" kata Reysha dengan menggelengkan kepalanya.
"Siapa dulu dong, Elvana" ucapnya dengan bangga, membuat temannya tertawa.
"Mau pulang bareng gue engga?" tanya Lio kepada Tikha dengan tiba-tiba.
Tikha menggeleng "gue bawa mobil Tisha, Li" jawab Tikha dengan halus.
Lio mengangguk, "Nan, lo bawa motor gue ke rumah Tikha. Biar gue bawa mobil Tisha" perintahnya yang mendapatkan pelototan dari Kenan.
"Berani lo melototin gue?" tanya Lio dan Kenan pun mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"Vis"
"Mau engga?"
"Siap bos" jawabnya dengan semangat dan Lio mengangguk.
__ADS_1
"Jadi gimana? Bisa 'kan gue pulang bareng lo?" tanyanya pada Tikha.
Tikha pun mengangguk, "Oke"