
Pintu mansion milik Erlangga terbuka, dan munculah sosok Angga yang keluar dari dalam.
"Dimana Erlangga?" tanya Sailendra kepada Angga.
"Ada keperluan apa anda kemari, tuan muda Sailendra?" bukan menjawab pertanyaan Sailendra, Angga malah berbalik tanya kepada Sailendra.
"Gue engga suka bertele-tele, dimana Erlangga? Bilang sama dia kalau gue kesini mau ketemu sama Dafa!" ucap Angga.
"Biarkan Sailendra masuk" ucap Erlangga dari dalam yang langsung tersambung dengan Angga melalui earpiece.
Setelah mendengar perintah dari Erlangga, Angga pun mempersilahkan Sailendra dan ketiga temannya untuk masuk yang kemudian mengantarkannya kepada Erlangga yang dimana kini sudah ada Dafa, Devan dan juga Ivan disana.
"Bangsat!" teriak Sailendra ketika sudah bertemu dengan Dafa.
Bugh..
Bugh...
Bugh....
Sailendra memukul Dafa dengan membabi buta tanpa perlawanan dari Dafa karena tangan Dafa masih di ikat di belakang tubuhnya.
Erlangga langsung memisahkan Sailendra dari Daffa.
"Sailendra, dia bisa mati!" teriak dari seseorang yang sangat Sailendra kenal, namun bukan Erlangga lah orangnya.
Seluruh orang yang mendengar teriakan itu pun menoleh ke asal suara.
Terlihat sudah ada Kalan, Miko dan juga Ardan di belakang mereka.
"Jangan ikut campur!" tegas Sailendra namun bukan Ilen, melainkan Lendra.
Kalan mendekat ke arah Sailendra, "dia bisa mati, Lendra"
"Laki-laki sialan ini harus mati!"
"Dia adik gue!" teriak Ivan yang tidak Terima dengan perkataan Sailendra.
Lendra melihat ke arah Ivan, "adik lo ini sudah hampir membuat sepupu gur mau mati!"
"Baru hampir 'kan? Engga mati?" sarkas Ivan kepada Sailendra.
Dan
Bugh....
Satu tinjuan lolos dari Kalan mengenai tepat perut sixpack Ivan.
"Kalan!" teriak daddy yang baru saja datang ke mansion milik Erlangga.
"Jangan sekali-kali lo berkata yang engga-engga tentang adik gue!"
"Rumit" keluh Erlangga dalam hati.
"Nicholas" panggil daddy Ardi.
"Siap tuan"
"Kirim dia ke negara lain!" perintah daddy Ardi kepada Nicholas dengan menunjuk Dafa.
"Baik tuan" jawab Nicholas patuh.
Dengan sigap beberapa anak buah milik Erlangga mencegah Nicholas untuk membawa Dafa.
Melihat itu daddy Ardi lihat ke arah Erlangga yang sedang menatap dirinya.
Mengerti arti tatapan itu, Erlangga pun melihat ke arah Ivan, Ivan menggelengkan kepalanya.
"Dad, biar Erlangga yang mengirim Dafa ke negara lain" ucap Erlangga kepada daddy.
"Berikan dia kepada daddy, Erlangga!" ucap Daddy namun Erlangga bergeming.
__ADS_1
Bugh...
Kalan memukul Erlangga.
"Jangan harap lo bisa ketemu lagi sama adik gue!" sarkas Kalan setelah memukul Erlangga.
"Mari daddy kita pergi dari sini!"
"Bawa Sailendra" perintah Kalan dan meninggalkan mansion Erlangga.
"Urusan kita belum selesai!" ucap Sailendra kepada DafaDafa dan Sailendra pun ikut meninggalkan mansion Erlangga.
...****************...
"Bulan depan kakak udah mulai ujian ya?" tanya Nathan kepada kakak kembarnya.
Kini twince dan Nathan sedang menonton televisi bersama di ruang keluarga.
Tikha mengangguk, "iya"
"Jadi sebentar lagi kita akan kehilangan kak Kalan dong?" tanya Nathan.
Twince melihat ke arah Nathan, "engga boleh ngomong gitu dih, kak Kalan kan cuma pindah negara aja bukan pindah alam" ketus Tikha.
"Tau dih ngomongnya asal aja" timpal Tisha.
"Yaiya maksud Nathan kan engga seru aja gitu kalau di rumah engga ada ka Kalan"
"Ya mau gimana lagi, ini kan udah jadi pilihan kakak"
"Pasti ka Tisha juga mau ikutin jejak ka Kalan ya?" tanya Nathan kepada Tisha.
Tisha mengangguk, "yoi brother"
"Dih kok kamu juga ikut pindah?" tanya Tikha kepada Tisha.
"Karena ka Tisha pengen jadi seperti ka Kalan" Jawab Nathan.
"Tisha!" teriak Kalan.
Tisha, Tikha dan Nathan sama-sama tergelonjak kaget karena teriakan itu.
"Suara siapa tuh?" tanya Nathan.
"Tisha!" teriak Kalan lagi.
"Kaya suara kak Kalan" jawab Tisha.
"Tisha bangun kamu" tegas daddy ketika melihat ketiga anaknya sedang menonton televisi bersama.
Bukan hanya Tisha, baik Tikha maupun Nathan sama-sama bangun dari duduknya.
"A... ada apa daddy?" tanya Tisha dengan gugup.
Si tomboy mulai takut.
"Jangan lagi kamu berhubungan dengan Erlangga!" sarkas daddy.
Tisha yang mendengarnya pun mengangkat kepalanya, bahkan Tikha dan juga Nathan.
"Kenapa dad?" bukan Tisha yang bertanya melainkan sang mommy yang bertanya.
"Erlangga bukan pria yang baik untuk anak kita" jawabnya dan berjalan meninggalkan mereka semua di ruang keluarga.
Kalan pun mengikuti sang daddy meninggalkan mereka semua yang masih termenung diam.
"Ada apa, Sha?" tanya mommy krpada Tisha.
"Tisha juga engga tau mommy, coba nanti Tisha tanyain ke Erlangga ya mom" katanya dan diangguki oleh mommy.
Setelah mendapat jawaban dari sang anak, mommy pun menyusul sang suami ke kamarnya, ingin menanyakan apa yang terjadi.
__ADS_1
Begitu pun dengan Nathan yang menyusul sang kakak laki-laki nya.
"Ayo kita ke kamar" ajak Tikha kepada Tisha.
"Ayo Kha, ayo kita dengarkan penjelasan dari Erlangga" ucapnya dan diangguki oleh Tikha.
...****************...
"Pasien sudah melewati masa kritisnya, beliau sudah bisa d pindahkan ke ruang VVIP" ucap dokter SATYA MEDICA yang merawat Gema selama ini.
Sudah hampir satu bulan Gema di rawat di SATYA MEDICA, dan baru hari ini Gema sadar dari komanya.
"Allhamdulilah, terimakasih dok"
"Sama-sama nyonya, baik kalau begitu kami permisi, perawat akan menyiapkan kamar untuk tuan muda Gema" ucapnya dan diangguki oleh orang tua Gema.
"Baik"
"Lo bener-bener hebat kak, lo bisa berjuang sampai lo bisa bangkit lagi kak. Gue salut sama lo" gumam Galih dalam hati.
...****************...
"Gimana sekarang?" tanya Angga kepada Erlangga.
Sejak kepergian keluarga Wijaya, Erlangga hanya terdiam menatap ke depan.
Pikirannya berkecamuk, bagaimana hubungannya dengan Tisha sekarang?
Sudah susah payah dirinya meninggalkan pekerjaannya di London hanya untuk memenangkan hati Tisha, tapi kini? Karena masalah ini dirinya harus di jauhkan oleh Tisha.
Erlangga yakin setelah ini pasti akan sangat sulit untuk bertemu dengan Tisha.
Dret.. Dret.. Dret..
Getaran ponsel membuyarkan lamunab Erlangga, tertulis nama Tisha di layar ponselnya.
Erlangga mengambil ponselnya kemudian keluar dari ruangan tersebut untuk pindah ke kamarnya.
"Bereskan semuanya Angga. Gue percaya penuh sama lo!" tegas Erlangga kepada Angga.
Angga mengangguk, "iya Lan" jawabnya.
Dengan pasti Erlangga menggeser icon hijau di layar ponsel miliknya.
📞 Latisha Elenora Wijaya
"Iya sayang kenapa?" tanya Erlangga.
"Kamu ada masalah apa sama daddy dan kak Kalan, Bay?"
".... " Erlangga diam tak menjawab.
"Abay?" panggilnya lagi.
"Sorry" jawab Erlangga pelan.
"Why?"
"Bisa kita ketemu?" tanya balik Erlangga.
"Bisa, mau dimana?"
"Aku yakin kamu udah engga akan boleh untuk ketemu lagi" lanjut Tisha.
Walaupun tak terlihat Erlangga tetap mengangguk.
"Kita ketemu di Noora Resto and Cafee"
"Oke sayang, hati-hati"
"Iya by kamu juga hati-hati"
__ADS_1
"Iya sayang"