Twince LA

Twince LA
Before You Go


__ADS_3

"Kakak, apa kamu beneran engga kangen sama aku?" tanya Kia dengan suara serak menahan tangisnya.


"Oh apa kamu juga beneran engga kangen sama, Tisha, sama mommy, daddy, ka Angga dan ka Ivan?"


"Kakak ko nyebelin banget ya engga mau bangun"


"Kakak ayo dong bangun, aku kangen banget sama kakak"


"Kakak jangan lama-lama tidurnya nanti Tishanya di ambil loh sama Gema"


"Gema pasti makin mepet sama si Tisha kalau engga ada kakak"


"Kakak" teriaknya.


"Bangun" teriaknya lagi dengan diiri isak tangis yang sangat memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.


"Nona muda" panggil Angga.


"Sudah" lanjutnya lagi.


"Ka kenapa ka Erlan engga mau bangun aja" lirihnya di pelukan Angga.


"Sabar nona muda, tuan muda Erlan sedang berusaha untuk bangun demi kita semua. Jadi mohon bersabarlah" ucapnya untuk menguatkan Azkia.


"Tapi ka, kapan kakak akan bangun? Udah tiga bulan kakak engga bangun-bangun"


"Sabar nona"


"Aku harus kembali ke Indonesia, aku harus sekolah ka Angga. Tapi aku engga bisa tinggalin kakak kaya gini"


Memang benar, sudah dua minggu Azkia izin tidak masuk sekolah, maka dari itu hari Minggu nanti dirinya harus kembali ke Indonesia untuk kembali bersekolah.


"Do'a kan yang terbaik saja untuk tuan muda, tuan muda juga akan bersedih jika melihat adik kesayangannya bersedih seperti ini" bujuknya.


"Dimana mommy dan daddy?" tanyanya dengan melepaskan pelukannya dengan Angga dan menghapus air matanya yang terus mengalir.


"Sudah kembali ke mansion nona" jawabnya dan diangguki oleh Erasma.


"Apa nona tidak akan pulang?" tanya Angga. Karena Angga yang di perintahkan oleh Erlan untuk selalu menjaga sang adik jika dirinya sedang tidak ada, karena Kia sangat dekat dengan Angga bukan Ivan, mengingat Ivan yang jarang sekali ikut pulang ke Indonesia bersama dengan Erlan dan juga Angga.


"Engga kak, aku mau di sini aja"


"Tapi nona harus istirahat, lihatlah tubuh mu sudah terlihat kurus dan kantung matamu sudah menghitam, apakah tuan muda Ardan tidak mengomentari penampilan anda saat ini, nona muda?" tanyanya.


Erasma yang mendengar itu pun melihat ke arah tubuhnya dari atas sampai ujung kakinya "apakah itu benar?" tanyanya sambil memegang wajahnya.


Angga menganggukkan kepalanya "benar nona, sebentar" katanya dan Angga mengambil ponselnya membuka aplikasi kamera untuk di berikan kepada Erasma.


"Lihatlah nona" perintahnya.


Erasma pun melihat penampakan wajahnya pada kamera tersebut "oh good, item banget" katanya.


Angga tersenyum melihat itu karena berhasil meredakan isak tangis dari Erasma "tapi ko Ardan engga bilang apa-apa ya kak sama aku?"


"Hem.. " Angga berfikir.


"Kayanya sih takut nona muda marah, mengingat jika nona muda itu, galak" ledeknya.

__ADS_1


Erasma membulatkan matanya "ngaco" sambil menggeplak bahu Angga pelan.


Angga terkekeh "ayo nona, nona muda harus istirahat. Biar saya yang menyiapkan tempat untuk nona"


Erasma mengangguk "baik" jawabnya.


Erasma pun keluar dari ruang sang kakak.


"Hem ka Angga" panggil Erasma.


"Ya nona muda?"


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanyanya dan diangguki oleh Angga.


"Hem.. Maaf sebelumnya apa kakak seorang mafia?" celetuknya.


Angga terbatuk-batuk karena terkadang ludahnya sendiri ketika mendengar apa yang di katakan oleh Erasma "ke... Kenapa nona muda bisa berfikiran seperti itu?" tanyanya.


Erasma melihat sekelilingnya "itu banyak yang pake baju hitam" jawabnya polos.


Angga membuang nafasnya lega.


"Dan.. "


"Dan?"


"Aku sering baca novel dan drakor tentang mafia-mafia gitu ka, nah biasanya kalau banyak yang pake baju hitam kaya gitu berarti mereka sedang menjaga bosnya ka" jelasnya.


"Ah itu mah nona muda terlalu menghayati film atau novel nona, mana mungkin tuan muda Erlan seorang mafia" kilahnya.


"Terus kenapa mereka ada di sini? Pasti untuk menjaga kakak 'kan?" tanyanya dan Angga mengangguk.


"Nah apa kakak seorang mafia?"


"Bukan nona, tadi kan nona sendiri yang bilang kalau tuan muda itu baik dan lemah lembut bagaimana mungkin menjadi seorang mafia yang kejam?"


"Iya juga, terus ini?"


"Itu hanya pengawal biasa nona, itu pun anak buah kami"


"Tapi bisa bela diri?" tanya Erasma dan diangguki oleh Angga.


"Ah baiklah, aku percaya"


"Eh iya, ka Angga"


"Iya nona muda?"


"Kenapa kakak bisa kecelakaan? Bukannya kakak adalah pria yang sangat teliti dan sangat waspada?" tanya Erasma mampu membuat Angga tidak bisa menjawabnya.


...***************...


Terdengar suara dari petikan senar gitar dengan diiringi nyanyian yang sangat indah dari suara yang sangat merdu, lagu Before You Go - Lewis Capaldi mengiringi petikan senar gitar di siang hari ini.


Tak terasa air mata menetes tanpa di minta oleh si pemiliknya "sungguh berat" ucapnya ketika merasa bahwa air matanya menetes.


"Hahh" terdengar hembusan nafas.

__ADS_1


"Loh ko berenti? Padahal belum selesai loh kak" tanya Nathan kepada sang kakaknya.


"Ya karena ada kamu" jawab Tisha dengan seribu alasan, padahal dirinya memang sudah tidak sanggup untuk melanjutkan nyanyiannya lagi.


"Dih ko gitu" jawab Nathan dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Canda kamu" jawabnya sambil terkekeh.


"Lagian lagunya juga kan udah selesai, de"


Nathan mengangguk "lagian kayanya kakak suka banget deh sama lagu itu, setiap Nathan denger kakak nyanyi, pasti nyanyinya lagu itu terus"


"Enakin tau de"


"Kedengerannya juga enak banget, selow gitu loh lagunya"


"Yaiya sih emang, aku juga suka ko"


"Tapi engga akan sesering itu 'kan nyanyinya, apa jangan-jangan kakak nyanyi itu buat dia ya?" tanya Nathan.


"Dia?"


Nathan kembali mengangguk "iya dia, yang sering mommy dan daddy omongin waktu dulu itu loh"


"Siapa ya, aku lupa" lanjutnya.


"Siapa sih de?"


"Aku juga lupa kak"


"Engga jelas kamu tuh"


"Dih" katanya sambil melihat ke arah Tisha.


"Dah dih dah dih terus"


"Kamu engga nongki de? Tumben?"


Nathan menggelengkan kepalanya "lagi males kak" jawabnya dengan wajah yang murung.


Tisha menaikkan satu alisnya "kenapa?"


"Ck"


"Kenapa sih?" tanya Tisha kepada Nathan.


Nathan duduk di hadapan Tisha dengan menyandarkan tubuhnya di kursi yang berada di balkon kamar Tisha. Nathan dan Tisha sebenarnya dekat tapi tak sedekat dirinya dengan Kalan, Nathan lebih dekat dengan Tikha si wanita lemah lembut yang mampu membuat siapa pun nyaman jika berdekatan dengannya.


"Aku lagi suka sama cewe kak" jujurnya.


"Terus apa masalahnya?"


"Aku pernah nyatain perasaan aku sama dia, tapi di tolak"


Tisha tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan dari Nathan adik bungsunya, bisa-bisanya seorang Nathan Eldhikari anak dari daddy Ardi yang terkenal bad boy di keluarganya di tolak oleh seorang wanita incarannya.


"Ish nyebelin banget" ketus Nathan.

__ADS_1


__ADS_2