Twince LA

Twince LA
Hukuman Sailendra dan juga Tisha


__ADS_3

Tok... Tok..Tok... Pintu ruangan Erlangga di ketuk dari luar.


"Masuk" ucap Erlangga dari dalam.


Seseorang yang mengetuk pintu itu pun membuka pintunya dan masuk ke dalam ruangan milik Erlangga.


"Lan" panggilnya.


Seakan tak asing di telinganya, Erlangga pun langsung mengangkat kepalanya


Dan


Bugh....


"Maksud lo apa?" teriak Erlangga kepada Ivan.


Ivan yang memang sudah tau tentang Erlangga yang akan mengamuk pun pasrah di buatnya, "so... sorry" ucapnya.


"Gue udah pernah kasih ampun buat adik lo Daffa dan lo yang akan bertanggungjawab atas perbuatan dia, dan ini apa Van, ini apa?" teriak Erlangga lagi dengan masih memukuli Ivan.


Ceklek...


"Woi anjir lah, jangan berantem di kantor ege" teriak Angga ketika baru saja masuk ke dalam ruangan Erlangga dan terkejut ketika Erlangga sedang memukuli Ivan.


Angga ketar ketir melihat ini.


Angga langsung mengunci pintu ruangan Erlangga dan membuatnya menjadi kedap suara agar tidak ada yang mendengarnya.


Angga langsung memisahkan kedua sahabatnya itu, "Ivan bisa mati Erlangga!" teriak Angga dengan tegas.


Erlangga melepaskan Ivan dengan nafas yang masih memburu, "biar dia suruh mati! Dia yang akan bertanggungjawab atas perlakuan adiknya!" tegas Erlangga.


"Yang salah itu Dia, Lan. Kenapa lo malah nyerang si Ivan!" tegas Angga.


"Udah Ga, ini emang salah gue" kata Ivan dengan suara yang lemah.


Angga melihat ke arah Ivan, "ini salah adik lo bukan lo"


"Tapi dia yang udah janji bakal tanggung jawab atas perbuatan adiknya!" jawab Erlangga.


"Iya gue tau, tapi setidaknya lo dengerin dulu penjelasan si Ivan, jangan asal baku hantam aja. Lo inget Ivan itu sahabat kita, Erlangga. Jangan cuma gara-gara cewe lo malah kaya gini!" telak Angga.


"Bangun, Van" kata Angga sambil membantu Ivan bangun.


"Dan sekarang gue yakin, Daffa adik lo pasti udah kabur ke pulau pribadi milik keluarga lo bukan?" tanya Erlangga.


Deg


Jantung Ivan seakan ingin lompat dari tempatnya, Ivan melihat ke arah Angga dan Angga yang mengerti itu pun menggelengkan kepalanya, seakan menjawab bahwa bukan dirinya lah yang memberitahu Erlangga.


"Buka pintunya!" perintah Erlangga.


"Buka!" perintahnya lagi dengan suara yang tegas.


Erlahan namun pasti, Angga membuka pintunya dan betapa terkejutnya Ivan melihat Dafa yang masuk ke dalam ruangan dengan beberapa anak buah milik Erlangga yang berada di London.

__ADS_1


Jangan lupakan bahwa Erlangga sudah lihai dengan hal tangkap menangkap, karena Erlangga sangat berteman baik dengan beberapa Mafia terbesar di London, jadi banyak sedikitnya Erlangga tahu tentang taktik untuk mengalahkan dan menangkap musuh.


Sama seperti Ivan, Angga pun membulatkan matanya ketika melihat Dafa yang tidak jadi berangkat ke pulau pribadi milik Keluarga Narendra.


"Dafa?" ucap Ivan sang kakak.


"Kak" jawabnya.


Tak lama


"Devan" panggil Ivan lagi ketika melihat Devan yang berjalan masuk ke ruangan Erlangga.


"Kak Ivan" panggilnya.


Ivan dan Angga melihat Erlangga yang susah duduk di kursi kebesarannya, inilah sisi lain dari Erlangga, yang sangat dingin ketika di hadapkan dengan para musuhnya.


"Terkejut?" tanya Erlangga yang pertanyaannya sangat tepat sekali ketika melihat rat wajah dari kedua sahabatnya itu.


"Ini bukan tentang wanita atau pun yang lain" lanjut Erlangga.


"Walaupun Dafa tidak melukai wanita yang gue kenal, gue akan tetap seperti ini jika memang gue tau tentang hal itu"


"Dan walaupun Dafa engga bisa gue dapetin, Dafa akan tetap tertangkap oleh keluarga Wijaya" jelas Erlangga kepada Ivan dan juga Angga.


Baik Ivan, Dafa, Devan dan juga yang lainnya pun terkejut mendengar hal itu, bagaimana tidak terkejut, semenakutkan itu bukan masalah yang kini sedang di hadapi oleh Dafa?


"Wijaya?" tanya Dafa.


Erlangga mengangguk, "ya! Anda sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal tuan Dafa Narendra!"


Pasti akan ada karyawan yang curiga dengan hal semacam ini, apalagi tadi Dafa dan juga Devan di bawa oleh beberapa anak buah Erlangga dengantangan yang sudah di ikat ke belakang.


"Perusahaan ini sudah sepi tuan Angga, para karyawan sudah di perbolehkan untuk kembali ke rumahnya masing-masing, tersisa hanya orang-orang yang berada di ruangan ini saja" jawab salah satu anak buah Erlangga yang tadi membawa Devan ke perusahaan.


Angga yang mendengarnya pun melotot kan matanya, bagaimana bisa dirinya sampai tidak tahu mengenai hal ini?


...****************...


Berbeda halnya dengan perusahaan milik Erlangga yang penuh dengan ketegangan diantara masing-masing.


Di ruangan serba putih nan megah itu kini sedang dilanda rasa ingin tertawa terbahak-bahak melihat kedua sepupu sedang di hadapkan dengan seseorang yang sangat di takuti, yaitu daddy Ardi.


Yap, siapa lagi kalau bukan Tisha dan juga Sailendra, sudah tiga puluh menit berlalu keduanya tidak ada rasa pegal terus menerus menunduk dan memainkan jari jemarinya guna untuk menghilangkan rasa takut pada dirinya.


Padahal sejak keduanya datang, daddy Ardi tidak menampakkan wajah marah ataupun dingin, daddy Ardi hanya duduk bersandar dengan melipat tangan di dadadada dan menatap wajah keduanya dengan seksama.


"Dari tadi di mobil pada berantem terus itu kak, engga tau deh kenapa disini malah diem. Padahal engga aku suruh makan lem loh" celetuk Apy Hans meledek keduanya.


"Hufftt, hahahahaha" karena sudah tak tahan menahan tawanya, Kalan, Miko dan juga Ardan tertawa terbahak-bahak melihat itu.


"Ck berisik" ketus Sailendra dan juga Tisha secara bersamaan.


"Uh serem" celetuk Apy Hans.


Daddy Ardi tersenyum dan tertawa kecil, "kalian ini kenapa ko malah diem? Tumben" kata daddy Ardi.

__ADS_1


Sailendra dan Tisha saling pandang dan mengerutkan keningnya, "maksud daddy?" tanya keduanya.


"Apakah guru di SMA SATYA kurang bagus? ditanya seperti itu saja kalian berdua masih belum mengerti"


"Sepertinya daddy harus mengganti seluruh guru di SMA SATYA" lanjutnya.


"Maksud kami berdua, daddy engga marah?" ceplos Tisha.


"Marah" jawab sang daddy, membuat Sailendra kembali melipat bibirnya rapat-rapat.


"Baiklah, kami berdua tau daddy marah"


"Lalu, apa hukuman yang akan daddy berikan kepada kami berdua?" ceplos Tisha lagi membuat daddy tersenyum senang namun tidak dengan Sailendra yang malah menginjak kaki Tisha dengan kencang.


"Assshhhh, setan" teriak Tisha yang mendapat pelototan tajam dari sang daddy.


"Siapa yang kamu sebut setan, Sha?" tanya sang daddy dengan raut wajah yang sudah tidak bersahabat.


Tisha langsung menggelengkan kepalanta kuat-kuat, engga ada daddy, sorry. Tadi reflek"


"Cewe kok begitu ngomongnya engga sopan"


"Iya daddy maaf"


"Siapa yang ajarin kamu berbicara seperti itu, Tisha?"


"Sailendra" celetuknya yang spontan membuat Sailendra mengangkat kepalanya.


"Eh engga daddy, enak aja lu asal ceplos aja"


"Dih emang bener kok itu lo yang ajarin gue"


"Mana ada, gue selalu ajarin lo yang bae-bae ya, Sha"


"Mana ada, lo tuh selalu ajarin gue tuh hal-hal yang engga baik, yang engga berfaedah"


"Congormu tuh ndo tidak berfaedah"


"Em...


"Ekhem" deheman dari sang kakak tertua membuat keduanya melihat ke arah sang daddy dan langsung menunduk.


"Maaf daddy" ucap keduanya.


"Hukuman kalian engga akan daddy dan Apy kasih uang jajan selama 2 hari" ucap daddy Ardi tanpa mau di bantah.


Sailendra dan Tisha yang mendengarnya pun lemas seketika, apa katanya? 2 hari tidak di beri jajan, lalu mereka berdua harus makan apa di sekolah?


"Engga ada pilihan lain kah dad?" tanya Tisha dan diangguki oleh Sailendra.


"Oke daddy tambah, selama 2 hari ini fasilitas kalian berdua daddy tarik" ucapnya dan semakin membuat keduanya melototkan matanya.


Miko, Kalan dan juga Ardan tertawa bahagia mendengarnya.


Memangnya siapa yang tahan dengan hidup tidak dengan uang jajan dan fasilitas dari orang tua? Satu jam tidak memakai fasilitas saja sudah kalang kabut bagaimana dengan 2 hari? Bisa mati kutu nantinya itu.

__ADS_1


"Tidak ada protes dan bantahan apapun!" tegas daddy Ardi dan membuat keduanya mau tidak mau menganggukkan kepalanya.


__ADS_2