Twince LA

Twince LA
Tentang Cinta Pertama


__ADS_3

"Engga mau kak, aku mau di sini aja mau temenin ka Erlan"


"Kalau nona masih di sini, dokter akan terganggu dengan keberadaan nona"


Dengan segala bujuk rayu yang di keluarkan oleh Angga akhirnya Kia pun mau keluar dari ruangan Erlan.


...****************...


"Masih muda hidup udah rumit gimana kalau udah nikah?" keluh Miko yang sedang memejamkan matanya sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk ruang tamu mansion milik keluarga Wijaya itu.


"Punya pacar juga engga tapi udah mikirin nikah aja lo" ledek Ardan.


"Bagus dong, dari pada yang pacaran tapi engga mikirin tentang pernikahan, mau di bawa kemana tuh hubungan?" sindir keras.


"Kaya lirik lagu" timpal Kalan yang sama-sama memejamkan matanya karena merasa lelah dengan hari ini.


"Sat set sat set langsung sebar undangan kayanya seru" kata Ardan.


"Yang seharusnya ngomong gitu tuh gue sama bang Kalan, bukan elo" ketus Miko tapi hanya di jawab dengan senyuman yang tak terlihat oleh Ardan.


Terdengar dering ponsel milik Kalan yang berada di saku celana jeans nya.


Terlihat jelas nama sang mommy lah yang berada di layar ponselnya kini.


📞 mommy


"Iya mom?"


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. "


"Mommy kenapa mom? Apa yang terjadi?" tanya Kalan dengan panik dan langsung membuka matanya.


"Kembali lah bang"


"Kembali?"


"London"


"Mommy kenapa? Atau daddy?"


"Erlan nak"


"Apa yang terjadi?"


"Semakin kritis" ucap sang mommy dengan isak tangis yang semakin terdengar.


Kalan membulatkan matanya "ap.. apa mom? se... Semakin kritis?"


"Iya bang, hubungi lah adik-adik mu, ajak Tisha kemari. Tisha harus tau keadaan sekarang"

__ADS_1


"Ba.. Baik mom"


"Mommy tunggu di rumah sakit"


"Baik mom"


Tutt.. Sambungan terputus.


"Segera bersiap kita kembali ke London" ucap Kalan kepada Miko dan juga Ardan.


"Hah?" ucap keduanya secara bersamaan dengan membuka matanya secara paksa.


"Erlan semakin kritis"


"****.. " umpat Ardan.


"Kia pasti lagi terpuruk" lanjut Ardan mulai meninggalkan mansion dan melupakan dirinya yang lelah. Ya mereka bertiga barulah sampai di mansion, dan sudah di hubungi kembali oleh sang mommy agar kembali ke London. Memang takdir selucu dan semengerikan ini.


"Cepat susul Ardan, aku akan menghubungi keluarga yang lain terlebih dahulu" perintahnya kepada Miko dan diangguki oleh Miko.


...****************...


"Tikha" panggil Tisha yang baru saja datang bersama dengan Nathan, Sailendra dan juga Zahra.


"Tisha" panggilnya juga dan segera memeluk tubuh sang adik.


Tisha mengangguk "aku baik, ada apa?"


Tikha menggelengkan kepalanya "ayo kita harus segera berangkat" ajaknya dan Tisha menganggukkan kepalanya.


"Mami?" panggilnya.


Mami yang merasa terpanggil pun melihat ke arah Tisha dan tersenyum "nanti juga kamu akan tau, nak" jawabnya.


Deg..


"Ada apa sebenarnya?" gumamnya dalam hati.


Tikha mengeratkan pegangan tangannya kepada kembarannya itu, terasa sangat dingin tangan Tisha saat ini. Mungkin dirinya merasa sangat tidak karuan saat ini "kuatkan dirimu Tisha, apapun yang terjadi di sana kita harus saling menguatkan" ucap Tikha dengan menarik nafas dalam. Bukan tanpa alasan Tikha berbicara seperti ini, Tikha sudah tau dengan apa yang terjadi dan Tikha juga bisa merasakan apa yang di rasakan kembarannya saat ini 'takut' itulah yang kini sedang dirasakan oleh Tisha kembarannya. Jadi sebisa mungkin Tikha menenangkan saudari kembarnya walaupun entah apa yang akan terjadi saat mereka tiba di London.


"Baik" jawab Tisha dengan patuh.


"Aku harap kamu akan kuat dengan semua kenyataan ini, Tisha" gumam Tikha dalam hati.


"Semoga apa yang ku takutkan saat ini tidak akan menjadi kenyataan" gumam Tisha dalam hati.


...****************...


"Nyonya Arayyan" panggil mommy Adin.

__ADS_1


"Nyonya Ardi" panggilnya lagi dan langsung memeluk mommy Adin untuk menumpahkan semua keluh kesahnya. Terlihat Kia masih di tenangkan oleh sang ayah tercintanya.


"Tuan Arayyan" panggil daddy.


Tuan Arayyan menoleh "ah iya tuan Ardi" jawabnya dengan memaksakan tersenyum agar terlihat kuat oleh siapapun. Begitulah seorang ayah, yang harus tetap terlihat kuat di saat keadaan yang mendesak dan menuntunnya untuk menjatuhkan air mata.


"Angga" panggil tuan Arayyan.


"Iya om" jawabnya.


"Bawalah Kia terlebih dahulu" perintahnya.


"Baik om" jawabnya dan membawa Kia dalam dekapannya.


"Ah maaf tuan Ardi membuat Anda dan istri malam-malam harus datang kembali ke rumah sakit" ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis yang sudah ingin keluar.


Daddy Ardi menganggukkan kepalanya "tidak apa-apa tuan Arayyan, itu sudah menjadi kewajiban kami untuk saling membantu dan menguatkan di saat-saat seperti ini" jawabnya dengan bijak.


"Tapi bagaimana ini bisa terjadi? Bukannya tadi Erlan sudah baik-baik saja?"


Tuan Arayyan menarik nafasnya dalam "ini semua sudah di rencanakan oleh seseorang, tuan Ardi"


"Sudah di rencanakan?"


"Ya, sudah ada seseorang yang sedang menunggu kabar meninggalnya Erlan" tegasnya.


"Siapa? Dan kenapa?"


"Axel Candrio dan Cheryl Zenia"


Daddy Ardi membulatkan matanya "bukannya Axel adalah seorang mafia?" tanyanya dengan penuh rasa terkejut.


Tuan Arayyan mengangguk "benar"


"Apakah Erlan mengusik Axel? Atau... Apakah Erlan seorang mafia?"


Tuan Arayyan menggelengkan kepalanya "Erlan tidak pernah mengusik siapapun, saya sudah memerintahkan seseorang untuk memperhatikan pergerakan antara Erlan, Ivan dan juga Angga. Mengingat bahwa mereka bertiga adalah pemuda yang jauh dari orang tua dan masih perlu bimbingan kuat dari pihak orang tua, maka dari itu saya sudah memerintahkan seseorang untuk selalu mengawasi pergerakan mereka, tetapi selama ini mereka bertiga tidak memiliki masalah apapun dengan para mafia. Melainkan mereka bertiga lebih tepatnya Erlan bersahabat sangat dekat dengan para mafia di London. Erlan, Ivan dan Angga memang perlahan membangun sebuah geng untuk menjaga mereka dan membantu para orang tua atau masyarakat yang tidak mampu dengan bantuan para mafia lainnya. Mereka mengambil anggotanya lun dari anak jalanan yang tidak memiliki tempat tinggal, karena nantinya mereka akan di tempatkan di satu tempat yang sudah di sediakan oleh mereka bertiga"


Daddy Ardi sangat mendengarkan dengan baik "lalu?"


Tuan Arayyan kembali menarik nafasnya dalam-dalam "pada satu hari ada seorang wanita yang sangat mengejar-ngejar Erlan, dia adalah Cheryl. Erlan tidak pernah menggubrisnya, karena Erlan adalah tipikal pria yang dingin kepada setiap wanita. Anda pasti tahu kenapa Erlan seperti itu kepada setiap wanita"


Daddy Ardi mengerutkan keningnya dan akhirnya menganggukkan kepalanya "Tisha" jawabnya.


Tuan Arayyan pun menganggukkan kepalanya membenarkan jawaban daddy Ardi "ya karena Tisha. Tisha anak anda adalah cinta pertama anak saya"


Daddy Ardi membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang kini ia dengar "cin.. cinta pertama?"


"Benar tuan, mungkin anda akan merasa aneh mendengarnya, namun itulah kenyataannya bahwa anak anda adalah cinta pertama anak saya, Erlan"

__ADS_1


__ADS_2