Twince LA

Twince LA
Tisha dan Gema


__ADS_3

"Kamu kemana aja?" tanya Gema kepada Tisha.


"Ada urusan di London, kakak pasti tau 'kan kalau gue ke London?" jawab Tisha dan diangguki oleh Gema.


"Sha" panggil Gema namun tidak di hiraukan oleh Tisha karena Tisha sedang terkejut ketika melihat sang kakak yang baru saja turun dari tangga sepertinya sang kakak baru saja dari kelasnya.


"Oh astaga, kak Kalan" ucap Tisha dengan langsung memegang tangan Gema dan berlari agar tidak ketahuan Kalan. Karena jika sudah akan ribet urusannya jika harus bertemu dengan sang kakak.


Gema yang belum siap sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Tisha, "kenapa sih Sha?" tanyanya dengan melihat ke belakang bahwa tidak ada siapa-siapa.


"Ssst... jangan berisik, udah ikutin gue aja dulu!" ketus Tisha sambil berlari menuju arah Rooftop, melawati jalan yang jarang sekali di lewati oleh siswa SMA SATYA.


Tisha dan Gema yang sedang berlari untuk menghindar dari sang kakak, berbeda halnya dengan sang kakak yang kini sedang mengerutkan keningnya karena merasa aneh, mendengar ada suara sang adik etapi ketika di lihat tidak ada siapapun, "ko kaya suaranya Tisha ya" monolognya sambil melihat kanan kiri yang ternyata tidak ada siapa-siapa.


"Engga mungkin 'kan cuma halusinasi gue aja?" monolognya lagi.


"Woy kenapa lu celingak celinguk begitu" ucap Ardan ketika baru saja sampai di sekolah.


"Engga ada apa-apa" jawab Kalan.


"Udah cepet sana ke kelas, kita harus siapin buat upacara"


"Siap pak ketu" jawab Miko dan diangguki oleh Kalan.


Miko dan Ardan berjalan ke arah kelasnya sedangkan Kalan berjalan menuju lapangan utama untuk menyiapkan upacara bendera.


...****************...


"Haduh cape banget coy" keluh Tisha sambil menetralkan deru nafasnya.


Gema tersenyum melihatnya, bukan tak lelah. Gema sama lelahnya seperti Tisha, tetapi melihat dirinya berlari bersama dengan Tisha yang sampai saat ini lengannya masih saja di pegang oleh Tisha membuat rasa lelah itu sirna begitu saja.


"Mau gue ambilin minum?"


"Engga ga usah" katanya sambil mengibaskan lengannya.


Tisha berjalan sambil mencari tempat untuk dirinya duduk sambil membuka tasnya untuk mengambil air minum, entah kenapa dirinya tadi ingin sekali membawa air minum, ternyata ini jawabannya, feeling is the good.


Gema mengerutkan keningnya "tumben" katanya.


Tisha yang sedang minum pun hanya mengedikan bahunya saja.


"Mau?" tanyanya dan Gema menggeleng.


"Makasih" katanya dan diangguki oleh Tisha.


"Emang tadi kenapa?" tanya Gema ketika melihat Tisha sudah sedikit agak tenang.

__ADS_1


"Ada kakak" jawabnya dengan jujur.


"Oh" jawabnya dan diangguki oleh Gema. Gema pasti akan mengerti dengan hal itu, karena Gema tahu sendiri bahwa Kalan memang sangat tidak suka kepada dirinya. Gema sangatlah gentleman, ia tidak akan melukai wanita yang sangat di sayanginya hanya karena tidak ada persetujuan dari orang terdekat wanitanya, Gema akan berusaha meluluhkan hati keluarganya dan juga hati wanitanya dengan caranya, bukan seperti pria pada umumnya yang akan berbuat nekat agar orang terdekat wanitanya mau tidak mau merestui hubungan mereka.


Seakan teringat Tisha langsung mengutarakan pertanyaan kepada Gema yang membuat hati dan pikirannya terkepo-kepo tentang ini.


"Ka, boleh tanya sesuatu engga?"


Gema mengangguk "boleh. Kalau mau tanya aku punya cewe atau engga, jawabannya engga" jawabnya sambil terkekeh.


"Ish becanda aja deh" kesal Tisha.


"Iya sorry. Mau tanya apa?"


"Hem.. Sebenernya ka Gema ada masalah apa sih sama kak Kalan?"


Gema tersenyum mendengarnya, Gema memang tidak terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Tisha, karena dirinya sudah meyakinkan bahwa suatu saat nanti entah itu kapan, Tisha akan menanyakan hal ini.


"Kok senyum sih, bukannya jawab" tempat Tisha lagi yang tidak mendapatkan sebuah jawaban.


"Abis kamu lucu banget mukanya kalau lagi penasaran" ledeknya.


"Ish" kesal Tisha lagi sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku juga engga tau, Sha" jawab Gema.


"Aneh!" gumam Tisha dalam hati.


Gema tetap menaik turunkan bahunya dan meyakinkan Tisha bahwa Gema memang tidak tau "beneran deh"


Tisha kembali bersandar "ka Gema dulu teman dekatnya kakak 'kan?" tanya Tisha dan diangguki oleh Gema.


"Sama siapa ya satu lagi aku lupa" kata Tisha sambil mengingat. Gema yang tahu maksud dari Tisha tapi dia tidak ingin menjawabnya.


"Ah iya, Ka Viona" katanya.


Dan lihatlah, wajah Gema berubah menjadi sendu walaupun tetap bisa memaksakan senyumnya dengan paksa dan menganggukan kepalanya untuk mengiyakan tebakan Tisha.


"Kemana dia ka sekarang?"


Gema menarik nafas dan membuangnya secara perlahan "meninggal"


Tisha yang mendengarnya mengerjapkan matanya berkali-kali, ia tak salah dengarkan 'kan? Apa katanya meninggal?


"Me----meninggal?" tanya Tisha.


Gema mengangguk "iya meninggal"

__ADS_1


Teeeet.....


Terdengar bel sekolah sudah bunyi menandakan bahwa upacara akan segera di mulai.


"Ah syukurlah, jadi Tisha engga akan banyak tanya lagi tentang kita bertiga" gumam Tisha dalam hati.


"Ah udah bel, ayo turun kamu harus upacara, Kalanpasti udah cari kamu" ucap Gema mengalihkan pembicaraan.


Tisha mengangguk "ayo kak"


"Duluan aja"


Tisha mengerutkan keningnya "kakak engga ikut upacara?"


"Ikut, tapi kamu duluan aja. Kalau kita bareng nanti Kalan pasti liat" elak Gema.


Tisha mengangguk "oke, gue duluan kak" katanya dan diangguki oleh Gema.


"*Ada yang engga beres nih, dari wajah ka Gema juga udah kliatan banget kalau di antara mereka bertiga ada masalah, buka mereka bertiga lebih tepatnya mereka berdua, ka Gema dan ka Kalan" gumam Tisha sambil berjalan menuju lapangan utama untuk ikut upacara.


"Gue bener-bener harus cari tau!" monolognya lagi*.


Berbeda halnya dengan Tisha yang sedang berjalan menuju lapangan utama, Gema hanya diam menyendiri dan menyandarkan tubuhnya untuk melihat langit dari rooftop sekolah kesayangannya ini.


Bukan tanpa alasan Gema bersekolah disini, selain karena ingin menyelesaikan masalahnya dengan Kalan, tapi juga karena permintaan Viona yang dimana Gema harus selalu bersama dengan Kalan walaupun Kalan sangat membenci dirinya.


"Nama lo akan selalu ada dan nama lo akan selalu di sebut setiap masalah itu mulai di pertanyakan, Vi" monolog Gema.


Gema kembali berdiri dan berjalan untuk turun, bukan untuk mengikuti upacara pagi ini, melainkan dirinya ingin pergi ke makam sang sahabat wanitanya itu, Viona Alexander.


^^^📩 Gema Dermawan^^^


^^^Bro, gue ke sekolah setelah upacara selesai atau setelah pelajaran pertama selesai.^^^


📩 Niko Putra


Oke bro


Setelah membaca balasan dari Niko, Gema menyimpan ponselnya ke saku celananya dan berjalan ke arah tembok belakang sekolahnya untuk keluar dari SMA SATYA.


^^^📩 Gema Dermawan^^^


^^^Jemput gue di tembok belakang SMA SATYA, sekarang! ^^^


📩


Oke

__ADS_1


__ADS_2