
"Apa yang terjadi?" tanya guru BK SMA SATYA, ketika keempatnya sudah berada di ruang BK yang diantar oleh bu Ayu guru sejarah kelas X IPS 5.
Tisha, Tikha, Reysha dan juga Sailendra diam tak menjawab apa yang di tanyakan oleh sang guru BK.
"Kenapa kalian diam saja?" tanyanya lagi.
"Latikha apa kamu bisa menceritakan apa yang terjadi?" tanya guru BK kepada Tikha.
Tikha mengangkat kepalanya untuk melihat guru tersebut "saya tidak tau pasti dengan apa yang terjadi pak, karena saya tadi habis dari kantin bersama dengan Reysha. Saat kami datang ke kelas tak lama ka Marsha sudah mencari Tisha dan berkata bahwa Tisha adalah seorang ******, karena Sailendra tidak terima dengan apa yang di katakan oleh ka Marsha maka Sailendra menampar pipi ka Marsha" jelas Tikha.
Guru BK tersebut menganggukkan kepalanya "apa benar seperti itu?" tanyanya lagi.
"Benar bu" jawab Tikha dan juga Reysha.
Tok.. Tok.. Tok..
Ceklek..
"Selamat siang Pak beni" sapa Amy Intan dan Apy Hans.
Twince, Reysha dan Sailendra melihat ke arah pintu yang terbuka "Amy, Apy" seru keempatnya dengan membulatkan matanya.
"Siang tuan dan nyonya Wijaya" hormat pak Beni.
"Silahkan duduk" lanjutnya lagi.
"Baik terimakasih pak" ucap Aph Hans. Intan dan Hans pun duduk berdasarkan dengan keempat anak-anaknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak?" Apy Hans angkat bicara.
"Saya baru menanyakan hal tersebut kepada Latikha, tuan dan nyonya" jawab pak Beni.
"Ada apa Kha?" tanya Apy Hans. Tikha yang mendengarnya kembali menceritakan apa yang terjadi.
Mendengar penjelasan dari Tikha Apy Hans menganggukkan kepalanya "pak Beni, kami keluarga Wijaya diajarkan untuk tidak memulai duluan, siapapun mereka yang berbuat ulah kepada keluarga kami, kami tak akan segan untuk menyakiti mereka" tegas Hans.
"Iya saya tahu tuan, keluarga Wijaya memang seperti itu, tapi tindakan yang dilakukan oleh Sailendra itu sudah di luar batas dan suda menyakiti salah satu siswi kami" ucapnya dengan lembut walaupun sebenarnya pak Beni sudah ketar ketir di buatnya.
"Apy, he is Lendra, not Ilen" ucap Sailendra dengan melihat ke arah Apynya.
Apy dan Amy yang mendengarnya membulatkan matanya "how come? Why?" cerocos apy Hans.
"I don't know" jawab Sailendra.
"We'll talk later when we get home" ucap apy Hans dan Sailendra mengangguk.
"Sailendra" panggil Pak Beni.
"Iya pak" jawabnya.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu hilang kendali?" tanyanya.
Sailendra menarik nafasnya kemudian membuangnya "seperti yang di katakan oleh Tikha, saya tidak terima dengan ucapan dari ka Marsha" katanya.
"Dan kamu Latisha, kenapa Marsha bisa mencari kamu?"
"Karena ka Gema"
"Gema?"
"Ya, karena saya menonjok sudut bibir ka Gema" ucapnya dengan tatapan yang sangat dingin.
"Saya semakin tidak mengerti, sebenarnya apa yang terjadi antara kalian?"
"Bapak bisa panggilkan Gema kesini, biar dia saja yang menjelaskan" ucap Tisha dengan tegas dan diangguki oleh pak Beni.
***
"Bro" panggil Kalan kepada Erlangga yang sedang tertidur sangat lelap dan tenang itu.
"Lo engga mau liat adik gue lagi?" tanyanya kepada Erlangga dengan mendekat ke arahnya.
Kalan melihat ke arah Miko yang kini berada di sampingnya, Miko yang melihat itu menganggukkan kepalanya "lo mau jahatin adik gue?" tanyanya lagi.
"Gue tau, elo itu Abay laki-laki yang selama ini adik gue tunggu kedatangannya. Bodohnya gue baru tau kalau lo itu Abay, dan bodoh bangetnya gue ternyata adik gue masih nunggu elo dari lama, segitu engga pekanya gue sama perasaan adik gue sendiri"
"Untung Miko kasih tau gue satu hari setelah kedatangan lo ke rumah gue"
"Gue jadi bingung harus manggil lo dengan sebutan apa" kekehnya.
"Erlangga? Abay? Ah itu terlalu engga sopan untuk gue, lo itu lebih tua dari gue 2 tahun"
"Apa abang? Kakak? Tapi 'kan lo bakal jadi adik ipar gue nantinya" lanjutnya.
"Lan" panggilnya.
"Ah jadi kaya manggil diri sendiri deh gue" katanya.
"Sorry gue engga bisa bawa adik gue kesini, kata daddy itu karena elo yang minta"
"Gue juga bingung sampe sekarang, kenapa lo engga langsung jujur aja sama adik gue kalau lo itu Abay?"
"Baru aja lo sehari ketemu sama adik gue secara langsung, elo udah langsung menghilang aja kaya gini, mana lama lagi 3 bulan tanpa kabar" lanjutnya lagi.
"Lo engga bakal nyerah 'kan?"
"Inget lo masih punya adik gue yang sampe sekarang masih nunggu lo banget"
"Gue harap, elo bakal sadar secepatnya ya" lanjutnya dan berdiri dari tempat duduk sebelah Erlan.
__ADS_1
"Ayo Mik, kita keluar" ajak Kalan.
"Baik" jawabnya. Kalan dan Miko pun keluar dari kamar Erlangga.
***
"Terimakasih atas waktunya, tuan muda" ucap Ivandra dan juga Angga kepada Kalan.
"Iya"
"Apa saya bisa berbicara dengan kalian?" tanyanya.
Ivan dan Angga saling pandang dan menganggukkan kepalanya "bisa tuan muda" jawab Angga dengan keduanya masih bersikap waspada walaupun kini berada di Rumah Sakit milik Erlangga sendiri yang terbilang sangat aman dan jauh dari para musuh tapi tetap Angga dan Ivandra harus berhati-hati dan lebih waspada lagi dengan telinga yang sudah memakai handsfree dan kamera tersembunyi dalam bentuk pulpen di saku bajunya, sudah seperti penjaga mafia-mafia pada umumnya.
"Ivan, bawa tuan muda ke tempat yang aman, saya akan segera menyusul" perintah Angga kepada Ivan.
"Baik"
"Mari tuan muda ikuti saya" lanjutnya kepada Kalan dan juga Miko.
"Baik" jawab Kalan.
Ivan, Kalan dan Miko pergi dari pintu masuk ruangan Erlangga. Sedangkan Angga menemui salah satu anak buahnya untuk menjaga pintu masuk ruangan Erlangga, setelah itu baru Angga menyusul Ivan, Kalan dan juga Miko.
"Jadi sebenarnya siapa Erlangga? Dan apa yang terjadi kepadanya?" tanya Kalan to the poin ketika sudah berada di sebuah ruangan yang sepertinya memang sengaja di siapkan.
***
"Sayang, udah ya kamu jangan sedih lagi, kak Erlangga pasti sembuh aku yakin ko" ucap Ardan untuk menenangkan Adzkia.
"Aku takut banget Dan, takut ka Erlan engga sembuh lahi, kamu tau kak Erlan udah 3 bulan koma dan sampe sekarang dia masih belum sadar juga"
"Hus kamu engga boleh ngomong gitu, kamu harus yakin kalau kak Erlan pasti sembuh, udah kamu jangan nangis lagi ya, inget kalau kamu kaya gini, siapa yang mau semangatin kakak kamu, sayang?"
"Sekarang itu kak Erlan lagi butuh semangat dari kita. Kita harus kuat untuk ka Erlan, biar kak Erlan juga semangat untuk melewati masa komanya" jelasnya dan Kia menganggukkan kepalanya.
Dret... Dret... Dret...
"Sebentar ya sayang, Sailendra kirim pesan" ucapnya dan Kia menganggukkan kepalanya.
^^^Sailendra Wijaya^^^
^^^Bang, gimana kabar lo? Bae bang? Lama amat lo di Paris, kaga inget kita-kita apa disini?^^^
Ardan Farijal
Bae dong, kaga beneran dah gue kaga inget sama kalian. Enak banget nih di Paris walaupun banyak kerjaan. Hahaha
Bukan tanpa alasan Ardan membalas seperti itu, menurut Ardan jika daddy dan mommy tidak memberitahukan kepada seluruh keluarganya tentang maksud ke berangkatannya ke London maka itu adalah hal yang rahasia dan harus ikut menutupi siapapun yang tahu tentang rahasia ini.
__ADS_1
"Yaudah sekarang kita masuk buat ketemu sama ka Erlan ya, aku belum ketemu sama ka Erlan soalnya" ucap Ardan.
"Ayo" ajaknya.