Twince LA

Twince LA
Gugup


__ADS_3

"Kita ngapain kesini, Ga?"


"Gue masih banyak kerjaan Angga. Meningan juga kita balik lagi ke rumah utama buat nanti malem pindah ke mansion.


"Gue cuma mau ngajak lo aja sih, Lan. Biar engga mumet sama kerjaan terus" jelasnya. Memang kini keduanya berada di salah satu cafe yang terletak di Jakarta Selatan itu.


"Kurang kerjaan banget tau engga"


Terlihat Angga yang masa bodo ketika melihat sahabatnya sedang bergerutu kepadanya karena mengajak dirinya ke cafe "bukannya itu Gema?" celetuk Angga.


Erlan yang sedang fokus dengan ponselnya beralih kepada ucapan Angga dan ikut melihat ke arah yang sedang Angga lihat.


Terlihat Gema yang sedang duduk bersama dengan kedua temannya dan lihat ah ada 2 wanita yang akan mendekat ke arah Gema.


"Hay, Gem" sapa wanita itu, dan lihatlah ketiga pria yang sedang asik berbincang menoleh ke arah wanita itu.


"Marsha?" kata Reno.


"Hay, Ren" sapa Marsha.


"Hay juga, Sha"


"Sini Sha duduk" ajak Niko.


Marsha mengangguk "makasih"


"Chik duduk" titah Marsha kepada temannya, Chika pun duduk dekat Marsha.


"Kenalin ini temen gue, Chika"


"Chika" ucapnya sambil tersenyum.


"Gue Reno"


"Niko"


"Gema" kenalnya secara bergantian dan Chika hanya mengangguk.


"Kalian lagi pada ngapain?" tanya Marsha.


"Duduk" jawab Niko.


"Ah iya juga" Marsha malu kepada dirinya sendiri, bodohnya Marsha kenapa harus bertanya seperti itu.


"Lo ngapain kesini, Sha?" kini Gema yang bersuara.


"Sengaja sih, bete aja di rumah, eh engga taunya ketemu sama kamu disini"


"Oh" jawab Gema.


"Hmm Gem"


"Ya?"


"Soal itu... "


"Gue engga mau bahas soal itu lagi, Sha. Lo juga udah tau jawaban gua tetep sama, gue engga bisa"


"Tapi lo harus tau, Gem. Gue bakal terus berusaha buat dapetin hati elo"


"Kita permisi"

__ADS_1


"Ayo Chik" ajaknya. Dan Marsha meninggalkan cafe tersebut.


"Lah, kenapa tuh cewe?" tanya Reno kepada kedua temannya sambil menaikkan satu alisnya karena bingung.


"Cewe emang engga jelas" timpal Niko.


"Biarin aja" timpal Gema sambil meminum kopinya yang sudah dibpesan olehnya tadi.


Sedangkan di meja lain terlihat dua orang yang sedang serius memandang ke arah meja Gema, siapa lagi kalau bukan Erlan dan juga Angga.


Erlan mengerutkan keningnya serta menaikkan satu alisnya dengan apa yang sudah dirinya lihat "cewe itu kenapa?" tanyanya kepada Angga.


Angga menaik turunkan bahunya "gue juga engga tau"


"Engga tau aja elu mah, Ga"


"Dia itu di tolak sama si Gema, Lan"


Pyuur... Erlan menyemburkan kopi yang sedang ia minum tepat pada wajah Angga.


"Esialan" gerutu Angga ketika kaget dengan apa yang dilakukan oleh Erlan.


"Eh sorry Ga sorry" ucap Erlan ketika melihat temannya terkena semprotan dari mulutnya itu.


"Refleks gue, lagian lo kalau ngomong kaga ada jedanya langsung aja di keluarin engga liat sikon kalau gue lagi minum" cerocosnya.


"Yakan lo tadi yang bilang kalau gue itu selalu aja engga tau. Yaudah gue omongin aja sekalian"


"Yaudah deh iya"


"Eh iya, ko bisa sih cewe nyatain cinta nya duluan?"


"Yakan namanya juga zaman sekarang, zaman sekarang kan begitu, Erlan"


Angga berdecak kesal "beda dong. Lo liat aja Tisha tomboy mana mau ngungkapin duluan di tambah dia dari keluarga Wijaya, Erlangga Abay Arayyan"


Erlan mengangguk dengan polosnya "iya juga ya" jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


***


"Selamat sore tante, om" sapa Ardan kepada kedua orang tua Kia.


"Sore, silahkan duduk nak" titah mommy Kia.


"Terimakasih tante"


"Kamu mau jemput Kia?" tanya daddy Kia.


"Iya om, saya mau jemput Kia"


"Kia tadi sedang bersiap nak, sebentar tante panggilkan dulu ya Kianya, kamu disini dulu saja sama om"


"Baik tante, terimakasih" ucapnya dan diangguki oleh mommy Kia.


"Bi, tolong buatkan 2 minuman dan bawakan cemilan ke ruang tamu ya"


"Baik nyonya"


Tok... Tok... Tok...


"Kia, nak Ardan sudah didepan" ucap mommy di depan pintu sang anak.

__ADS_1


"Masuk aja mommy"


Ceklek...


"Wah anak mommy cantik sekali" puji sang mommy ketika melihat Kia yang sudah memakai dress berwarna putih selutut dengan flatshoes berwarna cream tak lupa Kia menyemprotkan parfume kepada tubuhnya.


"Wangi lagi" pujinya lagi.


"Makasih mom" jawabnya.


"Sama-sama sayang. Ayo turun, kasian Ardan udah nunggu kamu di ruang tamu"


Kia mengangguk "Ayo mom"


***


"Kamu cantik banget, Ki" puji Ardan.


"Kamu juga sangat tampan" timpal Marsha dengan malu-malu.


"Bisa aja kamu" jawab Ardan yang sama-sama canggung.


"Mau kemana sih ini cewe aku, cantik banget pengen aku karungin aja boleh engga?"


"Emangnya aku kucing garong di karungin" jawab Kia membuat keduanya tertawa bersama. Apa katanya kucing garong? Mana ada kucing garong secantik Kia. Begitulah ketika dua muda-mudi yang sedang di mabuk asmara.


***


"Dan?" panggil Kia.


"Ya? Kenapa sayang?" tanya balik Ardan walau masih kaku dengan panggilan sayangnya.


"Kamu kenapa? Ko kaya lagi ada pikiran gitu?" tanya Kia kepada Ardan karena sejak tadi Ardan kebanyakan melamun.


"Engga apa-apa ko"


"Dan, aku mau kamu jujur"


Ardan membuang nafasnya panjang "Ki, sekarang kita mau kerumah Daddy Ardi dan itu adalah pamanku"


"Hem terus, kenapa?"


Ardan menggenggam tangan Kia, Kia yang mengusap lembut genggaman tangan Ardan seakan mengerti bahwa Ardan tengah khawatir.


"Aku udah punya kamu yang dimana kakak-kakakku belum punya cewe, hari ini itu aku sama kamu mau di introgasi"


Kia membulatkan matanya "In.. Introgasi?"


Ardan menganggukkan kepalanya dengan tetap menatap kedepan karena kini dirinya sedang mengemudi "tapi kamu engga usah khawatir, engga semenakutkan itu ko, sayang. Tenang aja kan masih ada aku" ucap Ardan untuk membuat Kia tenang, padahal dirinya pun masih sedikit ketar-ketir dibuatnya.


"Ko aku makin gugup ya, Dan"


"Wajar dong kamu 'kan mau ketemu sama keluarga besar aku" jawabnya kini Ardan yang mengusap genggaman tangan Kia untuk menenangkan.


"Tenang aja sayang, jangan tegang gitu dong, nanti cantiknya ilang" gombalnya.


"Gombal" kekeh Kia. Dan keduanya pun tertawa bersama untuk menetralkan debaran jantung keduanya.


"Kamu siap kan?" tanya Ardan kepada Kia ketika keduanya sudah sampai di pekarangan rumah milik Ardi Wijaya yang sangat amat luas itu.


Kia membuang nafasnya untuk menetralkan rasa gugupnya "aku siap sayang" jawabnya dengan semakin mengeratkan genggamannya kepada Ardan.

__ADS_1


"Kamu tenang aja, Ki. Engga akan di apa-apain ko, percaya sama aku, mereka engga sesadis apa yang kamu pikirin" ucapnya lagi.


Kia kembali menganggukkan kepalanya "ayo sayang turun" ajaknya dan diangguki oleh Ardan.


__ADS_2