Twince LA

Twince LA
Ara dan Ardan


__ADS_3

"Ga, sorry" ucap Ivan ketika Angga sedang menyelesaikan semuanya.


Angga melihat ke arah Ivan, "it's oke, gue engga engga punya problem Van, yang punya problem sekarang itu Erlangga" jawab Ivan.


Awalnya Angga kesal dengan Erlangga, tetapi kini dirinya malah kasihan kepada Erlangga tentang hubungannya. Angga sangat tahu tentang perjuangan Erlangga untuk mendapatkan hati Tisha bagaimana.


"Gue harus gimana, Ga?"


Angga menggeleng, "gue juga bingung" jawab Angga seadanya.


...****************...


"Kenapa?" tanya Tisha kepada Erlangga ketika keduanya sudah bertemu dan duduk saling berhadapan.


Sebelum menjawab Erlangga menarik nafasnya terlebih dahulu, kemudian menceritakan semua yang sudah terjadi tadi siang.


"Daddy minta Daffa untuk dikirim ke luar negeri tapi aku menolaknya" akhir dari cerita Erlangga.


"Kenapa kamu tolak? Kamu belain sahabat kamu?" tanya Tisha dengan nada yang tersirat rasa kecewa.


"Maaf Sha, tapi bagaimana pun juga, Ivan udah aku anggap sebagai keluarga ku sendiri"


"Walaupun itu keluargamu kalau memang dia salah, tetap salah. Harus di hukum, Abay!" tegas Tisha dengan sorot mata yang tajam.


"Maaf aku engga bisa jadi pria yang bertanggung jawab untuk kamu"


Tisha mengerutkan keningnya, apakah sifat Erlangga yang dulu masih ada dalam dirinya? Masih tidak bisa menolak jika berurusan dengan temannya? Sama seperti dulu Abay yang di tertawakan oleh Lio dan teman-temannya karena terjatuh dari sepeda.


Dimana sifat tegas Erlangga sekarang? Apakah terkalahkan oleh sahabat?


Segala unek-unek dalam diri Tisha mulai bercampur aduk tentang Erlangga.


"Kamu ngerelain hubungan kita?" tanya Tisha yang terlontar secara tiba-tiba dalam dirinya.


Erlangga mengangkat wajahnya, "engga!" tegasnya.


"Dengan cara kamu kaya gini, kamu udah relain hubungan kita untuk sampai disini, Bay" jelasnya.


Erlangga mengangguk, "iya aku tau Sha, aku salah. Tapi aku engga akan ngelepasin kamu gitu aja, aku sayang sama kamu"


"Ya aku harus kaya gimana? Aku engga bisa berhubungan dengan pria jika keluarga ku saja tidak setuju"


"Aku akan menjelaskan semua.... "


Dret... Dret... Dret... Ponsel Tisha bergetar.


Tisha melihat ke arah Erlangga, "Daddy" katanya ketika melihat nama yang tertera dalam layar ponselnya.


Erlangga mengangguk, "angkat aja engga apa-apa" jawabnya, Erlangga tidak mau namanya semakin jelek di mata daddy Ardi, sudah cukup tentang Dafa yang membuat dirinya akan menjauh dari Tisha, ia tidak mau menambah masalah baru dengan melarang Tisha untuk tidak mengangkat teleponnya.


Tisha mengangguk dan menggeser icon hijau di layar ponsel miliknya.


📞 daddy is calling


"Bawa Erlangga ke sini, sekarang juga" perintah daddy dari telepon dengan tegas.


Deg...


Tisha terdiam.


"Kenapa daddy bisa tau?" tanyanya dalam hati.


Tisha pun melihat sekelilingnya dan meyakinkan bahwa memang tidak ada yang mengikuti nya.


"Kamu tidak perlu cari tau dari mana daddy tau bahwa kamu kini sedang bersama dengan Erlangga. Kamu akan tau sendiri kalau kamu udah di rumah" jelas sang daddy yang mengetahui bahwa sang anak sedang kebingungan.

__ADS_1


"Baik daddy, Tisha pulang"


"Ya"


tut... tut.. tut...


Sambungan telepon terputus.


"Kenapa?" tanya Erlangga ketika melihat Tisha menatapnya.


"Kita harus pulang ke rumah utama"


"Kita?" tanya Erlangga dengan kening yang berkerut.


Tisha mengangguk, "iya kita, daddy tau kalau aku lagi sama kamu"


"Hah?" katanya dengan wajah yang terkejut buka main.


Sama seperti Tisha, Erlangga pun melihat sekelilingnya.


"Kamu akan tau jawabannya nanti kalau kita udah di rumah" ucap Tisha yang tau tentang apa yang di pikirkan oleh Abay.


"Kita bawa mobil masing-masing aja" lanjut Tisha.


"Baik"


Keduanya pun keluar dari restoran Noora coffee dan masuk ke dalam mobilnya masing-masing.


...****************...


"Bang" panggil Ara kepada sang kakak, Ardan.


Ardan yang sedang memainkan ponselnya pun menoleh ke arah sang adik, "hem?" tanyanya.


"Ara pengen jalan-jalan" katanya.


"Iya, Ara pengen jalan-jalan bang"


"Tumben nih adik kecil abang mau jalan-jalan, kenapa hem?"


"Bang, Ara udah engga anak kecil lagi ya"


"Loh loh, kata siapa? Kata abang, Ara masih jadi putri kecil abang"


"Bang, tau engga sih Ara lagi galau"


Mendengar hal itu, Ardan melototkan matanya, "heh kamu masih kecil udah galau galauan"


"Bang Nathan engga bisa jagain kamu nih kayanya" lanjut Ardan.


Ara panik mendengarnya, "eh eh bukan si Nathan yang engga bisa jagain aku bang, tapi emang aku yang lagi suka sama cowo tau"


"Hey kamu masih SMP Ara, mana ada segede gini udah tau sama cinta-cintaan"


"Ara tau, abang engga pernah nonton drakor sih"


"Ara kan tau dari drakor, abang"


Ardan menggelengkan kepalanya, "udahlah abang sita drakor kamu itu"


Ara semakin panik, "ih engga mau abang" katanya.


"Abang cowonya baik kok, abang juga tau sama dia"


Ardan semakin di buat penasaran, "siapa cowo itu?" tanyanya dengan tegas.

__ADS_1


"Bang Miko" celetuknya.


Polosnya Ara.


"Miko? Miko mana kamu?"


"Bang Miko Maspura"


"Hah?" Ardan ngelag.


Ardan mengangguk, "iya bang Miko"


"Lu sakit de?" tanya Ardan kepada Ara sambil menyimpan tangannya di dahi Ara.


"Ih abang apa sih" jawab Ara kepada Ardan dengan mengehempaskan tangan Ardan.


"Wah wah mami sama papi harus tau" kata Ardan dan langsung berdiri dari duduknya.


"Mamiiii... Papi... " panggil Ardan.


"Abang jangan, aku malu" teriak Ara sambil mengejar Ardan.


"Mami... papi... " Arsan tetap memanggil kedua orang tuanya tidak menggubris teriakan dari Ara.


"Ih Ara suka benci deh sama mulut Ara, kenapa sih bisa di kasih tau sih ke bang Ardan" gerutunya.


"Abang" teriaknya.


"Aduh aduh ada apa ini?" tanya mami Fris.


"Mami.. Ara udah suka sama cowo mi" kata Ardan sambil memeluk sang mami.


"Wih putri kecil papi udah suka sama cowo, suka sama siapa?"


"Loh kok bisa sih, Ara kan masih kecil" lanjut sang mami.


"Abang" panggil Ara sambil menetralkan nafasnya.


"Siapa cowonya?" tanya sang papi.


"Miko, anaknya papa Nicholas" jawab Ardan.


"Hah?" papi dan mami ngebug.


"Abang, ih kesel" teriak Ara dan kembali mengejar Ardan yang berlari sambil tertawa terbahak-bahak.


"Papi mau besanan nih sama papa Nicholas" ledek Ardan sambil tertawa.


Papi dan mami saling melihat satu sama lain, seakan-akan mereka sedang berkomunikasi melalui telepati.


"Abang mau kemana? Ara ikut" teriaknya lagi ketika Ardan akan mengeluarkan motor kesayangannya.


"Mau ketemu Miko" ledek nya.


"Ish" kata Ara sambil memanyunkan bibirnya.


"Abang mau ke depan, ayo katanya mau jalan-jalan" ucapnya.


Ara tersenyum sumringah, "asiik"


"Ayo bang kita jalan-jalan" lanjutnya.


"Abang traktir Ara ya" lanjutnya lagi.


"Iya ayo" jawab Ardan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Adik gue semakin besar, cepat atau lambat dia akan menemukan dambatan hatinya, yang akan menjaganya sampai tua nanti. Waktu gue sama dia akan tersita nantinya, engga nyangka waktu begitu cepat berlalu, biasanya dia yang selalu gue jailin, makin hati makin lama gue sama dia engga akan kaya dulu lagi" lirih Ardan, ketika sada bahwa sang adik sudah mulai beranjak dewasa.


__ADS_2