
Via telpon
Rijal : Halo Fer?
Ardi : Ck, masih aja engga sopan ya lo sama gue. Gue kakak ipar lo, kalau lo lupa.
Rijal : (Terdengar Rijal yang tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan dari sang kaka ipar) Lo itu temen gue kalau lo lupa.
Ardi : Terserah lo deh, terserah
Rijal : Ada apa lo telpon gue?
Ardi : Bisa ke rumah gue engga sekarang?
Rijal : Bisa kalau ada hal yang penting
Ardi : Ini tentang anak lo, Jal
Rijal : Ardan apa Zahra?
Ardi : Ardan
Rijal : Oke gue kesitu
Ardi : Oke gue tunggu.
Tuut... Sambungan telpon pun terputus.
"Dasar adik ipar lucknut" gerutu Ardi ketika Rijal begitu saja memutuskan sambungan telponnya.
"Bisa-bisanya adik gue kecantol ama si Rijal" celotehnya lagi.
"Mas kamu kenapa?" tanya Adin yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dan melihat sang suami yang sedang berkomat kamit tak jelas.
Ardi memutar tubuhnya menghadap sang istri dan merubah wajahnya menjadi bahagia "engga apa-apa ko sayang, tadi lagi sebel aja sama si Rijal"
"Kenapa?"
"Masa telpon aku langsung di matiin begitu aja sama dia" adu Ardi dan Adin tersenyum mendengarnya.
"Rijal kan memang begitu mas"
"Iya sayang aku tau"
"Oya mas, Nicholas sudah ada diruang kerjamu"
"Baiklah kalau begitu aku ke ruang kerjaku dulu, kalau Rijal sudah tiba suruh langsung ke ruang kerja aku saja ya, mom"
"Apa ada hal serius sayang? Sampai-sampai Rijal kesini?" tanya Adin.
"Tidak ada sayang, hanya tentang anak-anak kita saja yang sedang kasmaran" jelasnya.
"Oh begitu, baiklah" ucap Adin.
__ADS_1
Cup.. Kecupan Ardi mendarat di kening Adin.
Adin tersenyum dibuatnya "aku ke ruang kerja dulu"
"Iya mas, nanti aku bawakan cemilan dan minum ke ruang kerja mu" ucapnya dan Ardi pun menganggukkan kepalanya.
***
"Tadi siapa yang putar lagu?" tanya Ardan kepada kedua sejolinya itu.
"Tuh" tunjuk Miko kepada Kalan.
"Gila sih sumpah, gue makasih banget. Mana tuh lagu pas banget lagi, bikin suasana engga canggung"
"Santai" ucap Kalan.
Kini semua siswa dan siswi SMA SATYA sedang berkemas karena sebentar lagi mereka akan kembali ke Jakarta. Puncak menjadi kenangan tersendiri bagi mereka apalagi untuk Erasma dan juga Ardan mampu membuat komitmen dalam perayaan MOS kali ini.
***
"Rea" panggil Kia.
Rea menoleh, lihatlah Rea sudah memasang wajah meledek kepada Kia "ada apa pasangan baru?" godanya.
Dan itu mampu membuat wajah Kia memerah bagaikan udang rebus "ish Rea jangan gitu, aku 'kan malu jadinya"
Rea Menyenggol lengan Kia "ah malu-malu tapi jadi kan? Eum aku seneng banget bisa punya ipar kaya kamu"
Wajah Kia semakin di buat merah oleh Rea "Rea stop, please" lirihnya karena tak tahan dengan godaan yang di lontarkan oleh Rea.
"It's okay" kata Kia dan mereka berdua tertawa secara bersamaan.
"Cih baru di tembak gitu aja udah alay" celetuk Marsha.
Rea dan Kia yang sedang asik tertawa pun terdiam seketika dan menoleh ke arah Marsha dengan langsung memasang wajah dingin "bilang aja kalau lo sirik" ketus Kia.
"Cih gue bisa lebih dari itu kali, itu terlalu alay menurut gue"
"Ck bilang aja lo iri, karena lo engga bisa kaya Kia yang di jadikan ratu oleh pria pujaan hatinya. Mana ada cewe yang nyatain perasaannya duluan ke cowo mana di tolak lagi, engga malu mba? Harga diri di simpen dimana mba?" ledek Rea dan mampu membuat Marsha mengepalkan tangannya.
"Jaga ucapan lo, Andrea" ucap Marsha dengan nada tinggi dan mampu membuat beberapa siswi dan panitia berkumpul melihat keributan apa yang terjadi.
"Re udah, malu diliatin sama yang lain" bisik Kia kepada Rea.
"Orang yang kaya gini itu engga bisa di biarin, Ki. Kalau di diemin terus menerus bisa ngelunjak"
"Rea!" ucap Marsha dengan nada tinggi dan menaikkan tangannya untuk bersiap menampar pipi mulus Rea.
Rea yang sudah tau gerak gerik dari Marsha pun dengan cepat memegang tangan Marsha dan tangan satunya lagi Rea gunakan untuk menjambak rambut Marsha "mau apa lo hah? Gitu aja lo engga mampu"
"Rea" teriak Kia karena kaget dengan apa yang dilakukan oleh Rea.
"Lepasin rambut gue, Rea"
__ADS_1
"Gue engga akan ngelepasin lo begitu aja, nenek gayung"
"Apa lo bilang?"
"Nenek gayung"
"Brengsek" dengan cepat Marsha pun menjambak rambut Rea karena satu tangannya berhasil terlepas dari genggaman Rea.
"Dasar nenek gayung" teriak Rea.
"Andrea!" terdengar suara barington dari pria tampan dengan wajah dinginnya.
"Kalan" ucap Rea dan juga Marsha ketika melihat siapa yang datang menghampirinya.
"Lepas jambakan dari rambut kalian, sekarang juga!" tegas Kalan. Dan lihatlah mereka langsung melepaskan jambakannya itu. Mereka berdua langsung menundukkan kepalanya karena merasa takut dengan sorot mata tajam dari Kalan.
"Kalian semua bisa bubar, segera kembali ke tempat kalian Masing-masing, karena 30 menit lagi kita akan segera kembali ke Jakarta!" perintah Kalan kepada seluruh siswi dan panitia yang melihat Rea dan Marsha bertengkar. Mendengar perintah dari Kalan, mereka membubarkan dirinya.
"Ada apa ini?" tanya Kalan kepada keduanya setelah melihat bahwa tempat tersebut menyisakan dirinya, Rijal, Rea, Kia, Marsha dan juga Gema.
"Dia iri" ucap Rea.
"Dia bilang gue engga ada harga dirinya"
"Ck, gue engga bilang gitu ya, Sha"
"Lo tadi bilang gitu, Rea"
"Engga, gue cuma bilang, harga diri lo disimpan dimana, mba?"
"Sama aja itu artinya lo bilang kalau gue engga ada harga dirinya"
"Diam!" kembali terdengar suara barington dari Kalan dan kembali membuat kedunya menunduk.
"Azkia bisa kamu jelaskan dengan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kalan kepada Kia tanpa menoleh kepada Kia, karena Kalan masih dengan sorot mata yang tajam mengarah kepada Rea dan juga Marsha.
Kia menganggukkan kepala nya "baik" ucap Kia dan mulai menceritakan semua apa yang terjadi.
***
"Ada apa sih sama anak gue?" gerutu Rijal ketika baru saja datang dan masuk ke dalam ruang kerja Ardiansyah.
"Duduk dulu tuan Rijal" titah Nicholas yang melihat wajah lelah dari Ardan.
Rijal duduk dan meminum segelas jus orange yang berada di meja, entah milik siapa jus orange tersebut.
"It.. Itu punya saya, tuan" ucap Nicholas ketika jusnya di minum oleh adik ipar dari sang bos besarnya.
"Ck, lo bisa bikin lagi, gue udah haus banget nih"
"Baik" pasrah Nicholas.
"Jadi, anak gue kenapa, Fer?"
__ADS_1
"Anak lo pacaran"
Rijal membulatkan matanya "ingin ku kirim kau ke pluto Ardiansyah, kalau aku tak ingat bahwa kau kakak iparku saat ini" gerutu Rijal dalam hati.