
Ayumi membulatkan matanya ketika Gema menghempaskan tangannya.
"Ka Gema" ucapnya dengan nada terkejut.
"Ayumi" teriak Salsa sambil berlari ke arah sang teman.
"Gue engga suka ada yang nyentuh gue tanpa seizin gue" ucap Gema dengan tegas tanpa menoleh ke arah Ayumi.
"Tapi lo engga ada hak buat lakuin itu ke gue" teriak Ayumi tak kalah tegasnya.
"Dan lo juga engga ada hak buat sentuh gue!" tegasnya sambil menatap Ayumi dengan tajam.
Ayumi tertawa sinis "Gue tau ini semua pasti karna dia" tunjuk Ayumi kepada Tisha.
"Udah Yum, malu di liatin banyak orang" bisik Salsa kepada Ayumi.
Tisha mengerutkan keningnya "ko gue?" tanyanya.
"Ya karena lo, Sha. Karena lo ka Gema jadi kaya gitu ke gue"
"Gue salah apaan? Gue dari tadi diem loh, Yum" jelasnya.
"Tau nenek gayung engga jelas banget sih" timpal Sailendra.
"Ini semua gara-gara lo tau engga, lo yang selalu cari perhatian sama ka Gema, sampe-sampe ka Gema ngelakuin hal itu ke gue"
"Dih elo yang salah ya Yum bukan gue, kenapa jadi gue yang di salahin? Lagian masalah lo itu sama dia bukan sama gue, kenapa lo nyerang gue?" cecar Tisha.
"Sadar diri dong lu mba" timpal Tikha.
Ayumi yang merasa kesal mengangkat tangannya untuk menampar Tisha, tetapi dengan cepat Gema memegang tangan Ayumi untuk mencegah agar Tisha tidak terkena tamparan dari Ayumi "meningan lo pergi dari sini sekarang dari pada lo bikin onar di sekolah. Lo engga malu jadi pusat perhatian seluruh siswa SMA SATYA?" titah Gema kepada Ayumi.
Ayumi melepaskan cekalan tangan Gema "lo inget ya ka, gue engga suka lo giniin, dan buat lo Tisha tunggu pembalasan gue!" tegasnya dan pergi meninggalkan lapangan utama yang sudah ramai dengan siswa dan siswi untuk melihat pertengkaran Ayumi, Gema dan juga Tisha.
"Minggir lo" ketus Ayumi kepada siswa yang menghalangi jalannya. Melihat itu seluruh siswa dan siswi menyoraki Ayumi.
"Centil banget" celetuk salah satu siswi yang melihat itu.
"Kayanya bakal ada cinta segitiga nih di sini" bisik salah satu siswi SMA SATYA.
"Bukan segitiga tapi persegi"
"Ko persegi?"
"Lo lupa kalau Marsha suka juga ke si Gema"
"Astaga iya gue lupa"
"Gema emang ganteng sih kalau di liat-liat"
"Iya emang, mangkanya dia banyak yang ngincer dan yang paling menonjol ya mereka"
"Iya bener-bener"
"Tapi gue heran sih, kenapa si Tisha engga kepincut sama si Gema ya?"
"Iya gue juga aneh deh"
"Tapi yaudah deh biarin aja, itu mah urusan mereka"
"Kamu engga apa-apa, Sha?" tanya Gema.
__ADS_1
"Ga!" ketus Tisha.
"Sorry"
"Gue CAMKAN, jangan lo deketin gue lagi, cukup sampai disini aja, PAHAM LO!"
"Engga bisa gitu Sha, gue engga akan berhenti untuk deketin lo sampai kapan pun itu!"
"Dan lo engga akan bisa deketin Tisha gitu aja!" ucap Kalan sambil berjalan ke arah mereka.
"Astaga, apakah akan ada perang dunia ke dua disini?" gumam Sailendra dalam hati.
"Hukuman kalian sudah selesai, lima menit lagi bel masuk akan segera bunyi, silahkan untuk kembali ke kelas kalian masing-masing" perintah Kalan.
"Allhamdulilah" teriak Sailendra.
"Dahlah gue mau ke kelas duluan, udah engga kuat nih gue panas banget, haus lagi" lanjutnya.
"Sama" timpal Agas dan mereka pun kembali ke kelas.
"Kakak tunggu kamu di rumah utama nanti malam" bisik Kalan kepada Sailendra.
Glek...
"Si... Siap ka" jawab Sailendra.
"Lo kenapa, Sai?" tanya Agas sambil menepuk pundak Sailendra.
"Hah? Gue? Gue engga apa-apa ko, Gas"
"Oh" jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
***
"Hem?"
"Lo tau engga kabar terbaru dari Indo?" tanya Ivan.
"Gue tau, tapi untuk sekarang gue lagi usahain buat fokus sama perusahaan gue dulu, Van. Masalah di Indo nanti gue urus"
"Walaupun tentang Tisha?"
Erlan mengangguk dengan mantap "iya"
"Gila sih ini baru namanya gila kerja"
"Beneran deh, gue baru nemuin cowo kaya lo, yang benar-benar gila banget sama yang namanya kerja"
"Hem. Jadi udah ya Van, jangan pancing gue buat balik ke Indo. Karena gue juga disini lagi berusaha buat nyelesain masalah perusahaan dengan cepat biar gue bisa cepet-cepet balik lagi ke Indo, meningan sekarang lo bantuin gue lagi deh"
"Siap bos"
"Tapi si Angga di sana engga dalam kesulitan 'kan?"
"Engga, di sana aman terkendali ko"
"Oke" jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
***
"Ga, kenapa Erlangga ke London?" tanya daddy Erlan.
__ADS_1
"Ada masalah sedikit dad di perusahaannya"
"Apakah itu sangat serius?"
"Engga begitu serius dadd kalau untuk Erlangga"
"Iya daddy percaya sama kemampuan yang di miliki Erlangga, dia memang sangat mahir dalam berbisnis, bahkan dia mampu memiliki perusahaan sendiri tanpa campur tangan keluarga"
Angga menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan penjelasan sang daddy "iya dadd, Angga juga salut sama Erlan, dari SMA emang Erlan itu engga pantang menyerah, dia selalu berusaha menjadi yang terbaik, pas Angga tau Erlan mau bikin perusahaan Angga sama Ivan dukung banget dadd, karena kita berdua tau kalau Erlan pasti mampu bikin perusahaan miliknya maju dan mampu bersaing sama perusahaan besar lain di London, ternyata apa yang kita impikan dan rencanakan engga sia-sia dadd, Erlan mampu wujudin itu semua" jelasnya.
"Daddy bangga sama kalian bertiga"
"Angga dan Ivan lebih bangga sama Erlan, dadd"
"Pokoknya kalian bertiga yang terbaik bagi daddy"
"Makasih dadd"
"Jadi sekarang kamu yang bantu daddy disini?"
"Iya dadd maaf. Untuk sekarang hanya Angga yang bantu daddy disini"
"Engga apa-apa, daddy ngerti ko"
"Makasih dadd"
"Iya"
"Ayo kita mulai kerja"
"Siap dadd"
***
"Cewe lo cantik juga Van"
"Siapa?"
"Itu yang lo tabrak di mall"
"Itu bukan cewe gue, Fa"
"Baguslah, jadi gue bisa deketin dia deh"
"Fa cukup, jangan lo sakitin cewe lagi. Udah cukup Dia aja yang lo bunuh, Dafa!"
Plak.. Satu tamparan lolos pada pipi Devan.
"Jangan lo sebut wanita murahan itu lagi, Devan!"
Devan tertawa sinis "kenapa? Kenyataannya memang benar 'kan lo yang bunuh dia, cewe cantik yang periang itu"
"Stop Devan. Gue ingetin sama lo, jangan lo sebut dia lagi apalagi lo sebut namanya"
"Dan jangan lo sakitin cewe manapun lagi, Dafa"
"Lo engga usah ikut campur sama urusan gue, Devan"
"Bagaimana pun juga lo itu kakak kembar gue, Fa"
"Karena itu, lo jangan ikut campur urusan gue karena lo cuma adik gue! Inget itu!" tegas Dafa dan pergi meninggalkan kamar Devan.
__ADS_1