Twince LA

Twince LA
Cinta Itu 'Kan Buta, Dan


__ADS_3

"Kenapa, Lan?" tanya Ardan to the point.


"Dan, si Tisha ke markas Gema" jawab Miko.


"Hah?" Ardan melongo. Ardan memang tidak mengetahui tentang hal ini, karena ia datang terlambat bersama dengan Kia.


"Ko bisa?" lanjutnya.


"Ngapain?"


Kalan mengangkat bahunya dan Miko menggelengkan kepalanya "yang gue inget kalau si Tisha itu di DM sama si Niko" jawab Miko.


"DM?" tanyanya bingung.


"Isi DMnya?"


"Tisha suruh datang ke tempat yang udah di share lock sama si Niko, katanya si urgent ternyata ke markas. Keterangan dari Tisha, dia itu nolongin si Marsha" jelas Miko.


Ardan yang mendengarnya menggelengkan kepalanya "gue engga abis pikir deh sama si Marsha"


"Ko Marsha?"


"Jelas Marsha, Mik. Udah tau si Gema engga suka sama dia masih aja di deketin pake acara cari perhatian segala, bukannya dia tau ya kalau si Gema itu nakutin kalau lagi marah?" cerocosnya.


"Cinta itu 'kan buta, Dan"


"Yaiya gue tau cinta itu buta tapi engga harus buta beneran juga kali"


"Haaah" terdengar Kalan membuang nafas.


Ardan dan Miko melihat ke arah Kalan "kenapa lu?"


"Gue engga tau harus bersikap gimana ke si Gema"


"Sebenernya jujur gue aneh sih sama kalian berdua, kenapa kalian jadi kaya gini sekarang bukannya dulu kalian deket banget tuh?" Ardan bertanya.


Kalan mengangkat bahunya "gue juga engga tau, Dan"


"Besok hari apa?" tanyanya.


"Minggu" jawab Miko.


"Ajak Gema buat ketemu sama gue face to face"


"Serius lo? Jangan ngaco deh, Lan"


"Gue serius, Dan"


"Engga gue engga izinin, kalau lo mau ketemu sama si Gema, harus sama kita-kita"


"Ini masalahnya Tisha, Dan. Emang Gema harus bener-bener diajak ngomong serius deh. Gue udah kasih dia peringatan tapi tetep aja engga di denger"


"Tapi tetep gue engga setuju, Lan"


"Dan, kayanya yang di bilang sama Kalan bener deh, mereka emang harus ketemu secara face to face biar semuanya selesai. Kalau kaya gini terus Gema engga akan sadar-sadar" timpal Miko.


"Gue tetep engga setuju, Mik. Gimana kalau si Gema nekat?"


"Engga bakal, Dan. Gema engga bakal nekat, gue yakin"


Ardan terdiam sambil berpikir "gini aja, kita tetep ikut buat mantau lo dari jauh" ide Ardan.


"Dih, berasa kek gue cowo pecundang deh"


"Mau engga? Kalau lu engga mau ya gue tetep ikut sih, bodo amat deh lu mau gimana ke gua. Yang penting lo aman dan engga kenapa-kenapa"


"Yaudah deh iya, tapi dari jauh ya" putus Kalan.


"Oke siap"


***


"Ko kamu bisa deket sama Lio sih, Kha?" tanya Tisha, kini keduanya sudah berada di dalam kamarnya.


Tikha menggeleng "aku engga deket ko, Sha. Emang Lio udah beberapa kali chat aku tapi engga aku bales paling aku bales cuma sesekali aja"


"Emang awalnya gimana, Kha?"


"Pas ada game itu loh, dia liat aku"


"Game? Game pas kita nginep?"

__ADS_1


"Iya"


Tisha mengangguk "oh, hati-hati ya Kha sama Lio, aku takut dia cuma mau mainin kamu doang"


"Iya Sha, aku tau ko"


"Terus kamu gimana?"


"Gimana apanya?"


"Itu sama kakaknya kak Kia"


"Ih apaan sih, engga ada ya. Lagian dianya juga ko yang so-soan dateng mau nolongin aku, padahal aku engga kenapa-kenapa juga"


"Aku juga bingung kenapa dia bisa tau kamu dalam bahaya"


"Apa jangan-jangan... "


"Dia udah ngintai kamu" lanjut Tikha.


"Ah masa sih"


"Bisa aja 'kan?"


"Engga deh kayanya engga"


"Kalau aku sih yakinnya iya"


"Kalau aku sih engga"


"Iya"


"Engga"


"Udah ah aku mau tidur" kata Tisha.


"Jangan dulu tidur dong, Sha"


"Ngantuk banget nih aku"


"Ke mall yuk Sha besok"


"Ngapain?"


"Engga ah, males aku"


"Tisha ayo, sama ke toko buku deh"


"Ke toko buku aja deh jangan ke bioskop"


"Dua-duanya"


"Tapi traktir makan ya"


"Oke siap"


***


"Gimana, mas?" tanya Adin kepada sang suami.


"Masih ada hubungannya sama Putri dan Chandra, sayang" jawabnya sambil mengusap lembut punggung sang istri dan mencium pucuk kepalanya.


“Kenapa mereka harus datang lagi ke dalam kehidupanku mas?” tanya Adin kepada Ardi.


“Aku takut mereka akan berbuat seperti itu kepada anak-anak ku” lirihnya lagi.


“Itu engga akan terjadi sayang. Percayalah kisahmu dengannya tidak akan terulang lagi kepada anak-anak kita. Mereka punya cerita tersendiri dalam hubungannya nanti” ucap Ardi menenangkan Adin.


"Tapi aku takut mas"


"Ada aku yang menjaga anak-anak sayang, sepertinya akan ada tambahan lagi untuk menjaga Tisha"


"Maksud kamu sayang?"


"Itu pria tadi yang datang ke rumah kita, sayang"


"Erlan? Kakaknya Kia?"


Ardi mengangguk "iya, kamu tau dia adalah Abay pria masa lalunya Tisha"


"Serius kamu mas?"

__ADS_1


"Iya aku serius sayang"


"Aku jadi inget dulu mas, Tisha bela-belain tinggalin Tikha cuma karena pengen berangkat bareng sama Abay" ucapnya sambil terkekeh.


“Assallamualaikum” teriak Abay dari balik pintu utama kediaman Wijaya.


“Waalaikum salam. Eh maaf aden siapa ya?” tanya ART.


“Oh iya bi kenalin aku Abay temannya Tikha sama Tisha”


“Oh iya, masuk den”


“Iya bi terimakasih”


“Sebentar ya den bibi panggilkan dulu. Aden duduk aja dulu”


“Iya bi” jawab Abay, Abay pun duduk di sofa ruang tamu keluarga wijaya itu.


***


“Kakak ayo kita berangkat” ajak Tikha kepada Kalan.


“Iya de ayo”


“Loh Tisha mana?” tanya Kalan kepada Tikha.


“Eh iya Tisha mana ya? Sebentar kak aku tanyain dulu ya ke mommy” ucapnya dan diangguki oleh Kalan.


“Mom.. mommy” panggil Tikha.


“Iya, Kha?”


“Tisha mana mom?”


“Tisha tadi udah berangkat sama temannya”


“Temannya Mom?”


“Iya Kha”


“Siapa? Ko aku engga tau ya mom?”


“Itu loh yang kamu sama Tisha bantuin itu, anaknya pake kacamata”


“Maksud mommy Abay?”


“Ah iya, Abay”


“Ini bekal kamu sama Tisha ya. Tadi Tisha lupa engga bawa bekalnya, ka Kalan sudah mommy bawakan” lanjut Mommy.


“Baik mom. Yaudah kalau gitu Tikha dan ka Kalan berangkat ya mom”


“Iya sayang, hati-hati”


Tisha pun kembali ke depan dimana sang kaka masih menunggunya.


“Mana adikmu?” tanya Kalan.


“Udah berangkat sama Abay ka tadi”


“Abay?”


“Iya, anak komplek sebrang”


“Ko bisa?” tanya Kalan dan Tikha pun hanya mengangkat kedua bahunya.


“Yaudah ayo kita berangkat” ajak kalan dan diangguki oleh Tikha.


Ardi ikut terkekeh mengingat hal itu "lucu juga ya"


“Iya mas”


“Udah engga usah kamu pikirkan lagi, Anak-anak ada dalam pengawasan ketat sekarang” ucapnya sambil mengusap lembut kepala Adin dan menciumnya.


"Iya mas aku percayakan semuanya sama kamu"


"Iya sayang terimakasih"


Cup...


Cup...

__ADS_1


Cup...


"Sama-sama mas"


__ADS_2