
"Kita semua ke rumah utama?" tanya Ardan kepada Miko yang beriringan.
Miko mengangguk "semua udah kumpul di rumah utama, nengok Tikha yang sakit" jawabnya dengan suara yang agak di besarkan.
"Oke" kata Ardan dan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
...****************...
"Hati kamu udah tenang?" tanya Kalan kepada sang adik.
Tisha mengangguk, "udah kak, tapi aku kepikiran sama Tikha"
"Iya Tikha lagi di rawat di rumah"
"Iya pasti karena cowo itu"
"Kamu tau tentang cowo itu?" tanya Kalan.
Tisha menggeleng, "aku baru tau malah Tikha kenal sama cowo yang kaya begitu, mana kembar"
"Emang Tikha engga pernah cerita sama kamu?"
Tisha kembali menggeleng, "engga"
Kalan mengangguk, "yaudah nanti kakak sama Miko cari tau tentang mereka"
"Kakak udah tau kuncinya?" tanya Tisha.
Kalan mengangguk, "Narendra dan Gema"
"Gema?"
"Ka Gema maksudnya?" tanya Tisha lagi dan Kalan pun menganggukkan kepalanya.
"Oyaudah" kata Tisha menganggukkan kepalanya.
"Yang lain udah pada dateng, kak?" tanya Tisha lagi.
"Kalau di liat dari waktu, mereka masih di perjalanan" jawab Kalan dan diangguki oleh Tisha.
...****************...
"Eh ada Gema juga" kata mommy Adin ketika melihat Gema juga ada di barisan paling belakang para anak dan keponakannya.
"Iya tante, lama engga ketemu" kata Gema dan mencium tangan mommy Adin.
"Iya udah lama banget engga ketemu, kenapa engga pernah kesini lahi?" tanya Mommy Adin yang memang tidak. mengetahui tentang permasalahan antara keduanya.
"Hehe maaf tante, Gema sibuk soalnya" jawab Gema yang berbohong.
Mommy Adin tersenyum, "oyaudah kalau sibuk engga apa-apa, ayo duduk"
"Iya tante terimakasih" ucapnya dan Gema pun duduk di ruang tamu rumah uyama keluarga Wijaya.
__ADS_1
"*Emang udah lama banget ya gue engga kesini, semenjak Viona engga ada" gumam Gema ketika sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Masih sama kaya dulu engga ada yang berubah" gumamnya lagi ketika melihat sekelilingnya*.
Mommy dan Daddy tidak pernah mempermasalahkan masa lalu diantara mereka, karena prinsip mereka adalah "masa lalu biarlah berlalu, jangan di buat dendam jadikan sebagai pelajaran dalam perjalanan hidup kamu agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi"
Maka dari itu daddy dan mommy menerima baik pertemanan antara Kalan dan juga Gema, walaupun di masa lalu tali silaturahmi mereka kurang baik.
"Kalian bertiga udah di tunggu di ruangan daddy" kata mommy kepada Ardan, Miko dan juga Sailendra.
"Kita ke ruang kerja daddy dulu ya mom" kata Ardan.
Mommy mengangguk, "iya"
"Mommy, Tikha dimana?" tanya Reysha.
"Di kamar yang ada di bawah tangga, Ey"
"Oke, Reysha ke Tikha dulu ya mom"
"Oke"
"Di minum dulu jus nya, Gem" kata mommy Adin ketika hanya tinggal mereka berdua yang berada di ruang tamu.
"Iya tante" kata Gema sambil mengambil gelas yang sudah terisi jus jeruk di dalamnya. Dan mereka pun larut dalam obrolan yang seru.
"Mom" panggil Sailendra kepada mommy Adin yang baru saja turun dari ruangan daddy.
"Ka Gema di panggil daddy" katanya.
Mommy Adin melihat ke arah Gema, Gema pun mengangguk dan tersenyum, "iya tante, Gema memang di panggil daddy untuk ikut ke sini" jelas Gema kepada mommy Adin.
"Oh dikira tante mau ketemu sama Kalan karena ada urusan"
Gema tersenyum, "bukan tante"
"Oyaudah kalau gitu, kamu ikutin Ilen aja, maaf ya daddy pasti udah nungguin kamu banget, tante emgga tau soalnya"
"Iya tante engga apa-aa, kalau gitu Gema permisi dulu ya tante"
"Iya nak silahkan" kata mommy dan Gema pun pergi untuk mengikuti Sailendra ke ruang kerja daddy Ardi.
...****************...
"Dafa!" teriak Ivan ketika sudah sampai di rumah. Setelah mendengar penjelasan dari dokter tentang keadaan Devan yang tidak begitu parah, Ivan pun pergi meninggalkan rumah sakit untuk meminta penjelasan kepada Dafa dengan menitipkan Devan kepada Uxio.
"Aduh si aden, kenapa teriak-teriak den" kata mbo Minah yang berlari dari arah dapur karena mendengar teriakan dari Ivan.
"Dimana si Dafa, mbo?"
"Ada di kamarnya den, dari tadi engga keluar kamar" jawab mbo Minah, Ivan pun menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan mbo Minah untuk bertemu dengan Dafa.
Tok... Tok.. Tok
__ADS_1
"Dafa" teriak Ivan dari balik pintu.
Semarah apapun Ivan, ia tetap mengetuk pintu sang adiknya terlebih dahulu.
"Dafa, buka!" teriak Ivan lagi karena Dafa tak kunjung membuka pintunya.
"Dafa"
"Kalau kamu engga bukain pintunya, kakak dobrak!" teriaknya lagi dengan tetap mengetuk pintu Dafa, tapi kini ketukan itu semakin keras dan semakin cepat.
Tak lama terdengar suara kunci yang di putar, mendengar itu Ivan menghentikan ketukannta dan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Apa kak?" tanya Dafa dengan wajah tengil tak merasa bersalah itu.
"Mau di dalam kamar atau di ruang keluarga" tanya Ivan sebelum memulai pembicaraannya.
"Ruang keluarga" jawab Dafa dengan wajah yang masih biasa saja tidak ada wajah rasa bersalah.
Ivan mengangguk, "baik" jawabnya dan turun untuk memanggil mbo Minah agar seluruh pelayan yang bekerja di rumah Narendra di kosongkan.
Dafa pun mengikuti sang kakak, karena ini permintaan dirinya yang ingin di ruang keluarga.
Dafa duduk begitu saja di ruang keluarga sebelum sang kakak datang yang sedang meminta seluruh pelayan untuk mengkosongkan terlebih dahulu rumah Narendra.
"Apa sebenarnya masalah kamu dengan Devan, Fa?" tanya Ivan ketika sudah ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Dafa.
"Devan selalu menggagalkan rencanaku, kak" jawabnya dengan nada angkuh dan wajah yang penuh dengan emosi.
"Rencana apa yang Devan gagalkan, Fa?" tanya Ivan lagi namun Dafa tak menjawabnya.
"Rencana untuk menyakiti wanita?"
"Rencana untuk membunuh wanita yang kedua kalinya?" lanjutnya lagi.
"Jawab kakak Dafa!" teriak Ivan lagi karena Dafa tak kunjung menjawabnya.
"Aku mencintainya"
Ivan tertawa remeh, "apa kamu bilang mencintainya? Mencintai tapi kamu melukainya, Dafa!" tegas sang kakak.
Dafa bangun dari duduknya, "aku tidak ingin melukainya kak, tapi adik mu yang culun dan cemen itu menggagalkan rencana ku untuk membawanya ke pulau keluarga kita" teriak Dafa tak kalah tegasnya.
Ivan pun bangun dari duduknya karena sudah tersulut emosi, "mau kamu apakan dia, Dafa? Bisa-bisanya kamu membawa wanita yang bukan milikmu ke pulau keluarga kita"
"Aku ingin memiliki tubuhnya sama seperti wanita itu" jawabnya dengan wajah bangganya.
Bugh...
Satu pukulan lolos di perut Dafa.
"Brengsek!" teriak Ivan dengan masih memukul sang adik yang sudah tidak tau aturan menurutnya.
Dafa yang tidak terima pun membalas pukulan dari sang kakak, "engga usah kurang ajar lo jadi kakak, jangan mentang-mentang lo kakak gue, seenaknya aja lo hajar gue, brengsek!" teriak Dafa.
__ADS_1