![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
Merasa seperti jatuh ke dalam jurang tak berdasar, Zero memobilisasi Kekuatan Ruang untuk melindungi tubuh dan pikiran dari dampak teleportasi. Sesaat kemudian, sosok Zero muncul di depan Zeus.
"Hah?!" Zeus berteriak kaget ketika melihat sosok Zero yang tiba-tiba muncul di depannya. "Tuan?"
Tidak percaya dengan penglihatannya, Zeus menggosok matanya beberapa kali. Dia tidak merasa adanya ilusi maupun kesalahan. Dia langsung menyadari bahwa ini nyata.
"Tuan!" Zeus membungkuk. Dia bertanya, "Bagaimana percobaannya?"
Zero menjawab, "Yah, lumayan."
"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Zeus bertanya.
"Hmm, benar juga. Apa yang akan aku lakukan, ya …." Zero memegangi dagunya dan berpikir. Pada saat itu, Zero mengingat sesuatu.
Sekarang, tidak ada orang di dunia ini yang bisa menandingi dirinya. Secara alami, dia bisa bersantai dan menikmati hidupnya yang baru. Selanjutnya, Zero hanya perlu menunggu sampai Supreme World's System yang asli di aktifkan.
[Waktu pengaktifan : 91 hari.]
Dikatakan bahwa ketika Supreme World's System diaktifkan, Bayi Dunia 81636 atau dunia ini akan dijadikan sebagai fondasi dalam pembentukan. Dengan kata lain, dunia ini akan hancur dan diurai menjadi fondasi Supreme World's System.
Zero menghela nafas panjang. Saat ini, masih ada beberapa orang yang menjadi pelayan Zero. Secara alami, dia tidak akan membiarkan mereka tinggal di dunia ini dan ikut terurai.
Satu di antara mereka adalah seorang High-God, Furry Barosa. Dia tinggal di Planet Ares. Yah, itu di dekat sini. Zero tinggal melewati Lautan Asteroid dan berjalan sejauh beberapa miliar kilometer.
Sementara itu, Zero memiliki salah satu pelayan dari Tujuh Raja Neraka yang mengikutinya dari Bumi, Crhono Alexander. Nama itu juga baru diberikan beberapa minggu yang lalu. Saat ini, Crhono Alexander sedang bertugas dalam penanganan Benua Karazbis dan Kerajaan Goethe yang Zero ambil alih. Entah bagaimana kabarnya, Zero pasti akan mendatanginya.
Sekarang, Zero perlu membawa yang dekat terlebih dahulu, Furry Barosa.
Merenung beberapa saat, Zero berkata, "Kita akan berjalan-jalan."
"Berjalan-jalan?"
Zero tersenyum tanpa menjawab. Dia menggunakan Ultimate Skill : Divine Detect untuk mencari keberadaan Furry Barosa dan titik koordinatnya.
"Oh, iya. Jangan lupa untuk menekan kekuatanmu." Zero berbalik dan berkata. Zeus hanya bisa mengangguk dan menuruti perintah dengan bingung.
Kemudian, dia memobilisasi Kekuatan Ruang untuk menyelimuti seluruh tubuhnya dan Zeus, dan kemudian berteleport.
.....
Di Planet Ares, di sebuah hutan bernama Berm, terdapat area luas di mana di atasnya terdapat mansion atau tempat tinggal suatu keluarga tertentu. Di kediaman itu, di bagian belakang kediaman, puluhan orang dengan kepala tertunduk dan ekspresi yang gelap melihat ke arah batu dengan tulisan aneh terukir di permukaannya.
Di antara orang-orang itu, terdapat seorang pemuda sekitar 18 tahun dengan mata yang memerah.
"Tuan Barosa …" Di belakangnya, seorang malaikat dengan sayap perak setinggi puluhan meter melihat ke atas, menatap tuannya.
Beberapa hari yang lalu, ayah Furry Barosa, Furry Galrisa meninggal dunia. Dia adalah seorang High-God yang hampir mencapai ketinggian Legendary-God. Namun, umurnya telah sampai pada waktunya, vitalitas telah mencapai akhir, tidak bisa memulihkan diri. Pada akhirnya, Furry Galrisa meninggal karena waktu.
Berita menyebar dengan cepat. Anak-anaknya datang dari berbagai penjuru untuk pulang dan mengikuti prosesi pemakaman. Barosa tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Meski dia diasingkan ketika umurnya masih terbilang kecil, dia memiliki beberapa kenangan yang indah bersamanya. Kepergian ayahnya secara alami memberikan dampak kesedihan baginya.
Saat itu, seorang pria yang tampak berumur 20-an, berseru dengan lantang di makam, "Semuanya, aku tahu kalian sedih. Akan tetapi, Keluarga Furry kita membutuhkan seorang pemimpin! Aku, Furry Kilrisa yang akan menggantikannya."
Mendengar seruan ini, semua orang langsung menoleh. Mata mereka yang merah tidak bisa menahan diri untuk menjadi lebih merah. Furry Kalrisa ini adalah anak pertama, dengan kata lain anak tertua. Dia memiliki ambisi besar untuk mewarisi keluarga ini.
Sementara itu, saudara-saudaranya juga memiliki hasrat yang sama. Mereka saling bersaing. Namun, tidak ada dari mereka yang akan begitu berani berkata demikian saat proses pemakaman berlangsung.
Pemuda berpenampilan 18 tahun menggertakkan gigi dan berteriak dengan marah, "Sudah cukup, Kalrisa!"
Furry Kalrisa melirik ke arah suara dan ekspresinya menjadi dingin. Namun segera, matanya memandang pemuda itu dengan merendahkan.
"Wah, wah, wah, lihat siapa ini? Barosa? Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Kalrisa berkata dengan lengkungan tajam di mulutnya dan nadanya penuh sarkasme.
__ADS_1
Pada persiapan pengasingan untuk menjadi lebih kuat, saudara-saudara Barosa menyabotase persiapan, menyebabkan Barosa diasingkan di planet tingkat rendah, Karaztam. Hal ini menyebabkan pertumbuhannya sangat lama. Jadi, setelah ribuan tahun, berkat bantuan Zero, Barosa berhasil menjadi High-God dan diizinkan untuk pulang.
"Kalrisa!" Barosa meraung. Dia langsung bergegas melompat dan mendorong Energi Sihirnya menuju Kalrisa. Niat membunuh meluap dengan besar, menyebabkan banyak orang bergidik dan minggir dari jalan secara naluriah.
Kalrisa mengerutkan kening. Meski dia sudah lama menjadi High-God, Barosa lebih berbakat. Dia tidak berani meremehkan adiknya ini. Itulah sebabnya dia menyabotase persiapan pengasingan Barosa. Namun, siapa sangka kalau adiknya ini bisa kembali kurang dari 10.000 tahun?
Adiknya benar-benar berbakat dengan tingkat yang sama seperti monster!
Kalrisa mendengus, "Huh, hanya High-God awal, memangnya bisa apa?"
Barosa baru beberapa minggu sejak menjadi High-God, secara alami, kekuatannya tidak akan terlalu kuat. Sementara itu, Kalrisa telah menjadi High-God selama ribuan tahun. Dia telah mencapai tahap menengah dari High-God.
Barosa tahu hal ini. Meski begitu, dia memiliki prinsip. Selama lawan tidak memiliki kekuatan absolut, dia masih memiliki kesempatan menang!
Gap antara mereka hanya satu tingkat kecil. Jadi, Barosa berani melawan.
Dia mendesak Energi Sihir untuk dikonversi menjadi kekuatan lain. Dia berteriak, "Earth Wave (Ombak Tanah)!"
Pada saat itu, tanah bergetar. Selanjutnya, tanah terangkat naik ke atas dan turun tajam ke arah Kalrisa. Ombak tanah yang runcing dan kuat menerjang ke depan.
Kalrisa mendengus dingin dan mengeluarkan kristal berwarna biru yang jernih. Dia memasukkan Energi Sihir ke dalamnya dan berseru, "Earth Wall (Dinding Tanah)!"
Tanah terangkat dan membentuk tembok kokoh. Sementara itu, ombak tanah menerjang dan menabrak dinding tanah.
BOOM!
Dengan ledakan keras, tanah berhamburan dalam bentuk yang kecil. Tembok tanah masih bertahan, namun terlihat dapat runtuh kapan saja.
Kalrisa terkejut, dia tidak menyangka bahwa serangan Barosa memiliki kekuatan destruktif yang sangat kuat.
Barosa tidak membuang waktu. Dia masih melaju dan memegang kristal biru yang jernih di tangannya, sama seperti milik Kalrisa. Dengan mendesak Energi Sihir ke kristal, tekanan angin yang kuat mulai bermunculan.
"Frozen Blizzard (Badai beku)!" seru Barosa.
Wajah Kalrisa terdistorsi. Ada rasa ngeri dan kepanikan di wajahnya. Dia buru-buru merapalkan Mantra Sihir dengan cepat. Mulutnya terus melanjutkan lantunan mantra dengan keringat membasahi tubuhnya.
Di saat bersamaan, lingkungan di sekitarnya menjadi lebih panas. Dia masih terus melanjutkan hingga akhirnya api yang sangat panas muncul dari bawah. Api itu muncul seperti pilar api yang menjulang tinggi. Jumlahnya, ada puluhan, yang keluar dari tanah seperti gletser.
SWOOSH! SWOOSH! SWOOSH!
Kemudian, pilar api yang terangkat jatuh, menukik tajam ke arah badai yang membekukan. Puluhan pilar api yang berputar langsung menerjang ke dalam badai, mengalahkan dinginnya badai.
Barosa dengan ekspresi marah berteriak kecil, "Hundred Wind Blade (Ratusan Bilah Angin)!"
WOOSH! WOOSH! WOOSH! WOOSH! WOOSH!
Bilah angin yang tajam berbentuk bulan sabit melesat. Jumlahnya ratusan, menyatu dengan kecepatan dan dinginnya badai. Dengan ratusan bilah angin yang tersembunyi, pilar api yang menembus badai dipotong-potong seperti sayuran. Pilar api yang terpotong-potong menjadi tak berdaya dan menghilang, sementara bilah angin yang memotong juga ikut hilang.
Kalrisa tersentak kaget. Ada puluhan bilah angin yang tersisa. Dia buru-buru mengeluarkan Energi Sihirnya untuk membentuk barrier (penghalang). Dalam sekejap, tirai cahaya tipis berwarna biru muncul dan menyelimuti Kalrisa.
Bilah angin yang tersisa pun menghantam barrier (penghalang). Suara hantaman yang keras terdengar seperti rentetan ledakan tak berujung.
BOOM! BOOM! BOOM! BOOM!
Ketika awan debu menghilang, yang terlihat adalah Kalrisa dengan tubuh tanpa luka, namun nafasnya terengah-engah. Jelas, dia cukup kelelahan karena penggunaan barrier (penghalang) itu.
Di sisi lain, Barosa mengetahui hal ini. Dia masih terbang menuju Kalrisa tanpa henti. Mengangkat kristal biru, Barosa mengalirkan Energi Sihir dengan keras. Kristal biru mulai mengeluarkan cahaya yang kuat. Angin di sekitarnya menjadi terpengaruh.
Ada pusaran angin yang terlihat oleh mata telanjang dan menjadi bentuk bor di depan Barosa. Angin itu berputar dengan sangat cepat, jika memasukkan tangan seseorang, niscaya tangan itu akan dipotong-potong hingga menjadi daging cincang. Bor angin dengan ganas berputar, menambah kecepatan laju Barosa.
"Wind Drilling The Mountain (Angin yang Mengebor Gunung)!"
__ADS_1
Sementara itu, badai beku masih melaju dengan Barosa di belakangnya. Kalrisa menggertakkan giginya dengan keras dan melantunkan mantra. Ketahanan barrier (penghalang) miliknya tidak cukup kuat untuk menahan badai dan serangan lanjutan.
Dia berteriak, "Earth Wall (Dinding Tanah)!"
Tanah terangkat, dia melanjutkan dan terus mengeluarkan Energi Sihir untuk membentuk dinding tanah berlapis-lapis.
SWOOSH!
Badai yang membekukan menabrak tembok, dan terblokir. Barosa segera maju dengan bor angin raksasanya di depannya. Dia tidak perlu takut dan tembok tanah berlapis-lapis dibor hingga ke depan.
Ketika selesai menerobos dinding terakhir, mata Barosa melebar. Dia terkejut, "Bagaimana kamu …"
Sebelum Barosa selesai berbicara, Kalrisa dengan senyum mengejek di wajahnya, mengeluarkan bola cahaya berbentuk merah. Hawa panas dapat terasa darinya.
Di bola tersebut, ada pergolakan energi yang tampak seperti lava panas. Kalrisa menghilangkan barrier (penghalang) dan bergegas menuju Barosa tanpa ragu.
Hawa dingin menyambar tubuh Barosa yang terkejut, bulu kuduknya berdiri tegak. Dia merasakan ancaman.
Pada saat itu, bola merah menyentuh bor angin Barosa.
"Infernosphere!"
BOOM!
Sesaat berikutnya, ledakan keras terjadi. Bola merah pecah dan menyemburkan ledakan terarah ke depan dengan membawa hawa panas. Api merah yang panas menyambar ke depan dan menghancurkan stabilitas bor angin yang berputar.
Bor angin rusak dan Barosa membentuk barrier (penghalang) untuk berlindung. Suara retak terdengar, dia terhempas kuat ke belakang dan menabrak batu nisan.
THUMP!
Baru nisan retak seperti jaring laba-laba. Barosa menempel di batu nisan yang tinggi dan jatuh ke bawah.
"Kuhack!" Barosa mengeluarkan seteguk darah merah dari mulutnya. Pandangannya menjadi kabur dan tubuhnya sulit digerakkan. Meski barrier (penghalang) telah melindungi dirinya dari sebagian dampak serangan, efeknya masih cukup besar.
Nafas Kalrisa terengah-engah dan dia menopang tubuhnya dengan memegang kedua lutut untuk berdiri. Dia tampak bisa jatuh kapan saja.
Jelas, Kalrisa ini telah mengeluarkan banyak energi untuk mengeluarkan serangan barusan. Dia berkata dengan senyum kemenangan di wajahnya, "Haah, haah, Barosa, bagaimana menurutmu? Aku tidak ingin menghabisimu karena kita saudara kandung. Tapi kau berniat menyerangku. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?"
Sambil berbicara, dia berjalan. Ketika kata terakhir jatuh, dia mengeluarkan pedang di pinggangnya dan mengarahkannya ke Barosa.
Barosa berusaha bangkit, akan tetapi dia tidak bisa berbuat. Dia memiliki kemauan yang kuat, tetapi lemah dalam kekuatan.
Melihat ketidakberdayaannya, Kalrisa mendecakkan lidah dan mengangkat pedangnya ke atas. Jelas, dia ingin mengakhiri drama perebutan ahli waris saat ini juga.
"Matilah untukku!" Dia berteriak dan mengayunkan pedangnya.
Namun, pada saat itu, cahaya putih keluar di belakang. Dia tidak tahu apa itu, jadi dia berhenti dan membalikkan tubuhnya untuk melihat.
Saat itu, dia mengerutkan kening ketika melihat dua siluet pria di dalam cahaya. Tiba-tiba, suara seorang pria dengan suara yang merdu dan membuat tenang terdengar, "Hei, hei, hei, apa yang terjadi di sini?"
Seorang pemuda berambut hitam yang terurai muncul. Wajahnya halus dan bentuk tubuhnya proporsional, sempurna. Ketika melihat dan mendengar suaranya, banyak wanita yang ada di tempat itu menjadi terpesona.
"Siapa kamu?" Kalrisa mengerutkan kening dan bertanya.
***
Tekan like jika kamu suka cerita ini.
Tekan love jika kamu suka novel ini.
Dukung author dengan vote dan hadiah.
__ADS_1
Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.
Terimakasih