[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 42 ~ Menguasai Desa Kotora dan Kerajaan Goethe (2)


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya.


Aku menggunakan sihir penciptaan untuk membuat gerbang dari kayu dan tembok serta batu bata untuk menambal jalan dan rumah. Tanpa waktu lama, warga desa langsung mempercayai kekuatanku.


"Fiuh, selesai, selesai. Baiklah, semuanya."


Warga desa melihatku dengan mata bersinar. Seharusnya mereka mengantuk sekarang. Tapi karena berbagai situasi yang mengejutkan menimpa mental mereka, membuat malam ini menjadi terasa panjang. Tidak ada yang tidur saat itu.


Kemudian, aku menyuruh warga desa berkumpul.


"Uhum, wahai warga Desa Kotora! Namaku adalah Karbel. Sekarang, kalian akan berada di bawah kekuasaanku dan malam ini juga, aku akan mengambil alih Kerajaan Goethe."


"....."


Aku menggunakan nama samaran agar terkesan misterius. Tapi, keheningan berlangsung untuk sesaat. Untungnya ada Kapzeth yang berinisiatif.


"H-hidup, Tuan Karbel!"


Warga desa lain saling memandang satu sama lain dan mengikuti Kapzeth.


"Hidup, Tuan Karbel!"


Setelah itu, aku memberi aturan yang harus ditaati.


Pertama—setiap orang dilarang melakukan hal yang merugikan bagi orang lain dengan sengaja. Bila ketahuan, pelanggar akan dikenai sanksi yang sesuai dengan kerugian yang alami korban.


Kedua—dilarang untuk membuat kerusuhan dan perpecahan. Bila ada yang melanggar, sanksi yang tegas akan diberikan. Contohnya, mengejek ataupun hal lain yang berhubungan dengan timbulnya perpecahan.


Ketiga—peraturan akan dan sanksi hanya aku dan orang yang aku tunjuk saja yang dapat mengubah aturan. Keputusan untuk pemberian sanksi, saat ini akan diserahkan padaku. Jika aku tidak ada, kurung pelanggar aturan dan tunggu hingga aku tiba.


Itu adalah aturan yang aku berikan kepada warga. Hanya tiga aturan saja, tapi itu semua memiliki makna yang mendalam dan luas, begitu juga dengan hasilnya.


***


Pepohonan yang rindang, hutan gelap dan lolongan hewan buas. Aku melewati berbagai hutan, jalan, desa dan kota. Itu semua untuk mencapai ibukota Kerajaan Goethe, Wolfgang.


Kecepatan aku sekarang, mungkin hampir menyamai kecepatan cahaya. Ini hanyalah 10 kali lebih rendah. Statistik kecepatanku saat ini hanyalah satu milyar, sehingga membutuhkan 10 milyar untuk menyamai kecepatan cahaya ... mungkin.


'Huff, misteri dunia ini belum aku ketahui, sih. Bahkan planet ini saja belum.'


Aku menghela nafas dan terus berlari seperti kilat. Jalan-jalan yang aku lalui membekas bagaikan noda hitam yang terkena asap api lilin.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai, itu hanyalah perjalanan sepuluh detik yang seharusnya dapat dilalui dengan waktu lima jam perjalanan dengan kuda. Sebenarnya, aku dapat sampai lebih cepat jika aku terus maju tanpa menghiraukan pohon ataupun penghalang.


"Huff, sampai juga aku. Sudah cukup lama juga, ya."


Sebuah kota besar dengan dinding yang tinggi terlihat dan memenuhi bidang pandangku. Semua hal yang aku lihat di sini, masih terlihat sama seperti waktu parade pahlawan berlangsung.


Wolfgang, itu adalah nama dari ibukota Kerajaan Goethe. Sebuah kota besar dengan diameter sekitar 1500 km persegi. Bentuknya melingkar dan bagian tengah kota, berbeda dengan kota-kota lain di kerajaan ini. Bagian tengah kota, diisi dengan istana keluarga kerajaan. Wilayah keluarga kerajaan itu hampir mencakup sepertiga dari kota.


Karena itu, Kota Wolfgang memiliki tiga batas wilayah. Bagian terluar merupakan wilayah rakyat biasa yang dapat dianggap sebagai rakyat elite juga. Bagian tengah merupakan wilayah para bangsawan yang berisi mansion dan tempat tinggal seluruh bangsawan di atas pangkat Baron tinggal. Sedangkan bagian terdalam merupakan wilayah keluarga kerajaan.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang aku harus pakai karakter yang mana, ya~?"


Keluar dari hutan, aku berjalan dengan santai dan pelan. Itu semua untuk memikirkan hal yang harus dilakukan di Ibukota ini. Setidaknya, ini harus cepat dan dramatis.


Malam itu tidak ada yang tahu bahwa orang yang dapat mengalahkan dewa akan datang ke kota mereka. Orang-orang sombong, pemalas dan bejat akan hilang nyawanya, pada keesokan harinya.


***


"Haduh, kenapa sih kita harus berjaga di malam hari? Pada akhirnya, tidak pernah terjadi apa-apa di sini. Memangnya, siapa orang bodoh yang akan menyerang ibukota ini, hah?"


Seorang prajurit yang sedang dalam tugas jaga malam mengeluh. Kemudian, prajurit lain yang mendengarkan membalas.


"Hiss, apa kau tidak tau? Katanya, ada penyerangan yang terjadi di wilayah keluarga kerajaan. Jadi, wajar saja jika raja memutuskan untuk meningkatkan penjagaan."


"Benarkah? Aku baru tahu itu. Pantas saja, sekarang banyak prajurit yang melintasi jalanan tiap malam."


Mereka berdua berada di menara pengawas yang tinggi. Sepertinya, mereka digunakan untuk mengawasi kota dan bagian luarnya di malam hari.


"Kau ini ... Apa kau tidak merasakan gempa yang terjadi kemarin?"


"Apa? Gempa?"


"Iya, sepertinya gempa itu berasal dari wilayah keluarga kerajaan."


"Heee, yang benar saja. Sepertinya aku sedang tidur waktu itu."


"Kau ini benar-benar sesuatu, ya."


Percakapan kedua prajurit pengawas itu mulai melenceng dan lalai dari tugasnya. Tapi, siapa peduli.


"Oi, buka! Buka gerbangnya!"


Tiba-tiba datang seorang pria dari kegelapan hutan. Itu adalah aku, Crhono Zero. Aku menendang-nendang pintu gerbang.


"Hei, siapa itu?"


Salah satu prajurit yang sedang menceritakan kehidupan dengan istrinya bertanya kepada rekannya.


Sesaat sebelumnya.


"Baiklah, sekarang aku harus pakai karakter yang mana, ya~?"


Aku memikirkan rencana dan memutuskan untuk membeli pakaian dari toko di system. Lalu aku mengetikkan kata kunci 'pakaian terkini di Bumi.' Dalam sekejap, muncul hologram gambar setelan pakaian.


Karena itulah, aku saat ini menggunakan celana jeans hitam ketat dengan rantai kecil di dekat saku. Kaos putih polos dan menggunakan baju hitam berkancing. Kaos putih ini terlihat karena baju hitam tidak aku kancing. Kaos tangan putih juga aku pakai agar terlihat lebih elegan. Sekarang, aku tidak mengenakan topeng.


Pakaian itu mirip seperti berandalan yang aku lihat di setiap gang saat aku berjalan keluar di malam hari. Sikap kurang ajar dan memaksa, itulah sifat karakter yang akan aku gunakan sekarang. Setelan ini menghabiskan 19 poin system saja.


Oh, ya, aku juga menggunakan sepatu terkini. Sepatu mengkilap hitam yang keren, menendang pintu gerbang yang besar dan kokoh.


"Siapa orang itu?"

__ADS_1


Prajurit pengawas bertanya pada rekannya dan rekannya berteriak padaku.


"Hei, orang asing, apa yang kau lakukan? Jika kau tidak berhenti, kami akan menyerangmu, lo."


"Sigh!"


Aku memdecakkan lidah. Memilih karakter berandalan berarti aku harus bertindak seenaknya. Aku kemudian menjentikkan jari telunjuk ke gerbang.


Doar!


Gerbang besar dari beton dan kayu yang keras, sekarang hancur dan runtuh. Suaranya seperti ledakan dan bergema di seluruh jalanan kota yang sunyi.


"Apa?!"


Prajurit pengawas itu terkejut dan ketakutan. Segera mereka membunyikan lonceng.


Teng~ teng~


Semua prajurit yang tersebar di penjuru kota langsung berlari ke arah ledakan dan lonceng. Tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa lawan yang mereka hadapi adalah musuh terburuk saat ini.


"Hancur, deh."


Aku berjalan di reruntuhan gerbang. Dalam debu yang kebal, aku mulai mendengar suara langkah kaki para prajurit yang mengenakan sepatu besi.


"Ada apa ini?"


Para prajurit berkumpul di gerbang selatan dan bertanya-tanya. Saat itulah debu terangkat dan siluet seseorang berambut panjang dengan kedua tangan yang tampak dimasukkan ke dalam saku celana.


Tak butuh waktu lama, aku terlihat oleh cahaya lentera dan lampu dari batu sihir yang dipasang di jalanan kota.


"Minggir, beri jalan! Aku akan menemui raja!"


Nada sinis dan angkuh terasa di setiap kata yang aku keluarkan. prajurit yang mendengar kalimat tidak sopanku mulai mengeluarkan senjata. Tombak, padang, panah dan perisai di arahkan di hadapanku.


"Hei, hei, aku sudah mengatakannya, ya kan? Minggir!"


Suara pada kata 'minggir' aku keluarkan dengan sihir yang mampu didengar oleh semua orang di kota. Semua orang bangun dari tidur nyenyak mereka. Para prajurit yang mengarahkan senjata dalam kondisi membeku karena tertegun. Itu semua akibat dari frekuensi yang terlalu tinggi yang dapat menghancurkan gendang telinga.


Lampu-lampu di setiap rumah mulai menyala. Aku berjalan melewati para prajurit.


"Minggir."


Satu sapuan tangan yang dengan lembut mengenai prajurit paling kiri ke kanan membuat mereka terhempas jauh ke timur. Jalanan hancur karena terkena tubuh para prajurit. Armor besi mereka penyok dan tubuh penuh luka memar. Mereka bahkan tidak sempat untuk berteriak ataupun mengerang kesakitan.


Luka internal dan darah yang keluar dari mulut, telinga dan hidung, membuat mereka kehilangan darah yang cukup untuk membuat tubuh mati rasa. Mereka sudah tidak sadarkan diri lagi.


"Aku tidak membenci kalian. Kalian hanya menghalangiku saja. Itulah alasan kalian seperti ini."


Aku bergumam dengan nada rendah. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan menyusuri jalanan ibukota.


Orang-orang yang bangun berkumpul dengan keluarga mereka. Banyak yang saling memeluk anak mereka dan membuka tirai untuk melihat hal yang terjadi di ibukota.

__ADS_1


__ADS_2