![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
"Athena!" seru Noura.
Kedatangan Athena sangatlah mendadak. Para Transenden berpikir bahwa seharusnya para Dewa akan menyusun rencana terlebih dahulu.
Namun, apa-apaan ini?
'Athena?' (Zero)
Athena malah datang ke sini kurang dari 1 jam sejak Leonidas diketahui keberadaannya. Hal ini tentu membuat para Transenden bingung.
'Apakah mereka telah menyusun rencana?' tanya Noura dalam benaknya.
Kemudian, Athena tersenyum kepada Noura dengan penuh arti.
Seketika itu, Noura menyadari arti senyum itu. Begitu pula dengan Zero.
Kemudian, Zero melangkah ke depan tanpa rasa permusuhan.
Para Transenden yang melihat Zero hendak menghentikan Zero.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
Itu Lide. Pria berambut hijau yang tenang, tapi suka bercanda. Namun, Zero tetap berjalan tanpa memperdulikannya.
Dengan wajah tanpa ekspresi, Zero berbicara.
"Apa tujuanmu datang ke sini, Athena?"
Athena melihatku dan tampak bingung.
"Kamu? Kamu siapa?"
Zero menatap Athena sambil berpikir, 'Yah, wajar, sih, kalau dia tidak kenal aku. Benar juga, aku harus mengatur emosi pada tubuhku.'
Segera, Zero mengubah gaya bicara dan ekspresinya menjadi gugup.
"A-ah, maaf. Kau belum kenal aku, ya?"
Athena mengangguk dengan ragu.
Zero menggunakan awalan "Ah" atau sesuatu tanggapan seperti bingung untuk mengekspresikan kegugupan.
"Namaku adalah Crhono Zero. Panggil saja aku Zero."
Athena juga menjadi bingung karena tidak kenal Zero.
"Jadi, apa kamu Transenden baru?"
Zero segera menjawab dengan diulang-ulang, "Tidak, tidak. Tentu saja aku bukan Transenden. Aku adalah Arch human, Zero."
'Arch human? Apa itu? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya, ya?'
Athena tidak tahu apa itu Arch human. Zero yang melihat mata Athena, bisa tahu hal yang dipikirkan oleh Athena. Meskipun ekspresi wajah Athena tidak berubah.
Itu karena mata merupakan jendela hati. Yah, meskipun itu hanyalah istilah, itu memang ada benarnya.
Mata adalah bagian otak yang dapat dilihat. Sedangkan manusia berpikir dengan otak, bukan hati. Jadi, Zero dapat mengetahui pikiran seseorang dari matanya. Bahkan jika itu Dewa sekalipun.
"Oh, jadi Arch human, ya?"
Athena pura-pura tahu. Zero segera mengalihkan topik.
"Benar, Arch human. Jadi, apa tujuanmu datang ke sini, Dewi Athena? Tidak mungkin kau berusaha menyerang kami, bukan?"
Zero menggunakan kata-kata yang sopan kepada Athena, namun dengan nada yang mengandung sarkastik.
Athena tersenyum.
"Ya, aku ke sini untuk berbisnis."
"Berbisnis?"
Zero pura-pura bertanya. Sebenarnya, dia tahu kalau Athena datang ke sini tanpa adanya rasa permusuhan.
Zero tahu dua hal dari apa yang terjadi.
Pertama, Athena menekan hawa keberadaan dan kekuatannya. Tidak seperti Ares yang datang dengan pasukannya. Dengan kata lain, dia berusaha agar kehadirannya tidak ketahuan oleh sesuatu.
Kedua, dia tidak langsung menyerang. Yah, meski tidak mungkin untuk langsung menyerang tanpa adanya pasukan, sih.
"...."
Para Transenden yang bingung dengan apa yang terjadi, saling menatap satu sama lain, kecuali Noura. Kemudian, mereka mengalihkan pandangan ke Noura sebelum semua orang melirik ke arah Zero.
"Ya, saya ingin berbisnis dengan kalian, para Transenden."
Athena menampilkan senyum misteriusnya lagi dan melupakan kebingungannya saat berbicara dengan Zero.
***
Di sisi lain ...
Pertempuran antara Ares dan Gorm masih berlanjut. Mereka hanya fokus dengan pertarungan tanpa memperdulikan hal lainnya.
"Dasar Transenden! Transenden macam apa kau ini!? Kau bahkan tidak memiliki harga diri!"
Ares menyerang Gorm dengan membabi buta, namun itu tetap terkendali dan Gorm mulai terpojok karenanya.
Clang, clang!
Kekuatan super mereka selalu menghancurkan benda sekitar. Setiap ayunan Greatsword dari mereka pasti menghancurkan benda.
Sekarang, Gorm mulai terpojok dengan kesedihannya. Akhirnya, Gorm hampir melepas handle pedang miliknya.
"Ackh!"
__ADS_1
Ares memanfaatkan hal itu. Dengan amarah yang tinggi, Ares mengayunkan Greatsword miliknya dengan kekuatan penuh.
Aura emas berkumpul di sisi tajam bilah pedang. Memperkuat bilah dan juga menajamkannya. Aura emas memberi kekuatan kepada Ares yang mengayunkan Greatsword ke perut Gorm.
"Haaaa!"
Bugg!
Bunyi keras membuat tubuh Gorm menekuk ke belakang.
"Kuack!"
Dia memuntahkan darah.
Saat itu juga, Gorm mulai berhalusinasi.
***
"Sayang! Sayang!"
Di hari yang cerah, seorang pria dan wanita, sedang berada di bawah pohon yang teduh.
Seorang pria yang sedikit gemuk, namun penuh dengan otot-otot pekerja keras, sedang tidur dengan paha wanita yang cantik sebagai bantalan. Dia sedang tertidur, ketika kekasihnya menepuk pipinya.
Dia pun bangun dan membuka matanya.
"Mmm? ...!"
Pria itu terkejut.
"Alain!" seru pria itu.
"Hm? Ada apa, Nick?"
Dengan wajah cantiknya, wanita yang bernama Alain itu bertanya kepada pria bernama Nick.
Nick bangun untuk duduk dan memegangi kepalanya. Rasa sakit yang hebat menusuk kepalanya.
"Argh!"
Nick mulai mengingat kembali pertempurannya dengan God of War Ares. Dia adalah seorang Transenden, Gorm.
'Apakah aku kembali ke masa lalu?'
Alain yang bingung, menjadi cemas.
"Ada apa, Nick?"
Kemudian, Nick mulai menatap wajah indah Alain.
"A-Alain."
Seketika, rasa sakit yang dirasakan Nick menghilang.
"...."
Nick mengamati Alain.
Rambut pirang yang dapat memantulkan sinar matahari. Bibir indah yang tipis. Dan tahi lalat di lehernya.
'Tidak salah lagi. Dia adalah Alain.'
Setelah mengamati Alain, Nick mulai menjawab.
"Iya, aku baik-baik saja. Aku hanya mimpi buruk saja tadi."
Nick menatap langit dan mengingat kenangan sebelum dirinya menjadi Transenden yang bernama Gorm.
Dahulu, dia adalah seorang bangsawan tingkat menengah. Dia dicintai rakyatnya karena peduli dan pekerja keras. Oleh karena itu pula, ada wanita cantik yang jatuh cinta dengannya dan dia juga sama.
Mereka masih merahasiakan hubungan dan selalu bersama di waktu luang. Suatu hari, pangeran dari kerajaannya bertemu dengan Alain. Pangeran itu menjadikan Alain sebagai selirnya.
Mengetahui hal tersebut, Nick berusaha untuk mendapatkan Alain. Namun, itu sia-sia.
Dia hanyalah bangsawan tingkat menengah.
Suatu hari, ada seorang pendekar yang datang ke wilayahnya. Pendekar itu melihat Nick yang sedang berlatih. Pendekar pengembara tahu kalau Nick adalah bangsawan yang baik. Karenanya, sang Pendekar mengajari Nick untuk menjadi Pendekar Greatsword terbaik.
Nick terus berlatih dan berlatih, hingga waktu yang seharusnya menjadi hari pernikahan sang Pangeran dan Alain, tiba. Namun, itu sudah terlambat.
Nick pergi ke ibukota dan mendapati kalau Alain tewas dengan mengenaskan. Saat itu juga, Nick ingat dengan rumor yang tidak mengenakkan.
Pangeran kerajaannya sangatlah kejam dan bejat. Nick yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa mengamuk dan menghancurkan ibukota. Pada akhirnya, Nick memutuskan untuk berpetualang bersama gurunya.
Kemudian, gurunya mati dan dia sendirian. Suatu hari, dia menjadi Transenden. Mengetahui ada suatu kekuatan pada 'The World Truth', Nick memutuskan untuk mengetahui apa isi dari The World Truth.
Semua perjalanan hidupnya, bagaikan waktu dalam satu kedipan mata.
Nick membuka matanya.
'Apakah ini ilusi? Atau aku kembali ke masa lalu?'
Sekarang, Nick dipenuhi keraguan.
'Tidak, ini adalah ilusi! Aku harus keluar dari sini! Aku adalah seorang Transenden, Gorm! Aku akan mendapatkan The World Truth!'
Nick melihat ke sekitar. Kemudian, pandangannya beralih ke wajah cantik Alain.
'Ah!'
Nick menjadi ragu. Dia ingin tinggal di dunia ini. Dia ingin bersama Alain.
Tapi, itu hanyalah ilusi. Meski begitu, apakah Nick harus membunuh kekasihnya, Alain?
Seketika, dunia di sekitarnya pecah dan runtuh. Hanya ada latar belakang putih saja. Itu menjadi ruang putih yang hanya berisi dirinya dan Alain.
__ADS_1
'Ada apa ini?'
Kemudian, tubuh Nick menjadi besar dan kuat. Tubuh Nick menjadi Gorm. Sedangkan tubuh Alain menjadi penuh luka memar dan sayatan.
Tubuh Gorm gemetar. Mata Alain tidak mengandung kehidupan. Alain ingin mati.
Gorm membuka mulut dengan tergagap-gagap.
"Aah ... aah … aku … aku …"
Gorm menggigit bibirnya dan mengambil pedang di belakang punggungnya.
"Aaaah!"
Dengan teriakan keputusasaan, Gorm mengayunkan Greatsword miliknya dengan sekuat tenaga.
Gorm membuka matanya dan melihat ekspresi Alain yang telah terbebas dari penderitaan. Kemudian, jiwa Alain keluar dan mengucapkan terima kasih.
「Terima kasih, Nick.」
Jiwanya mencium bibir Gorm dan menembus, melewati tubuh Gorm. Jiwa Alain terbang bebas menuju ke atas.
"Sama-sama, Alain."
Air mata keluar dari mata Gorm yang memandangi jiwa Alain. Sekarang, mata Gorm dipenuhi dengan semangat hidup. Tujuannya kembali jelas.
Sebelumnya, dia sudah hidup terlalu lama dan melupakan tujuannya untuk hidup selama ini. Sekarang, tujuannya kembali lagi.
'Aku akan mendapatkan The World Truth!'
Mata yang dipenuhi keserakahan dan ambisi membuat ruang putih pecah dan Gorm kembali ke kenyataan.
***
Di kenyataan ...
Mata Gorm telah dipenuhi kehidupan. Dia memiliki ambisi. Dia memiliki semangat hidup.
Saat itu juga, tubuh Gorm sedang di serang oleh Ares.
"Kuack!"
Suara erangan yang spontan, keluar dari mulut Gorm dan dia berdarah. Dia telah sadar. Namun, tubuhnya terpental jauh.
Whoosh!
Clack!
Tulang punggungnya sepertinya retak. Dia terhempas dan menghancurkan pohon-pohon serta benda-benda yang menghalangi.
Bam, bam bam, bam!
Akhirnya, dia terhenti setelah menabrak tebing yang di atasnya adalah Martial Arts Shack. Akibatnya, orang-orang di atas merasakan tanah yang mereka pijak terguncang.
"Ada apa ini?" tanya Noura.
Zero menjawabnya meski tidak melihat apa yang terjadi.
"Itu karena seseorang yang kehilangan tujuan hidup."
"?"
Noura bingung. Akhirnya, para Transenden itu merasakan kehadiran Gorm di bawah mereka.
Athena dan Zero saling menatap ketika yang lain sedang mencari tahu apa yang terjadi.
"Athena, katakanlah apa yang kau inginkan!"
Athena tersenyum.
"Tentu."
Di sisi lain ...
Gorm yang telah mendapatkan kembali tujuan hidupnya, mulai bangkit. Tubuhnya yang terluka, mulai sembuh dengan kecepatan yang luar biasa.
Dia tersenyum.
"Hehehe, aku akan mulai serius sekarang, lho. Ares!"
Gorm melesat jauh dengan sangat cepat. Tangannya tampak telah siap untuk menyerang Ares.
Kemarahan Ares membuat dirinya tidak menikmati pertarungan. Namun, ketika Ares melihat mata Gorm yang dipenuhi ambisi, Ares mulai tersenyum dan kemarahannya hilang.
"Kemarilah!"
Ares mengayunkan Greatsword miliknya untuk menyerang Gorm. Namun, Gorm yang melesat dengan cepat, memberikan efek knock-back pada kedua Greatsword yang saling bertabrakan.
Booom!
Efek ledakan membuat kawah besar dan hutan menjadi gundul. Medan pertarungan itu hanya dipenuhi kawah dan kawah.
"Hahaha! Ini baru kriteria minimal menjadi lawanku!"
Ares tertawa dengan kening yang berdarah. Mereka berdua saling menunjukkan senyum yang menikmati pertarungan.
"Ya! Aku akan memulai pertarungan sesungguhnya!"
Keduanya mundur sangat jauh ke belakang.
"One Million Aura … Slash!"
"Great Montain ... Smash!"
Jutaan bilah aura dan satu bilah yang sangat besar, saling menghujani satu sama lain.
__ADS_1