![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
Kapzeth, seorang pria tua yang memiliki 2 orang anak. Rambutnya sudah mulai berubah putih dan tampak berwarna abu-abu dari kejauhan. Meski tampak sudah tua, kebugaran tubuhnya tidak bisa diabaikan lagi.
Tubuhnya masih kuat dan berotot, meski dia tidak melatih tubuhnya lagi karena urusan desa. Tapi, kemampuan bela diri dan insting bertarung dari Kapzeth belum usang dimakan usia. Itulah sebabnya dia dijuluki sebagai 'Jawara pedang api.'
Orgen, seorang iblis dari ras Green Ogre yang memiliki kecerdasan dan kekuatan lebih besar dari yang lainnya. Kecerdasannya membawa banyak masalah baginya, itu semua karena dia jadi tidak terpengaruh oleh sifat baik pemimpinnya, Raja Iblis Margus.
Kecerdasannya membawa dia untuk mencari cara meningkatkan tingkat sihir angin yang dapat dikuasai oleh ras-nya. Tapi, suatu hari Raja Iblis Margus mengumumkan untuk menyerang manusia. Itu adalah kabar baik yang merupakan cara yang ada di buku kuno untuk meningkatkan sihir angin adalah manusia.
Tapi, rencananya hancur karena ada seorang pria bertopeng yang membantai bangsanya. Orang bertopeng itu adalah aku, Crhono Zero. Dia kabur dengan gelar 'Kekuatan yang seimbang' dari bangsa iblis. Keahlian sihir, bela diri dan kekuatan fisik, itulah aspek penting yang membuat dia dijuluki 'Kekuatan yang seimbang.'
Sekarang Kapzeth dan Orgen bertarung dengan kondisi yang sangat dramatis. Luka-luka di perut dan bagian depan Orgen, luka-luka yang diderita Kapzeth yang tertutup dengan lautan api. Mereka saling mengumbar niat membunuh mereka.
"Haaa!"
"Haaa!"
Keduanya melangkah maju tanpa rasa takut dengan banyak peningkatan kekuatan dan kecepatan. Tapi, langkah mereka terhenti setelah mendengar suara seorang pria yang sedikit samar.
"Wah, wah, wah. Meriah sekali di sini, ya."
"...!"
Kapzeth dan Orgen berhenti tepat ketika pedang mereka hendak berbenturan. Akibatnya, tekanan atmosfir di antara mereka berdua menjadi berantakan seperti hendak meledak.
Swooosh.
Api dan angin yang saling berhadapan tampak menjadi satu dan mengelilingi mereka berdua selama beberapa saat saja.
Kemudian, mereka melihat ke arah yang sama. Mereka melihat ada seseorang yang sedang berjongkok dengan memakai topeng di atap sambil melihat mereka. Kapzeth yang tertutupi oleh api bertanya kepada pria bertopeng itu.
"Siapa kamu? Apa kamu rekan iblis ini?"
Orang bertopeng tersebut adalah aku, Crhono Zero. Aku menjawab pertanyaan Kapzeth dengan nada mengejek.
"Aku, rekan dia? Bukan, bukan. Aku adalah orang yang akan menguasai kerajaan ini."
"Apa?"
Kapzeth bingung dengan jawabanku dan melihat Orgen.
"Kenapa kau? Kau tampak ketakutan, lo ... iblis."
Wajah Orgen tampak pucat dan ketakutan. Mata dan tubuhnya tampak bergetar hebat ketika mata kami saling menatap. Kemudian, Orgen jatuh berlutut sambil menatap kosong ke depan tanpa tahu apa yang dia lihat.
Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Bulu kuduk merinding dan mulutnya bergetar dengan sendirinya.
'A-apa-apaan ini? Kenapa dia ada di sini?"
Orgen mengingat kembali ingatan saat pembantaian yang dilakukan olehku di Hutan Melris.
***
"Dasar sialan! Beraninya kau menyerang pasukan elite-ku. Biar aku yang menghadapimu."
Dia adalah Gabriz seorang iblis dari ras Red Ogre yang ahli dalam sihir petir dan api. Sebagai kapten kesatria elite iblis, dia menjadi marah karena aku membunuh banyak prajurit elitenya.
Saat itu pertarungan terjadi antara aku dan Gabriz, tapi karena aku hanya menghindarinya, aku tidak bisa mengatakan itu adalah pertarungan atau bukan. Di saat-saat sebelum kematiannya, Orgen yang merupakan sahabat dari Gabriz, hendak menghampirinya.
"Oi, Gabriz apa yang sedang kau-."
Kalimat Orgen terhenti sesaat setelah kepala Gabriz melayang karena tebasan dua belati-ku.
Orgen tadinya baru saja melewati semak-semak yang cukup besar dan aku belum terlihat karena semak-semak dan tubuh besar Gabriz. Tapi, dia dikejutkan oleh datangnya kepala sahabatnya ke bawah kakinya.
"Apa yang ... ?!"
Suara yang dia katakan tidak terdengar jelas karena keributan yang dilakukan pasukan iblis lain. Di sisi lain, Orgen hanya tertegun saat pasukan iblis yang lain mati menyerang karena menyerang ku.
__ADS_1
Membutuhkan waktu yang lama, dia melihat Jenderal Iblis, Malgrim yang sedang mengawasi pasukan iblis lain di dalam semak-semak. Dia pun hendak memanggilnya, hanya untuk berhenti.
"Jenderal-."
Sesaat, Orgen berpikir.
'Tunggu, kenapa dia hanya diam saja disaat pasukan iblis yang lemah menyerang pria bertopeng itu? Kenapa dia membiarkan pasukannya tewas?'
Pertanyaan muncul di benaknya. Dia merasakan hal yang berbahaya dengan kecerdasannya dan pergi untuk meninggalkan medan pertempuran.
"Haa ... haa ... haa ... "
Orgen terus berlari sampai dia kelelahan.
'Sudah berapa lama aku berlari? Apakah ... aku sudah menjauh dari medan perang itu?'
Itu adalah pendahulu dari pertemuannya dengan Deca de Vois, bangsawan egois nan bejat yang akan melakukan segala hal demi keinginannya.
***
"Ada apa denganmu, iblis?" Kapzeth bertanya kepada Orgen yang jatuh berlutut dengan mata penuh ketakutan.
"Ke-ke-ke-kenapa dia ada di sini?"
Clang.
Orgen menjatuhkan pedangnya dan memegangi kepalanya dengan berlutut. Tampaknya, mental Orgen telah sangat jatuh dan trauma dengan perbuatan ku kepada bangsanya. Mau bagaimana lagi, dia bahkan kabur meninggalkan bangsanya saat sedang berperang. Sungguh ironi untuk mengetahui bahwa Bangsa Iblis yang hendak menguasai daratan manusia malah menjadi pembantaian yang kejam untuk Bangsa Iblis.
"O-oi-." Kapzeth terhenti saat dia ingin bertanya pada Orgen.
"Hei, hei, apa yang kamu lakukan? Apa-apaan denganmu?" tanya aku.
"Aa-aa-aku, gulp ..."
Orgen menelan ludah dengan gugupnya saat menjawab.
"Aah~ aah~ nanti saja kalau begitu. Baiklah, sekarang aku akan membahas tentangmu, Kepala Desa Kotora, Kapzeth."
"Apa?"
"Itu, lo~ itu, lo~"
Aku menunjuk tubuh Kapzeth yang tertutup api.
"Apa yang-"
Pertanyaan Kapzeth terhenti dan digantikan dengan rasa kaget.
"Apa-apaan ini?!"
Dia melihat apa yang aku tuding, itu adalah tubuhnya yang tertutupi oleh api. Tanpa disadari, dia tertutupi yang panas dengan kontrol bawah sadarnya.
"Itu berbahaya, lo~ Kau belum tahu cara mengendalikan teknik yang kau lakukan tadi. Cepat matikan."
"Ta-tapi, bagaimana?!"
Kapzeth dipenuhi dengan rasa takut. Entah apa yang dipikirkan olehnya. bukankah dia tadi tidak takut dengan kematian? Lalu apa-apaan ketakutan histeris yang terjadi padanya ini?
"Hadeh... Baiklah aku akan membantumu."
Aku menghela nafas dan menggunakan sihir air, bola air untuk memadamkan api pada tubuh Kapzeth.
Psss~
Tubuh Kapzeth tampak gosong dan aroma daging tercium.
"Heal!"
__ADS_1
Aku menggunakan sihir penyembuh pada Kapzeth dan dia terkejut dengan keahlian ku.
'Bagaimana bisa?! Sihir penyembuh tingkat tinggi?! Lalu, bukankah dia sama sekali tidak merapal mantra?!'
Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di benak Kapzeth yang tertegun.
"Haaa ... haaa ... haaa .... Akhirnya, terkejar juga ... kamu. "
Ghiri dan Auna baru sampai di gerbang barat desa dengan nafas yang terengah-engah karena berlari dan kelelahan.
"A-ayah!"
Tanpa banyak waktu, Auna langsung pergi memeluk ayahnya.
"Ayah!"
"Auna. Apa yang kamu lakukan di sini?"
Kapzeth mendorong Auna untuk memberi ruang dan bertanya. Siapa yang akan menyangka kalau putrinya yang lemah akan datang ke tempat yang berbahaya, padahal sudah dilarang.
"Terima kasih, tuan penyelamat!"
Mata yang berlinang dengan air mata dan rasa syukur memenuhi harapan Auna. Dia membungkuk dalam-dalam kepadaku.
"Ah, ya, sama-sama. Baiklah, waktunya bayaran untuk semua ini!"
"Eh, oh, iya."
Auna baru mengingat apa yang dia janjikan kepadaku saat ada di kamarnya.
"Baiklah, aku akan mengambil keluargamu."
"Eh?" Auna bingung.
"Bisa Anda ulangi lagi?"
"Aku akan mengambil keluargamu."
"Apa?"
Auna bingung dengan perkataan ku untuk sesaat. Dia segera menyadari apa maksud dari perkataan ku.
'Apa jangan-jangan... ?!'
"Aku sudah bilang bukan, aku akan mengambil hal yang paling berharga darimu sebagai bayaran atas keinginanmu yang telah aku selesaikan."
"I-itu benar, tapi ... kenapa harus keluargaku?"
"Apa kau tidak tau hal yang paling berharga darimu? Memang benar, kebanyakan orang tidak tau suatu hal yang berharga pada mereka, meski itu dekat sekalipun. Tapi, dalam kasus mu ini, hal yang paling berharga bagimu adalah keluargamu sendiri."
"Apa?!"
Semua orang tercengang kaget, kecuali Orgen yang sepertinya hampir hancur mentalnya. Yah, meski Kapzeth dan Ghiri masih bingung, tapi mereka terkejut dengan [bayaran] yang aku katakan.
"Yah, meski begitu, aku adalah orang yang baik. Jadi, aku tidak akan mengambil keluargamu."
"Benarkah?"
"Ya, tapi tentu saja ada persyaratannya. Entah kau yakin akan memilihnya atau tidak, tapi yang pasti ini adalah keputusan yang hanya dapat kau lakukan, jika seluruh warga desa setuju."
"A-apa syaratnya?"
Kemudian, aku loncat ke bawah dari atap sebuah rumah.
"Syaratnya adalah ... kau harus meyakinkan seluruh warga agar setuju untuk berada di bawah kekuasaan ku!"
"Apa?!"
__ADS_1
Kapzeth, Ghiri dan Auna tercengang dengan hal yang aku katakan. Sedangkan Orgen, dia masih berlutut dengan tatapan kosong dan tubuh berkeringat dingin yang gemetaran.
Tidak ada lagi yang memperhatikan Orgen yang sebenarnya adalah penyebab utama masalah ini.