[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 169 ~ Kaisar Eude IV


__ADS_3

"Kekacauan di mulai."


Zero berdiri di atas sebuah benteng. Dia menggunakan skill yang bisa menyembunyikan penampilannya.


Prajurit di atas benteng yang tinggi dapat dengan jelas melihat situasi di medan perang. Sekelompok enam orang memusnahkan pasukan musuh dengan sangat mudah.


"Tetap saja, si Zeus itu … dia benar-benar keterlaluan."


Flashback—World Domain milik Zeus.


Beberapa jam yang lalu—


"Female Conqueror Supreme Scripture (Kitab Suci Tertinggi Penakluk Wanita)?" tanya Zero dengan heran.


Zeus telah memasukkan pengetahuan berupa pengalaman s*ksual sepanjang hidupnya kepada Zero.


Zeus sendiri telah menuliskan pengalamannya ke dalam sebuah buku yang dirinya sendiri menyebutnya "Female Conqueror Supreme Scripture".


Zeus mentransfer pengalamannya secara langsung dari ingatannya. Jadi, Zero langsung mengetahui seluruh isinya.


"'Kitab Suci', apanya? Aku lebih suka menyebutnya 'Kitab Berdosa' daripada 'Kitab Suci'."


"Hehehe, Anda benar, Tuan."


Zero mencibir saat Zeus menggosok hidungnya dan terkekeh.


"Sialan kau, Zeus. Jika aku menggunakan teknik-teknik ini, semua wanita yang aku tiduri akan langsung menjadi gila."


"Kurasa itu sedikit tidak benar, Tuan. Aku tetap tidak bisa mengalahkan Aphrodite bahkan setelah menggunakan semua itu."


"Hei, hei, lupakan detail kecil seperti itu."


"Fumu, Anda benar. Aphrodite itu tidak bisa dikatakan sebagai wanita lagi. Aku sendiri tidak pernah mengalahkannya. Mungkin dia memiliki Male Conqueror Supreme Scripture (Kitab Suci Tertinggi Penakluk Pria)."


"….."


Zeus berangan-angan, sementara Zero terdiam oleh imajinasi Zeus.


Kedua pezina ini tidak memiliki moralitas.


Aphrodite telah menikah dengan Dewa Perang Ares, sementara Zeus telah menikah dengan kakak perempuannya sendiri, yaitu Hera.


Bisa-bisanya dua orang itu selingkuh.


"Ya ampun, ya ampun, kupikir moral dunia ini tidak benar. Aku harus menjaga pikiranku agar tidak tercemar olehnya."


Zero menggelengkan kepalanya.


Kembali ke medan perang.


"Kurasa ini sudah waktunya."


Mengetahui dan melihat pemandangan itu membuat prajurit di atas benteng menjadi orang-orang yang paling ketakutan meski mereka berada di garis belakang.


"Ngomong-ngomong, Alexander sepertinya cukup berkembang."


Zero melihat pertarungan Alexander yang membantai musuh.


Di atas benteng yang tidak jauh, dia juga melihat Pangeran Greif yang tampak pucat dan ketakutan.


"Huh, katanya akan menjadi kaisar. Dengan hal seperti itu sudah ketakutan."


Zero yang semalam melihat permainan ranjang Pangeran Greif dan selingkuhannya membuat dirinya merasa puas melihat keputusasaan di wajah Pangeran Greif.


"Hm? Apa itu?"


Zero mengalihkan pandangannya.


Ketika mengamati para prajurit yang ketakutan, Zero melirik ke atas.


Di sana, seorang pria tua terbang dengan pakaian khas penyihir.


Kemudian, Zero memeriksa status orang tersebut dengan skillnya.


"Hmm … Gargus, ya. Jadi dia adalah Sage yang terkenal itu."


Gargus tidak memperhatikan para prajurit yang terkejut oleh kemunculannya. Matanya hanya fokus ke arah musuh.


"Dia cukup kuat untuk seukuran manusia."


Dari ekspresinya, terdapat suatu kekhawatiran.


"Tapi, itu masih tidak sebanding dengan satu Jenderal Iblis."


Sage Gargus tiba di atas medan perang.


"Ohhh, Sage Agung Gargus."


Panglima Perang, Peter merentangkan tangannya dan memanggil dengan bahagia. Dia percaya kehadiran Gargus dapat mengubah situasi medan perang.


Gargus kali ini melihat ke arah suara, tidak seperti seruan prajurit lain.


"Hm? Philip?"


Gargus turun dan mendatangi Peter.


"Kenapa kau masih tampak muda?" Gargus bertanya pada Peter.


Peter menjawab sambil menggelengkan kepalanya, "Bukan, bukan, saya adalah Peter, Mygy Peter, putra sulung dari Mygy Philip."

__ADS_1


Ternyata, Gargus salah orang.


"Jadi begitu. Tapi aku harus mengakui bahwa kau memang mirip dengan ayahmu."


"Hahaha, tentu saja."


Gargus berusaha memulai obrolan ringan sambil menutupi kekhawatirannya dari lawan, sementara Peter tertawa untuk menyembunyikan kegugupannya di hadapan Sage Gargus.


Usia Gargus sudah hampir 200 tahun. Dia menjaga penampilannya menjadi pria tua dengan Energi Sihir.


Dan selama kehidupannya itu, dia sudah melihat beberapa generasi keluarga besar dan kaisar Kekaisaran Paliji.


Dia memiliki banyak pencapaian hingga dirinya mengenali tokoh terkenal Kekaisaran. Salah satunya adalah ayah Peter.


Peter sendiri telah mendengar kisah Gargus dari ayahnya. Hal itu menyebabkan dirinya memiliki perasaan yang campur aduk.


"Lebih penting lagi, Sage Gargus, bisa kau bantu kami melawan musuh?"


"….."


Mendengar permintaan Peter, Gargus terdiam. Namun, Peter menyalahartikan diamnya Gargus sebagai pernyataan meremehkan lawan.


'Seperti yang diharapkan oleh Sage Gargus.' Peter memuji Gargus dalam hatinya.


Sementara itu.....


'Sial, bocah bau kencur ini! Apa dia tidak tahu kekuatan musuh!? Apa kau ingin aku mati, hah!?'


Gargus mengutuk Peter.


Dia tidak bisa menjawab dengan optimis, karena dia pasti akan malu karena telah omongan yang besar. Di sisi lain, dia tidak bisa mengatakan tidak bisa karena kehormatannya akan hilang.


Saat itulah, suara jeritan prajurit terasa semakin dekat.


"Ack!"


Seorang prajurit mengerang ketika dirinya terangkat. Lehernya dicengkram oleh seorang pemuda berambut perak dengan seragam militer khas dari bumi.


"Jadi ini adalah markas pusatnya."


Pemuda itu melihat ke arah tenda yang didiami Peter sebelumnya.


Secara alami, Gargus dan Peter melihat ke arah pemuda itu dengan mulut yang terbuka lebar.


Sementara prajurit yang tercekik menggeliat dan berusaha melepaskan diri, suara retak terdengar dan prajurit itu berhenti bergerak.


Tiba-tiba, Alexander merasakan individu yang kuat.


Kemudian, Alexander melirik ke arah Peter yang mana Gargus juga tepat di belakangnya.


"Kamu …."


'A-apa dia sudah tahu kalau aku adalah Panglima Perang?' Keringat Peter mulai mengalir dengan deras.


Gargus yang berada di belakang Peter merasa lega, 'Sepertinya dia menargetkan Peter. Aku harus segera pergi setelah orang itu melawan Peter.'


"Sage Gargus, bantu aku melawannya dari belakang!"


"….."


Peter berbalik dan meminta dukungan Gargus tetapi Gargus tetap diam dengan wajah yang gelap.


'Dasar bodoh! Kenapa kau berbicara denganku!? Kalau sudah begini, mana bisa aku kabur!?' Gargus mengutuk Peter dalam hati.


Alexander sedikit memahami situasi saat ini. Dia tertarik oleh kekuatan Gargus, dan kemudian dia melihat tampilan Peter yang tampak seperti pemimpin musuh.


"Ayo, Gargus!"


"… Mau bagaimana lagi."


Peter menarik pedangnya dan maju, sedangkan Gargus menyiapkan sihir dukungan sambil bergumam.


Tanpa di duga oleh lawan, Alexander mengeluarkan dua bola api di kedua tangannya.


"Inferno Spark (Percikan Inferno)!"


Dua bola api melesat, masing-masing dari mereka menuju ke lawan yang berbeda.


"Uwaaah!"


"Apa!? Sihir tanpa merapal!?"


Peter tersentak; Gargus terkejut oleh hal yang berbeda.


Dalam sekejap, dua bola api mengenai keduanya dan bola api tersebut meledak ke arah depan.


Keduanya terlalap oleh api.


"Aaarrrgghh!"


"....."


Ledakan api tidak berhenti pada mereka, jangkauan api menyebar ke barisan musuh dan memakan banyak korban jiwa.


Beberapa saat setelahnya, api menghilang dan menampilkan pemandangan layaknya neraka.


Tanah terbakar, besi meleleh dan musuh menjadi abu.


Berdiri di sana, seorang pria tua yang kelelahan dengan lapisan cahaya melindunginya.

__ADS_1


Lapisan cahaya kian menipis dan akhirnya pecah.


"Haah, haah, bagaimana … bagaimana bisa ….."


Sebelum Gargus menyelesaikan kalimatnya, Alexander memotong.


"Tentu saja bisa. Karena ….."


Dia mengkonsentrasikan Energi Sihir di jari telunjuknya dan kemudian menembakkan seutas cahaya ke dahi Gargus.


"….."


"… Aku telah melihat bagaimana Master Zero melakukannya."


Gargus tidak menjawab saat sebuah lubang kecil terbentuk di dahinya dan kepalanya kemudian meledak.


Zat-zat yang berupa darah, otak dan tulang menyebar ke segala arah. Kemudian, cairan merah yang jatuh ke tanah langsung menguap dan mengering karena panas dari api sebelumnya.


Angin yang menyelimuti Alexander berhasil memblokir benda yang menuju ke arahnya.


"Sekarang, saatnya mengakhiri perang ini."


Saat berkata demikian, Alexander melihat ke Kota Hiera.


.....


Istana Kekaisaran Paliji—


Seorang pria berjalan melewati lorong dengan santai.


Tidak seperti biasanya, istana memiliki kesan yang sunyi dan sepi. Itu karena kebanyakan kesatria yang bertugas untuk menjaga istana diperintahkan ke garis depan.


"Seharusnya disinilah tempatnya."


Zero berdiri di depan sebuah pintu kamar.


Zero telah memindai area istana sebelumnya.


Kemudian, dia menemukan dua ruang harta.


Salah satunya sudah diperiksa, namun dia tidak menemukan item yang dicari. Dan sekarang, dia menuju ke ruang harta kedua.


Itu berada di kamar kaisar.


Lebih tepatnya, terdapat jalan rahasia yang menjadi satu-satunya jalan menuju ruang harta yang paling tersembunyi ini.


"Hm? Ada beberapa orang di dalam?"


Zero merasakan beberapa sinyal kehidupan di dalam kamar tersebut.


"Apapun, lagipula mereka tidak akan bisa menemukanku. Ngomong-ngomong, aku akan mencoba variasi lain dari Space Force (Kekuatan Ruang)."


Massa energi berwarna biru keluar dari tangan Zero dan menyelimuti tubuhnya.


"Semi Real (Setengah Nyata)!"


Tiba-tiba, sosok Zero tampak terdistorsi dan mulai samar hingga akhirnya hilang, tak terlihat.


Dia menggunakan Space Force untuk memasukkan tubuhnya sendiri ke dalam Dunia Ruang, sementara kesadarannya masih berada di dunia nyata.


Dengan kata lain, dia tidak sepenuhnya menghilang, hanya sosoknya saja.


Tentu, dia bisa menembus penghalang tiga dimensi seperti tembok dan lain sebagainya.


Dengan mengamankan sebagian kakinya di dunia nyata, dia bisa memijakkan kaki di atas tanah, tetapi anggota badan lain akan tembus.


"Oke, aku masuk."


Zero memasukkan kakinya yang telah dimasukkan ke Dunia Ruang dan melangkah ke ruangan. Kemudian mengembalikannya lagi untuk mendapatkan pijakan.


Begitu pula dengan kaki yang lain.


Saat itulah, dia berteriak.


"Apa-apaan ini?!"


Atmosfer udara di kamar terasa panas, uap tak kasat mata dan aroma serta aura feromon menyebar di setiap sudut ruangan.


"Bagaimana bisa …."


Puluhan wanita tergeletak dengan ************ terbuka. Ada juga suara seorang gadis yang terdengar, beserta tamparan daging.


"Tolong ampuni aku! Berhenti! Jika ini diteruskan, aku akan menjadi gila! Auuu!"


Di atas gadis yang berteriak, seorang pria bertubuh terlatih sedang mengayunkan pinggulnya.


Dari belakang, Zero bisa menilai pria itu berusia hampir 60 tahun karena terlihat dari rambutnya yang beruban.


"Apakah ini Zeus versi manusia?" tanya Zero dengan heran.


***


Tekan like jika kamu suka cerita ini.


Tekan love jika kamu suka novel ini.


Dukung author dengan vote dan hadiah.


Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2