[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 65 ~ Deimos dan Leonidas


__ADS_3

Dahulu kala, pada masa yang jauh-jauh sebelum banyak 'Dimensi tingkat tiga' tercipta, terdapat banyak 'Primordial' dari ras-ras tertentu yang ada. Mereka hidup berdampingan dan penuh keharmonisan.


Namun, di Dimensi tingkat 4 — alam para dewa atau dunia dewa, tercipta beberapa Primordial God atau Primordial Titan. Para Primordial God itu diantaranya adalah Chaos sang Kekosongan, Ananke sang Keniscayaan, Cronus sang Waktu, Eros sang Cinta dan Gaia sang Bumi.


Dewa, Divine Beast, Beastman, Elf/peri, Spirit/roh, Naga, Binatang, Tumbuhan dan Manusia. Semua entitas atau makhluk yang pertama hidup pada jenisnya disebut ... Protogenoi.


Tidak ada yang tahu bagaimana dan alasan semua itu bisa ada. Berbagai macam spekulasi dan hipotesis tercipta karena ketidaktahuan ini.


Ada yang mengatakan semua berasal dari Khaos atau Kekosongan. Ada juga yang mengatakan kalau semua berasal dari Telur Semesta atau Telur dunia. Tidak ada yang tahu pasti akan semua hal itu.


Waktu berlalu dan karena itulah perubahan terus terjadi. Perubahan dapat berakibat baik dan juga buruk. Sayangnya, kali ini perubahan yang terjadi berakibat buruk.


Kekuasaan semesta telah tercipta. Singgasana mutlak telah tercipta. Penguasa pertama itu tidak lain adalah sang pengatur dan penguasa langit, Ouranus.


Dalam dunia dewa, Titan adalah pendahulu dari dewa. Kemudian, dewa adalah pendahulu dari manusia. Pada akhirnya, semua makhluk yang berwujud mirip dengan manusia, memiliki akal dan kecerdasan yang tinggi.


Waktu kemudian terus berlalu. Perubahan terjadi lagi. Ouranus menikahi Dewi Bumi, Gaia. Anak-anak Cronus itu adalah Titan, Cyclops dan Dewa. Namun, penampilan Titan dan Cyclops, terlihat buruk. Sehingga, Ouranus mengurung mereka di Tartaros.


Istri sekaligus ibunya tidak senang dengan hal itu. Akhirnya, Dewi Gaia membuat sabit untuk mengebiri Ouranus dengan para Titan. Namun, hanya penguasa waktu, Cronus yang berani melakukannya. Ouranus mati dan darahnya menyebar ke seluruh penjuru semesta.


Penguasa mutlak telah berganti. Kini, Cronus adalah sang penguasa. Namun nahas, perubahan terjadi lagi.


Anak-anak Cronus, Zeus dan yang lainnya, menggulingkan kekuasaannya. Kemudian, Zeus berkuasa atas Olympus dan mengatur semesta. Dialah penguasa alam semesta dan pengendali petir. Namun, dia tidak serakah. Dia memberi kakaknya, Poseidon, untuk menguasai seluruh lautan dan juga Hades sebagai penguasa neraka atau dunia bawah.


Kemudian, terciptalah 12 Dewa Olympus yang sampai sekarang masih berdiri kokoh.


***


Waktu dan ruang terdistorsi. Lingkungan menjadi gelap dan matahari tertutup awan abu-abu gelap. Petir menggelegar di mana-mana.


Sekarang, Zero tidak dapat bergerak dengan bebas.


'Sigh, aku harus menunggu lebih dari 15 menit, ya!?'


Zero menatap awan gelap.


'Yah, mau bagaimana lagi. Itu tidak buruk juga. Aku akan menjadi pengamat saja.'


Zero mundur ke belakang dan duduk bersandar ke pilar kayu penyangga rumah.


'Mari kita lihat kekuatan Transenden dan Dewa!'


Suasana hening ketika Deimos menyelesaikan kalimat.


"Oi, oi, oi, ada apa dengan tatapan kalian? Padahal kita sudah lama tidak bertemu, lho~"


Deimos mencemooh Noura dan Leonidas secara tidak langsung.


"Cih, Dewa sialan! Beraninya dia berhadapan dengan kita."


Leonidas yang tidak diperhatikan oleh Deimos karena menekan hawa kehadirannya ke titik nol, mendengus. Deimos baru menyadarinya.


"Oya? Tidak aku sangka ada Transenden lagi di sini. Kukuku, seperti yang diharapkan dari Transenden, bukan begitu?"


Ekspresi Leonidas mengeras. Keningnya mengerut dan taring tajam tampak mulai memanjang. Noura hanya memperhatikan dengan tenang.


'Huh! Dasar Dewa bodoh! Kau pikir seorang ahli beladiri, terutama Transenden akan mudah diprovokasi?'


Entah kenapa, Noura tampak bangga. Meski Leonidas mengeluarkan niat membunuh, dia dapat mengendalikan emosinya hingga mencapai tingkat yang tidak bisa dicapai Transenden lain.


Kemudian, Leonidas menarik nafas dalam-dalam dan memulai kuda-kudanya. Aura merah keluar dari pusarnya dan menyebar, menyelimuti tubuhnya.


Tatapannya menjadi tajam. Matanya dipenuhi dengan kobaran api yang tenang.


"Tidak usah kau teruskan. Serang saja. Aku akan menjadi lawanmu."


Deimos yang tenang menjadi tampak marah.


'Makhluk rendahan ini ...!?'


Deimos segera menenangkan diri. Dia tidak bisa melupakan tugasnya, yaitu memberi tahu lokasi Transenden Mizan Noura kepada ayahnya.


"Tunggu dulu!"


Deimos menghentikan Leonidas yang akan menyerang.


"Hah? Ada apa? Apa kau takut sekarang? Huh! Sungguh Dewa sampah ...!"


"Bukan itu! Aku hanya memenuhi tugasku!"


Deimos segera menghubungi ayahnya dengan transmisi pikiran.

__ADS_1


-Ayah, aku telah menemukan posisi Mizan Noura di Planet Ares.


God of War Ares yang sedang menunggu kabar di istana menjadi senang.


-Seperti yang diharapkan dari anakku. Kau dapat menemukannya hanya dalam beberapa menit saja.


-Terimakasih atas pujiannya, ayah. Namun ...


-Namun ...


-Namun?


-Namun ... Dia sedang bersama dengan Transenden yang lain.


-Transenden lain?


-Ya.


-Siapa itu?


-Kalau tidak salah ... namanya adalah Leonidas.


-Apa!? Leonidas!?


God of War Ares terkejut setelah sekian lama.


Ares memejamkan mata sejenak seolah-olah sedang mengingat masa lalu. Kemudian dia membuka matanya dengan perlahan. Setelah ekspresinya tenang, Ares memegangi wajahnya dan matanya terbuka lebar sekaligus bersinar merah.


"Ahahahaha! Luar biasa! Ahahahaha!"


Dia tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.


-Ayah?


Semua orang uang berada di ruang audiensi dan Deimos bingung dengan perilaku ayahnya.


"Sudah lama sekali! Sudah lama sekali! Aku pikir dia telah mati. Ahahahaha! Tidak aku sangka ..."


Ares kembali menjadi tenang. Tawanya terhenti dan dia menurunkan tangannya ke sandaran tangan singgasana.


"Tidak aku sangka, Transenden terkuat masih hidup selama ini!"


Creak!


"Persiapkan pasukan elite!"


Matanya bersinar merah ketika pintu terbuka.


"Kita akan pergi ke Planet Ares."


"Baik!"


Semua orang menundukkan kepala dan menjawab dengan patuh.


Di sisi lain, Leonidas langsung menyerang Deimos dengan sangat cepat. Namun, Deimos telah memberitahu informasi dan tugasnya sudah selesai.


'Aku tidak tahu kenapa ayah tertawa ketika mendengar nama Leonidas, tapi ...'


Deimos mengecilkan ukurannya seperti manusia. Tanpa jeda, sebuah pukulan dari bawah dengan diselimuti aura merah hendak menyerang kepalanya.


Wiiish!


Deimos segera menghindari serangan itu. Kemudian, dia juga membalas dengan memberi tendangan yang kuat.


Namun, itu ditahan dengan lengan Leonidas.


"Lumayan juga, Dewa bodoh!"


"...!"


Pembuluh darah membengkak di kepala Deimos. Dia marah dan terprovokasi.


"Bajing*n sialan!"


Serangan Deimos berlanjut dengan pukulan beruntun yang sangat cepat. Tanpa mereka sadari, medan tempur mereka rusak parah karena hempasan angin yang kuat.


Zero melihat pertarungan itu seperti petir yang tidak terhitung jumlahnya keluar dan saling berensonansi dengan hebat.


Dia hanya dapat melihat hal itu dengan ternganga, seolah tidak percaya.


'Apa-apaan ini!?'

__ADS_1


Zero berteriak dalam hati dengan ekspresi biasa saja. Namun, Noura yang melihat Zero, tahu kalau Zero itu terkejut.


Kemudian, Noura berkata, "Inilah pertarungan yang hampir mendekati puncak pertarungan."


Zero hanya menatap Noura sembari mendengar ujarannya.


"Ahahahaha! Bagaimana? Kau itu hanya makhluk rendahan! Mana bisa kau mengalahkan Dewa sepertiku ini!"


Selama pertarungan berlangsung, Leonidas hanya menahan, menghindar dan menangkis serangan yang diluncurkan Deimos. Deimos yang gila pertarungan seperti ayahnya, tertawa dengan keras. Dia tidak tahu alasan ayahnya tertawa. Hanya ada satu yang dia pikirkan.


'Dia adalah Transenden paling lemah!'


Pertarungan tanpa senjata berlangsung hingga beberapa menit.


"Hmmm ... Jadi begitu."


Leonidas berkata sambil memegangi dagunya dan menghindari serangan Deimos.


"Apa? Apa kau takut kepadaku sekarang!?"


Deimos menyerang Leonidas tanpa henti hingga Leonidas berkata lagi.


"Tidak."


"..."


"Aku hanya sudah tahu seberapa kuat dan semua pola seranganmu."


"Apa!?"


Deimos terkejut dengan deklarasi Leonidas. Bagaimana mungkin orang yang selalu menghindar dan menangkis tanpa menyerang seperti orang kewalahan berkata dengan sangat percaya diri?


Deimos sempat terkejut sejenak.


'Tidak itu tidak mungkin! Dia pasti hanya berkata omong kosong belaka! Benar, omong kosong belaka!'


Deimos berniat menyerang Leonidas dengan dua serangan langsung. Tangan kanannya mencoba memukul kepala Leonidas dan kaki kirinya hendak menyerang kaki Leonidas.


Tiba-tiba hawa dingin merambat ke seluruh tubuh Deimos ketika Leonidas memejamkan mata.


'Ada apa ini!?'


Setiap serangan yang diberikan Deimos adalah pukulan yang berisi kegelapan dan teror. Kegelapan itu menyebabkan kerusakan mental dan juga fisik. Yang lebih hebatnya lagi, setiap serangannya dapat memberi kutukan yang mampu menurunkan statistik target baik itu sementara maupun permanen.


Oleh karena itu, Deimos sangat percaya diri karena Leonidas telah terkena banyak serangannya. Namun, apa-apaan dengan hawa dingin yang mengerikan ini?


Deimos tidak bisa menghentikan serangannya.


Tap!


Pakkk!


Bam!


Leonidas memukul lengan atas Deimos dengan kecepatan yang luar biasa. Bersamaan dengan itu, dia juga mengangkat lututnya dengan timing yang sangat tepat. Lututnya menyerang betis Deimos dan tangan satunya menyerang dada Deimos dengan telapak tangan.


Setiap serangan Leonidas, dipenuhi dengan kumpulan aura merah yang kuat.


"Kuack!"


Deimos memuntahkan darah merah. Dia mengerang kesakitan.


Tiga serangan beruntun yang terjadi di saat yang bersamaan membuat mental Deimos terkejut. Kecepatan yang luar biasa. Bukankah seharusnya Leonidas dilemahkan oleh debuff dari setiap serangan Deimos?


Ya. Memang benar bahwa Leonidas itu akan dilemahkan. Namun, itu tetap tidak dapat memberikan perbedaan yang jauh. Di sisi lain, kali ini kegelapan Deimos telah dinetralkan oleh aura merah yang menyelimuti Leonidas.


'Apa-apaan ini!?'


Tulang lengan kanan atas dan tulang betis atau fibula Deimos patah. Sedangkan ulu hati dan paru-parunya mungkin hancur.


Whooosh!


Tubuh Deimos terpental jauh karena serangan telapak tangan. Lingkungan di belakang Deimos hancur membentuk kerucut. Sedangkan Deimos sendiri terhempas hingga ribuan kilometer dan terhenti ketika menabrak gunung yang besar.


Leonidas mengepalkan tangannya dan bergumam sendiri.


"Inilah maksudku."


Di sisi lain, Zero yang duduk bersandar di pilar kayu penyangga rumah, membuat mukanya terlihat tebal.


'Ini sih ... TIDAK BISA AKU AMATI!!'

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terimakasih telah membaca karyaku🙏


__ADS_2