[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 132 ~ Persaingan Tahta Penguasa Hutan


__ADS_3

Wilayah Mygard, itu adalah salah satu dari sekian banyaknya wilayah yang dimiliki Kekaisaran Paliji. Lokasinya berada di ujung barat kekaisaran, berbatasan dengan Hutan Terlarang.


Wilayah Mygard merupakan wilayah yang luas, itu adalah wilayah dari seorang adipati atau bangsawan berpangkat duke. Pemilik wilayah ini dipanggil Mygard Lesskart.


Keluarga Mygard adalah keluarga dari kerabat kaisar pertama. Dengan status dan kemampuan yang mumpuni, Mygard Lesskart ditugaskan dalam menjaga perbatasan Hutan Terlarang yang berbahaya.


Kehebatan Mygard Lesskart telah menyebar luas ke seluruh penjuru negeri. Kemampuan berpedang, ilmu sihir dan strategi — dengan semua hal itu, dia mengembangkan wilayah Mygard menjadi damai, jauh dari masalah.


Wilayah Mygard sangat damai, ditambah tidak pernah ada masalah. Tugas Keluarga Mygard hanya mengawasi Hutan Terlarang.


.....


Mygard Lesskart adalah orang yang setia, tidak seperti bangsawan lain. Dia hanya memiliki satu istri, tidak ada selir. Beberapa tahun yang lalu, istrinya meninggal. Kini, dia hanya tinggal bersama anak perempuan yang telah dilahirkan istrinya.


Anak perempuan itu bernama Mygard Ally, umur 16 tahun. Tubuh anggun, paras cantik, rambut pirang yang panjang dan puncak kembar yang cukup berisi untuk seumurannya.


Dia mengenakan gaun istana yang indah di taman bunga. Menyesap teh dengan anggun dan menaruhnya kembali. Dia memandangi lautan bunga warna warni yang mempesona.


Di belakangnya, seorang anak lelaki yang berumur tidak jauh darinya, berdiri dengan armor kesatria yang lengkap. Sikapnya tegas dan terkadang dia mencuri pandang untuk melihat Mygard Ally.


Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar. Mygard Ally dan anak lelaki menoleh untuk melihat.


Tak jauh, mereka melihat seorang kesatria paruh baya sedang berlari dengan terburu-buru ke arah mereka.


Kesatria paruh baya itu tiba, berlutut dan melaporkan, "Lapor, nona. Saat ini, Tuan sedang pergi ke area perbatasan."


Mygard Ally mendengarkan dengan tenang, mengambil cangkir teh dan menyesapnya lagi. Dia berkata, "Perbatasan? Memangnya, apa yang terjadi?"


"Itu … Katanya, ada keanehan pada Hutan Terlarang." Kesatria paruh baya menjelaskan dengan ragu.


"Keanehan?" Ally mengerutkan kening. Anak lelaki di belakang Ally juga menunjukkan tanda-tanda terkejut.


Beberapa dekade belakangan, tidak pernah ada masalah di Hutan Terlarang. Namun sekarang, Hutan Terlarang menunjukkan keanehan.


"Ya, menurut laporan dari saksi, penghuni Hutan Terlarang keluar."


"Keluar!?" Mata Ally terbelalak. Penghuni Hutan Terlarang, secara alami, mereka adalah binatang buas yang memiliki kekuatan luar biasa. Keberadaan mereka tidak bisa ditangani dengan mudah.


Ally bertanya, "Kapan kabar ini datang?"


"Tadi, baru saja. Tuan sekarang sedang bergegas dalam perjalanan."


"Tadi …" Ally bergumam dan menyentuh dagunya.


"Sepertinya ini masalah serius. Apakah semua pasukan dikerahkan?" tanya Ally.


"Ya, semua pasukan kecuali kesatria yang bertugas menjaga kediaman, semuanya pergi bersama Tuan."


"Kalau begitu, syukurlah. Kita hanya bisa menunggu kepulangannya."


Jarak antara kediaman Keluarga Mygard dan perbatasan Hutan Terlarang tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 50 kilometer saja. Itu bisa ditempuh dengan kuda hanya dalam waktu 1 hingga 2 jam saja. Jika masalah tidak terlalu serius, mereka hanya mengobservasi perbatasan dan pulang dengan segera.


Ally mengangkat pandangannya ke langit di arah tempat Hutan Terlarang berada. Awan mendung dan cambuk petir terlihat menyambar awan petir.


Ally bergumam, "Semoga kita dapat bertahan dari badai."


Menundukkan kepala, Ally menggenggam tangannya dan berkata, "Wahai Dewa Barosa, berikanlah perlindunganmu pada kami."


.....


Di daerah pinggiran Hutan Terlarang, bermacam-macam hewan buas raksasa dengan karakteristik unik berlari keluar dari hutan dengan liar. Kematian Penguasa Hutan dirasakan oleh semua penghuni hutan. Hewan buas kuat dengan akal yang tinggi bersaing dalam memperebutkan kekuasaan.


Hewan-hewan yang terbilang lemah kabur dari hutan untuk sementara. Saat hendak keluar, mereka menemukan banyak manusia yang memblokade perbatasan. Beberapa hewan buas yang telah keluar duluan, kini sedang bertarung dengan banyak manusia.


Meski mereka makhluk yang terbilang lemah, habitat alami mereka adalah Hutan Terlarang, hutan di mana banyak hewan buas yang sangat kuat. Penilaian lemah dan kuat antara Hutan Terlarang dengan wilayah luar sangatlah berbeda, seolah-olah tidak berada di dunia yang sama.

__ADS_1


Satu monster terlemah di Hutan Terlarang bahkan bisa menghadapi salah satu tokoh kuat dari manusia. Lalu, bagaimana dengan rombongan hewan buas ini?


Manusia sepele, beraninya mereka melawan?


Hewan buas yang memiliki naluri liar, sama sekali tidak merasakan ancaman dari manusia-manusia ini. Mereka berlari dengan cepat, menerobos pertahanan manusia.


"Aaarrrggghhh!" Banyak prajurit berteriak ketika hewan buas menerkam mereka. Baju pelindung baja ditembus seperti kertas.


Darah menyembur dari luka, berceceran. Teriakan ketakutan datang dari berbagai tempat, sungai darah tercipta.


Di pedalaman Hutan Terlarang, Zero beristirahat sejenak. Setelah Zeus mengalahkan Penguasa Hutan, Zero melanjutkan perjalanan.


Di tengah-tengah perjalanan itu, dia menemukan tempat yang cukup indah.


Air mengalir, suasana yang asri dengan suara alam yang menenangkan. Tempat yang teduh dengan pepohonan yang rindang. Air terjun jatuh dengan deras, di bawahnya terdapat genangan air yang cukup dalam dan mengalir kembali menjadi sungai. Air yang biru kehijauan tampak begitu jernih, mungkin air ini memiliki efek yang baik bagi kesehatan.



Beristirahat sejenak, Zero melepaskan pakaian. Berendam dan membersihkan diri di sungai. Dia menyelam untuk menghabiskan waktu dan keluar dari permukaan air.


Tubuhnya yang sempurna terlihat, rambutnya yang basah dikibaskan. Zero menyisir rambutnya ke belakang dan naik ke daratan.


Dengan cepat, Zero memakai pakaian.


"Baiklah, kita lanjut kembali!" Zero melambaikan tangannya dan tiga sosok muncul.


Zeus, Balph dan Barosa — mereka langsung mengikuti di belakang. Perjalanan ini tidak cepat, tapi juga tidak lambat. Zero berjalan sambil menyusuri hutan.


Anehnya, dia tidak menemukan satupun penghuni hutan ini.


Ke mana mereka pergi, ya?


Suatu saat, mereka mendengar suara pertarungan.


Bunyi tabrakan benda keras terdengar. Mereka buru-buru pergi ke arah sumber suara.


Di tempat yang cukup luas, tempat itu seperti lapangan. Terdapat 4 hewan sedang bertarung.


Serigala raksasa berbulu abu-abu mengayunkan cakarnya ke seekor kura-kura raksasa. Ukuran mereka besar, hampir mencapai 10 meter.


Ketika cakarnya akan bertemu kura-kura, suara benturan dan percikan api muncul. Penghalang cahaya tak terlihat berkedip berwarna hijau dan menjadi transparan kembali.


Di sisi lain, burung seperti elang raksasa menyemburkan api panas dari mulutnya ke arah ular raksasa. Sementara itu, ular raksasa tidak mau kalah. Dia menyemburkan seteguk kabut racun ke arah semburan api.


"Kyaack!" Elang tersebut berteriak, sedangkan ular mendesis. Saat semburan api dan racun bertemu, kobaran api bertambah besar. Di sisi lain, asap racun membumbung tinggi ke langit.


Burung elang merasa terancam, dia mengibaskan sayapnya dan muncul hembusan angin tornado yang kuat.


Ketika melihat hal ini di semak-semak, Zero dan yang lainnya mengamati. Meski tidak ada yang tertarik selain Zero, yang lain hanya bisa mengikuti saja. Jujur saja, pertarungan hewan buas ini seperti permainan anak-anak bagi mereka.


Pada saat itu, suara dari salah satu hewan berteriak. Karena masing-masing orang memiliki skill penerjemah bahasa, mereka memahami bahasa hewan itu.


"Torty, menyerah-lah! Niscaya aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk!" Yang berteriak itu adalah serigala abu-abu.


Dia cukup kesulitan ketika menghadapi pertanahan kura-kura yang dipanggil Torty itu. Torty yang mendengar ini, mendengus dingin dan mengejek, "Huh, kamu sendiri bahkan tidak bisa menembus pertahanan-ku. Memangnya kamu layak? Akulah yang pantas menjadi Penguasa Hutan!"


Serigala itu menggertakkan giginya yang runcing. Suara berderak terdengar dan hembusan nafasnya terlihat. Dia tampak marah.


Torty menambahkan, "Dan lagi, kamu, Wolfy tidak akan bisa mengalahkan elang itu!"


Serigala bernama Wolfy semakin marah. Urat nadinya tampak menonjol di balik bulu tebalnya. Dengan geraman rendah, dia memperkuat kakinya.


Melompat dan menerkam ke arah Torty. Ketika dia hendak melompat, kilat petir muncul di sekitarnya. Sepertinya, petir itu memperkuat kinerja otot-ototnya.


"Awooo!" Wolfy melolong, cakarnya tiba-tiba berubah menjadi besar dengan lapisan petir tebal.

__ADS_1


"Lightning Claw (Cakar Petir)!"


Cakar petir menghantam penghalang tak kasat mata yang melindungi Torty. Penghalang tak terlihat menjadi terlihat dengan adanya tirai cahaya yang berkedip cepat. Penghalang itu bergetar hebat dan suara petir menggelegar yang menghantam suatu benda terdengar.


Dunia menjadi kehilangan kilaunya. Cahaya petir menjadi satu-satunya hal yang paling menyilaukan, bahkan sinar mentari kalah dengannya.


"Keuk!" Torty mengerang. Dia tidak menyerah. Dia adalah Magic Beast Earth Tortoise. Kehebatannya terletak pada pertahanan dan sihir tanah.


Serigala sepele ini bisa menghancurkan pertahanannya? Lelucon apa ini!?


Ini penghinaan!?


Torty menjadi marah. Ketika suara retak terdengar, penghalang tak kasat mata terlihat seperti kaca yang retak. Kemudian pecah berkeping-keping.


"Matilah! Kura-kura sialan!" Wolfy yang marah tidak menghentikan momentumnya. Dia menarik kaki depannya dan mengayunkannya lagi.


Cakar petir yang berbahaya membuat Torty merasa terancam. Jika dia terkena petir ini, entah dia bersembunyi di dalam cangkang atau tidak, petir akan mengalir dan mengenai tubuhnya.


Dengan kata lain, dia tidak bisa membiarkan serangan Wolfy mengenai tubuhnya.


Torty menarik nafas. Dia menghentakkan kakinya ke tanah dengan kuat. Gelombang kejut yang luar biasa muncul seperti gelombang riak yang dapat dilihat oleh mata.


Tanah bergetar dan udara juga bergetar. Namun getaran ini tidak cukup menghentikan Wolfy. Meskipun demikian, Wolfy masih merasakan ancaman.


"Rock Thorn (Duri Batu)!" Torty berteriak pelan.


Mendengar teriakan ini, bulu keabu-abuan Wolfy tampak menjadi tegak. Dia merasakan ancaman dari teriakan itu.


Seketika, tanah terbuka. Tanah berbentuk duri raksasa yang lancip tiba-tiba muncul di bawah Wolfy.


"Apa?" Wolfy terkejut. Duri tanah terangkat dan akan menusuk Wolfy. Merasakan ancaman, Wolfy menggeser tubuhnya ke samping. Namun, kecepatan duri tanah cukup cepat. Dia tergores oleh ujung lancipnya.


Darah merah gelap yang segar memuncrat keluar. Tapi, itu hanyalah luka ringan. Dengan kemampuan pemulihan tubuhnya, hanya beberapa menit dia akan kembali seperti semula.


Tepat ketika dia masih berpikir untuk melanjutkan, tanah terbuka kembali. Duri tanah yang runcing mencuat keluar. Namun, kali ini bukan hanya satu. Melainkan puluhan!


Seketika, pilar runcing mencuat keluar dan berniat menusuk tubuh Wolfy. Menggeram kecil dan menggertakkan gigi, Wolfy memutar tubuhnya. Dia mengayunkan cakar petirnya.


Tubuhnya berputar-putar di udara beberapa kali hingga pilar runcing sampai di area serangannya. Kilat petir menggelegar ketika cakar petir menghantam pilar runcing dan menghancurkannya.


Puluhan pilar runcing langsung hancur!


Wolfy mendorong kaki belakangnya ke depan, menekuknya ke dalam dan menghentakkannya. Dia menendang udara dan melompat mundur untuk menjauh dari Torty.


Ketika jatuh ke bawah, Wolfy mengangkat satu kaki depannya yang berceceran darah. Cakar petir yang menghancurkan pilar runcing menyebabkan kerusakan signifikan pada kakinya. Dia merasakan rasa sakit yang menyengat dari kaki depannya itu.


Dia mengangkat kepalanya untuk melihat Torty dan berkata dengan menahan amarah, "Torty, oh, Torty. Kamu yang memilih jalan ini. Jangan salahkan aku karena bertindak kejam!"


Tiba-tiba, aura yang mengesankan tumbuh pada Wolfy. Energi Sihir yang kental memancar, memberikan ancaman yang intens. Niat membunuh yang luar biasa yang mengandung kemarahan membuat bulu kuduk merinding.


Saat itu, kilat petir menyambar hingga tak terhitung jumlahnya di sekitar Wolfy. Angin bergulung dan menyebabkan badai petir yang menutupi sosoknya. Meski begitu, Torty masih bisa melihat mata penuh niat membunuh di dalamnya.


Torty menjawab dengan sedikit tersenyum ragu dan dia mendengus, "Huh, tentu saja. Jangan sungkan. Kemarilah! Kamu pikir aku takut?"


***


Tekan like jika kamu suka cerita ini.


Tekan love jika kamu suka novel ini.


Dukung author dengan vote dan hadiah.


Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2