![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
Ketika tanah berguncang akibat adu kekuatan Alexander dan Kaisar Eude, Zero keluar dari ruang bawah tanah tempat ruang harta rahasia.
Zero mempertahankan mode Semi-real-nya dan berteleportasi di langit.
Di sana, dia melihat dua orang sedang bertarung.
Sesaat, wajah Kaisar Eude terdistorsi oleh rasa sakit.
Kemudian, dia tampak tidak bisa menahannya dan terhempas ke udara.
Kekuatan Alexander berbeda dengan manusia biasa. Dia berasal dari laboratorium penelitian yang meneliti tentang evolusi manusia.
Berkat darah Zero, manusia buatan di laboratorium tersebut kini bisa hidup dengan normal.
Dengan kata lain, darah Zero mengalir di dalam dirinya. Jadi harusnya sudah jelas, kemampuan fisik dan kemampuan berpikir Alexander berada di atas rata-rata umat manusia.
Tapi aku harus katakan, itu telah melebihi kualitas umat manusia.
Alexander tidak membiarkan Kaisar Eude yang terhempas begitu saja. Dia mencengkram kakinya dan membantingnya ke arah berlawanan dengan keras.
Bagaimana cara keluar dari situasi ini?
Bam!
Suara keras terdengar. Tanah berhamburan, tetapi wajah Alexander tidak menunjukkan rasa senang.
Sosok Kaisar Eude tidak ada di sana!
Tanah hanya hancur oleh kekuatan kekerasan Alexander saja.
Saat di tengah-tengah udara tadi, Kaisar Eude memutar tubuhnya dengan kuat ke arah ibu jari Alexander.
Pada saat mencengkram, terdapat beberapa titik lemah. Salah satunya adalah ibu jari.
Jika ibu jari terlepas, kekuatan cengkraman akan berkurang sangat drastis.
Dan juga, Kaisar Eude menambahkan sedikit sihirnya yang menyebabkan kakinya menjadi licin.
Dia pun berputar, seolah menari di udara dan menggunakan Sihir Angin untuk membuat satu pijakan di udara sebelum turun ke tanah.
Sungguh pak tua yang energik. Bagaimana bisa tulang-tulang tua itu bertahan dari gerakan akrobatik itu?
Sungguh aneh memang, tapi inilah dunia fantasi. Dunia di mana terdapat sihir yang merupakan hal biasa. Tapi tetap saja, tindakan Kaisar Eude tidak sembarang orang bisa melakukan hal yang sama.
"Huh, lumayan juga, pak tua!" Seru Alexander saat dia berlari menuju Kaisar Eude.
Alexander kini telah menghilangkan cara bicara formalnya.
Dalam sekejap mata, Alexander tiba di depan Kaisar Eude. Kaisar Eude bisa melihatnya, tetapi tidak bisa merespon.
Itu adalah batas fisik manusia biasa.
Alexander yang telah mengerahkan sebagian besar kekuatannya, tidak bisa dibalas oleh Kaisar Eude.
Namun, Kaisar Eude yang telah hidup selama bertahun-tahun memiliki pengalaman bertarung yang tinggi saat masih muda. Dan tampaknya, kemampuan bertarung tersebut belum berkarat.
Fisik tidak bisa merespon, memangnya kenapa?
Energi Sihir dikerahkan dengan liar oleh Kaisar Eude. Energi Sihir yang keluar mulai berkumpul dan terlihat oleh mata telanjang.
"Magic Shield (Pelindung Sihir)!"
Penghalang berupa lapisan cahaya biru samar terbentuk saat Alexander mengayunkan tangannya.
Mata Alexander secara alami dapat melihatnya. Dia juga mengerahkan Energi Sihirnya untuk menguatkan fisik dan membentuk lapisan pelindung di tinjunya.
__ADS_1
Pelindung tipis di tangan Alexander sangatlah terkonsentrasi. Itu memiliki kekerasan yang cukup untuk tidak ada seorangpun di Karaztam yang dapat menghancurkannya.
Tanah pijakan menjadi tenggelam dan untuk beberapa alasan, tanah disekitar mulai hancur dalam bentuk lingkaran karena dampak.
Zero Martial Art : First Stream (Aliran Pertama) — Wind Blow (Tiupan Angin).
Aliran Pertama dari Zero Martial Art merupakan segala macam teknik yang menggunakan tangan.
Seperti angin yang menerpa suatu benda yang akan menyebar ke segala arah dan mencari cara untuk melewatinya, pukulan dari Wind Blow memiliki konsep yang sama.
Kekuatan merusak pada pukulan ditransmisikan ke segala arah melewati Magic Shield Kaisar Eude hingga menghancurkannya pada saat hampir bersamaan.
Tentu saja Magic Shield yang rusak dapat dengan mudah diterobos oleh Alexander.
Sementara Kaisar Eude terkejut, Alexander mengerahkan kekuatan yang tersisa untuk memberikan pukulan padanya.
Wajah Kaisar Eude tenggelam dalam pukulan dan tampak menjadi cekung jika dilihat dalam gerakan lambat. Kekuatan fisik yang kini ditingkatkan oleh sihir jelas sangatlah kuat, ditambah lagi kekuatan fisik Alexander pada dasarnya sangatlah kuat.
Jadi di sini, Energi Sihirnya membatasi kekuatan merusak yang ada dalam pukulan sehingga tidak akan membunuh Kaisar Eude secara instan.
Akibat pukulan tersebut, Kaisar Eude terhempas jauh dan tubuhnya terhenti saat menabrak dinding istana yang kokoh.
Retakan muncul di dinding dengan kepala Kaisar Eude sebagai pusatnya. Jika dilihat lebih seksama, kepalanya tampak tenggelam ke dinding.
Tubuh Kaisar Eude menggantung tanpa menyentuh tanah.
"Tugas selesai. Sekarang, di mana Master berada?"
Alexander berbalik dengan gaya keren ketika dia membenahi sarung tangan kanannya.
Sementara itu, tidak terlalu tinggi di langit, sosok Zero dalam mode Semi-real tampak sedang merenung.
"Hmmm …."
Siapa yang mengajarinya?
Zero tidak memiliki kecurigaan terhadap Alexander dalam kasus ini, tapi dia juga perlu memastikannya. Tidak peduli apa, terkadang ada variabel tak terduga yang membuat suatu persepsi diri kita menjadi salah.
Aku rasa itu sering terjadi, terutama pada orang biasa.
Mr. X memiliki Time Force (Kekuatan Waktu) yang saat ini masih asing bagi Zero. Mungkin, ini hanya suatu kemungkinan.
Di masa depan, Zero Martial Art telah menyebar atau bisa jadi Zero memberi izin untuk Mr. X mempelajari Zero Martial Art.
Untuk memprediksi masa depan yang jauh, Zero memerlukan pengetahuan mengenai situasi dunia terlebih dahulu.
Sedangkan saat ini, dia masih belum tahu bagaimana dan kenapa semua itu akan terjadi mengingat keberadaan dunia lain, ketika di bumi saja tidak ada sihir.
"Lupakan saja, untuk sekarang, mari kita hadapi apa yang ada di depan kita." Zero pun turun ke tempat Alexander berada dan menonaktifkan mode Semi-real-nya.
Saat Alexander sedang berpikir bagaimana cara menemukan Zero, suara yang sangat ia kenali terdengar.
"Kerja bagus, Alex. Aku bangga padamu."
Zero menepuk bahu Alexander dari belakang dengan senyum ringan. Alexander seketika itu juga langsung tersentak dan tubuhnya membeku di tempat.
"Master!" seru Alexander dengan wajah ceria sambil berbalik ke belakang.
Zero sekedar mengangguk sebagai tanggapan.
Mata Alexander tampak menjadi basah dan akan menangis. Sungguh aneh melihat pemuda yang sudah pubertas untuk mengalami hal semacam ini.
Dahulu, Zero tidak terlalu peduli mengenai emosi orang lain. Tetapi setelah mendapatkan emosinya, Zero merasa bahwa perasaan setiap orang itu penting.
Bahkan sekarang, karena dirinya tidak bisa mengendalikan 100% tubuhnya karena alasan yang masih belum diketahui, dia menjadi memiliki pemikiran yang lebih berperasaan.
__ADS_1
Ditambah lagi, hormon yang biasanya bertindak sebagai pemancar emosi tidak bisa dikendalikan olehnya, jadi dia tidak terlalu bisa mengontrol emosinya.
Sekarang, yang bisa dia lakukan hanyalah mengontrol laju darah melalui pernafasan.
'Mungkin aku perlu mengambangkan teknik pernafasan, peredaran darah dan kendali tubuh ke tingkat yang lebih ekstrim lagi,' pikir Zero saat itu.
"Eh?" Zero tiba-tiba mengeluarkan suara yang aneh.
Alexander ini, dia tiba-tiba memeluk Zero tanpa peringatan apapun.
Sebenarnya, Zero menganggap Seven Servant (7 Pelayan)-nya sebagai keluarga, seperti orang tua dan anak, dan sesama saudara.
Namun, perilaku Alexander ini sungguh mengejutkan. Perilakunya seperti remaja SMA di masa pubertas yang dimabuk cinta!
Sungguh berbahaya!
Tapi Zero belum mengetahui hal itu. Dia juga belum terlalu berpengalaman mengenai hal itu.
Dia hanya menganggap Alexander sebagai adik atau anaknya. Itu saja.
Zero menepuk kepala Alexander dan berkata, "Hei, hei, hei, sudah, sudah. Bagaimana bisa pria dewasa melakukan hal seperti ini?"
Setelah mendengar Zero mengatakan itu, Alexander mau tidak mau harus mengakhiri pelukan reuni ini.
"Master …."
Ketika Alexander hendak berbicara, Zero menghentikannya.
"Sudah cukup, mari kita pergi dulu. Biar pasukanmu yang mengurus sisanya."
"Baik, Master!"
.....
Sebenarnya, situasi di luar Kota Hiera sangat kacau. Prajurit Kekaisaran Paliji berlarian dan berusaha menyelamatkan diri.
Karena pemimpin mereka terbunuh, mereka tidak bisa mengibarkan bendera menyerah. Pembantaian satu sisi terus terjadi.
Banyak tubuh manusia yang telah tewas dengan berbagai macam kondisi. Ada yang termutilasi, ada yang terbakar, ada yang hancur dan masih banyak lagi.
Sungguh pemandangan yang mengerikan.
Pasukan Kekaisaran Selestial di belakang telah menyusul dan menyaksikan pembantaian itu. Pasukan Kekaisaran Selestial terdiri dari Bangsa Iblis dan Ras Manusia.
Ras Iblis mendominasi jumlah dengan rasio 9:1. Dengan kata lain, dengan jumlah 9 Bangsa Iblis, maka akan ada 1 Ras Manusia.
Secara alami, Ras Manusia yang menyaksikan pembantaian dari sesama mereka merasa ngeri. Namun, itu tidak menutup kemungkinan bahwa mereka menyadari resiko peperangan di mana nyawa bisa hilang kapan saja.
Belum lagi, mereka juga tahu bahwa pasukan musuh belum mengibarkan bendera putih tanda menyerah meski pasukan mereka kacau.
Atas pertintah Alexander dari rencana sebelumnya, mereka menghabisi tentara musuh yang tersisa dan menerobos masuk ke Ibukota Kekaisaran Paliji, Kota Hiera tanpa perlawanan yang nyata.
Kemenangan Kekaisaran Selestial milik Zero sudah di depan mata!
***
Tekan like jika kamu suka cerita ini.
Tekan love jika kamu suka novel ini.
Dukung author dengan vote dan hadiah.
Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.
Terimakasih
__ADS_1