![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
Di area luar Hutan Darest, hanya tinggal 5 saja, iblis yang menyerangku. Ekspresi mereka mengeras dan energi iblis mereka keluar dengan deras.
Mereka adalah pengguna belati, pengguna pedang ganda, pengguna busur, pengguna flail dan pengguna pedang besar. Aura ungu kehitaman terasa melonjak keluar dari belakang mereka.
Sayap hitam iblis keluar dari punggung mereka. Lalu aku berkata, "Nah, benar, begitulah seharusnya. Keluarkan seluruh kemampuan kalian."
Mereka kemudian terbang, meski tidak terlalu jauh dari tanah. Mereka saling memandang sebelum akhirnya saling mengangguk. Iblis pengguna flail melemparkan bola berdurinya kepadaku.
Aku berlari menuju iblis pengguna pedang besar sambil membawa sabit yang aku ambil dari iblis pengguna sabit. Kemudian iblis pemanah menyerangku dengan lusinan anak panah yang berisi sihir angin.
Aku berlari dengan pola zig-zag hingga akhirnya sampai pada iblis pengguna pedang besar.
"Kuaaa!"
Iblis itu berteriak dan menghempaskan sayapnya ke bawah untuk memberi dampak yang lebih besar dalam serangannya ke arahku.
Duar.
Tanah berguncang dengan hebat dan ledakan tersebut membentuk lintasan bentuk padang. Aku memanfaatkan hal tersebut untuk menyerang punggung yang terdapat armornya.
Armor iblis itu pecah dan punggungnya telah tampak. Aku melepaskan sabit dan menotok kedua persendian tulang belikatnya.
Dia terkejut dan sedikit mengerang untuk menahan rasa sakit. "Keuk!"
Pandangannya mulai kabur dan akhirnya pingsan. Di kesempatan itu, aku mengambil sabit dan melemparkannya ke arah iblis pengguna busur.
Spontan, iblis pengguna busur terkejut dan hendak menghindar. Tetapi, aku tidak mengincar mengincar iblis itu, melainkan senjatanya. Busur itu patah karena terkena bilah tajam dari sabit.
"Ayo, serang aku bersama." Aku mengejek mereka lagi. Namun, kali ini berbeda. Mereka tidak terpancing.
Tanpa diduga, aku ternyata ada di tengah-tengah mereka. Aku terkepung dari segala arah. Bola berduri meluncur dari depan dan lusinan belati datang dari belakang. Iblis pengguna pedang ganda muncul dengan cepat dari kanan.
Aku terjepit. Jika aku menghindar ke kiri, ada belati yang mengarah ke sana untuk antisipasi. Akhirnya, aku memutuskan untuk menggunakan teknik bela diri.
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya aku jatuh dalam keadaan 'perasa lingkungan penuh.' Hal itu memungkinkan aku untuk dapat mendeteksi atau merasakan macam-macam hal yang terjadi dalam radius tertentu.
"Taido Martial arts. Modified Sen-tai technique, Full Evasion Mode!"
......................
Seni beladiri Taido adalah seni beladiri dari Jepang yang mengkhususkan diri pada memanfaatkan gerakan menghindar untuk menyerang.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan. Tapi, aku menggunakan teknik Sen-tai. Teknik ini menggunakan penghindaran secara vertikal.
......................
Aku menghindari serangan flail dengan mundur sedikit dan memutar kembali bola berduri dengan menangkap rantainya. Lalu, aku menghindari setiap belati yang menuju ke arahku seolah-olah sedang menari.
Setelah menghindari lusinan belati, iblis pengguna pedang ganda mengayunkan kedua pedangnya.
"Fire twin blade!"
Sepasang pedang kembar berapi menyerangku dengan bentuk menyilang. Aku menghindari di bagian celahnya.
Namun, dia terus mengayunkan kembali pedangnya saling bergantian tanpa henti. Itu hanya sesaat. Aku terus menghindar dan memukul bagian ulu hati dengan tangan terbuka.
Itu adalah serangan tapak gelombang yang menyebabkan kerusakan internal. Iblis itu mengerang kesakitan dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Ekspresinya tampak tercengang. "Kuaaack?!"
__ADS_1
Iblis pengguna pedang ganda pingsan. Aku mengambil kedua pedangnya langsung. Pertarungan berlanjut pada bola berduri yang jatuh di pinggir pengguna flail. Dia kesulitan dalam mengayunkan bolanya. Karena itu, membutuhkan waktu yang cukup untukku menghampirinya. Iblis flail tampak terkejut dan ada sedikit rasa takut di ekspresinya.
Aku mengayunkan pedang ganda di saat dia hendak melemparkan bola berduri. Jaraknya cukup cepat. Tapi, aku menghindar dan memotong rantai dengan pedang yang terbakar oleh api.
Keputusasaan muncul dalam hatinya. Aku melompat ke arahnya dan menendang dengan lutut. Dia pingsan dan jatuh perlahan ke tanah.
Pada akhirnya, aku berhasil mengalahkan mereka semua. Iblis pengguna belati kalah dengan pedang yang kulempar. Sedangkan pemanah telah menyerah.
Jenderal Iblis Malgrim datang dan bertepuk tangan sebelum berkata, "Luar biasa. Luar biasa. Seperti yang diharapkan dari Tuan Zero."
Aku menatapnya dengan tatapan tajam. Jenderal Iblis Malgrim merasa takut, tapi itu tertutupi oleh aktingnya.
"Beresi semua ini." Aku menatapnya dan pergi ke kastil iblis. Jenderal Iblis Malgrim hanya menundukkan kepala dan aku melewatinya.
"Baik, Tuan."
Aku menjumpai Raja Iblis Margus dan memasuki Hutan Darest. Jenderal Iblis Malgrim membawa teman-temannya yang terluka karena bertarung denganku ke kastil untuk di sembuhkan.
Aku berjalan menyusuri lorong kastil sendirian.
"Haah, akhirnya. Aku akan mandi. Sudah lama aku belum mandi, ini~."
Aku bermalam di kastil untuk pengumuman besok. Sebenarnya, pengumuman akan dilakukan hari ini. Namun, gara-gara kejadian tadi, mereka harus dirawat dulu.
***
Keesokan harinya, aku melakukan aktivitas seperti biasa. Bangun sekitar jam 4, jika di bumi. Mandi, pemanasan, berolahraga dan akhirnya ...
Aku sarapan bersama para iblis yang merupakan anggota konferensi meja bundar iblis. Setelah sarapan, Raja Iblis Margus berkata, "Mari kita masuk ke ruang aula."
Kami pergi ke ruang aula untuk pengumuman bergantinya 'raja' yang baru.
"Margus, apa kamu telah memberi tahu mereka apa yang telah terjadi?" tanya aku.
"Tentu saja sudah, Tuan."
Anggota konferensi memiliki ekspresi seperti bertanya-tanya akan sesuatu.
Lalu aku melanjutkan pembicaraan, "Apakah ada yang ingin ditanyakan?"
"....."
Suasana hening sesaat sebelum seorang iblis wanita yang menggunakan panah bertanya.
"Pertama-tama, perkenalkan nama saya adalah Sirka. Seorang Duke dari wilayah barat."
"Silahkan bertanya, Nona Sirka."
"Apa alasan Anda untuk menjadi 'Raja Iblis?'"
Aku membalas, "Itu ..." Aku berhenti sejenak sebelum memberi alasan, "... Karena misi"
"....." Tidak ada jawaban. Tapi, aku sudah tahu apa yang rasakan.
Kemudian Sirka bertanya lagi, "Misi?"
"Ya, misi. Aku memiliki misi untuk menguasai dataran iblis dan kerajaan manusia, Kerajaan Goethe."
__ADS_1
"Apakah Anda memiliki seorang Tuan?"
"Tidak." Aku menjawab sesedikit mungkin. Tidak mungkin aku akan membicarakan Supreme World's System sekarang.
Di tengah-tengah pertanyaan yang melanda semua orang, Jenderal Iblis Malgrim telah memahami sedikit.
"Hmmm, jadi begitu. Aku sedikit paham."
"Hooo, apa yang kau pahami memangnya?" tanyaku.
"Seperti yang telah saya minta kepada Anda di dataran manusia, Anda meminta untuk sebuah imbalan untuk menerima permintaanku, benarkah?"
"Yah, aku memang mengatakan sesuatu seperti itu. Namun,..."
"Namun?"
Aku berfikir sejenak sebelum melanjutkan jawaban, "Aku rasa kau tidak akan paham dengan apa yang akan aku katakan. Tapi, kurasa kau benar. Ini adalah permintaan dari suatu eksistensi yang tidak diketahui."
"....." Jenderal Iblis Malgrim hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak mengatakannya. Aku memperhatikan hal tersebut dan bertanya lagi.
"Lalu, apa ada yang ingin ditanyakan?"
"Perkenalkan, nama saya adalah ..."
Pertemuan ini dilanjutkan dengan berbagai pertanyaan. Kebanyakan anggota konferensi meja bundar iblis yang merupakan jenderal, bertanya seputar kekuatanku. sedangkan anggota konferensi meja bundar iblis merupakan seorang Duke, kebanyakan bertanya tentang rencana masa depan. Pada akhirnya, konferensi berakhir pada siang hari.
***
Setelah konferensi, aku pergi keluar dari Hutan Darest. Aku menemukan adanya Barosa dan Hagle di sebuah pohon yang cukup rindang. Mereka sedang bertengger di dahan yang cukup kuat untuk menahan mereka.
"Barosa, aku akan pergi ke sebuah kota di dekat sini."
Aku menatap Barosa yang tengah duduk membaca buku 'Mengenal Jati Diri.'
"Ah, ya, Tuan. Apa aku harus ikut?"
"Tidak, kau lanjutkan saja pencerahanmu."
Aku meninggalkan mereka dan pergi ke kota di dekat Hutan Darest.
Setelah berjalan selama beberapa menit, aku sampai di sebuah kota. Terdapat dinding kokoh yang mengitarinya.
'Tampaknya, semua kota di Dunia Karaztam memiliki dinding, ya.'
Di papan atas gerbang, terdapat tulisan yang tidak aku ketahui. Namun, aku cara alami dapat mengetahuinya. Mungkin ini karena efek dari Skill: Language translation.
Papan itu bertuliskan, 'Kota Arpgi.' Nama yang cukup unik. Kemudian, aku mengantri untuk memasuki kota itu dan melewati pemeriksaan.
Dunia ini belum memiliki sistem identitas yang mampu memberikan informasi seseorang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tekan like jika kamu suka cerita ini.
Tekan love jika kamu suka novel ini.
Dukung author dengan vote dan hadiah.
__ADS_1
Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.
Terimakasih