![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
Kerajaan Goethe — sebuah kerajaan manusia yang berada di benua manusia, Sarte. Kerajaan Goethe menjadi negara terbesar ke-2 setelah Kekaisaran Paliji. Terletak di bagian paling barat Benua Sarte sekaligus menjadi wilayah paling dekat dengan benua iblis, Karazbis. Wilayah dengan luas 3,3 juta km persegi dengan jumlah populasi 1,2 milyar orang.
Itu merupakan sebuah kerajaan dengan peradaban yang cukup maju. Kereta api telah ada dan perluasan cakupan wilayah sedang berkembang. Model-model rumah di sana, mirip dengan rumah-rumah jerman abad pertengahan. Namun, sistem kerajaan masih menggunakan silsilah keluarga.
Para bangsawan yang ada berbuat seenaknya dan menyebabkan banyak penderitaan bagi rakyatnya. Namun, itu hanya selalu terjadi di desa-desa kecil atau tempat-tempat terpencil. Sangat jarang seorang bangsawan akan berbuat seenaknya di kota-kota besar. Hanya beberapa bangsawan tingkat tinggi saja yang mampu melakukan itu, tanpa khawatir dengan hukuman dalam pelanggaran.
Oleh karena itu, kebanyakan masyarakat pedesaan menderita sedangkan masyarakat kota hidup dengan nyaman. Masyarakat pedesaan juga sering menderita diskriminasi oleh masyarakat kota. Orang desa yang pergi ke kota, kerap ditipu, dicemooh dan dilecehkan oleh masyarakat kota.
Sungguh ironi, padahal masyarakat desa menyediakan berbagai macam bahan konsumsi dari pertanian dan perkebunan. Tapi, mereka sama sekali tidak menghargainya.
'Sungguh, benar-benar memuakkan.'
Itulah yang dirasakan mayoritas orang pedesaan yang pernah berkunjung ke kota.
......................
Di sebuah desa, di dekat Ibukota Kerajaan Goethe...
Hari itu adalah waktu saat matahari telah tenggelam sepenuhnya. Karena itulah, gerbang-gerbang desa hendak ditutup. Monster-monster dan binatang buas nokturnal yang berbahaya kerap muncul di sekitar desa dan menyebabkan para warga menjadi resah.
Namun, hari ini berbeda dari biasanya. Penjaga gerbang desa melihat dua pria muda yang tampan dan seekor burung yang elegan dengan warna yang bervariasi. Kedua pria tersebut memakai pakaian polos yang sedikit compang-camping dan membawa pedang di pinggangnya.
Benar, itu adalah aku, Crhono Zero; sang dewa, Barosa dan si burung, Hagle. Kami muncul dari hutan yang mulai gelap dan melewati jalan yang di pinggirnya terdapat sawah yang luas.
Penjaga menggunakan perlengkapan armor besi, sepatu besi, helm besi dan sebuah pedang yang ada di sarungnya
"Hei, kalian! Cepat ke sini! Gerbang akan segera ditutup!" teriak sang penjaga gerbang.
"Oh, iya. Tuan penjaga, kami hendak beristirahat di desa ini," saut Barosa.
Kami mempercepat langkah dan di interogasi terlebih dahulu di sebuah pos yang ada di luar desa. Pos tersebut ada di dekat jalan masuk gerbang. Itu adalah tempat yang biasanya digunakan untuk menanyakan identitas dari orang asing yang hendak masuk ke desa.
"Baiklah, karena waktunya tinggal sedikit, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk memasuki desa. Jadi, jawab dengan cepat,"
"Tentu, silahkan bertanya kami akan menjawabnya," jawab aku.
Di ruangan yang setengah gelap karena hanya ada obor yang dibawa penjaga, kami ditanya.
"Terimakasih atas kesediaannya. Pertama, siapa kalian?"
"Kami adalah seorang pengembara," jawab aku.
Sambil melihat perlengkapan kami, sang penjaga berkata seolah-olah tidak percaya. "Hmmm, pengembara, ya!"
Beberapa saat yang lalu...
"Kita turun di disini dulu. Kebetulan, aku melihat ada sebuah desa di sana," kata aku.
__ADS_1
Barosa dan Hagle turun mengikuti-ku ke sebuah hutan di desa terdekat. Kemudian...
"Aaarrggh! Toloooong!"
Sebuah suara pria yang ketakutan terdengar, sesaat setelah kami turun ke hutan. Ternyata, ada seseorang yang sedang di kejar oleh binatang buas.
Binatang buas tersebut adalah harimau. Orang tersebut kemudian berlari menuju ke kami dan meminta tolong.
"To-tolong! Selamatkan aku!!"
"....."
Tapi kami hanya diam saja, sampai akhirnya dia diterkam oleh harimau sebelum mencapai kami. Leher orang tersebut terkoyak oleh gigitan harimau yang tidak berbelas kasih.
"A-arkh, Ugh!"
Orang tersebut tewas. Setelah tewas, aku langsung membunuh harimau dengan tebasan tangan kananku. Leher harimau tersebut terpotong dan darah berhamburan keluar darinya.
Bangkainya menjadi partikel cahaya dan menjadi sebuah kartu yang kemudian menghilang ke inventaris sistem-ku.
...[ ANDA TELAH MENGHABISI HEWAN BUAS KARLE TIGER, ANDA MENDAPATKAN 12,000 EXP.]...
...[ KARENA EFEK JUDUL, SKILL DAN SEBAGAINYA, POIN EXP TELAH DI JUMLAHKAN MENJADI 24 MILYAR.]...
...[ ANDA TELAH MENDAPATKAN KARTU KARLE TIGER.]...
'A-apa itu?!' Barosa keheranan. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Memangnya, bagaimana bisa bangkai hewan buas itu menjadi partikel cahaya yang membentuk kartu? Dia merasa pusing hanya dengan memikirkannya saja.
"Hmmm, benar juga, ya. Selama saya mengamati kehidupan manusia, saya melihat banyak orang yang menjadi pengembara untuk mencari tempat tinggal yang mereka inginkan dan juga untuk melatih diri mereka di alam bebas sambil bertahan dari hewan buas dan monster. Terutama, di Kerajaan Goethe ini. Kebanyakan orang-orang desa, menjadi pengembara untuk berpergian ke kota tanpa diskriminasi. Kemungkinan besar, orang itu menarik perhatian harimau tadi," jelas Barosa panjang lebar.
"Pengembara, ya?"
Kemudian, aku menggeledah mayat pengembara tersebut.
"Hmmm, kurasa pakaian orang ini cukup berguna." gumamku.
Kemudian aku melirik Barosa.
"Hei, Barosa! Kita akan menyamar menjadi pengembara untuk masuk ke desa di sekitar sini. Pakaiannya cukup pas untukku."
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu, saya akan menggunakan pakaian yang ada di sebalh sana saja," kata Barosa sambil menunjuk ke sebuah mayat yang berjarak beberapa meter dari mayat pengembara.
"Oh, baguslah."
Setelah mengenakan pakaian tersebut, aku membersihkan pakaian menggunakan sihir air untuk membersihkan noda darah yang berlebihan dan mengurasnya hingga kering dengan kontrol air. Begitupula dengan Barosa. Namun, agar terlihat lebih jelas dalam penyamaran, aku dan Barosa memercikkan sedikit darah dari mayat pengembara.
Itulah alasan kami menggunakan pakaian polos yang lusuh dengan noda darah di bagian depannya.
__ADS_1
......................
"Pengembara, ya."
Sang penjaga menatap kami cukup lama dan dia berpikir, 'Kalian pikir aku bodoh apa? Bagaimana pria tampan seperti kalian menjadi pengembara? Mereka pasti dari keluarga bangsawan dan mereka kabur! Tapi ... Apakah ada seorang bangsawan yang sopan seperti mereka?'
Penjaga tersebut menjadi sakit sekali.
"Hmmm."
Ekspresinya mungkin terlihat tegas, tapi dalam hatinya ...
'Argh! Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus melaporkannya pada ketua? Ataukah aku harus melayani mereka dengan baik? Sial! Ini sangat membingungkan sekali,' teriak sang penjaga dalam hatinya.
Dia bingung karena jika dia ketahuan membantu seorang bangsawan yang kabur, maka dia akan dieksekusi oleh kepala keluarga bangsawan tersebut. Sedangkan jika dia memberitahukannya keberadaan mereka, maka dia mungkin akan dieksekusi oleh kami yang dianggap bangsawan. Kemungkinan, dia menganggap kami akan menjadi kepala keluarga bangsawan dan dia takut akan dieksekusi di kemudian hari.
Perbandingannya adalah 50:50 saja. Semua pilihan yang akan diambilnya dapat menjadi racun atau obat.
Tapi, dia tiba-tiba berpikir ...
'Tunggu, bukankah sifat mereka baik? Para bangsawan yang pernah lihat pasti menganggap rakyat jelata dengan jijik. Tapi, mereka sepertinya tidak. Mungkin akan menjadi keuntungan jika aku membantu mereka.'
Sang penjaga yang telah berpikir dengan matang, kini telah menentukan pilihannya. Dia memutuskan untuk membantu kami.
"Baiklah, kalau begitu ... kalian aku izinkan untuk tinggal di desa ini. Ayo kita masuk!"
"Terimakasih, Tuan Penjaga. Kami akan membalas kebaikan Anda suatu hari nanti," kataku.
Dia mengantarkan kami memasuki gerbang desa dan dia menutup pintu gerbang desa.
...[ ANDA MEMASUKI DESA KOTORA.]...
Sambil berjalan, dia bercerita banyak hal.
Desa ini bernama Desa Kotora dan hutan yang mengelilingi desa bernama Hutan Karle. Sang penjaga bernama Potu. Desa Kotora memiliki 4 gerbang di setiap arah mata angin. Basis perekonomian utama desa ini, sama dengan desa lainnya, yaitu pertanian.
Luas desa ini sekitar 2,3 km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 9,7 ribu. Dia berkerja menjadi prajurit di kota sebelumnya, namun karena dia ingin melindungi desanya, dia memutuskan untuk menjadi prajurit yang tinggal di desa ini. Sekarang dia berumur 35 tahun.
Kemudian, dia berhenti dan menunjuk jarinya ke arah sebuah bangunan.
"Kita sudah sampai. Itu adalah penginapan terdekat di sini. Namanya adalah penginapan Malam perak. Fasilitasnya bagus dan harganya juga tergolong murah. Dari sini, aku akan undur diri dulu."
"Ah, terimakasih Tuan Potu atas bantuannya." kataku sambil membungkuk dengan sopan bersama Barosa.
Sambil menggaruk kepalanya, dia menunjuk ke arah gerbang yang kami lewati tadi. "O-oh, tidak perlu dikhawatirkan. Tidak usah terlalu sopan denganku. Dan juga ... panggil saja aku Potu. Jika ada masalah, panggil saja aku. Aku tinggal di rumah di dekat gerbang."
"Baiklah, Potu. Jika kau ada masalah, hubungi saja kami. Kami akan membantumu sebisa mungkin"
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu, sampai jumpa!!"
Potu pergi sambil melambaikan tangannya. Akhirnya, kamipun memutuskan untuk memasuki penginapan. Itu adalah sebuah penginapan yang cukup besar dan terlihat meyakinkan.