![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
Sepanjang jalan, Zero mendengarkan penjelasan dan situasi Kekaisaran Selestial selama dirinya pergi dari Alexander.
Dari cerita Alexander, Zero menyadari bahwa Alexander telah melakukan beberapa eksperimen politik dan sosial pada rakyat Kekaisaran Selestial. Karena eksperimen tersebut menghasilkan hal yang baik, Zero tidak akan memprotes.
Lagipula, agak sulit untuk melakukan hal semacam ini di bumi. Jadi, Alexander memutuskan untuk melakukan berbagai upaya eksperimen tertentu yang memiliki hasil dan probabilitas yang bagus.
Akibatnya, masyarakat berkembang maju dan tidak ada masalah internal sama sekali. Semua petinggi negara tidak melakukan korupsi ataupun kejahatan lainnya.
Yah, itu karena aturan yang diberlakukan Alexander sangat ketat.
Seusai tiba di istana, beberapa pasukan Kekaisaran Selestial, yang pasti merupakan petinggi militer, menyambut kedatangan kereta kuda yang megah dan mewah.
Saat turun dari kereta, Zero melihat orang-orang yang menyambutnya.
Orang-orang yang menyambut itu terdiri dari manusia dan iblis. Di sisi iblis, sudah pasti merupakan Raja Iblis Margus dan keempat jenderalnya.
Sementara di sisi manusia, itu adalah dua wanita cantik yang Zero kenal. Ceril von Goethe dan Malsi von Goethe.
Ceril adalah mantan putri bungsu Kerajaan Goethe. Dia memiliki Soul Eyes yang bisa melihat warna jiwa seseorang dan menentukan sifat orang tersebut. Kali ini, dia menatap Zero dengan ekspresi aneh.
Sedangkan Malsi, dia adalah mantan putri kedua Kerajaan Goethe. Ambisi yang tinggi membuatnya mencoba menggoda teman sekelas Zero yang menjadi pahlawan. Dia sebenarnya wanita yang baik.
"Oh, rupanya kalian semua ada di sini."
Alexander melihat ke semua orang yang menyambut.
Ceril sebenarnya tidak memiliki bakat apapun. Dia hanya memiliki jenis mata yang unik saja. Zero berasumsi bahwa Alexander menjadikan Ceril sebagai orang yang menentukan karakter orang yang akan menjabat di Kekaisaran Selestial melalui warna jiwanya. Jika orang tersebut memiliki sifat yang baik, Alexander akan membuatnya hidup. Tapi jika berlainan, hidup mereka akan berakhir.
'Aku mungkin memerlukan mata seperti itu. Apa sebaiknya aku mengambil matanya saja, ya?' pikir Zero.
Ceril tiba-tiba bergidik.
"Selamat datang, Tuan-tuan dan Nona."
Orang-orang yang menyambut membungkuk dan memberi salam.
Zero memimpin kelompok dan menjawab mereka sambil merentangkan tangannya, "Iya, aku dengar kalian telah bekerja keras."
"….."
"….."
"Tidak, ini semua tidak layak untuk dibicarakan, Tuan."
Hanya Raja Iblis Margus yang membalas Zero.
Secara alami, mereka mengenal Zero. Tapi, Zero memperhatikan hal yang aneh.
__ADS_1
'Hm? Mereka memiliki ekspresi yang aneh. Apa ada sesuatu yang salah denganku?' pikir Zero.
Setelah Zero berevolusi terus menerus, penampilannya menjadi sedikit berubah. Wajahnya lebih tampan dan lebih halus dari sebelumnya.
Tubuhnya juga semakin kuat.
Orang-orang ini tidak mengenal wajah Zero lagi.
Pada kasus Alexander, itu berbeda. Dia dan Alexander memiliki ikatan darah khusus.
Sementara Raja Iblis Margus, dia adalah orang yang Zero bangkitkan melalui Item Card. Koneksi jiwa atau sesuatu yang lain sangat kuat entah karena apa.
Itu mungkin juga menjadi alasan Raja Iblis Margus memiliki kesetiaan mutlak pada Zero, sama seperti Zeus juga, dan jangan lupakan Balph.
Akhirnya, Zero menyadari bahwa penampilannya saat ini tidak dikenali oleh orang lain.
Alexander juga tampaknya menyadari. Dia segera memperkenalkan, "Ya ampun, bagaimana kalian bisa lupa? Dia adalah sang Kaisar! Kaisar Zero Yang Mulia!"
"—!?"
Orang-orang terkejut. Mereka melihat Zero dan menggosok mata mereka berulang kali.
Malsi yang ahli dengan urusan dalam negeri berlutut dan berkata, "Maafkan kekasaran kami, Paduka."
Omong-omong, Zero masih menggunakan baju orang biasa. Jadi, ini sedikit bertolak belakang dengan wajah tampannya yang bermartabat.
Zero mengayun-ayunkan tangannya, mengisyaratkan penerimaan maaf.
"Ngomong-ngomong, Ceril. Kamu melihatku dengan aneh. Apa ada sesuatu dengan jiwaku?" tanya Zero sambil mendekati Ceril.
"Ti-tidak ada, Paduka!" Ceril yang lugu menjadi gugup. Wajahnya memerah seperti stroberi.
Dia memiliki rambut pirang bergelombang dengan panjang sebahu. Zero mendekatinya dengan senyum yang tidak berbahaya bagi kehidupan dan menepuk Ceril, "Tidak perlu khawatir. Katakan saja, aku tidak akan melakukan apa-apa."
"U-um, baik, Paduka."
'Agak merepotkan juga jika semua orang memanggilku 'Paduka'. Entah kenapa, itu terdengar kurang enak,' pikir Zero dalam benaknya.
"Ngomong-ngomong, jangan panggil aku 'Paduka'. 'Yang Mulia' saja, itu terdengar lebih baik."
Ceril mulai menjelaskan, "Ja-jadi seperti ini. Dahulu, jiwa Yang Mulia …."
Zero mengulurkan tangannya dan menghentikan kalimat Ceril dengan jari telunjuk mengunci bibirnya.
"Mmm …."
Zero berkata, "Kita akan bicarakan itu nanti saja."
__ADS_1
"Uu, baik, Yang Mulia."
Ceril menahan air matanya yang hampir keluar karena perilaku Zero yang tiba-tiba. Dia disentuh oleh seorang pria, selain ayahnya untuk pertama kalinya.
Um, sebenarnya bukan pertama kalinya. Zero pernah menyentuhnya juga sebelumnya saat masih ada Kerajaan Goethe.
Di sini, Zero menghentikan Ceril karena percakapan ini bersifat privasi.
Dia merentangkan tangannya lebar-lebar dan mengajak semua orang, "Kalau begitu, mari kita urus masalah hari ini dulu. Setelah itu, kita akan mengadakan pesta!"
Kemudian, dimulailah rapat di aula dengan anggota eksekutif di dalamnya. Konferensi itu membahas masalah esok hari, proses asimilasi budaya dengan masyarakat dan pidato Kaisar Zero.
Malamnya, segala jenis makanan dan minuman di sajikan di halaman istana yang luas. Prajurit tingkat atas, bangsawan iblis dan petinggi militer bersama-sama menikmati pesta yang meriah.
Meski malam itu harusnya mendung, Zero menggunakan kekuatannya untuk mengubah cuaca.
Zero bersama kelompoknya berada di meja besar yang jauh lebih mewah dibandingkan meja lainnya. Orang-orang belum mengetahui identitas Zero, tapi mereka cukup penasaran untuk mengetahui alasan Zero dan kelompoknya bisa berbincang santai bersama Panglima Tertinggi Alexander.
Zero memakan sepotong steak daging dengan gaya khas bangsawan dan mengangguk, "Um, lumayan. Rasanya cukup enak."
Karena Zero baru memiliki indera pengecap yang berfungsi, dia masih menganggap makanan semacam ini enak. Namun bagi Zeus yang terbiasa memakan hidangan kelas tertinggi, dia tidak terlalu peduli.
Lagipula, pada dasarnya dia tidak perlu makan. Energi yang kuat dalam tubuhnya memberikan siklus tak berujung yang terus mengisi stamina dan energinya kembali.
"Alex, bagaimana kabar mengenai benua tetangga?" Zero bertanya setelah selesai makan dan meminum teh dari Zeus.
Memang terasa nikmat jika didampingi oleh anggur beralkohol, tapi Zero tidak akan melakukannya untuk saat ini. Lagipula, teh yang diberikan Zeus lebih enak daripada itu.
Menurut pemahaman Zero sebelumnya, Bangsa Iblis tidak hanya menyerang Ras Manusia, melainkan semua ras di sampingnya.
Yah, itu karena rencana Barosa untuk mendapatkan jiwa persembahan.
Barosa tiba-tiba tersedak tanpa alasan yang jelas saat makan.
"Soal itu tidak ada masalah. Bangsa Iblis menyerang bangsa lain setelah melewati selat kecil yang memisahkan setiap benua. Tapi perselisihan itu terjadi karena inisiatif Bangsa Iblis. Karena Bangsa Iblis tidak menyerang, tentu saja mereka tidak akan membalas."
Zero mengangguk dan menyeruput secangkir teh kembali, "Ternyata begitu."
Selat yang memisahkan setiap benua hanya sejauh puluhan kilometer. Pada waktu pasang surut air laut langka yang terjadi setiap satu tahun sekali, sebuah jalur darat yang menghubungkan kedua benua terbuka. Jalur itu bertahan selama beberapa hari, sekitar seminggu sebelum akhirnya menghilang kembali.
"Kalau begitu, tidak masalah. Aku bisa bersantai dan menikmati kekuasaan hingga waktu yang tersisa."
Zero tersenyum kecil dan dia memiliki emosi seperti anak kecil untuk saat ini. Keinginannya mungkin seperti itu, namun kecerdasannya tidak mengubah keinginan menjadi tujuan.
Dia tahu bahwa waktu yang tersisa dari Sistem adalah istirahat panjang dari kesulitan yang akan dihadapi tidak lama lagi.
Itulah yang dikatakan firasatnya.
__ADS_1
Seusai pesta, Zero memanggil Ceril ke kamarnya.