[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 35 ~ Bahaya Yang Mulai Mendekat ke Desa Kotora


__ADS_3

Di sebuah mansion dari bangsawan Kerajaan Goethe berpangkat Baron. Di malam hari saat kami baru saja menginap di penginapan Malam Perak untuk pertama kalinya, terjadi suatu hal di mansion bangsawan berpangkat Baron.


Di malam itu, Baron tersebut mengadakan pesta untuk merayakan ulang tahun anaknya yang ke-20. Nama Baron tersebut adalah Deca de Vois dan anaknya bernama Dega de Vois.


Mereka mengundang semua kepala desa yang ada di wilayahnya untuk merayakan pesta ulang tahun anaknya. Salah satunya adalah anak perempuan dari Kepala Desa Kotora.


Dia pergi bersama orang tuanya dan kakak laki-lakinya yang merupakan seorang kesatria dari keluarga bangsawan berpangkat viscount.


Di ruang perjamuan, sesaat setelah pidato dari tuan rumah ...


"Baiklah, mari kita mendengar keinginan dari putraku Dega de Vois!"


Ayahnya, Baron Deca de Vois menanyakan keinginan putranya setelah berpidato panjang. Dega-pun menjawab dengan menunjuk jarinya ke seorang perempuan berambut oranye kekuningan dan gaun biru muda yang indah. Melihatnya membuat mengingatkan diri kita pada langit saat matahari terbenam dan terbit. Keindahannya begitu nyata dan semua orang mengalihkan pandangannya ke wanita muda nan cantik tersebut.


"Aku ingin menikahinya."


***


Di dunia system ...


"System's world, disable!"


Dunia system yang hanya berupa warna putih saja, sekarang mulai memudar dan muncul partikel hologram yang membentuk bilangan biner, 1 dan 0. Partikel tersebut terangkat dan pemandangan serba putih sekarang tergantikan oleh pemandangan di sebuah kamar penginapan. Ada Barosa yang matanya berbinar dan Hagle yang memperhatikan kami.


"Ini, Barosa."


Sebuah partikel biru yang merupakan tanda dari aktif dan nonaktif-nya dunia system muncul. Partikel tersebut berkumpul dan membentuk satu buah buku, satu boneka kecil yang polos dan satu kacamata yang tidak diketahui itu merupakan kacamata cekung atau cembung.


".....?!" Barosa tersentak. Dia tidak pernah melihat penyimpanan item yang seperti itu. Tapi, dia lebih terkejut saat aku mulai menjelaskan fungsi dari item yang kubawa.


"Buku ini adalah buku yang akan membantu dirimu dalam meningkatkan pencerahan tentang jiwa. Boneka ini adalah boneka yang dapat meniru tubuhmu dan kau dapat mencari tahu kondisi tubuhmu. Sedangkan yang ini, ini adalah kacamata yang dapat menerjemahkan tulisan dan bahasa yang dapat kau pahami," jelas aku panjang lebar.


"Yah, meski begitu, kacamata ini tidak dapat menerjemahkan istilah-istilah jika tidak ada kosakata yang cocok di pikiranmu."


Dug, dug ... dug, dug.


Barosa yang terkejut membuat jantungnya berdetak lebih cepat dan lebih cepat. Dia merasa sangat senang. Dia berpikir ...


'Mungkin ... dengan ini, aku dapat berevolusi dan aku dapat pulang segera.'


Itulah yang dipikirkan Barosa. Tubuhnya mulai bergetar dan tangannya yang bergetar mulai mengepal. Dia teringat akan perbuatan saudara-saudaranya.


'Aku ... aku ... aku pasti akan ... membalas perbuatan kalian.'


Barosa membulatkan tekadnya dan mulutnya yang pendiam sekarang membuat senyum licik yang kecil. Dia merasa sangat menderita karena perbuatan saudara-saudaranya. Matanya yang bergetar tajam, penuh kebencian dan keinginan untuk sebuah pembalasan, semuanya terlihat di kedua mataku.


'Kuk, kukukukuk! Sepertinya ini akan menarik. Pertunjukan yang bagus dapat terjadi. Tapi, aku setidaknya harus berevolusi ke tahap dewa. Aku harus mendapatkannya agar aku dapat menikmati pertunjukkan ini.'


Matanya yang menjadi tajam bagaikan bilah pedang yang penuh kebencian, dia sekarang menerima item yang kuberikan.


"Baiklah, kau tunggulah di sini dan gunakan mereka. Aku akan keluar terlebih dahulu."


Aku berjalan menuju pintu dan Barosa kembali ke kasurnya untuk membaca buku yang dapat meningkatkan jiwa.


"Baik, Tuan!"


Aku berjalan keluar dan menuruni tangga.


Step, step.


"Hmmm, kalau tidak salah, para Duke akan sampai dalam 3 hari, ya?"


Selagi berbincang di aula kastil iblis, aku menanyakan waktu para Duke akan sampai.


"Kalau, begitu aku akan menguasai Kerajaan Goethe dalam 2 hari saja."


Step, step.


Sesampainya di lantai satu, aku tidak melihat seorangpun dan pergi ke ruang bawah yang merupakan tempat untuk makan. Tapi, itu juga kosong. Kemudian, aku menggunakan skill deteksi ilahi.


'Divine detect.'


Wilayah kesadaran ku meluas dan aku dapat memperhatikan detail-detail yang ada pada jarak 1000 km.

__ADS_1


"Ada apa ini?"


Ternyata, semua orang berkumpul di jalanan dan sebuah kereta kuda lewat.


Di dalam kereta, terdapat tiga orang. Mereka adalah kepala desa, putrinya dan putranya yang merupakan anak pertama sekaligus kesatria bangsawan viscount.


Mereka tampak khawatir dari penglihatan ku yang menyebar. Sebenarnya, aku hendak menyimpulkan sesuatu, tapi karena aku kekurangan informasi, aku kesulitan untuk melakukannya.


Kemudian para warga yang ada di jalanan, mereka berbisik dengan yang lainnya.


"Hei, apa benar mereka pergi ke Baron itu? Bukankah mereka seharusnya pulang besok?"


"Iya, katanya Baron itu hendak menikahi putri kepala desa."


"Apa? Baron baj*ngan seperti dia ingin menikahi kembang desa kita?! Tidak bisa dibiarkan!"


Para warga yang mendengar kabar ini menjadi marah.


"Baron, ya."


Aku mengelus-elus daguku dan berhasil menyimpulkan kejadian ini.


"Sepertinya, Baron yang mereka maksud memiliki watak yang buruk. Ini akan menjadi batu pijakan yang bagus."


Setelah menyimpulkan, aku pergi keluar. Tetapi ...


"Apa ini...?"


Tiba-tiba aku merasakan bangsa iblis yang berjarak 2 km dari desa. Iblis tersebut sedang membicarakan sesuatu dengan seorang manusia.


"Jadi, apa kau bisa melakukannya?"


Seorang manusia bertanya pada seorang dari bangsa iblis. Mereka saling membelakangi dan sebuah pohon besar menengahi mereka.


""Tentu saja, ini adalah hal yang mudah. Tapi, bagaimana dengan janjimu?""


Iblis tersebut membalas perkataan manusia tersebut dengan suara yang mengerikan dan serak.


""Baiklah kalau begitu.""


Iblis terus pergi dan bumi bergetar. Itu adalah hak yang terjadi karena iblis tersebut berbadan besar dan membawa pedang besar di belakang punggungnya.


Manusia yang ditinggalkan, dia mulai membuat senyum yang licik. Kemudian senyumnya mulai berubah menjadi mengerikan. Tapi, itu juga tidak bertahan lama. Ekspresinya menjadi rumit. Ada rasa kebencian dan amarah.


"Awas saja kau, Ghiri!"


Kemudian manusia yang diyakini berjenis kelamin pria tersebut mulai pergi berlawanan dengan arah yang dituju iblis. Iblis tersebut berjalan menuju desa tempat aku menginap, Desa Kotora.


***


Di sebuah ruangan yang gelap dan cahaya tertutupi oleh tirai yang tebal.


"Apa yang harus kita lakukan, Ghiri?"


Seorang pria tua yang rambutnya mulai memutih bertanya pada seorang pria muda berusia sekitar 25 tahun. Pria muda berambut oranye tersebut membalas dengan keraguan.


"Ti-tidak apa-apa. Aku akan menghubungi Tuanku. Mungkin beliau akan membantuku untuk menyelesaikan masalah dengan Baron itu."


"Apa kau bodoh? Bagaimana bisa seorang bangsawan akan membantu kita untuk melawan bangsawan lain? Kita hanyalah rakyat biasa, bukan bangsawan."


Pria tua menegaskan dengan marah.


"....."


Ghiri hanya terdiam. Dia tahu bahwa apa yang dikatakan ayahnya adalah kebenaran. Lalu, seorang wanita yang dari tadi duduk, mulai meminum teh dan berbicara.


"A-ayah, lebih baik aku yang menyelesaikan masalah ini saja. Aku tidak ingin melibatkan para warga dan kalian. Jadi-"


Kalimat wanita tersebut terhenti.


"Apa yang kau katakan?!"


Pria tua tersebut membentak.

__ADS_1


"Kau tau sendiri, 'kan? Baron Deca de Vois baj*ngan itu memiliki sifat yang buruk. Dia telah memperkosa banyak wanita desa yang tidak bersalah sampai hamil dan dibunuhnya. Mana mungkin aku akan menikahkan putriku dengan sampah sepertinya!"


"Ta-tapi, ayah. Itu hanyalah kabar burung saja. Itu belum terbukti benar. Hanya saja ... dia pasti akan membalas orang yang menghalangi keinginannya. Seperti dulu."


Wanita tersebut berkata dengan gemetar karena mengingat masa lalu yang terjadi.


"....."


Pria tua yang merupakan Kepala Desa Kotora dan merupakan ayah wanita tersebut hanya terdiam sambil menggigil. Matanya bergetar ketika matanya yang tajam menatap putrinya. Sama seperti putrinya, dia juga menganga kenangan mengerikan yang terjadi pada desanya.


"Cih!"


Ghiri dan kepala desa menggerakkan giginya.


Sambil membuka sedikit tirai yang menutupi jendela, dia melihat matahari sore dan mengenang bayangan seorang wanita yang sudah tidak jelas wajahnya.


'Sayang, kuharap putri kita, Auna. Dia tidak akan menderita. Semoga kau tetap tenang di alam sana. Kami akan menjaga nya.'


Kepala desa yang bernama, Kapzeth dengan mengenang mendiang istrinya. Matanya mulai basah. Tapi, itu semua masih tergenang di matanya dan akan tetap terbendung sampai dia berhasil membantu putrinya hidup dengan bahagia.


'Kuharap, ada keajaiban yang terjadi.'


Dengan putus asa, dia menatap langit di sore hari dan menutup tirai kembali.


***


"Baiklah, kira-kira kapan iblis itu akan muncul, ya? Kuk! Kukukukukuku!"


Aku menunggu pergerakan iblis dan pasukan yang dia bawa. Pasukannya adalah hewan buas dan monster yang hidup di Hutan Karle.


Di saat yang bersamaan, matahari tenggelam dan iblis tersebut memberi aba-aba untuk bergerak pada pasukannya.


"Semuanya, kita akan pergi ke desa manusia. Kita akan menghancurkan dan memakan manusia yang telah membuat kalian menderita."


"Ooouuuuh!"


"Awwuuuu!"


"Grrrhhh!"


Teriakan para binatang buas dan monster menggema di seluruh hutan. Tapi, itu tidak cukup kuat untuk membuat orang-orang di Desa Kotora mendengarnya.


"Aku, seorang bangsa iblis, ras Green Ogre, Ogen, akan membantu kalian menghadapi manusia-manusia itu!?"


"Ooouuuuh!"


"Awwuuuu!"


"Grrrhhh!"


Teriakan monster, lolongan serigala dan erangan hewan buas bercampur dengan monster, membuat makhluk lemah lain yang tidak ikut menjadi ketakutan. Mereka semua melarikan diri dari pasukan yang dipimpin iblis.


Gluk, gluk, gluk.


Aku berada di ruang bawah tanah penginapan yang merupakan tempat makan dan minum seperti bar. Aku meminum segelas susu putih yang masih hangat entah karena apa. Gelasnya yang terbuat dari kayu, memberi perasaan tersendiri saat meminum air dirinya.


Bug.


"Sudah dimulai, ya."


Gelas yang telah habis ku minum, aku letakkan dengan keras. Tapi, itu adalah hak yang wajar di sini. Jadi, aku melakukannya saja agar terlihat normal dan akhirnya tidak ada yang memperhatikan ku. Tapi, tanpa aku sadari, aku telah menjadi perhatian saat aku memesan segelas susu di sini.


Tapi, itu semua tidaklah penting. Hal itu hanya terjadi sebentar saja. Semuanya menjadi fokus pada hal yang mereka lakukan tadi.


Mereka semua bersenang-senang, bermabuk-mabukan, berjudi dan bercengkrama. Tanpa disadari, bahaya sedang menuju ke arah mereka.


"Huhuhu."


Aku tertawa kecil.


'Bersenang-senang selagi bisa, ya?'


'Itu adalah hal yang cocok untuk mereka.'

__ADS_1


__ADS_2