![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
Beberapa jam kemudian ...
Di sebuah kastil yang sangat besar. Kumpulan awan abu-abu gelap menutupi seluruh langit dan petir-petir terus menggelegar seolah mencambuk awan agar dapat dituntun ke arah yang diinginkan.
Di ruang audiensi, seseorang sedang duduk di singgasana dengan rambut merahnya. Dia tampak sangat bersemangat dengan senyum yang terangkat tinggi.
"Deimos, cari keberadaan 'manusia transenden' Mizan Noura! Aku ingin menemuinya lagi."
Dewa Perang Ares menyuruh salah satu pengawalnya, Deimos sang Teror yang merupakan salah satu anaknya juga. Deimos adalah salah satu anak dari Dewa Perang Ares dan Dewa Cinta atau Kecantikan Aphrodite.
"Baik, Ayah!"
Deimos meninggalkan ruang audiensi dengan segera. Sedangkan para pengawal Dewa Perang Ares yang lain masih berada di sana.
Ares bergumam sambil menyangga kepalanya dengan tangan.
"Noura~ oh, Noura~ Aku tidak sabar dengan pertarungan kita selanjutnya."
Dewa Perang Ares yang dikenal sebagai perwujudan dari haus darah dan pertempuran, sebenarnya mengharapkan pertarungan yang dapat mengeluarkan adrenalin-nya. Dia hanya dapat mengeluarkan adrenalin ketika dia bertarung dengan Mizan Noura sang Manusia Transenden saja.
***
Beberapa jam sebelumnya ...
"Baiklah, aku akan memberimu kompensasi!"
Mizan Noura, gadis manusia yang telah menjadi Transenden dengan kekuatannya sendiri, menjelajahi dunia dewa untuk mencari kebenaran dunia. Dia adalah wanita cantik dengan rambut kuning yang bersinar.
"Kau harus membayar mahal untuk ini, lho."
Zero mengusap darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. Perlahan dan perlahan, tubuhnya mulai pulih karena kecepatan regenerasi yang meningkat berkat naik level.
"Yaa! Tentu, tentu saja."
Noura melipat tangan dengan sombongnya. Kemudian, dia mendatangi Zero yang sedang memulihkan tubuhnya.
"Kamu ... namamu Crhono Zero, benar?" tanya Noura.
"Ya, aku Crhono Zero. Dan kau, Mizan Noura, 'kan?"
"Benar. Baiklah, apa yang kau inginkan sebagai kompensasi?"
Zero melihat tanah sambil memegang dagunya untuk berpikir.
'Hmm ... Benar juga, apa yang kubutuhkan saat ini, ya?'
Ketika Zero sedang berpikir, Balph dan Great Wolf lain datang. Mereka mengejar Zero yang tertabrak oleh Noura.
"Tuan!!" seru Blaph.
"Ah, ada apa?"
Balph tiba-tiba menutupiku dari Noura. Dia mengganggap bahwa Noura itu musuh dan berbahaya.
Zero menenangkannya dengan menepuk tubuhnya.
"Tenanglah, dia bukan musuh."
Balph melirik Tuannya dan diyakinkan.
"Baiklah, Tuan."
Balph mundur dengan menundukkan kepala seolah malu.
"Jadi, apa kau sudah memutuskan?" tanya Noura.
"Hmm ... Baiklah, aku sudah tahu apa yang aku inginkan."
"Apa itu?"
Zero terdiam sejenak untuk memberi suasana yang menegangkan.
"Aku ingin kau menjadi rekanku selama satu tahun."
Noura sang Transenden terkejut mendengar itu. Ekspresinya terdistorsi dengan dipenuhi keterkejutan dan kemarahan.
"Apa kau bilang!? Memangnya kau siapa, hah!? Beraninya kau menginginkan kita sejajar! Kau pikir layak untuk bersanding denganku!?"
Noura merasa harga dirinya terinjak-injak. Memangnya, siapa Crhono Zero? Dia hanyalah Arch human yang baru dia temui. Dari pada bersanding dengannya, bukankah lebih baik menghabisinya saja?
Itulah yang mungkin dipikirkan Mizan Noura. Transenden dikenal karena kesombongan dan harga diri mereka yang tinggi. Namun, keberadaan Transenden bahkan bisa dihitung dengan jari.
Tidak seperti Dewa Olympus yang memiliki 12 Dewa. Bahkan, Zero belum tahu seberapa kuat 'Keberadaan Transenden' dan 'Dewa Olympus'.
Noura menjadi marah karena harga dirinya yang tinggi direndahkan. Dia mengeluarkan semua aura yang dapat mengancam jiwa dan mental. Namun, Zero hanya berdiri di depannya tanpa bergeming dengan tatapan tanpa emosi yang tertuju pada dirinya.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Zero.
"Kuh ...!"
__ADS_1
Noura menyembunyikan kembali aura membunuh dan mengancam. Kemudian, dia menarik nafas dalam-dalam.
"Baiklah, mari aku dengar. Apa alasan aku harus menjadi rekanmu?"
Noura telah mengendalikan jiwa dan emosinya dalam sekejap.
'Seperti yang diharapkan dari Transenden.' gumam Zero dalam benaknya.
Kemudian, Zero membuka mulutnya dengan tatapan tanpa emosi, "'Kebenaran Dunia!'"
"...!"
Noura terkejut mendengar apa yang dikatakan Zero.
"'Kebenaran Dunia', kau bilang?" tanya Noura yang merasa tidak yakin dengan pendengarannya, meski telah menjadi Transenden.
"Ya!" jawab Zero.
"..." Noura terdiam sesaat karena heran.
"Dari mana kau tahu itu?" tanya Noura.
"Yah, itu bukanlah hal yang penting. Jadi, bagaimana menurutmu?" balas Zero.
'Kebenaran Dunia' itu adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan rahasia dunia yang belum diketahui oleh banyak orang. Mungkin, 'Keberadaan' yang mengetahui 'Kebenaran Dunia' hanya berada di angka satu digit. Dan 'Keberadaan' yang mengetahui 'Kebenaran Dunia' pasti menyembunyikan semua hal itu dari 'Keberadaan' lain.
"Hmm ..."
Noura tampak bingung untuk membuat pilihan. Kemudian, dia bertanya, "Sebutkan saja apa alasan kau ingin aku menjadi rekanmu?"
"Baiklah, aku memiliki 3 alasan!" jawab Zero
"Hoo, apa saja itu?"
"Pertama, kau itu kuat. Saat ini, aku mungkin masih lemah. Namun, aku segera akan menjadi kuat dengan kecepatan ekstrem."
Noura mendengus, "Hee, besar omong juga kamu, ya. Baiklah, aku akan menyaksikan pertumbuhanmu."
"Kedua, tujuanmu adalah untuk mengetahui 'Kebenaran Dunia!'"
"Iya, benar."
"Dan yang ketiga, yang terakhir, ini adalah kompensasi untuk perbuatanmu padaku."
"Apa!?"
Zero menepuk tangannya sebagai tanda telah selesai. Kemudian, dia membalikkan tubuhnya dan melihat para Great Wolf yang pingsan akibat aura yang dikeluarkan Noura.
Celana yang dipakai Zero, kini menjadi compang-camping. Dia melihat celananya dan bergumam, "Aku harus membuat pakaian yang kuat."
"Hei, jangan abaikan aku!" seru Noura.
Zero mengabaikan perkataan Noura dan melihat ke langit pagi.
"Berapa lama lagi ini akan berlangsung, ya?" gumam Zero.
***
Beberapa jam kemudian ...
"Hei, Zero, ke mana kita akan pergi?" tanya Noura yang sedang bosan.
"Tentu saja kita akan pergi ke kota!" jawab Zero.
Mizan Noura dan Crhono Zero, sekarang sedang melakukan perjalanan menuju kota terdekat. Zero menjadikan para Great Wolf menjadi item card lagi tanpa diketahui Noura tentunya.
Mereka mendaki Great Mountain Danaus yang sangat tinggi. Akhirnya, mereka sampai di puncak dengan kecepatan yang terbilang lambat.
Noura menggerutu, "Kenapa kita harus mendaki gunung ini dengan jalan kaki, sih? Bukankah kita bisa lompat atau terbang saja?"
Zero memperhatikan Noura yang tampak kesal.
"Yah, aku rasa kau benar. Tapi ..."
"Tapi?"
Zero berhenti sejenak.
'Aku ingin memastikan kepribadianmu dulu, tahu. Mana mungkin aku bekerja sama dengan seseorang yang tidak aku pahami,' pikir Zero.
Zero melihat hamparan hutan, deretan bukit dan juga sungai.
"Tidak, tidak jadi." kata Zero.
"Apa? Ayolah, beritahu aku~!"
Dari perjalanan ini, Zero bisa tahu beberapa hal tentang Noura.
Pertama, Mizan Noura sang Transenden itu ...
__ADS_1
'SEORANG WANITA TUA!! Dia adalah nenek-nenek dengan wujud gadis cantik!' teriak Zero dalam benaknya sambil melirik ke Noura.
"Hm? Ada apa, Zero?"
Zero segera mengalihkan pandangannya ke depan.
"Tidak! Tidak ada apa-apa!"
"Oh, begitu, ya!"
Mereka mulai melihat hamparan hutan lagi.
Hal yang Zero ketahui lagi adalah ...
'DIA BERTINDAK SEPERTI GADIS MANJA! Meski dia sudah tua, dia suka berlaku seperti gadis kecil! Ini sungguh tidak jelas! Aku belum tahu alasan kenapa dia memiliki kepribadian seperti itu!'
"Hm? Ada apa?" tanya Noura yang melihat Zero lagi.
"Tidak, tidak ada!" jawab Zero.
"Ayolah, bisa kau beritahu aku? Tolong, ya~ Tolong~"
Noura memasang wajah memelas dengan polosnya.
'Si nenek tua ini!?'
Zero pura-pura mengabaikan itu. Dia melihat-lihat ke hamparan bukit.
"...!"
Zero memasang ekspresi sedikit terkejut untuk mengalihkan kefokusan Noura.
Noura yang melihat hal itu langsung bertanya, "Ada apa? Apa kau sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Tapi ..."
Zero menunjuk jarinya ke arah sebuah puncak bukit.
"Hm? Ada apa-?!"
Noura juga ikut terkejut.
"Pondok Seni Beladiri!" seru Noura.
"Pondok Seni Beladiri?" tanya Zero sambil memiringkan kepalanya ke satu sisi.
Noura menjawab, "Ya, Pondok Seni Beladiri."
"Pondok Seni Beladiri adalah sebuah pondok atau gubuk yang biasanya digunakan para ahli beladiri untuk mengasah teknik beladiri-nya dan memperoleh sebuah pencerahan," tambah Noura.
"Begitu, ya."
"Namun, aku tidak merasakan seseorang dengan 'Transcendent Senses' milikku. Selain kita dan beberapa Divine Beast rendahan, aku sama sekali tidak merasakan apapun." (Note/Catatan: Transcendent Senses \= indera transenden.)
"Lalu?" tanya Zero.
"Kemungkinan besar, pondok atau gubuk itu sudah ditinggalkan oleh pemiliknya," jawab Noura.
"Jadi, ... akankah kita ke sana?"
"Hmm ... mungkin kita akan mendapatkan sesuatu di sana."
"Baiklah, kita setuju akan ke sana."
Zero dan Noura memutuskan untuk pergi ke Pondok Seni Beladiri di puncak sebuah bukit.
"Aku duluan, ya~"
Noura langsung terbang melesat dengan cepat dan meninggalkan Zero.
"Aishh~ Si nenek gadis itu. Dia benar-benar bersemangat sekali, ya."
Kemudian, Zero juga ikut terbang mengikuti Noura, meski lebih lambat darinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai, readers!
Terimakasih kepada kalian karena telah membaca karyaku yang berjudul "Supreme World's System" ini.
Saya sebagai Author ingin meminta saran.
Kalian lebih suka:
•Kebenaran Dunia atau The World Truth?
•Pondok Seni Beladiri atau The Martial Arts Shack?
Saya tunggu jawaban kalian di komentar, ya~
__ADS_1