![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
"Ayo, ayo~ Kalian harus membujuk warga desa yang lain. Jika tidak, terpaksa aku harus menggunakan kekerasan dan mengusir kalian, lo."
Aku mengancam Auna dan keluarganya untuk segera menuruti perintah ku. Sebenarnya, apapun keputusannya, aku tetap akan menyuruhnya untuk meyakinkan warga desa untuk menjadikan Desa Kotora sebagai daerah kekuasaan ku. Jika dia tidak ingin memenuhi syarat, aku tinggal menyuruh keluarganya untuk meyakinkan warga desa.
"Ba-bagaimana ini?"
Auna tampak sedih dan menyesal. Dia melirik ayahnya yang telah pulih dari pertarungan.
Ghiri segera memahami situasi dan menghibur adiknya, Auna, dengan berkata, "Tidak apa-apa, keputusanmu tidaklah salah. Jika kau tidak menerima bantuan 'orang itu', ayah mungkin telah tiada. Jadi, jangan berkecil hati. Keputusanmu mungkin tergesa-gesa, tapi itu adalah keputusan yang benar."
Auna diyakinkan dan wajahnya tampak sedikit cerah kembali.
"Terimakasih, kakak."
Kapzeth yang diam terduduk mulai berdiri dan menghampiri kedua anaknya.
"Tapi, masalahnya adalah bagaimana kita akan mengambil keputusan? Haruskah kami menjadi budak orang itu?"
Keluarga Kapzeth melirik ke arah ku. Aku melihat mata mereka yang seolah-olah bertanya, 'Apakah orang ini dapat dipercaya?'
Lalu aku berkata, "Hei, aku hanya akan memberi waktu satu menit saja untuk kalian, ya."
"Baik!"
Lalu aku melanjutkan, "Dan juga, aku akan menjawab semua pertanyaan yang kalian ajukan kepadaku dalam waktu 30 detik saja."
"Apa? Benarkah?"
Orang-orang itu tampak senang dan mulai mengajukan pertanyaan. Banyak pertanyaan mereka yang merupakan hal yang berhubungan dengan keselamatan warga desa, bukannya diri mereka sendiri.
"Baiklah, aku akan menjawabnya. Semua warga desa memiliki kebebasan, tapi kriminalitas itu dilarang. Peraturan akan ditegakkan, sedangkan orang yang melanggar hukum atau aturan akan diberi sanksi yang sesuai dengan perbuatannya. Apa ada lagi?"
Mereka mulai mengerti dan Kapzeth bertanya kepadaku.
"Lalu, bagaimana jika Kerajaan Goethe menyerang kita? Bukankah sama saja kami akan mati jika bersama dengan Anda?"
"Kuk, kukuku. Dasar bodoh, kau pikir apa alasan aku berani mengambil desa kecil ini, hah?"
Kapzeth memahami perkataan ku seperti tersambar petir dan dalam hatinya mungkin berpikir, 'Apakah orang ini akan memberontak dan mengambil alih Kerajaan Goethe?!'
"Baiklah, saya tidak akan meragukan perkataan Anda."
Mereka tidak menanyakan soal kekuatan yang aku miliki untuk menguasai Kerajaan Goethe. Karena, mereka sudah tahu bahwa kekuatan sangat besar. Memangnya, bagaimana ada manusia yang dapat membuat salah seorang Bangsa Iblis yang perkasa tertegun dan mentalnya hancur?
Itu semua telah membuktikan nilai dari kekuatanku. Memang, keluarga mereka memiliki kecerdasan dan kebaikan yang luar biasa. Jika orang lain yang melakukan hal itu, mungkin saja orang tersebut hanya bertanya tujuan, kekuatan dan berbagai pertanyaan tidak berguna.
"Baiklah, pertanyaan terakhir."
__ADS_1
Kapzeth hendak menanyakan pertanyaan terakhir dalam detik-detik akhir.
"Siapa And-"
Kalimat Kapzeth terhenti karena ucapan ku yang mendadak dan keras.
"Waktu habis!"
Pertanyaan terakhir yang paling penting telah hilang beserta jawabannya. Lalu aku berkata, "Cepat, setengah menit lagi kau harus membuat keputusan."
"Ba-baiklah."
Mereka menjawab dan aku tinggalkan untuk berdiskusi. Aku menggunakan cara dimana menggunakan kepala desa yang sangat dihargai dan dicintai warganya untuk meyakinkan warga desa. Sebenarnya, aku ingin berpura-pura menjadi pengembara yang tinggal dan menetap di desa sampai banyak orang-orang mempercayai ku. Kemudian aku menggunakan kepercayaan mereka untuk melanjutkan skenario di mana aku dapat menguasai desa ini.
Tapi, yah, aku harus cepat-cepat. Aku harus pergi kembali ke Kastil Raja Iblis dan melakukan penyerahan kekuasaan wilayah dan harta Raja Iblis Margus. Itulah alasanku untuk pergi ke sini selama tiga hari. Aku sudah menetap di sini selama satu hari dua malam.
Itu semua terjadi pada kemarin sore, aku baru saja tiba di Desa Kotora. Waktu 3 hari, itulah batas waktu aku untuk menguasai Kerajaan Goethe sebagai tantangan diri saja.
alasannya
'Kurasa, besok aku harus pergi ke Ibukota saja. Yah, ternyata ini tampak membosankan.'
Aku berbicara pada diri sendiri. Kemudian, melanjutkan dengan nada yang rumit. Baik itu perasaan yang terkandung dalam kalimatnya ataupun emosinya, 'Sial, seharusnya aku memiliki emosi. Aku sama sekali tidak dapat merasakan rasa makanan dan tidak dapat merasakan sedih ataupun marah.'
Tanpa terasa, setengah menit telah berlalu dan keluarga Kapzeth menghampiriku. Wajah mereka tampak serius dan Kapzeth berbicara sebagai perwakilan.
Suasana mulai tegang, termasuk Orgen yang mentalnya jatuh. Yah, meski Orgen tegang karena alasan lain.
"... Kami tidak akan pernah menggunakan warga desa sebagai alasan kami diselamatkan."
"..."
Untuk sesaat, keheningan berlangsung. Keheningan terpecah setelah aku menjawab dengan nada yang terbilang dingin.
"Begitu, ya."
"Eh?"
Auna, Ghiri dan Kapzeth bingung. Mereka bertanya-tanya dalam benaknya, 'Ada apa dengan orang ini?'
Kemudian aku melanjutkan dengan perkataan yang dingin, namun sarkastik.
"Yah, kalian tahu. Aku tidak peduli dengan keputusan kalian. Pada akhirnya, semua akan sama saja. Entah kalian memilih mengorbankan diri sendiri, ataupun memenuhi syarat."
"Apa?!"
Mereka bertiga bingung dan aku menjelaskannya tanpa basa basi.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kalian sebagai orang yang berpengaruh agar dapat meyakinkan warga desa saja. Aku tahu, semua warga sangat menyayangi kalian. Bahkan mereka rela mati untuk kalian."
'Apa-apaan orang ini?! Rencananya sangat menghancurkan keputusan kami untuk mengorbankan diri sendiri. Ini benar-benar percuma.'
Mereka bertiga terkejut dengan perkataan ku. Mereka baru sadar kalau semua keputusan yang mereka pilih akan berakhir pada hasil yang sama.
'Dasar orang-orang bodoh, kalian pikir hanya itu rencana ku? Aku bisa saja menghipnotis kalian, lo. Tapi, yaa, itu tidak menarik.'
Mereka pun mengubah keputusan dan memilih untuk meyakinkan warga desa. Setelah warga desa dipanggil oleh Kapzeth dari tempat mereka bersembunyi, Kapzeth mengumpulkan mereka di gerbang barat desa.
Tempat dia melawan Orgen sang iblis dari ras Green Ogre. Warga desa yang tiba di sana terkejut, ketika melihat seorang iblis yang yang berdiri dengan lutut yang jatuh ke tanah.
Kondisinya terbilang mengerikan. Keringat dingin yang keluar, air mata yang mengalir dan ingus yang keluar hingga mencapai mulutnya.
Itu semua tampak mengerikan, tapi yang lebih mengerikan bagi mereka adalah luka-luka di perut Orgen yang bergerak-gerak untuk beregenerasi. Cukup untuk membahas Orgen.
Kemudian, Kapzeth menjelaskan situasi yang terjadi kepada warga desanya. Dia menceritakan semua hal yang terjadi tanpa menutup-nutupi satu hal pun, hingga detail kecil sekalipun. Tidak lupa, dia juga memperkenalkanku kepada warga desanya.
Tapi, tidak semudah itu warga desa percaya. Mereka mungkin mempercayai Kapzeth dan keluarganya, namun tidak denganku. Mereka mempertanyakan tentang kekuatan. Itu adalah hal yang diharapkan dari orang biasa.
Mereka tidak memperhatikan hal kecil, seperti penyebab iblis tersebut dalam kondisi yang mengenaskan. Tapi, Kapzeth langsung menjawabnya. Kepercayaan pun mulai meningkat. Namun, pertanyaan baru muncul lagi.
"Pak Kepala Desa, bagaimana dengan cara kita untuk melawan pasukan yang dikatakan sebagai 'pahlawan' itu? Rumornya, para 'pahlawan' itu berasal dari dunia lain."
Kepercayaan akan kekuatanku pun mulai menurun. Kapzeth kesulitan dalam membalasnya. Ternyata, belum ada berita tentang kekalahan 'para pahlawan' dalam penyerbuan yang dilakukan iblis di Hutan Melris.
Tanpa mendengarkan ocehan warga, aku langsung menggunakan sihir penciptaan untuk membangun kembali gerbang desa dan lantainya. Rumah-rumah yang sedikit hancur karena serpihan benda yang terbang pada pertarungan Orgen dan Kapzeth.
Semua orang terpesona dan mereka langsung percaya. Memang, mereka adalah orang yang bodoh, tapi berkat itu juga aku dapat dengan cepat menguasai Desa Kotora.
Meski begitu, pengambilan wilayah ini tidak resmi. Bisa dibilang ini adalah pemberontakan. Biasanya, untuk mengambil suatu wilayah sebuah kerajaan, kerajaan lain harus berperang dan menandatangani perjanjian serta penyerahan atas wilayah yang bersangkutan.
Dalam kasus ku, pengambilan wilayah ini sama saja dengan sebuah pemberontakan. Tapi, siapa yang peduli?
Di malam itu juga.
"Baiklah, cukup sekian. Aku pergi dulu. Aku akan pergi ke ibukota dan mengambil alih kerajaan."
"Apa?!"
Semua orang terkejut dan aku pergi menghilang seperti menggunakan teleportasi. Aku pergi setelah menjelaskan peraturan di bawah kekuasaan ku. Dan dengan begitu, aku telah mengawasi satu desa Kerajaan Goethe (belum resmi) dan Benua Karazbiz (belum resmi/belum dipublikasi.)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saya ucapkan terimakasih kepada para pembaca novel 'Supreme World's System.'
Jika ada kata yang kurang berkenan atau melukai hati Anda sekalian, saya mohon maaf.
__ADS_1
Silahkan berkomentar jika ada hal yang ingin ditambahkan sebuah alur atau plot yang menarik menurut Anda.