![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
350.000 prajurit berbaris, bersiap menghadang invasi Kekaisaran Selestial.
350.000 prajurit tersebut adalah pasukan gabungan dari dua negara bawahan Kekaisaran Paliji dan Kekaisaran Paliji itu sendiri.
Dengan kecepatan transportasi pada zaman itu, tidak heran untuk mengirimkan banyak orang sekaligus dalam waktu singkat. Mereka mendirikan perkemahan di luar Kota Hiera, tempat Zero berada saat ini.
"Whoaa~ Pemandangan yang menakjubkan."
Pada saat ini, Zero sedang berada di ujung sebuah menara di istana Kekaisaran Paliji. Tidak ada yang menyadarinya.
Lampu-lampu bercahaya dari api unggun dan obor di perkemahan mengingatkan Zero pada langit berbintang yang saat ini ada di atasnya.
"Seperti yang aku duga, ini tempat yang cocok untuk menyaksikannya."
Zero berdiri dengan kakinya bertumpu pada ujung menara seruncing jarum, sementara tangannya berada di atas matanya sambil melihat hamparan padang yang diisi 350.000 prajurit.
"Kalau aku tidak salah, menara ini adalah milik seorang pertapa legendaris. Namanya adalah … um … aku pikir aku belum pernah mendengarnya. Akan kucari tahu nanti."
Setelah Alexander menerima kabar dari Hagle, dia memulai invasi dengan sangat cepat. Dalam satu hari, itu sudah mencapai Kota Hiera ini.
Tentu saja, berita itu tidak dapat disembunyikan dan para warga mengetahui hal ini, menyebabkan kekhawatiran yang tidak perlu. Setelah mendengar tentang hal ini di penginapan, Zero langsung pergi menyelinap dan sekarang berada di sini.
"Hmm, aku berniat untuk mengambil item yang Mr. X maksud malam ini, tapi … aku akan memanfaatkan kekacauan esok hari untuk menyelinap ke ruang harta istana ini."
Zero mengalihkan pandangannya ke bangunan megah di sampingnya.
"Hm? Tunggu, apa itu?"
Tepat saat Zero hendak pergi dari tempatnya, dia tertarik pada suatu tempat di mana ruangan masih menyala. Begitu dia melompat ke atap ruangan tersebut, kemudian merayap ke dekat jendela, Zero mengintip melalui jendela dan mulai mendengarkan percakapan di dalam.
"Ahn … begitu besar … ahn … Pangeran Greif … lebih keras lagi!"
"Fufufu, baiklah, rasakan ini, Fittoria!"
Suara tamparan daging basah lengket dan erangan yang erotis terdengar dari dalam ruangan. Zero juga melihat sepasang manusia sedang membantu ras manusia dalam rangka mencegah kepunahan.
Zero terdiam beberapa saat, kemudian bergumam pada dirinya sendiri, "… Umm, kupikir lebih baik aku pergi sekarang."
Suara di dalam ruangan semakin intens saat Zero memutuskan untuk pergi.
"Ugh, aku keluar, Fittoria! Uooh!"
"Keluarkan, keluarkan di dalam diriku!"
Tangan dan kaki wanita itu mengunci pria di atasnya ketika raungan duniawi memenuhi ruangan. Jelas, sang laki-laki telah menanam benihnya di lahan sawah yang subur.
Akhirnya, mereka berpisah dan berbaring di tempat tidur dengan sang wanita menjadikan tangan pria sebagai bantal.
"Sepertinya ini adalah sesi obrol ranjang yang pernah aku dengar itu," gumam Zero.
"Tunggu, kenapa aku belum pergi?"
Tidak apa-apa, kali ini Zero hanya menguping. Dia tidak mengintip.
Kedua pasangan itu bernafas kasar dan tubuh mereka berkeringat. Wanita bernama Fittoria memainkan jari-jarinya ke dada sang pria.
"Jadi besok, ya."
"Iya," jawab sang pria.
'Mungkin mereka membahas pertempuran esok hari,' pikir Zero.
Fittoria mulai menatap sang pria dan sang pria balas menatap Fittoria. Keduanya saling menatap selama beberapa detik. Jelas, Zero tidak tahu apa yang mereka lakukan.
'Ada apa ini? Kenapa tidak ada pergerakan?' tanya Zero dalam hati.
Ketika dia hendak mengintip lagi, Fittoria mulai berbicara.
__ADS_1
"Pangeran Greif, aku tahu kamu kuat. Tapi berhati-hatilah di medan perang. Segala macam sesuatu dapat terjadi di sana."
Pangeran Greif menggenggam tangan Fittoria dan berkata, "Kamu tenang saja, Fittoria. Aku akan membawa kemenangan dan membawa prestasi yang cukup untukku menjadi kaisar selanjutnya. Dengan begitu, kau akan benar-benar menjadi milikku."
Mendengar hal ini, Zero mengingat beberapa hal.
Pangeran Greif adalah putra pertama Kaisar Eude, tapi dia bukanlah putra mahkota.
Putra mahkota dipilih melalui pangeran atau putri dengan pemilik Energi Kuning terkuat.
Tapi, Zero mendengar bahwa pemilik Energi Kuning terkuat yang menjadi kandidat selanjutnya adalah seorang gadis. Kalau tidak salah, itu adalah putri ketiga. Namanya adalah Imirie.
Sementara itu, Pangeran Greif berada di posisi kedua sebagai kandidat. Dengan situasi itu, dia tidak akan bisa menjadi Kaisar selanjutnya.
Dan untuk wanita itu ….
"Hm, aku belum pernah mendengar namanya."
Zero memulai pengecekan status dan latar belakang gadis bernama Fittoria.
"Hooh, jadi dia adalah selir Kaisar Eude IV saat ini. Fufufu, sungguh menggelikan. Anaknya menggunakan barang bekas ayahnya. Yah, aku merasa sedikit kasihan pada Pangeran Greif itu juga."
Dari penilaian Mystery Appraisal, Zero menemukan bahwa Fittoria dan Pangeran Greif adalah teman masa kecil yang tumbuh bersama.
Mereka juga menumbuhkan perasaan suka satu sama lain, seiring berjalannya waktu. Tapi tanpa disangka, ayah Pangeran Greif, yaitu Kaisar Eude IV merobek selaput dara Fittoria dan kemudian menjadikannya selir.
Pangeran Greif sangat marah, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, menyebabkan dirinya menyimpan dendam terhadap ayahnya sendiri.
Pada suatu hari, dimulailah perselingkuhan dua orang itu.
"Sungguh pasangan selingkuh. Ya ampun, ya ampun, aku lebih baik pergi sekarang."
Zero menggelengkan kepalanya dan terkekeh dengan hubungan pasangan tadi.
Setelah itu, Zero pun terbang dengan menggunakan skill kamuflase.
"Um? Ada yang tidak beres."
Dia berhenti dan memeriksa tubuhnya.
"Oi, oi, yang benar saja. Apa aku terangsang oleh mereka?"
Di selangkangannya, sesuatu menonjol dan tampak berkedut. Dia memeriksa lebih cermat lagi.
Darah naik ke area batang daging yang pembuluh darahnya membengkak.
"Tunggu, ada yang salah di sini."
Zero merasa sedikit panik.
"Aku tidak bisa mengendalikan hormonku!"
Biasanya, Zero bisa mempengaruhi dan mengendalikan segala sesuatu yang ada di tubuhnya. Contohnya adalah meningkatkan detak jantung tanpa melakukan gerakan tubuh, mengeluarkan hormon sesuka hati dan lain-lain.
Anehnya, kali ini dia tidak bisa mengendalikan aliran darah, detak jantung dan juga hormonnya.
Pikirannya juga menjadi terdistorsi, karena hormon yang keluar menyebabkan libido muncul. Bayangan dan imajinasi berbagai hal vulgar muncul di dalam benaknya dengan jelas.
"Ugh, ini tidak baik."
Zero berusaha menjernihkan kepalanya dari hal-hal kotor.
"Benar juga, aku bisa menggunakan Energi Sihir."
Terpikirkan oleh ide tersebut, Zero mengalirkan Energi Sihir dari tangannya ke selangkangannya. Dia berusaha memanipulasi pembuluh darah pada alat kelaminnya agar menyempit serta mengendalikan aliran darah di sekitarnya.
Beberapa saat kemudian—
__ADS_1
Tidak berhasil.
"Kenapa tidak bisa!?" Zero berteriak dengan frustasi.
Energi Sihirnya memang memasuki aliran darah dan ***********, tetapi entah kenapa Energi Sihirnya tidak menghasilkan apapun.
"… Seperti dinetralisir, atau memang tidak bekerja."
Sistem saat ini dalam proses penyerapan dunia ini sehingga dia tidak bisa meminta bantuan pada Sistem.
"Argh, terserahlah. Aku akan mencari solusinya nanti. Lagipula, besok pasti kembali normal."
Frustasi, Zero menyerah dan kembali penginapan.
"Mereka pasti menungguku," gumam Zero saat kembali ke penginapan dari jendela.
Zero dan yang lainnya menyewa tiga kamar.
Masing-masing kamar memiliki sepasang tempat tidur. Zero sekamar dengan Zeus, Barosa dengan Balph, sementara Viona sendirian.
Setelah beberapa hari dikeluarkan dari Sealing Servant, Viona belum pernah tidur, sama seperti Zero.
Zeus dan Barosa juga sama, sedangkan Balph langsung tidur seolah tidak peduli dunia.
Saat malam hari, Viona biasanya meneliti tanaman herbal dan racun yang berasal dari dunia ini. Barosa biasanya belajar Formasi Sihir yang diajarkan Zeus, sementara Zeus sendiri biasanya berbincang-bincang denganku.
"Oh, Tuan. Anda kembali."
Zeus tiba-tiba muncul dari lorong World Domain-nya dan menyapa Zero.
"Iya, ngomong-ngomong, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan malam ini."
"Tentu, Tuan."
Zeus duduk di kasur.
"Apa yang akan kita bicarakan hari ini?"
"Hmm, aku pikir ini tentang masalah pribadi."
Sebelum itu, Zero memeriksa sekitar, adakah orang yang menguping atau tidak.
Setelah memastikan, Zero berbicara pelan, "Bisa kau membuka portal ke World Domain-mu? Umm, ini sedikit rahasia."
"Hm? Baiklah, sesuai keinginanmu."
Zeus agak bingung pada awalnya, tapi dia segera mengikuti keinginan tuannya.
Zero dan Zeus memasuki World Domain yang terpisah dengan dunia ini.
Di kamar sebelah, seorang gadis menempelkan telinganya ke dinding.
"Mencurigakan sekali. Apa yang dibicarakan master sampai-sampai menjadi rahasia seperti itu."
Gadis cantik itu, Viona menggembungkan pipinya dengan kesal dan melanjutkan penelitiannya.
...◆◆◆...
Tekan like jika kamu suka cerita ini.
Tekan love jika kamu suka novel ini.
Dukung author dengan vote dan hadiah.
Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.
Terimakasih
__ADS_1