[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 22 ~ Kekuatan Water Bender


__ADS_3

Para malaikat yang menerima perintah dari Dewa Karaztam, Barosa. Mulai menyerangku dengan kekuatan penuh mereka.


"Light Arrows!!"serang malaikat biasa.


"Holy Light Spear Explode!"serang malaikat biasa.


"Light Ball Explode!"serang Suriel.


"Golden Light Arrows!"serang Huriel.


"Infinite Light Holy Arrows!"serang Keriel.


"Dragon Light, Claws!"serang Teriel.


"Golden Dragon Light, Roar!"serang Bariel.


Serangan mereka dikeluarkan secara bersamaan yang membuat serangan mereka menjadi satu dan membentuk naga yang hendak memakanku.


*Roaaaar


"Ke huhuhu, apa hanya segini saja serangan terkuat kalian? Jika seperti ini, aku dapat mengalahkannya dengan mudah!"ejek aku pada para Malaikat.


"Dasar sombong! Kau akan merasakan akibatnya, karena telah mengganggu rencana tuan kami!"balas salah satu malaikat.


*Roaaaar


"Huh! jika hanya ini, kekuatan yang kalian punya, maka aku tidak perlu menggunakan teknik bela diri ku. Aku hanya perlu memukulnya saja!"


*Kabooom


Naga emas yang akan menyerangku, seketika menjadi hilang karena terpukul olehku.


'Kekuatan serangannya mencapai lima juta, kah? Yah, lumayan juga. Tapi, ini adalah hal yang buruk jika dilakukan bersama-sama. Jika saja, hanya satu orang yang dapat melakukannya, maka serangan tadi adalah hal yang hebat!'pikirku dalam batin.


"Apa?! Mustahil, bagaimana mungkin kau dapat selamat dari serangan kami?!"ucap Bariel dengan terkejut dan tidak mempercayai apa yang mereka lihat.


"Sudah waktunya, kah! Aku tidak boleh buang-buang waktu lagi! Saatnya serius!"ucapku.


*Whooosh


Saat malaikat sedang terkejut, aku langsung berlari dengan kecepatan sekitar ¾ dari kecepatan cahaya.


*Bug... Bug...


*Clark...


*Bam...


"Ugh, Aaaargh!?"


Para malaikat aku pukul dengan cepat sebelum mereka sadar kalau aku sudah membunuh mereka. Suara tulang retak terdengar saat aku memukul mereka dan suara saat tubuh mereka terhantam ke dinding.


*Splat... Splat...


*Sring


*Wsssss...


Darah keluar saat aku memukul mereka pada bagian kepalanya sampai hancur hanya dengan satu pukulan. Dengan tanganku yang keras, aku memotong kepala Bariel, Keriel dan Huriel sehingga darah keluar dengan deras saat kepalanya terpotong.


*Thud... Thud...


Suara jatuh tubuh malaikat yang terbunuh saat terbang di udara. Mayat mereka pun mulai menjadi partikel cahaya yang mulai membentuk Card Item.


"Turun juga kalian. Baiklah, apa yang akan kamu lakukan sekarang, Barosa ?!"tanya aku sambil menyeka darah yang telah berlumuran di topengku.


"...!?"


Barosa yang melihatku, masih tidak membalas perkataanku. Namun, tiba-tiba...


*Bam


"Huh! Apa hanya segini kekuatanmu? Sangat mudah sekali membereskanmu!"ujarku sambil menahan serangan Dewa Barosa.


Dia menyerangku dengan tangan kanan dan sangat cepat. Meski, kecepatannya lebih rendah dari milikku, dia lawan yang cukup tangguh.


"Hmmm, aneh sekali, ya! Bagaimana bisa kau sama sekali tidak berbicara dan menampilkan emosi?" tanyaku pada Barosa.


"... "


"Apa mungkin... kau bukan Barosa?!"


...................

__ADS_1


Di tempat lain, di Ibukota Kerajaan Goethe...


"Kyaaak!?"


Dengan kecepatan terbang yang dimiliki Hagle, sekarang dia telah tiba di Ibukota Kerajaan Goethe.


'Akhirnya, aku sampai ke tempat dimana orang-orang yang Tuan minta aku awasi!'gumam Hagle dalam hati.


Setelah melawati jalanan dan rumah-rumah di Ibukota, Hagle sampai di area Istana kerajaan.


Kemudian, dia berhenti dan bertengger di sebuah pohon yang berada dekat dengan lapangan tempat latihan para manusia dunia lain.


Di sana, Hagle mengawasi mereka dan melihat Ayane Sasane yang sedang berlatih menggunakan sihir dengan menyerang target latihan. Dia menggunakan pakaian khusus seperti pakaian yang ada di Akademi Sihir dengan membawa tongkat sihir.


"Magic Skill, Rock Cannon!!"


*Bam


Target yang terbuat dari potongan pohon yang ditebang menjadi hancur berkeping-keping.


Dengan bantuan tongkat sihir yang panjangnya sekitar 35 cm dengan batu sihir berwarna merah di ujungnya, Ayane mengumpulkan energi sihir dari tubuhnya ke batu sihir dan mengumpulkannya.


Pada umumnya, sihir terjadi karena energi sihir yang dikeluarkan akan dikelola oleh imajinasi dengan merapal mantranya dari pengguna. Namun, jika orang yang sudah menggunakan sihir berkali-kali sampai menjadi terbiasa, maka orang tersebut akan mendapatkan magic skill tersebut. Sehingga, orang tersebut akan langsung dapat menggunakan sihir tanpa merapal mantra dan imajinasi akan langsung terbuat dengan otomatis.


"Huff... huff... Akhirnya aku menguasai sihir ini. Tapi, ini semua belum cukup!" ucap Ayane sambil menyeka keringat dengan handuk kecil berwarna putih di bahunya.


"Para Iblis itu sangatlah kuat, aku harus meningkatkan statistik dasarku dengan latihan dan aku akan menaikkan level saat aku telah menguasai banyak sihir serangan yang mematikan!" ujar Ayane sambil memandangi tangan kanannya yang masih gemetar. Dia merasa marah sekaligus takut karena kematianku sebagai Murata Manabe dan kekejaman Bangsa Iblis yang membunuh Murata Manabe dan membantai para kesatria serta teman sekelasnya.


"No-nona penyihir, bukankah anda terlalu berlebihan? Anda harus beristirahat terlebih dahulu. Jika Anda terus memaksakan diri untuk berlatih, bisa-bisa tubuh Anda tidak dapat menahannya, lho!" ujar seorang pelayan yang mendatangi Ayane.


"Aku, tau itu... tapi... jika aku tidak berlatih dengan keras aku tidak akan menjadi kuat. Dan lagi, aku sendirilah yang mengetahui kondisiku dengan baik" balas Ayane.


"Baiklah, kalau begitu. Tapi, Anda harus beristirahat terlebih dahulu, agar Anda dapat berlatih dengan mudah lagi" saran pelayan tersebut.


"Baiklah, kalau begitu!" balas Ayane yang menyetujui saran pelayan tersebut.


Ayane dan sang pelayan pun pergi dan beristirahat.


Di lain sisi...


Hagle melihat Sang Pahlawan, Masaki Toiko yang sedang berlatih dengan mengayunkan pedang yang panjang dan besar. Dia berlatih terus seperti Ayane, namun penyebabnya berbeda dari Ayane.


Dia berlatih untuk menjadi kuat demi Tuan Putri Pertama yang bernama Malsi von Goethe yang berada di sampingnya dengan membawa sebuah handuk kecil. Malsi von Goethe adalah putri pertama Kerajaan Goethe, namun karena dia adalah seorang perempuan, dia tidak akan menjadi pewaris tahta.


"991, 992, 993 ... 1000!" hitung Masaki Toiko berapa banyak ayunan yang telah dilakukannya.


"Haah, haah, akhirnya ... haah ... aku bisa mengayunkan pedang besar ini sebanyak seribu kali, haah!" kata Masaki Toiko dengan terengah-engah sambil mengelap keringat diwajahnya.


"Yeaayy! Selamat, ya Tuan Pahlawan! Akhirnya Anda berhasil mengayunkan pedang besar itu seribu kali. Biarkan saya bantu Anda untuk mengelap keringat Anda dengan handuk ini!" ujar Malsi dengan gembira.


"Ah?! Ya, tolong bantuannya, kalau begitu!" balas Masaki dengan sedikit tersipu malu.


"Tentu saja, tapi jangan sungkan untuk memberitahu saya apa yang Anda inginkan!" ucap Malsi dengan senyum manis.


"A-ah! Ba-baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi istirahat terlebih dahulu!" balas Masaki Toiko dengan terbata-bata dan bertambah malu.


"Bolehkah saya menganta-... " ucap Malsi terhenti.


*Boom


Tiba-tiba, suara ledakan yang besar terdengar di tengah-tengah lapangan latihan istana.


"Hah?! Suara apa itu?" teriak Masaki Toiko dengan ekspresi terkejut.


Suara ledakan keras yang terjadi di lapangan latihan, terdengar oleh semua orang yang berada di istana Kerajaan Goethe termasuk orang-orang yang berada di Ibukota kerajaan.


Ledakan tersebut menjadi seperti gempa bumi dengan skala sekitar 6 skala richter. Gempa tersebut membuat retakan besar yang menjalar ketempat lain seperti tanaman rambat.


*Kretek... Kretek...


Ayane dan Masaki yang hendak pergi beristirahat, mereka langsung lari pergi ke tempat ledakan berasal.


Merekapun bertemu dan berkumpul. Debu tanah dan pasir yang menutupi sumber ledakan, membuat Ayane dan Masaki saling bertanya.


"Apa kamu tahu sesuatu tentang ini, Ayane?" tanya Masaki pada Ayane yang sudah tiba di lokasi terlebih dahulu.


"Tidak, tapi ledakan ini mungkin disebabkan oleh bangsa iblis. Jadi, kita harus bersiap-siap menghadapinya bersama-sama!" jelas Ayane dengan tambahan saran.


"Baiklah, kalau begitu. Apa manamu masih banyak?" balas Masaki sambil menyiapkan kuda-kuda dan bertanya balik.


"Tenang saja! Saat perjalanan aku sudah mengkonsumsi tiga botol mp potion. Sekarang, manaku ada 300 %! Bagaimana denganmu?" jelas Ayane dan bertanya balik sambil menyiapkan tongkat sihirnya.


"Ya, aku juga sama sepertimu. Aku sudah meminum ramuan pemulih stamina saat berlari ke sini" balas Masaki.

__ADS_1


"BAIKLAH KITA MULAI!" teriak Ayane dan Masaki bersama-sama.


Diameter ledakan yang terjadi sekitar 100 meter dan seluruh debu pasir menutupi area tersebut.


Secara perlahan, debu-debu pasir mulai tersingkir dan bayangan raksasa mulai terlihat dengan posisi sedang mulai berdiri dari posisi jongkok.


Di sisi lain...


Aku yang merasa ada yang aneh dengan Dewa Barosa, mulai mengeluarkan skill yang berasal dari job Water Bender.


"Uniqe Skill : Water Control!!"


Karena tubuh Dewa Barosa memiliki darah, aku menggunakan Uniqe Skill : Water Control untuk mengkontrol sirkulasi darah dan bentuknya agar tubuhnya menjadi rusak dari dalam. Sehingga kecepatan regenerasi tubuhnya tidak dapat mengimbangi kerusakan yang dialami pada tubuh.


Seketika, darah Barosa yang kukontrol dikeluarkan semua dengan bentuk seperti duri yang padat.


*Sruk


Namun, itu semua belum membuatnya mati. Barosa yang tersungkur, hendak berdiri tanpa menjerit kesakitan. Saat itulah, aku menguras habis darahnya dengan mengeluarkannya dan mengumpulkannya membentuk sebuah bola darah.


Tubuhnya mulai layu dan mengering bagaikan jeruk yang diperas hingga kering. Tubuhnya menjadi gemetar tak kuasa untuk bergerak.


Sedikit demi sedikit, hp yang tadinya 10 juta, menjadi 10,000 dan terus berkurang. Sampai akhirnya, darahnya telah terkuras habis, iapun mati dalam keadaan mengenaskan.


Tubuhnya yang semula sangat sempurna, kini menjadi tubuh layu dan kering. Tinggal daging dan tulang saja yang tersisa di tubuhnya. Meskipun aku bilang begitu, daging merupakan bagian tubuh yang mengembang karena adanya darah. Jadi, dagingnya terlihat sedikit.


...[ SELAMAT ANDA TELAH MEMBUNUH GOLEM HIDUP BUATAN DEWA BAROSA ]...


...[ ANDA MENDAPATKAN 10,000 POIN SYSTEM ]...


...[ ANDA MENDAPATKAN 700 MILYAR POIN EXP ]...


...[ POIN EXP TELAH MEMENUHI BATAS ]...


...[ ANDA LEVEL UP ]...


...[ ANDA LEVEL UP ]...


...[ ANDA LEVEL UP ]...


...[ ... ]...


Suara pemberitahuan system memenuhi seluruh pendengaranku.


"Cih, merepotkan sekali suara ini! Bisakah aku membuatnya dimatikan suaranya?" keluh aku.


...[ MAAF, LEVEL SYSTEM BELUM MEMENUHI SYARAT ]...


...[ DISARANKAN UNTUK PENGGUNA AGAR MENAIKKAN LEVEL SYSTEM TERLEBIH DAHULU ]...


"Haah ... sudah aku duga sih! Baiklah mari kita lihat, dimana ... Barosa yang asli saat ini?!"


*Thud...


'Huh?! Apa ini? Apakah Hagle memanggilku lagi?' tanyaku dalam batin.


'Tuan!!' panggil Hagle dalam pikiran.


'Hah? Hegle, kah? Ada apa?' tanyaku.


'Gawat, Tuan! Situasi di Kerajaan Goethe saat ini sangat mendesak! Aku merasakan keberadaan seseorang yang sangat kuat! Saat ini ... dia sedang berada di lapangan latihan istana*!' jelas Hagle dengan gugup.


'Oh, ya! Tenang saja! Dia pasti orang yang menjadi targetku saat ini! Aku akan pergi ke sana secepat mungkin!' balasku.


'Baiklah, kalau begitu, Tuan!'


'Oh, iya! Sebaiknya kau jangan menyerang orang itu. Kau selamatkan saja teman sekelasku, jika mereka dalam bahaya saja! Tapi ingat, jangan menyerang orang itu. Larilah dan selamatkan diri secepat mungkin! Mengerti?!' lanjutku.


'Sesuai perintah Anda, Tuan!' balas Hagle.


*Thud...


Komunikasi kamipun berakhir.


"Heh, akhirnya muncul juga dia! Kau akan mati kali ini, lho... Barosa!!" ucapku sambil memegang topeng yang sedang aku pegang.


Bersambung...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Terima kasih telah membaca karyaku, ya!...


...Jika ada kritik dan saran, silahkan tulis di kolom komentar dan jangan lupa komentarnya dikirim....

__ADS_1


...Sekian, Terima Kasih...


__ADS_2