[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 156 ~ Viona


__ADS_3

Aku meninggalkan Theodor tertidur dan memberi catatan.


"Baiklah, mari kembali ke penginapan."


Kali ini, tujuanku untuk mengetahui rahasia Regressor telah tercapai. Meski itu belum jelas, penyebabnya adalah suatu kekuatan misterius yang mampu membuat sesuatu kembali ke masa lalu.


Secara kasar, aku mampu menyimpulkan bahwa itu adalah Kekuatan Waktu. Jika ada Kekuatan Ruang, tentu saja ada Kekuatan Waktu, bukan?


Itulah yang aku tebak. Kemungkinan jawaban itu benar adalah 90%.


Tiba-tiba aku berhenti.


"Benar juga, kalian bertiga kembalilah lebih dulu."


Aku berbicara pada Zeus, Barosa dan Balph. Zeus melirik Dyne dan tampak menyadari sesuatu.


"Baiklah, Tuan. Kami akan kembali."


Zeus mengangguk dan menyeret Barosa dan Balph.


"Tunggu, hei, ada apa ini?"


Barosa mencoba lepas dari genggaman Zeus. Tapi kekuatan Zeus jauh melampaui kemampuan High-God, jadi Barosa hanya bisa berjuang dengan putus asa.


Aku dan Dyne melihat mereka, kemudian saling memandang.


"Pfft!"


"Pfft!"


Tiba-tiba, kami tertawa dengan tingkah konyol mereka.


"Ada-ada saja mereka ini."


Dyne tertawa kecil. Aku melirik Dyne sambil tersenyum hangat.


Kini aku telah memiliki emosi dan dapat merasakan berbagai hal. Sejauh ini, aku hanya melakukan beberapa hal dengan para gadis.


Itupun semacam kencan, tidak sampai hubungan intim. Meski pengetahuanku telah bisa dibilang ahli mengenai hubungan badan, aku masih perjaka.


Paling-paling aku mempelajari itu dari 'film biru' dan penelitian biologi.


Aku ingin menikmati saat-saat santai seperti ini dengan Dyne setidaknya.


"Ayo, kita pergi!"


Aku mengulurkan tangan pada Dyne. Dia sedikit terpana dan menunjukkan senyum cerah yang membuat dunia sekeliling tampak pudar.


"En, baik!"


Dia segera meraih tanganku dengan senang.


Ini sedikit memalukan, tapi tidak buruk juga.


Tangannya begitu lembut dan hangat. Aku tidak menyangka kalau hal sepele seperti ini bisa membuat malu dan berbagai emosi lainnya.


Kurasa hormon kebahagiaan keluar pada saat ini, menyebabkan kami berdua menjadi senang.


"Benar juga, kemarin aku melihat semacam kafe di sana. Apa kau ingin ke sana?"


Aku mengingat sesuatu dan bertanya pada Dyne.


"Um, iya. Terserah A-Anda … Master."


Dyne tampak malu-malu, berjalan di belakangku sambil berpegangan tangan. Sosoknya itu sungguh mengundang gairah dan membuat laki-laki bertekad untuk membahagiakannya.

__ADS_1


"Sudah ku bilang, 'kan? Tak perlu formal semacam itu. Panggil saja Zero!"


"O-oke, Zero."


Saat berbicara, Dyne menundukkan kepala dengan malu. Wajahnya memerah dan tampak ada uap yang keluar dari kepalanya.


Sosok Dyne yang biasanya terlihat anggun dan dewasa, kini menjadi seperti gadis kecil pemalu. Itu benar-benar kontradiksi yang besar.


Terkadang, ada beberapa pria yang melihatnya dengan kagum saat melewati jalan.


Sepanjang jalan, kami tidak membicarakan apapun dan suasananya canggung. Aku memang baru mengalami pengalaman semacam ini sejak memperoleh emosi.


Padahal sebelumnya, aku tampak mudah dan biasa saat berkencan dengan Dyne dan beberapa gadis lainnya di Bumi. Tapi, pada saat ini aku merasa memang cukup sulit untuk berbicara dengan bebas.


Yah, suatu saat mungkin aku akan terbiasa dan memiliki pengalaman yang baik dalam berhubungan dengan wanita.


Sesampainya di toko yang seperti kafe terbuka, di mana berada di pinggir jalan, aku dan Dyne duduk di salah satu meja.


Desain kafe ini tampak familiar.


Aku menduga bahwa teknologi uap dan peradaban saat ini ikut dipengaruhi oleh kedatangan pahlawan dari dunia lain. Beberapa pahlawan yang berpengetahuan pasti memberikan semacam ide.


Jika tidak, peradaban Karaztam saat ini tidak akan bisa mirip dengan masa Revolusi Industri di Bumi, yang mana dunia ini memiliki keunggulan sihir dan keberadaan monster.


Seorang pelayan mendatangi kami.


"Apa yang ingin Anda pesan, Tuan dan Nona?"


Aku membaca daftar menu. Tak heran, beberapa hidangan tampak tidak asing, meski namanya sedikit berbeda.


"Aku pesan kopi susu dan cheesecake satu. Bagaimana denganmu, Dyne?"


Aku mengalihkan pandangan padanya.


"Um, aku pesan teh saja. Oh, dan juga beberapa makanan ringan."


"Baiklah, tunggu sebentar, ya, Tuan dan Nona."


Dyne sedikit gugup dan melihat ke bawah terus menerus.


Sambil menunggu, aku meluangkan waktu untuk mengobrol dengannya tentang beberapa hal.


Beberapa saat kemudian, pelayan datang kepada kami dengan membawa hidangan yang kami pesan.


"Maaf telah menunggu."


Slurp.


Aku menyeruput kopi susu dan Dyne menyeruput tehnya.


"Hmm, rasanya lumayan. Bolehlah, bolehlah …."


"Benar, teh ini juga cukup enak. Meski tidak seenak buatan Alpha."


"Bukankah itu wajar? Alpha adalah koki terbaik sedunia. Tidak mungkin ada yang bisa menandinginya. Bahkan teh ini terasa enak karena terdapat kandungan sihir yang tidak ada di dunia kita."


"Fufufu, Anda benar. Jika dia tinggal di sini, kita bisa memakan berbagai macam hal."


Aku dan Dyne berbincang mengenai Alpha.


Alpha adalah seorang wanita cantik, salah satu pelayanku dan anak dari laboratorium.


Kemudian, kami melanjutkan pembicaraan hingga hidangan kami habis.


Harga untuk hidangan kafe ini terbilang mahal. Secara keseluruhan, hidangan yang telah kami pesan bernilai 1 koin perak, yang mana itu setara dengan satu malam di penginapan terbaik.

__ADS_1


Jalan-jalan kami dilanjutkan dengan mengelilingi kota dan melihat-lihat peradaban Revolusi Industri yang telah tiada di Bumi.


Yah, ini bisa dibilang sebagai tur lintas waktu—tidak, secara harfiah ini adalah tur lintas ruang dan waktu, di mana kami berada di dunia lain.


Di akhir perjalanan, aku menggendong Dyne dengan gaya tuan putri dan terbang ke langit. Karena menghilangkan hawa kehadiran, tidak ada orang yang memperhatikan.


Aku langsung terbang menembus awan.


Melintasi lautan awan yang diwarnai jingga saat senja, itu adalah momen yang menakjubkan dan romantis.


"Woaaah, menakjubkan!"


Dyne terpukau dengan pemandangan yang ada pada saat itu. Udara yang bersih tanpa polusi dan ditambah pemandangan alam yang indah membuat siapa saja terpukau.


Terkhusus Dyne yang tidak menyukai polusi.


Tiba-tiba aku mulai berbicara.


"Aku belum memberimu nama, kan?"


Dyne yang terpukau langsung tersadar dan mengangguk ketika matanya menatap wajahku.


"Un, masih belum."


"Kalau begitu, aku akan memberimu nama."


"....."


'Dyne' hanyalah nama samaran. Itu juga berasal dari laboratorium. Selama ini Zero hanya memanggil mereka dengan nama samaran saja, karena pada dasarnya mereka tidak memiliki nama asli.


Pada saat ini, matahari mencapai batasnya dan menghilang dari pandangan. Bulan besar berwarna biru dan bintang-bintang mulai terlihat.


Sosok Dyne menjadi lebih anggun ketika rambut hitam keunguan berkibar oleh angin. Aroma harum dari rambutnya juga tercium oleh hidungku.


"Vio …," ucapku.


Vio dari violet yang berarti ungu. Lalu, aku melihat kulit putihnya yang kontras dengan warna rambutnya.


"… Viona! Crhono Viona! Sekarang itulah namamu!"


Mata Dyne—maksudku Viona mulai berkaca-kaca dan menutupi bibirnya dengan tangan. Dia tampak terharu, senang dan berbagai macam emosi baik lainnya.


Aku melanjutkan, "Viona … rambutmu berwarna hitam keunguan yang indah, kulitmu yang putih bagaikan salju dan kamu yang mempertahankan kesehatan adalah uraian dari Viona."


Viona, di suatu negara nama Viona diibaratkan dengan warna putih atau kulit putih dan sehat.


Profesi Viona yang merupakan dokter juga memberikan inspirasi kepadaku.


"Viona … Crhono Viona … fufufu …."


Viona bergumam dengan senang.


"Terimakasih, Master!"


"Ya, sama-sama."


Setelah terbang di langit untuk menikmati pemandangan, akhirnya kami kembali ke penginapan. Zeus memandang kami sambil terkekeh, tetapi tiba-tiba terkejut karena dia merasakan bahwa Viona masih [suci].


...◆◆◆...


Tekan like jika kamu suka cerita ini.


Tekan love jika kamu suka novel ini.


Dukung author dengan vote dan hadiah.

__ADS_1


Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.


Terimakasih


__ADS_2