[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 45 ~ Anggota Konferensi Meja Bundar Iblis


__ADS_3

Malam berlalu dan mentari bangkit untuk membantu semua makhluk. Aku telah sampai di Desa Kotora dan membangunkan Barosa dari Pencerahannya.


"Barosa, bangun. Kita akan pergi." Aku menyenggol-nyenggol tubuh Barosa yang duduk bersila di kasur.


"Mmmhh, huh?"


Barosa membuka matanya dan melihatku. "Tuan?"


Barosa melihatku sedang berganti pakaian seperti waktu aku pertama kali ke sini. Malam tadi, aku menunjukkan wajahku kepada kepala desa dan aku menyuruhnya untuk menunggu kabar dari ibukota.


"Kita akan pergi ke Ibukota Wolfgang."


"Iya?"


***


Ibukota Kerajaan Goethe, Wolfgang.


Pagi itu, semua rakyat di Kota Wolfgang berkumpul di alun-alun pusat. Itu semua untuk penyerahan wilayah dan kekuasaan Kerajaan Goethe.


Aku menjelaskan tiga peraturan yang aku berikan dari Desa Kotora. Meski begitu, semua orang masih terkejut dan membuat keributan.


Namun, Masaki Toiko sang pahlawan menjelaskan situasi di sini bersama dengan mantan keluarga kerajaan. Mereka menjelaskan peristiwa yang terjadi tadi malam.


Semua orang termenung oleh cerita itu. Meski begitu, beberapa orang membuat keributan karena masih tidak percaya.


Saat itulah aku membangkitkan Raja Agnous dengan transfer jiwa pada item card. Semua orang terkejut dan kehilangan kata-kata. Pada akhirnya, mereka semua percaya padaku.


Aku hanya menyuruh 'mantan raja' untuk menikmati pensiunannya. Lebih baik baginya untuk menyerahkan kewajibannya kepada anaknya di saat dia telah tua.


Kemudian, aku megutus putri kerajaan kedua, Malsi von Goethe, untuk mengurus administrasi kerajaan. Dia adalah wanita yang ambisius, karena itulah aku memintanya untuk mengurus urusan negara.


"Ba-baik."


Sejauh ini, aku sepertinya belum memberitahu mereka siapa namaku. Yah, biarlah, lagipula aku akan menyerahkannya pada pelayanku.


"Ayo, Barosa. Kita akan pergi ke Kastil Iblis."


Setelah penerimaan wilayah Kerajaan Goethe, notifikasi system terdengar.


[Selamat! Anda telah menyelesaikan syarat kedua dari misi 'Rahasia dunia dan penguasaan.]


[Kompensasi akan diberikan kepada Anda.]


[Anda telah memperoleh 10000 poin sistem.]


[Anda memperoleh ....]


***


Sesampainya di hutan kegelapan dan terkutuk, Hutan Darest, sembilan iblis menyambutku di jalan masuknya. Sepertinya, mereka adalah 'Empat Jenderal Iblis' dan 'Empat Adipati' serta Raja Iblis Margus.


Ada empat orang yang mengenakan pakaian bangsawan dan empat lainnya mengenakan armor. Lalu, mereka membungkuk kepadaku.


"Selamat datang, Tuan!"


"Ya."


Tapi, ada kejadian tak disangka setelah itu. Salah seorang iblis melompat ke arahku.


"H-Hei!" Raja Iblis Margus berteriak kepada salah satu bawaannya yang melompat ke arahku.


Swooosh.


Sembilan orang itu, kecuali Raja Iblis Margus dan Jenderal Iblis Malgrim, menyerangku dengan ganasnya. Yang pertama, ada seorang iblis yang mengenakan pakaian bangsawan.


Dia melompat ke arahku dan hendak menendang kepalaku. Kecepatannya mungkin bukan candaan bagi penduduk Dunia Karaztam, tapi bagiku ini tidak ada apa-apanya. Meski begitu, aku tetap menghindarinya.


Aku menundukkan kepala ke depan untuk menghindar. "Heeh, berani juga."


Kemudian, aku menangkap kakinya tanpa dia duga. Dia terkejut dengan kecepatan reaksiku.

__ADS_1


Aku tertawa kecil. "Hehehe."


Bulu kuduk iblis itu mulai berdiri. Firasatnya mengatakan kalau orang ini berbahaya.


Aku membanting tubuh iblis itu dengan sedikit kekuatanku.


Booom!


Kawah muncul dari hantaman tubuh iblis itu ke tanah. Dia mengeluarkan darah dari mulutnya dan mengerang. "Kuack! Cough, keuk!"


Seketika, iblis itu pingsan dan bola matanya menjadi putih semua.


Lalu aku berkata sambil menyeka mulut, "Kalian ... maju semua, sini!"


Keenam iblis sisanya maju secara bersamaan. Mereka berusaha mengepungku dari segala arah. Tiba-tiba, belati melesat dari belakang.


Swiiish.


Spontan, aku menghindarinya ke samping. Tapi sayang, pakaian yang kuambil dari pengembara, sobek cukup lebar.


Tak henti sampai di situ, tebasan pedang besar muncul dari arah aku menghindar. Aku mundur untuk meminimalisir gerakan dalam menghindar dengan mundur sedikit.


Swiiish.


Bam.


Tanah yang terkena pedang, hancur dan membelah tanah di depannya sejauh beberapa meter. Itu jarak yang sangat sedikit dan hampir mengenaiku. Hanya beberapa milimeter saja, aku hampir terkena bilah pedang besar itu.


Serangan terus berubah-ubah dengan pola yang berubah-ubah juga. Anak panah sihir melesat dari depan dan sabit kematian datang dari belakang menuju kaki.


"Hahaha, kerja sama yang bagus. Tapi ..."


Aku maju satu langkah ke depan dan melompat ke belakang. Aku melakukan itu dengan memutar tubuh agar dalam posisi horizontal, di tengah-tengah sabit dan anak panah. Iblis yang menggunakan sabit kematian tertegun.


Saat itu, aku hendak meraih leher iblis pembawa sabit hanya untuk berhenti karena teriakan seseorang.


"Berhenti!"


"Eh?"


Wajah semua iblis yang menyerangku tampak bingung. Mereka tidak percaya kalau 'Raja' yang mereka layani akan seperti ini.


"Hentikan, Margus. Biarkan saja, lagipula aku sedang bosan."


"B-Baik, Tuan!"


Raja Iblis Margus menunduk minta maaf dengan sedikit ketakutan dan melangkah mundur. Sedangkan Jenderal Iblis Malgrim, dia hanya menonton pertarunganku saja. Sepertinya, Raja Iblis Margus seperti itu karena dihidupkan kembali melalui item card.


"Ayo, kalian ... Serang-lah bersamaan." Aku mengejek mereka dengan menggerakkan tangan, seolah-olah memanggil mereka.


Mereka saling memandang dan mengangguk bersamaan, sebelum melancarkan serangan habis-habisan. Pertama, sabit menyerang kembali dari belakang. Aku menghindarinya dengan menunduk.


Kemudian, pedang besar muncul dari depan. Aku bergeser ke samping sebelum akhirnya di tembakkan panah dari samping. Aku menggunakan kesempatan itu untuk menghindar ke arah iblis pedang besar.


Namun, sebuah belati muncul dari belakang. Aku merasakan ada sesuatu yang datang. Dengan memutar tubuh, aku menempelkan kaki ke samping belati. Belati ikut berputar dan menempel kakiku seakan-akan tidak ingin lepas.


Kemudian aku berhenti berputar dan mengarahkan kaki yang terdapat belati ke arah iblis pemanah seakan-akan menendang belati itu.


"Rasakan ... ini!"


Swiiish.


Aku mungkin tidak menggunakan seluruh kekuatan, tapi itu masih cukup kuat dan cepat untuk dapat membunuh iblis pada tingkat ini.


Anehnya, iblis pemanah sama sekali tidak bergeming. Dia hanya berdiri diam dan senyum licik muncul dari wajahnya.


Clang.


Belati yang aku arahkan ke iblis pemanah terpental. Sebuah pedang berhasil menangkis belati itu. Ternyata ada seorang iblis yang membawa dua pedang.


Tanpa diberi waktu untuk bernafas, seorang iblis dengan armor tipis elastis dan sarung tangan besi muncul. Dia melompat ke arahku yang berada di udara, dia hendak memukulku. Partikel sihir mulai bermunculan dan menyerapnya ke sarung tangan.

__ADS_1


Tangan kanan iblis itu mulai berubah warna menjadi ungu. Seakan-akan siap diluncurkan, dia semakin dekat dan akhirnya aku berada dalam jarak serangannya.


Dia melepaskan pukulan yang telah dia tahan. Sarung tangan ungu memukul pipi kananku. Di sisi lain, aku bersiap untuk serangan balik dengan bersiap untuk melancarkan serangan balik.


Puok.


Aku terpukul dengan keras. Meski begitu, aku hanya terdorong saja. Tapi, tangan kananku telah sepenuhnya berkontraksi di belakang tubuhku. Dorongan dari pukulan iblis itu, membuat tubuhku terdorong ke belakang dan aku memanfaatkan hal tersebut.


Aku sedikit memutar tubuh di udara dan mengarahkan pukulan balik ke arah iblis itu.


Bam.


Pukulanku mengembalikan serangan iblis itu dengan kekuatan beberapa kali lipat darinya. Di tengah-tengah udara, iblis itu terpukul dengan cepat tanpa bisa dilihat dan mengelak.


Bam.


Dia terpental oleh serangan balik yang cepat dan mengerang kesakitan. "Keuk!"


Rahangnya mungkin patah, dia terpental cukup jauh dan pingsan. Aku akhirnya turun ke tanah.


Iblis-iblis itu mulai marah. Aku memancing mereka untuk serius. "Ayo, ayo, apa hanya segitu saja kemampuan kalian? Kalau begini, pantas saja raja kalian lemah."


Emosi iblis-iblis itu mulai memuncak. Di sisi lain, raja iblis Margus, dia tampak malu karena kekuatannya yang lemah.


Akhirnya, mereka mulai menggunakan skill dan teknik pamungkas mereka.


"Spiked ball lash!"


Sebuah bola berduri dengan rantai yang tersambung dengan bola berduri datang ke arahku. Itu adalah senjata flail. Aku buru-buru melompat ke belakang.


Booom.


Bola flail tanah dan timbul suara seperti ledakan. Flail itu ditarik kembali oleh rantai dan sesosok iblis dengan badan besar terlihat.


Tapi, mereka tidak mengizinkan aku beristirahat. Puluhan anak panah sihir terbang menuju ke arahku.


"Lightning magic arrow's rain!"


Aku berlari dengan cepat menuju ke iblis sabit. Pertama-tama, aku harus menyingkirkan iblis sabit dan mengambil senjatanya terlebih dahulu. Puluhan anak panah jatuh dari langit dan mengikuti jejak aku berlari.


Akhirnya, jarak antara iblis sabit denganku tinggal beberapa meter. Dia tampak bersiap-siap untuk mengayunkan sabitnya kapan saja.


Dia mengayunkan sabitnya ke arahku dengan cepat. Menjangkau hingga bagian belakang ketika aku mununduk. Dia menarik kembali sabitnya dengan sedikit ke bawah agar aku terkena serangannya.


Lalu aku berkata, "Sayang sekali, usahamu sia-sia."


Otot kaki kanan bawahku berkontraksi dan menegang di saat bersamaan. Aku menekuk kaki kananku dan meluruskannya kembali. Hal itu menimbulkan daya tolak yang kuat. Tanah pijakan hancur, aku melompat dengan cepat dan meraih leher iblis sabit.


Ekspresi iblis itu menegang. Lehernya telah aku pegang dengan kuat, seakan-akan tangan dan lehernya tidak dapat dilepaskan.


Lalu aku berkata dengan ekspresi dengan tampak puas. "Sudah berakhir."


"Kuaaack!"


Aku mengangkat tubuh iblis sabit hingga kakinya tidak menginjak tanah. Kemudian, aku membantingnya dengan keras ke tanah.


Namun, kekuatan yang aku keluarkan tidak cukup untuk membuatnya sekarat. Aku memegangi wajahnya yang berdarah. Terdapat senyum yang kecil di wajahnya. Tubuhnya tidak berdaya, tapi dia tampak berusaha mengatakan sesuatu yang mengejek. Dia adalah iblis pria dengan wajah dingin, seolah tanpa ekspresi. Tapi, aku dapat mengetahui arti dari ekspresi itu.


Aku segera memendam kepalanya ke tanah. Tanduk iblis di dahinya menusuk tanah seperti paku yang tertancap. Lalu, aku mengambil senjatanya.


Aku tertawa kecil sebelum mengejek mereka dengan kebenaran, "Hehehe, kalian kurang serius sepertinya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tekan like jika kamu suka cerita ini.


Tekan love jika kamu suka novel ini.


Dukung author dengan vote dan hadiah.


Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.

__ADS_1


...Terimakasih...


__ADS_2