![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
Kekaisaran Selestial berhasil menginvasi Kekaisaran Paliji dengan sangat cepat. Berkat mobilisasi pasukan yang mudah dan pasukan yang kuat, mereka menjajah puluhan kota dalam waktu beberapa hari.
Pasukan mereka sangat banyak, mengingat keberadaan bangsa iblis yang ada. Pasokan makanan dapat diambil dari hasil kota jajahan.
Setelah satu regu berhasil menaklukkan satu kota, regu yang baru datang akan memulai invasi kota berikutnya. Setelah itu, regu sebelumnya menginvasi kota berikutnya lagi.
Serangkaian proses berulang menciptakan kegemparan hingga mencapai ibukota Kekaisaran Paliji, Hiera.
Pada awalnya tidak ada yang menganggap penting mengenai invasi tersebut. Mereka meyakini bahwa Kaisar Eude Polmar Paliji, atau yang sering disebut Kaisar Eude IV dan pasukannya akan mampu melawan musuh.
Bahkan negara-negara lain kini tunduk dan tidak bisa melawan. Itu memberikan banyak penghargaan dan kepercayaan pada kekuatan militer mereka. Masyarakat mereka meyakini bahwa mereka adalah penghuni tanah suci sementara negara lain atau negara bawahan dianggap sebagai budak.
Namun nyatanya, kekalahan berturut-turut tanpa menang sekalipun telah terjadi. Kaisar Eude IV yang telah berusaha memblokir berita tersebut, kini tidak bisa melakukannya lagi.
Banyak pengungsi dari kota jajahan berdatangan ke kota karena takut akan perlakuan musuh, mereka meninggalkan rumah yang telah mereka miliki.
"Dengan segala hormat Yang Mulia, saya mengusulkan untuk menggunakan negara bawahan untuk memperlambat musuh sebagai budak militer! Kita tidak memiliki pilihan lain!"
Perdana Menteri yang mengeluarkan keringat dingin dengan paksa mengusulkan idenya.
Kaisar Eude IV memegangi kepalanya, sementara sikutnya bersandar di sandaran tahta.
"Kesatria Kuning kebanggaan telah dikalahkan dengan telak .… 20.000 pasukan elite yang dikirimkan bersamanya juga musnah .… Wilayah perbatasan di serang Magic Besat …."
Kaisar bergumam dengan nada rendah, namun bisa didengar semua orang yang ada di ruang audiensi.
Kekaisaran Paliji menganut sistem pemerintahan monarki absolut, yang mana, pemimpin negara/raja/kaisar memegang kekuasaan mutlak atas segalanya.
Satu kata yang keluar darinya harus dipatuhi. Meski masih ada bangsawan, keberadaan mereka tidak lebih dari gelar. Pada akhirnya, perintah kaisar itu mutlak.
Karena itu, banyak orang takut untuk berbicara barangkali mereka salah berbicara dan menerima eksekusi di tempat.
Kaisar melirik Perdana Menteri yang berkeringat dingin.
"Perdana Menteri, itu ide yang bagus. Aku akan memberikan izin, lalu aku ada satu perintah lagi yang harus kau lakukan."
"A-apa itu, Yang Mulia?"
Perdana Menteri merinding ketakutan.
"Perintahkan Pasukan Khusus!" Kaisar melemparkan sebuah token, "Beritahu orang-orang tua itu untuk bekerja! Sekarang!"
"Ba-baik, Yang Mulia!"
Perdana Menteri buru-buru pergi melaksanakan perintah.
Sebelum keluar dari ruang audiensi, seorang pria tua masuk dan mengagetkannya.
Penampilannya cukup kumuh. Bajunya longgar, namun ada aura yang kuat dan mengerikan padanya.
Rambutnya sudah beruban dan jenggotnya yang panjang nan lebat menjuntai hingga ke dadanya.
"Gargus!"
Kaisar berseru dan berdiri dari kursinya.
"Kalian, pertemuan hari ini kita sudahi dulu. Kalian semua, keluarlah!"
Para menteri dan penasihat keluar.
Tanpa memedulikan sapaan Kaisar, pria tua bernama Gargus masuk ke ruang audiensi tanpa izin.
"Bagaimana situasi di Perbatasan? Apakah kau sudah mendapat banyak Beast Core?"
Gargus adalah seorang pertapa yang memiliki pengetahuan dan kekuatan sihir yang kuat. Atas permintaan Kaisar dan keinginannya untuk mengambil Beast Core dari Magic Beast untuk penelitian, dia pergi ke Perbatasan.
Bertentangan dengan penampilan Kaisar yang cerah, Gargus tampak kesal.
"Tidak tahu! Tidak ada Magic Beast di sana! Aku hanya bisa melihat bekas pertempurannya saja."
Gargus berkata dengan suara keras.
"Apa? Tidak ada? Apa maksudmu?" Kaisar bingung.
Gargus membuat kursi dari sihir tanah dan duduk. Kaisar mengayunkan tangannya dan menyuruh pelayan menyajikan teh.
Setelah menyeruput teh yang disajikan, Gargus menjadi sedikit tenang. Kaisar turun dari tahta dan mendatangi Gargus.
Kursi dan meja pun muncul oleh sihir Gargus.
Duduk di hadapannya, Gargus mulai menjelaskan.
"Kawanan Magic Beast memang keluar dari hutan, tetapi aku tidak melihat satu Magic Beast pun."
"Tidak ada?"
Gargus melemparkan sebuah bola berwarna merah ke meja.
"Beast Core?"
"Iya, aku menemukan ini dari salah satu mayat Magic Beast yang aku temukan."
"Ditemukan? Bukan kau sendiri yang mendapatkannya?"
"Aku menemukan mayat Magic Beast yang hancur dan terlihat remuk oleh sesuatu. Aku juga tidak tahu siapa yang melakukan itu. Kemudian, di tempat kejadian ada banyak darah Magic Beast lain yang berceceran. Dari yang terlihat, orang yang menyebabkan semua ini haruslah satu orang saja."
"Apa ada orang yang bisa mengalahkan kawanan Magic Beast sendirian?"
__ADS_1
"Entahlah, kalau pun ada, aku pasti tidak bisa berkutik."
Gargus mengambil gelas dan mengosongkan tehnya. Kaisar menyuruh pelayannya mengisi minuman lagi.
"Omong-omong, Gargus, aku memiliki permintaan untukmu."
"Permintaan? Permintaan macam apa?"
Gargus menjadi tidak senang.
"Aku ingin kau membantu dalam urusan militer."
Gargus terdiam dan menatap Kaisar dengan tatapan tajam.
"Apa kau ingin mati?" tanya Gargus dengan nada rendah.
Gargus adalah salah satu manusia paling kuat di Karaztam. Dia mendedikasikan hidupnya untuk meneliti sihir dan tinggal di Kekaisaran Paliji. Hasil penelitiannya juga akan dibagikan pada Kekaisaran. Tapi, dia bersumpah untuk tidak terlibat dengan urusan pemerintahan, termasuk militer.
Permintaan Kaisar Eude IV jelas menyuruh Gargus untuk melanggar sumpahnya.
"Tentu tidak. Situasi saat ini sangat mendesak. Ini bukan hanya masalah Kekaisaran Paliji saja, ini masalah umat manusia! Bangsa iblis telah menjajah dan terus menaklukkan kota-kota dengan mudah. Anggap saja aku sebagai perwakilan umat manusia, memintamu untuk memberi kontribusi."
Setelah Kaisar menjelaskan, keheningan memenuhi ruangan selama beberapa detik. Gargus terus menatap mata Kaisar seolah bisa melihat apa saja di dalamnya.
"Huh, dasar pria yang licik. Baiklah, aku akan memberi kontribusi untuk itu."
Mendengus, Gargus akhirnya menyetujui itu. Lagipula, jika tidak ada Kekaisaran, dia mungkin kesulitan untuk melanjutkan penelitian.
"Hahahaha, baguslah kalau begitu—!"
"——Tetapi, aku hanya akan melawan di ibukota saja!"
Gargus memotong pembicaraan Kaisar dengan tegas.
Kaisar menyeringai dan berkata, "Itu sudah lebih dari cukup."
...◆◆◆...
Kediaman walikota—suatu kota tertentu.
Seorang pemuda berambut perak dengan mata heterochromia; mata kanan berwarna biru dan kiri berwarna hijau sedang membaca dokumen.
Di mejanya terdapat tumpukan kertas yang merupakan dokumen lanjutan mengenai kota tersebut.
Tiba-tiba, ada suara mengetuk jendela yang terdengar.
"Hm?"
Pemuda itu melirik ke luar jendela dan melihat seekor burung yang indah sedang mengetukkan paruhnya ke jendela.
"Hagle? Apa pengintaian sudah selesai?" tanya pemuda sambil menghampiri dan membuka jendela.
"Kabar baik! Kabar baik! Kwaack!" teriak Hagle.
Dia bisa berbicara dengan manusia.
"Kabar baik apa?"
Crhono Alexander hanya meminta Hagle untuk mengintai wilayah musuh saja. Secara alami, dia tidak tahu kabar baik apa yang dibicarakan.
"Tuan! Tuan Zero telah kembali! Kwaack!"
Mendengar kata "Tuan", Alexander berbalik setelah menutup jendela dan berseru dengan terkejut, "Apa?! Master telah kembali?!"
"Benar! Benar! Kwaack! Tadi Tuan menghubungiku! Kwaack—!"
"Di mana dia sekarang!?"
Alexander langsung menangkap Hagle dan mengguncangnya.
"Dia ada di Kota Hiera! Kwaack! Ibukota Kekaisaran Paliji! Kwaack!"
Alexander yang terlewat senang, kembali menjadi tenang dan berdeham.
"Ahem, maaf. Jadi, beliau ada di sana, ya."
"Benar! Kwaack! Tuan menunggu Alexander ke sana setelah invasi mencapai ke sana! Kwaack!"
"Beliau menungguku!? Tidak baik, aku harus buru-buru sekarang."
Setelah mengatakan itu, Alexander keluar dari ruangan dan kembali.
"Hagle, bantu invasi! Gunakan semua kekuatanmu dan musnahkan semua tentara musuh!"
"Oke! Kwaack! Oke!"
Barulah, Alexander keluar dan memerintahkan pasukannya secara penuh dan melancarkan invasi habis-habisan.
"Dan juga, perintahkan empat jenderal iblis untuk mengerahkan semua kekuatannya! Taklukkan kota musuh sebanyak mungkin!"
Begitulah perintah lanjutan diberikan. Pasukan di dalam negeri juga dikerahkan. Dengan kecepatan mobilisasi dari kereta api, pasukan besar yang didominasi bangsa iblis membanjiri wilayah musuh.
Alexander berlari, bergegas melewati hutan dengan kecepatan yang mencengangkan.
"Master, tunggulah sebentar lagi. Aku akan segera ke sana!"
Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya yang ditampilkan di wajahnya. Setelah beberapa menit perjalanan, dia memperlambat lajunya ketika keluar dari hutan dan padang rumput masuk ke bidang pandangnya.
__ADS_1
Di sana, pasukan Kekaisaran Paliji dan Kekaisaran Selestial sedang bertempur.
"Rasakan ini! Dasar iblis kotor!"
Seorang prajurit musuh memberikan tebasan pedang yang kuat pada iblis Green Ogre.
Iblis yang sedang menyerang musuh lain langsung meliriknya dan mengayunkan gada besar dari kayu.
"Dasar serangga, mengganggu saja seperti nyamuk."
"Ugyaaah!"
Prajurit Kekaisaran Paliji berteriak melihat serangannya tidak menembus kulit iblis, kemudian hancur dilumat oleh gada kayu.
Setelah mengalahkan musuhnya itu, rentetan panah bergegas menembaki iblis. Serangan panah dihalau oleh tangan besar iblis Green Ogre dan menancap. Namun sayangnya, anak panah tidak cukup kuat untuk memberikan luka dalam, itu hanya serangan yang dangkal.
Green Ogre pun menggunakan sihir anginnya.
Ketika dia mengayunkan pentungannya secara horizontal, deru angin menghempaskan musuh dan darah tersebar oleh angin.
Sisi Kekaisaran Selestial lebih unggul dibandingkan Kekaisaran Paliji. Tapi, itu masih akan memakan waktu mengingat banyaknya jumlah musuh serta wilayah yang luas.
Alexander tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk bertemu tuannya, Crhono Zero. Jadi, dia bergegas ke medan pertempuran dan membunuh banyak lawan dengan instan dan cepat.
Slash!
Alexander mengayunkan tangannya secara diagonal dan bilah angin membelah musuh menjadi dua. Kemudian dia memukul wajah musuh yang mendatanginya hingga suara retak terdengar.
Dia akhirnya berada di tengah-tengah medan pertempuran. Kemudian, dia menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang.
"Fuuu …."
Saat matanya terbuka, mata heterochromia-nya bersinar. Sisi kanan berwarna berwarna biru dan yang lain berwarna hijau.
Dia melepaskan Energi Sihirnya ke seisi medan perang dan menggunakan gelombangnya sebagai radar untuk digunakan sebagai deteksi.
"Hmm, ada sekitar 10.000, ya."
Alexander mendeteksi jumlah musuh. Peperangan ini mungkin dimulai dengan jumlah musuh sebanyak 15.000 kemudian berkurang hingga kurang dari 10.000.
"Baiklah, waktunya penyelesaian."
Mengatakan itu, Alexander berlutut dan menyentuh tanah dengan tangannya yang menggunakan kaos tangan putih dari karet, tapi itu sudah dinodai oleh darah musuh.
Energi Sihir yang kuat menyebar dan memasuki tanah, kemudian meluas mencakup area sudut medan perang.
"Earth Thorn (Duri Tanah)!"
Seketika, tanah runcing naik di banyak tempat dan menusuk setiap prajurit lawan. Duri tanah yang besar menembus baju besi dan menyerang setiap prajurit musuh.
"Arghhh!"
"Urgh, apa ini!?"
"Gyaa!"
Teriakan yang menyakitkan terdengar di seluruh medan perang. Prajurit Kekaisaran Paliji tidak langsung mati, mereka merasakan rasa sakit ditusuk oleh tanah sebelum mati kehabisan darah. Duri tanah kembali masuk dan menghilang seolah tidak ada yang terjadi.
Pasukan Kekaisaran Selestial juga bingung dengan situasi ini dan bertanya "Apa yang terjadi?".
Memecah keheningan, Alexander berteriak dengan aura kharismatik yang luar biasa, "Semua musuh telah musnah! Taklukkan kotanya!"
"""Ooooh!"""
Pasukan sekutu pun tersadar dan menuju gerbang kota. Mengingat hanya musuh yang terkena serangan, tidak ada yang mempermasalahkannya. Jadi, mereka langsung menyerbu kota dan mengalahkan beberapa pasukan musuh yang tersisa di kota.
Alexander terdiam dan mengingat letak kota selanjutnya.
"Selanjutnya …."
Setelah itu, Alexander berlari, melesat bagaikan angin dan menuju kota selanjutnya.
Pada hari itu, Kekaisaran Selestial telah menaklukkan 1/3 wilayah Kekaisaran Paliji. Di tengah-tengah wilayah musuh, ibukota Kekaisaran Paliji, Hiera akan ditaklukkan keesokan harinya.
Namun——
Tentara yang tak terhitung jumlahnya berbaris rapi di dataran yang luas, memblokir jalan menuju Kota Hiera.
"Pasukan negara lain?" tanya Alexander.
"Benar, Pak! Pengintai telah mengkonfirmasi informasi tersebut dari asal pasukan musuh."
"Begitu, ya. Sebenarnya tidak masalah, sih. Aku akan pergi sendiri besok. Terus awasi mereka. Aku akan istirahat terlebih dahulu. Kerja Bagus, Jenderal Malgrim."
"Ini bukan apa-apa, Pak!"
Di malam yang tenang itu, tidak seorang pun pasukan musuh yang akan membayangkan menghadapi neraka pembantaian keesokan harinya.
***
Tekan like jika kamu suka cerita ini.
Tekan love jika kamu suka novel ini.
Dukung author dengan vote dan hadiah.
Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.
__ADS_1
Terimakasih