[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 43 ~ Menguasai Desa Kotora dan Kerajaan Goethe (3)


__ADS_3

Di ibukota Kerajaan Goethe, Wolfgang. Aku berjalan melewati jalanan sepi di malam hari. Ini mungkin akan menjadi peristiwa yang akan tercatat dalam sejarah dunia.


Tap, tap.


Langkah-langkah kakiku terdengar pelan dengan sepatu kulit hitam. Gaya jalan dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Pandangan lurus ke depan dan kepala sedikit naik ke atas, seperti menandakan bahwa 'akulah yang terbaik.'


Keangkuhan dapat terlihat saat aku berjalan. Orang-orang yang terbangun, membuka tirai jendela dan melihatku.


"Siapa orang itu?"


Bukankah aneh untuk melihat seorang pria berambut oranye dengan pakaian aneh berjalan di kota pada malam hari? Semua orang merasa cemas. Penyebabnya adalah gempa yang terjadi di istana, karena Barosa turun ke sana.


"Tetapi, yang benar saja. Aku harus berjalan dengan lambat sepanjang ratusan kilometer. Sepertinya, aku harus berlari, ya."


Diameter Ibukota Wolfgang adalah 1500 km, tapi ini adalah perjalanan setengahnya. Jadi, aku harus berjalan sepanjang 750 km-an.


Aku mengambil ancang-ancang dengan membungkuk ke depan dan melaju karena daya tolak yang besar dengan gravitasi. Tanah yang menjadi tumpuan hancur.


Swooosh.


2 detik—aku sampai di perbatasan antara area bangsawan dan rakyat elite. Sebuah tembok kokoh yang tampak lebih besar dari gerbang terluar membuat tempat itu aman.


Tingginya sekitar 15 meter, itu adalah ketinggian yang menakjubkan untuk membuat tembok sepanjang beberapa ratus kilometer. Gerbang masuknya tampak megah dan indah.


"Cih, tidak ada yang membuka lagi."


Duar!


Gerbang itu hancur menjadi reruntuhan. Lonceng pengawas berbunyi dan para kesatria datang darinya. Para kesatria itu juga bernasib sama dengan para prajurit di area rakyat.


Aku melanjutkan langkahku dengan berlari. Jalanan yang dipenuhi dengan pepohonan yang indah dan mansion besar di sebelahnya, aku akhirnya sampai. 2 detik—aku telah sampai di depan gerbang wilayah Keluarga Kerajaan Goethe. Tembok pembatas lebih besar setengah kali dari tembok sebelumnya.


"Fiuh, sudah lama. Eee, tidak, aku rasa baru beberapa hari yang lalu aku ke sini."


Gerbang wilayah keluarga kerajaan hancur. Para kesatria elite menghadang dan bernasib sama seperti orang yang menghadang sebelumnya.


Aku melanjutkan langkah melewati taman-taman yang indah dan beberapa mansion besar atau kastil kecil. Lapangan latihan yang hancur, masih berbekas di sana.


1 detik—aku telah sampai di gerbang istana. Tak disangka, pintu gerbang terbuka. Seolah-olah mereka telah menunggu kedatanganku.


***


Kemarin sore.


"Aduh, aduh, duh, duh, kepalaku sakit sekali."


Semua orang di istana terbangun secara serempak. Mereka pingsan karena gas tidur yang aku sebarkan kepada mereka.


"Apa yang terjadi di sini?"


Sang raja, Agnous von Goethe terbangun dan melihat pemandangan yang dapat dibilang mengejutkan. Dia melihat sebagian istana hancur dan lapangan latihan hancur berantakan.


Dia sepertinya melupakan hal yang terjadi saat Barosa mendarat di sana. Lalu, Masaki Toiko sang pahlawan berkata, "Bukankah tadi ada raksasa di sini? Kenapa sekarang tidak ada? Mengapa kita semua tertidur."


Lalu Ayane Sasane yang melihatku waktu itu berkata, "Aku rasa ada seseorang orang yang menyebarkan gas tidur kepada kita."


Ayane mengambil kaleng yang berisi gas tidur. Dia melanjutkan, "... Dan orang itu menyelamatkan kita."


Mereka semua kemudian mengadakan pertemuan untuk membahas orang yang telah menyelamatkan mereka di malam harinya.


Ayane juga menjelaskan bahwa 'orang itu' menyelamatkan mereka pada saat penyerbuan di Hutan Melris.


Mereka memutuskan bahwa 'orang itu' adalah orang yang baik. Tapi mereka harus waspada kepada musuh yang mungkin akan datang. Karena itulah, mereka membuat penjagaan lebih.


***


Di saat semua orang di Ibukota Wolfgang bangun, para siswa dari dunia lain berkumpul di ruang takhta bersama para petinggi kerajaan.


"Paduka, sepertinya ada kerusuhan yang akan terjadi. Kita harus berlindung di tempat yang aman."


Kepala Kesatria Elite Kerajaan Goethe, Jared. Dia memberi usul untuk Rajanya, Agnous.


"Aku tahu. Tapi, apakah kau berpikir akan ada tempat aman bagiku di dunia ini?"


"....."


Jared terdiam, dia tidak bisa mengatakan apapun. Itu semua karena berbagai insiden mengerikan yang terus terjadi setelah beberapa hari musibah datang.


Yang pertama, insiden di mana iblis menyerang dan para pahlawan serta para kesatria elite terluka berat dan tewas. Dua hari setelahnya, sesosok raksasa datang ke istana.


Meski begitu, itu semua pasti berhenti karena datangnya seseorang yang misterius. Orang itu adalah aku.


Di tengah keheningan yang berlangsung, sebuah suara terdengar dari balik yang pintu menuju ruang takhta.


"Woi, buka!"


Suara pria tak dikenal terdengar. Terdengar pula suara dobrakan dari pintu besar ruang takhta.

__ADS_1


"Si-siapa itu?"


Jared bertanya-tanya. Sayangnya, semua orang juga menanyakan hal yang sama.


Bahkan teman sekelasku tidak akan mengetahuinya, karena aku mengubah suara dan penampilan saat menjadi Murata Manabe. Di tengah-tengah pertanyaan, hanya satu orang yang menyadari pemilik suara ini.


"Su-suara ini ...!"


Ayane Sasane berkata dengan pelan dan ragu-ragu. Kakaknya, Ayame Sasane memperhatikan kalau ekspresi adiknya berubah.


Ada ekspresi rumit di wajah Ayane. Hanya ada satu orang yang dapat membuat Ayane seperti itu. Ayame langsung menebak.


"Jangan-jangan-?!"


Kalimat Ayame terhenti karena suara raja.


"Jared, buka pintunya."


"Baik, Paduka."


Jared hanya dapat melaksanakan perintah tuannya saja. Pintu terbuka dan penampilanku terlihat.


Seorang pria dengan rambut oranye, celana jeans dan pakaian hitam. Para petinggi di istana serta teman-teman sekelasku terkejut.


Itu bukan karena mereka mengenaliku. Itu karena penampilanku yang tidak biasa.


Seseorang bertanya, "Si-siapa dia?"


Keheningan berlangsung selama beberapa detik. Orang-orang memiliki berbagai spekulasi dan pertanyaan di benaknya.


Beberapa detik itu, terasa seperti berjam-jam. Kemudian, aku memecah keheningan.


"Serahkan wilayahmu!"


Beberapa orang terkejut dengan perkataanku. Tapi, Ayane sama sekali tidak mendengar apa-apa. Dia sibuk dalam dunianya sendiri


Bagi dirinya, hanya aku saja yang terlihat memiliki warna. Tidak ada apa-apa selain diriku yang terlihat di matanya.


"Murata-kun?"


Orang-orang mulai melihat ke arah Ayane. Mereka tampak melupakan perkataanku.


"Apa yang kamu bicarakan?"


Sang pahlawan, Masaki Toiko bertanya dengan ragu. Aku (Murata Manabe) adalah salah satu siswa yang tewas dalam penyerangan yang dilakukan oleh iblis (bagi mereka.)


Mata kami saling bertemu. Lalu, aku menjawab dengan dingin, "Aku bukan Murata Manabe. Aku adalah orang yang mengenalnya saja."


"Apa?"


Ayane menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah tidak percaya. Tapi, perkataanku merupakan kebenaran.


Aku kemudian mengingat kembali, pertemuanku dengan Murata Manabe di Tokyo, Jepang.


***


Pada malam hari di Tokyo, Jepang.


"Di mana orang itu, ya?"


Aku berkeliling Kota Tokyo di malam hari untuk mencari seorang remaja. Remaja itu adalah Murata Manabe.


Dari informasi yang di berikan oleh salah satu pelayanku, Murata Manabe adalah orang yang memiliki penampilan paling mirip denganku di Jepang. Tapi, aku tidak bisa menemukan dia di rumahnya, saat tadi pagi aku pergi.


Alamat rumahnya sudah benar dan tetangga-tetangga di sekitarnya juga bilang kalau itu rumahnya. Tapi, ada satu hal yang terlewat dari informasi terbaru pelayanku.


Menurut data pribadi yang diberikan, Murata Manabe adalah seorang siswa SMP yang sering dibully oleh banyak orang karena ayahnya. Dia sekarang hanya memiliki ibunya sebagai satu-satunya keluarga.


Setiap hari, dia menahan rasa sakit dan penderitaan di sekolahnya. Itu semua dia lakukan untuk ibunya. Dia tidak ingin melihat ibunya merasa sedih.


Ibunya selalu berkerja keras untuk membiayai kebutuhan sehari-hari mereka. Suatu hari, kejadian terburuk menimpanya.


"Hei, hei, ada apa denganmu, putra pembunuh?"


Teman sekelasnya mengganggu dirinya dengan menendang-nendang dan menghina. Setiap hari, dia selalu diperlakukan seperti ini.


Di belakang halaman sekolah, dia menyeka hidungnya yang mimisan. Matanya menatap orang-orang di depannya dengan penuh kebencian. Dia bersandar dengan tubuh lemah.


"Ada apa dengan tatapanmu itu, hah? Sepertinya kau benar-benar putra seorang pembunuh, ya."


"Wooo, dasar putra seorang pembunuh. Pantas saja putranya seperti ini."


"Menjijikkan."


'Dasar putra pembunuh, menjijikkan, sampah, sampah masyarakat ...' Murata Manabe kehilangan kesadaran akan dunia. Dia mendengar berbagai penghinaan yang tiada henti di kepalanya.


Dia berteriak, "Berhentiiii!!!"

__ADS_1


Anak-anak lain terkejut dan sedikit takut. Tapi, itu menyebabkan dia dipukuli hingga pingsan. Dia pulang dengan tubuh memar.


'Bukankah ibu pulang awal hari ini? Aku harus membersihkan tubuhku dulu'


Tapi, hal yang menanti di rumahnya bukanlah senyum hangat dari ibunya.


"Aku pulang."


Tidak ada siapapun yang menjawab. Padahal pintu rumah tidak terkunci.


"Bu? Ibu?"


Murata Manabe akhirnya mencari ibunya di ruang keluarga. Tapi, yang menanti bukanlah sesuatu yang dia harapkan.


"Ibu?"


Melainkan tubuh kaku nan dingin dari ibunya. Dia jatuh berlutut, tubuhnya lemas tak berdaya. Seolah-olah dunia telah hilang dan dunia menjadi kosong tanpa warna.


Keinginan hidupnya telah menghilang, tinggal memakamkan ibunya saja. Kemudian, dia dapat pergi dengan damai, sesuai keinginannya.


Keesokan harinya, dia berkeliling kota untuk terakhir kalinya. Aku mengunjungi rumahnya, tapi dia tidak ada. Hingga malam datang.


"Dasar brengsek! Beraninya kau mengganggu waktuku! Gara-gara kau, wanita itu jadi lari, tahu!"


Seorang pria yang tampak sedang mabuk, memukuli seorang pemuda di lorong yang gelap. Aku kemudian masuk ke lorong itu.


Aku bertanya kepada pemabuk, "Hei, ada apa ini?"


"Haa? Siapa kau?"


"Aku bertanya, ada apa ini?"


Aku menekankan diri untuk mendominasi psikologi p(((()))))"??-emabuk.


"Urus urusanmu sendiri. Dia telah menggangguku. Itu saja."


Pemabuk itu memdecakkan lidahnya dan menjawab sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya.


"Oh, begitu, ya."


Aku mengamati pemuda itu dan segera mengetahui identitas anak itu. Dia adalah orang yang aku cari, Murata Manabe.


Kemudian, aku memegang kepala pemabuk dan menghantamnya ke tanah. Suara benturan begitu keras sehingga kepala pemabuk itu hancur dan wajahnya tidak dapat dikenali.


Aku kemudian mengambil kartu identitas pemabuk itu dan membakarnya dengan korek gas yang aku bawa. Murata Manabe yang masih mempertahankan kesadarannya bertanya dengan lirih.


"Si ... siapa?"


Kemudian aku berkata, "Aku sudah mencarimu ke mana-mana, lo ... Murata-kun."


Murata Manabe pingsan dan aku membawanya pergi ke rumahnya. Kemudian keinginan untuk hidup memenuhi kehidupannya meski sedikit.


Ini adalah pertama kalinya dia bertemu orang yang dapat disebut 'teman.'


Kami menghabiskan banyak waktu di akhir pekan itu. Sampai aku mengatakan, "Bolehkah aku mengambil identitas-mu?"


Di dekat sungai di sore hari, kami melihat matahari yang bergerak ke bawah dan mulai tertutupi gedung-gedung. Dengan tersenyum, dia menjawab, "Boleh saja. Terimakasih telah memberi waktu terbaik dalam hidupku."


Sepertinya dia tahu apa yang aku maksud. Dia sadar kalau tujuanku adalah untuk mengambil identitasnya.


"Yah, itu sih, jika kau tidak keberatan dengan identitasku." Senyum ceria muncul di wajahnya.


Di malam itu juga, aku mengakhiri hidupnya dan menggunakan identitasnya.


***


"Jadi, apa kau akan menyerahkan kekuasaanmu?" tanya aku pada raja.


"Apa yang-"


Kalimat raja terhenti dan Jared mengeluarkan pedangnya.


"Kurang ajar!"


Jared mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Tapi itu sia-sia, dia terhempas sebelum dapat menyentuhku. Padahal aku hanya menyentil nya dengan jari telunjuk ke arahnya saja.


Aliran angin berubah tidak beraturan. Hal itu menyebabkan angin menjadi kuat dan menghempas Jared sang Kepala Kesatria Elite.


Semua orang tercengang dengan kekuatanku.


"Jadi ... Apa yang kau pilih?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa, like dan komen, ya.


Terimakasih telah membaca karyaku🙏.

__ADS_1


__ADS_2