[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 39 ~ Orgen vs Kapzeth


__ADS_3

Clang, clang.


Benturan besi dengan besi bergema di Desa Kotora. Kapzeth menggunakan pedang panjang yang ramping, sedangkan Orgen menggunakan pedang besar.


Pada saat pedang mereka saling bertabrakan, Kapzeth terhempas karena kekuatan fisik yang lebih lemah dari Orgen.


Bam.


Hempasan angin yang terjadi saat benturan pedang, membuat Kapzeth kesulitan.


'Sepertinya, aku harus menggunakan ilmu pedang sihir api yang membara.'


Pada saat terhempas, Kapzeth menghentakkan kakinya ke tanah, akibatnya dia hanya terhempas beberapa centimeter saja.


"Ilmu pedang sihir, api yang membara ..."


"!!!"


Orgen merasakan aura mencekam yang terasa unik baginya. Orgen pun mengayunkan pedangnya secara horizontal dari kiri ke kanan.


Swooosh.


Kekuatan dan kecepatan Orgen mungkin lebih baik daripada Kapzeth, namun Kapzeth memiliki teknik yang memungkinkan dirinya untuk mempersempit jarak kekuatan mereka.


Kapzeth menghindari lintasan pedang Orgen dengan melompat dan memutar tubuhnya. Itu tampak seperti akrobat yang profesional.


Buk.


Kapzeth tiba di tanah dan di pedangnya mulai terlihat api yang muncul dari ujung bilahnya.


"... Jurus pertama, tebasan api.'


Kobaran api kecil di ujung bilah, kini menjadi semakin besar dan menutupi semua bilah. Kapzeth mengayunkan pedangnya secara diagonal, dari kanan ke kiri.


Tubuh Orgen yang setinggi 2,5 meter, kini terluka pada perutnya. Padahal, tubuh Orgen itu sangat keras dan hampir sekeras baja.


'Menarik.'


Aroma daging bakar tercium oleh mereka. Tapi, Orgen tidak marah dan Kapzeth masih memiliki pandangan tajam yang sama.


'Luar biasa. Tubuhnya mungkin sekeras baja, tapi karena panas yang dihasilkan dari api di pedang ku mampu menggoresnya.'


Kapzeth memuji daya tahan fisik Orgen. Dia tidak pernah merasa berani menghadap seorang iblis di medan pertempuran. Tapi, keadaan yang memaksanya, mampu membuat dia menjadi lebih kuat.


Tidak butuh waktu lama, mereka segera saling menyerang lagi.


Swiiing.


Kapzeth menahan serangan vertikal dari Orgen dan memiringkan pedangnya sendiri ke belakang. Dia segera bergerak maju pada saat pedangnya masih menempel pada pedang Orgen. Bunyi Pedang yang bergesekan membuat gigi menjadi ngilu.


Tanpa memperdulikan apapun, Kapzeth segera mengeluarkan ilmu pedang sihirnya.


"Ilmu pedang sihir, api yang membara ..."


Kobaran api muncul di bilah pedang Kapzeth.


"... Jurus ketiga, kehendak api."


Kapzeth segera meluruskan pedangnya dan menusuk Orgen. Kapzeth ternyata menusuk pada bagian yang telah terluka dan membuat Kapzeth mampu menusuknya dengan dalam.


"Aaargh!" Orgen mengerang kesakitan. Namun, Kapzeth tidak memberi waktu kepada Orgen untuk beristirahat. Kapzeth terus menyerang Orgen tanpa ampun.


Menebas, menusuk, menebas, menusuk ... Kapzeth terus mengulanginya tanpa henti.


"Haaaaa!"


Kapzeth terus berteriak dan menyerang hingga dia merasakan bahaya yang datang dari Orgen.


'A-apa itu?"


Kapzeth mundur ke belakang dan mengambil nafas dengan keringat yang banyak keluar. Dari sana, suasana pertarungan menjadi lebih mencekam. Niat membunuh tersebar di medan pertarungan mereka berdua. Orang dengan emosi atau mental yang lemah, sudah pasti akan langsung pingsan.


"Kau cukup kuat ... manusia!"


Suara Orgen yang masih terdengar garang, meski menggunakan bahasa manusia, tidak membuat Kapzeth mundur. Malah dia merasa lega karena dia berhasil mengulur banyak waktu untuk membuat warga dan anak-anaknya pergi. Orgen dapat menggunakan bahasa manusia karena dia dapat dengan mudah memahami bahasa manusia dari percakapannya dengan Deca de Vois.


"Phew, kau juga lumayan ... iblis!"


Kapzeth menghela nafas dan mereka berdua saling mengarahkan pedangnya dengan kedua tangan mereka.


"Bersiaplah, iblis!"


"Ayo, kemari-lah!"


Keduanya berlari untuk mempersempit jarak.


"Ilmu pedang sihir, api yang membara ..."

__ADS_1


Kapzeth mulai menggunakan ilmu pedang sihirnya. Api pun keluar dari ujung pedang dan mulai menyebar menutupi bilah.


"Wahai angin, dengarkanlah keinginanku. Pinjamkan-lah sedikit kuasa-mu kepadaku ..."


Sedangkan Orgen yang terluka, mulai menggunakan sihir angin tingkat menengahnya.


"... Jurus ketujuh, amarah api!"


Api yang dihasilkan dari mana alam dan mana-nya Kapzeth sendiri, mulai menyatu dan menutupi seluruh bilah.


"... Sihir angin tingkat menengah, Angin peringan tubuh!"


Mantra yang digunakan Orgen adalah mantra yang menggunakan bahasa iblis. Gerakan Orgen yang tadinya tampak pelan karena ukuran tubuhnya, sekarang dia tampak lebih cepat dan dengan leluasa, dapat menggerakkan tubuhnya. Angin membantu tubuhnya dengan cara mendorong bagian tubuh ke arah yang diinginkan Orgen.


"Haaa!"


"Haaa!"


Keduanya saling membenturkan pedang.


Clang!


Dorongan angin dari sihir Orgen dan pelepasan api yang dikeluarkan bilah berapi Kapzeth, membuat keduanya terhempas ke belakang. Mereka hampir melepaskan senjata masing-masing dan hanya memegang dengan satu tangan. Tapi, Kapzeth-lah yang paling dirugikan dalam benturan itu. Tubuhnya yang masih dalam kategori 'manusia biasa', memberikan beban berat pada tubuh rapuhnya.


"Kuack!"


Kapzeth memuntahkan darah dan jatuh tertidur. Tubuhnya penuh memar dan luka dari serpihan batu yang berasal dari ledakan.


"Ugh!"


Kapzeth menahan rasa sakit dengan sedikit mengerang. Di sisi lain, Orgen masih berdiri dan ada jejak dari lintasan kakinya yang terdorong ke belakang.


"Heh! Kau lumayan juga, manusia!"


"Hehehe ..."


Kapzeth hanya tertawa kecil karena menahan rasa sakit.


"Manusia, siapa namamu?"


"Hehehe ... tidak aku sangka- Uhuk, uhuk ... Iblis yang hebat sepertimu ingin mengetahui nama makhluk lemah ini."


Kapzeth sedikit merasa senang dengan pertarungan terakhirnya. Tapi, dia masih sanggup bertarung. Dia harus mengalahkannya atau setidaknya, dia harus membuat iblis itu terluka parah.


"Heh, meski kau makhluk lemah pun, aku mengakui mu. Aku tidak peduli penampilan ataupun statusmu. Aku hanya mengagumimu karena kau memiliki keberanian dan kecerdasan. Hanya kekuatan saja yang tidak kau miliki. Jika kau setidaknya, setengah lebih kuat dariku, mungkin aku akan tewas."


"Benar-benar, aku tidak paham denganmu."


Kapzeth berbicara dengan nafas sesak dan suara yang berat. Dia lalu berdiri dan berkata, "Namaku adalah Kapzeth. Kepala desa Desa Kotora. Ahli ilmu pedang sihir tingkat tinggi dari Keluarga Xydford, api yang membara."


"Kapzeth, ya. Baiklah, Kapzeth, aku mengakui bakat mu. Aku izinkan kau bertanya satu hal padaku."


"Heh, ini bukanlah karena bakat ku. Ini semua hasil kerja keras ku, tahu."


"Apa?"


Kapzeth mulai mengangkat pedangnya.


"Baiklah, boleh aku tahu alasan kau menyerang desaku?"


'Itu semua bukan ... bakat? Apa yang dia katakan?'


Di saat Kapzeth bertanya, Orgen sedang memikirkan respon dari Kapzeth tadi. Tapi, dia tidak terlalu memikirkannya lagi. Dia langsung menjawab pertanyaan Kapzeth.


"Oh, itu semua karena ada seorang manusia yang mengizinkanku untuk menyerang desa ini. Katanya, aku boleh mengambil apapun yang aku mau di sini."


"Apa?! Manusia?!"


"Ya"


"Si-siapa itu?!"


Kapzeth mulai terkejut dan bertanya kepada Orgen dengan nada keras. Seolah-olah rasa sakit hilang karena rasa kaget, dia berusaha mencari tahu siapa saja orang yang mungkin memiliki dendam padanya atau desanya.


"Aku sudah bilang, bukan? 'Aku izinkan kau menanyakan satu hal kepadaku', benar?"


Kapzeth menggerakkan giginya. Dia tidak menyangka, ternyata ini semua perbuatan seorang manusia. Dia pun terus mencoba mengingat orang yang mungkin menjadi penyebabnya.


"Izin? Apa yang dia katakan?! Apa jangan-jangan ..."


Kapzeth menemukan sebuah kesimpulan. Amarahnya mulai bergejolak dan niat membunuh mulai keluar lebih kuat dari saat pertarungan melawan Orgen.


'A-apa ini?! Tekanan niat membunuh yang luar biasa!"


Orgen berusaha mempertahankan kesadarannya.


"Ilmu pedang sihir, api yang membara ..."

__ADS_1


Kapzeth mulai mengangkat pedangnya ke atas dengan tangan kanannya. Api mulai keluar dari ujung pedang dan Kapzeth mulai melangkah maju ke Orgen dengan indah. Seolah-olah dia sedang menari.


"... Jurus ketujuh, fase kedua ... amukan api!"


Api yang menyebar di bilah pedang mulai menutupi seluruh tubuh Kapzeth.


"A-apa-apaaan ini?!"


Orgen mencoba untuk bertahan dengan tekanan dari niat membunuh dan atmosfir panas yang berat.


***


Beberapa saat yang lalu.


"Ayo pergi!"


Aku berjalan keluar dari kamar Auna dan mengajak Auna dan Ghiri.


"Baik!"


Auna dengan buru-buru, langsung pergi mengikutiku.


"Tu- hei!"


Ghiri ingin bertanya pada Auna tentang apa yang terjadi, tapi dia malah di tinggal.


Tap, tap.


"Hei, bukankah kita harus cepat?" Ghiri bertanya kepadaku.


"Ah, tidak perlu khawatir soal itu. Mungkin dia sedang mencoba untuk melampaui batas."


"Melampaui batas?"


Ghiri bingung dengan apa yang aku bicarakan.


"Yah, kau akan langsung memahaminya, jika kau melihatnya dengan matamu itu."


"Apa? Hei, cepat jelaskan, dong. Jika tidak, kita harus secepatnya untuk pergi ke tempat ayah."


"Sudah kubilang, bukan? Jangan khawatir. Ayo, kita harus ke sana di waktu yang tepat."


Kami bertiga pun berjalan menuju gerbang barat desa, tempat Kapzeth berada.


***


"... Jurus ketujuh, fase kedua. Amukan api!"


Api dari ujung pedang Kapzeth, mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.


Jurus ketujuh dari ilmu pedang sihir 'api yang membara' adalah salah satu dari 7 jurus yang ada di Keluarga Xydford. Jurus ketujuh, amarah api adalah jurus yang membuat pedang dilapisi oleh api selama beberapa detik. Tidak seperti jurus lainnya, dimana pedang dilapisi api hanya untuk melakukan satu serangan, jurus ketujuh, amarah api itu spesial.


Mengubah serangan dasar menjadi serangan yang setara dengan jurus lainnya tanpa waktu jeda, itulah definisi ringkas mengenai jurus ketujuh, amarah api. Tapi, Kapzeth sekarang membuat jurus ketujuh berevolusi menjadi 'amukan api.'


Amukan api ini, tidak hanya mempengaruhi pedang saja. Melainkan pengguna itu sendiri. Api ini memberikan buff dan boost yang mampu membuat pengguna menggunakan kekuatan yang jauh melebihi statistik asli.


"Haaa!"


Kapzeth melangkah maju dengan sangat cepat di mata Orgen. Tapi, tidak di mata Kapzeth. Dia merasa lingkungan sekitarnya bergerak lebih lambat 2 kali dari biasanya.


Gerakannya tampak lambat, tapi begitu juga dengan Orgen.


"Wahai angin, dengarkanlah keinginanku. Pinjamkan-lah sedikit kuasa-mu padaku, sihir angin tingkat menengah, angin pelindung tubuh!"


"... Angin perintah tubuh."


Kapzeth merasakan ada hal aneh yang terjadi pada tubuhnya. Kekuatan fisik meningkat, kecepatan berpikir meningkat dan kecepatan refleksi meningkat.


'Apa-apaan ini? Perasaaan ini ... tubuhku terasa panas dan semua tubuhku terasa kuat dan cepat?!'


Di sisi lain, aku mengetahui kalau Kapzeth dalam kondisi melampaui batas dengan skill 'divine detect.'


"Aku pergi dulu, ya."


"Apa?! Hei, tunggu!"


Aku meninggalkan Ghiri dan Auna untuk pergi menuju Kapzeth. Kondisi Kapzeth saat ini sedang dalam kondisi yang kritis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Apa penyebab Kapzeth Zero katakan sebagai kritis?


Sebelumnya saya minta maaf, saya ingin bertanya. 🙏


Lebih baik menggunakan bahasa Inggris untuk nama-nama skill, gelar dan status atau bahasa Indonesia saja?


Silahkan jawab di kolom komentar, ya.👍

__ADS_1


__ADS_2