[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 135 ~ Regard


__ADS_3

(Sudut pandang Regard)


Apa yang kamu rasakan ketika tidak mengetahui apapun?


Aku tidak mengetahui luasnya dunia, kenyamanan dan keindahan.


Apa yang kamu rasakan ketika menderita tanpa mengetahui alasannya?


Aku hidup dengan penuh penderitaan setiap harinya. Rasa lapar dah kerasnya bertahan hidup membuat diriku terus menderita.


Apa yang kamu rasakan ketika dirimu tidak pernah melihat 'cahaya'?


Aku … tidak pernah melihat harapan. Dunia yang gelap, penuh penderitaan dan cemoohan.


Dan ... apa yang kamu rasakan ketika mengetahui semuanya?


Aku … aku akan terus bertahan hidup!


Aku tidak mempunyai nama. Aku tidak mengetahui darimana aku berasal.


Tanpa mengetahui diri dan orang tua. Tanpa 'pelindung' dan 'kenyamanan'.


Ketika bayi, aku dibuang ke pemukiman kumuh di suatu kota. Beruntungnya, di sana ada orang yang merawat anak-anak yang tidak memiliki keluarga seperti diriku.


Yah, anggap saja seperti panti asuhan. Hanya saja, itu tidak resmi. Hanya dibangun atas keinginan seseorang tanpa adanya bantuan dari masyarakat.


Aku hidup di sana bersama anak-anak lain yang kurang lebih memiliki nasib yang sama seperti diriku.


Hidup tanpa keluarga.


... Tanpa mengetahui apapun.


Di sana, aku biasa dipanggil John. Aku tidak tahu apakah itu namaku ataukah hanya sekedar panggilan. Tapi, karena aku dipanggil seperti itu, aku hanya bisa menerimanya.


Kehidupan di sana sangatlah sulit. Di pemukiman kumuh, kami tinggal di rumah terbengkalai tetapi itu lebih dari cukup untuk bernaung dari kerasnya alam.


Dinginnya malam, panasnya siang, hujan yang merepotkan, badai yang menakutkan.


Kami menderita, mendekap satu sama lain untuk menghangatkan tubuh. 'Pengurus' yang merawat kami bahkan kesulitan untuk membiarkan kami terawat dengan baik.


Pekerjaannya hanyalah pengumpul tanaman obat-obatan. Dan lagi, kami juga membuat kebun tanaman obat sendiri. Yah, itu tugas yang sulit.


Aku yang berusia sangat kecil itu hanya bisa mengamati kerja keras Pengurus


dan anak-anak yang lain tanpa mengetahui apa itu kenyamanan.


Satu-satunya yang kami tahu hanyalah ... Penderitaan!


Seringkali, kami merasakan lapar. Lapar yang tak tertahankan. Biasanya juga, kami tidak makan apa-apa selama beberapa hari. Paling-paling, kami berbagi makanan hanya untuk mengisi perut dan mengisi tenaga untuk bergerak.


Suatu hari, aku berumur 3 tahun. Tidak ada perayaan untuk itu. Umur mencapai tingkat ini, aku juga mulai membantu beberapa pekerjaan rumah.


Semua orang sangat toleran dan kompak. Nasib masing-masing dari mereka, seolah bergantung satu sama lain.


Seringkali, beberapa orang akan jatuh sakit dan tidak bisa bekerja. Itu menyulitkan kami.


Di sisi kami harus bekerja, kami kekurangannya. Di sisi lain, kami harus merawatnya dan untuk pengobatan ... itu kami serahkan pada Pengurus yang memiliki teman seorang dokter.


Suatu hari, beberapa bulan setelah ulang tahun ke-3, Pengurus ... meninggal!


Sudah beberapa hari Pengurus tidak pulang ke rumah. Saat teman Pengurus, sang dokter datang ke rumah kami, dia memberitahukan hal ini kepada kami.


Kenyataan pahit yang sangat sulit untuk diterima!


Sejak saat itu, kami hidup dengan kesusahan. Keesokan harinya, sekelompok orang datang ke rumah terbengkalai kami.


Mereka tiba-tiba memukul seorang anak laki-laki yang masih remaja dengan keras.


Bugh!


Anak laki-laki itu terjatuh dan mengerang kesakitan. Tapi, kesakitan itu tidak seberapa bagi kami yang telah senantiasa menderita. Jadi, kami bisa menahannya.


"Sekarang, tempat ini milik kami! Jika kalian masih ingin hidup, pergi dari sini!" Pria berbadan kekar dengan penampilan jahat berkata sambil menginjak tubuh anak laki-laki.


Semua orang ketakutan, termasuk diriku.


Anak-anak yang senasib denganku dan berumur tinggi, mereka menginstruksikan kami semua untuk keluar. Kami hidup dengan rasa kebersamaan yang tinggi.


Penuh kepedulian terhadap sesama.


Sejak hari itu, kami hidup tanpa rumah. Tinggal di pinggir jalan pemukiman kumuh. Itu lebih mengerikan dibandingkan tinggal di rumah terbengkalai.


Pada awalnya, kami tidak tahu harus bagaimana untuk hidup. Rumah dan tanaman obat kami telah dirampas. Kini, kami menjadi gelandangan sejati.


Dipenuhi rasa lapar, suatu hari beberapa anak-anak berusia awal belasan tahun datang. Mereka membawa beberapa roti besar yang cukup banyak.


Anehnya, tubuh mereka penuh lebam dan luka. Tapi, saat itu, tidak ada yang menyadarinya.


Kami hanya memperhatikan roti yang mereka bawa.

__ADS_1


Membagikan makanan dengan adil, setiap hari kini kami bisa hidup dengan perut terisi. Namun, kian hari, kelompok anak laki-laki yang datang menjadi semakin terluka. Kondisi mereka kian memburuk.


Suatu hari, aku memutuskan untuk mengikuti kelompok anak laki-laki yang membawa roti. Mereka pergi ke sebuah tempat yang ramai.


Tempat itu cukup bersih dan memukau. Ramai dengan orang yang beraktivitas dengan wajah bahagia.


Anak-anak seumuran ku bergandengan tangan dengan dua orang dewasa. Tubuhnya bersih dan wajahnya bahagia.


Berbeda dengan kami.


Memalingkan perhatian ke pemandangan indah, aku kembali tersadar dan mencari kelompok anak laki-laki.


Melihat ke sekeliling, aku melihat mereka.


Mereka tampak bersembunyi dari sesuatu dan pandangan mereka terfokus pada sesuatu di sana. Aku mengikuti pandangan mereka dan menemukan bahwa ada banyak roti dan makanan enak yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.


Tanpa disadari, air liur menetes di sudut mulutku. Tiba-tiba, sekelompok anak laki-laki berlari ke arah sana.


Bersembunyi di balik orang dewasa dengan cekatan, mereka terus berlari dan tiba-tiba menyambar makanan yang ada di sana. Setelah itu, mereka berlari berpencar dan masuk ke wilayah kumuh lagi.


Tanpa di duga, orang dewasa yang ada di sana tampak marah. Dia berlari untuk mengejar kelompok anak laki-laki.


Aku mengikuti arah ke mana mereka pergi. Namun, aku tidak menemukan mereka dan tersesat.


Menghadapi situasi semacam ini, aku menangis dengan keras. Hingga hari hampir gelap, pemimpin kelompok anak laki-laki dengan nafas lelah dan tubuh penuh luka menemukanku.


Dia tersenyum sambil mengelus-elus kepalaku dan berkata, "Jangan pergi jauh-jauh lagi, ya!"


Meski dia terluka, dia memaksakan senyum. Aku tidak tahu apa-apa saat itu, aku hanya mengangguk dan terus menangis.


Hingga hari, itu aku hanya bermain bersama anak-anak lain.


Hingga saat dia tidak bisa membawa roti lagi. Kelompok anak laki-laki itu datang dengan penuh luka dan mereka membawa seorang anak laki-laki yang sangat tidak asing.


Itu adalah pemimpin kami.


Tapi, kondisinya saat ini bersimbah darah dengan banyak luka di sekujur tubuh. Semua anak-anak yang datang langsung menjadi ngeri. Beberapa menangis karena takut.


Di saat yang sama, tiba-tiba di belakang kelompok mereka ada seseorang yang berteriak.


"Hei, kembali kalian! Bajing*n kecil! Kalian tidak akan kumaafkan, lho!"


Orang itu adalah seorang pria dengan tubuh gemuk. Dia penuh energi dan tampak marah.


Kelompok anak laki-laki menjadi pucat dan segera berkata pada yang kecil, "Lari! Ayo, kita bermain petak umpet! Aku akan yang mencari, kalian cepat sembunyi!"


Anak-anak kecil yang menangis mengangkat kepala dan segera wajah mereka cerah. Mereka segera berlari ke segala arah dan bersembunyi, termasuk diriku.


Saat itu, pemandangan yang mengerikan dan tidak pernah terbayangkan muncul.


Sekelompok anak laki-laki berdiri tegap dan memasang pose bertarung. Tubuh kurus dan penuh luka itu tampak kokoh, tapi aku bisa lihat bahwa mereka gemetar ketakutan.


Sambil menyeringai, pria gemuk mengulurkan tangannya ke belakang dan mengeluarkan pisau. Dia berkata, "Kali ini, kalian tidak akan bisa ke mana-mana lagi! Aku telah rugi banyak karena kalian! Jadi, matilah untukku!"


Pria itu berlari menuju kelompok anak laki-laki dengan wajah pucat. Mengayunkan pisaunya dengan amatir, seorang anak laki-laki membeku dan memasang tangannya di depan. Darah segar langsung terciprat saat pisau pria gemuk menyayat tangan anak laki-laki.


Splat!


Tubuhku bergetar dan tidak bersuara. Pemandangan ini sungguh mengerikan!


Anak laki-laki itu juga sama, dia hendak berteriak tetapi tidak bisa. Di sisi lain, semua anak-anak menjadi takut dan jatuh ke tanah tanpa sadar.


Melihat hal yang sama, pria gemuk itu gemetaran tangannya. Tangan dan pisau penuh darah, tiba-tiba dia merasakan perasaan aneh yang memberinya perasaan ekstasi.


Ketika wajahnya membeku, dia menyeringai dan gigi yang penuh lubang terekspos. Senyumnya menunjukkan tampilan jahat seperti pembunuh berdarah dingin.


Beberapa saat kemudian, adegan penuh kekerasan dimulai. Teriakan dan suara yang membuat ngilu terdengar. Genangan darah muncul dan pria gemuk itu terengah-engah dengan wajah penuh kebebasan dan kepuasan.


Aku menyaksikan pemandangan itu tanpa berkedip, aku sama sekali tidak bisa bergerak!


Pria gemuk berkata, "Fiuh, siapa yang menyangka kalau orang-orang bodoh ini bisa memberikan kepuasan semacam ini? Ini benar-benar membuat ketagihan.


Dia menyeringai dan berbalik pergi dan terus berbicara, "Kapan-kapan aku akan ke sini lagi."


Setelah sosok pria gemuk itu pergi, tanpa disadari aku merasa lega dan bisa bergerak kembali. Tapi, tubuhku terasa lemas.


Melihat ke genangan darah dan mayat dengan wajah kesakitan, tiba-tiba aku merasa mual dan muntah.


Huek!


Setelah itu, aku pingsan dengan sendirinya.


.....


Hari gelap, hujan turun dengan deras sementara angin bertiup kencang. Angin kian kencang, pertanda badai besar akan datang.


Tenggorokan dan bibir yang kering menjadi basah dan aku merasa segar setelah meminum air hujan. Tapi, aku tidak bisa bergerak.


5 tahun telah berlalu sejak saat itu. Sekarang, aku berumur sekitar 8 tahun. Pada saat ini, di lorong yang gelap dan kotor, tubuhku tergeletak tak berdaya.

__ADS_1


Perutku lapar, tidak memiliki kekuatan untuk bergerak dan rasa sakit terasa di sekujur tubuh. Sejak kejadian itu, aku hidup dengan penuh kewaspadaan dan kesulitan.


Aku memimpin semua anak kecil, bersembunyi dari pria gemuk itu. Sejak hari itu, pria gemuk sering berkeliling dan menyiksa anak kecil, kemudian membunuhnya.


Mengetahui hal ini, kami hidup dengan penuh ketakutan. Untungnya, kebersamaan yang terjalin pada diri kami membuat kami bisa bertahan. Tapi, itu semua hanya sementara.


Kami hidup sebagai pencuri. Mencuri uang, makanan dan barang berharga. Terkadang, kami menggunakan berbagai alasan untuk memeras harta orang-orang yang baik hati.


Kami jarang merasa lapar lagi. Namun, kami jatuh pada jalan kejahatan tanpa disadari. Demi bertahan hidup, anak kecil seperti kami yang tidak memiliki pembimbing menjadi penjahat kecil, sampah masyarakat.


Hingga hari ini, kelompok kami yang terdiri dari anak-anak kecil ... musnah. Tidak ada yang menduga kejadian hari ini akan terjadi.


Semenjak kami terkenal di pemukiman kumuh, sekelompok orang dewasa mendatangi kami dan memperbudak kami. Mengancam sesama kami yang tidak berdaya. Sementara kami melakukan banyak tindak kejahatan dan mencari uang kotor, mereka menikmati hasil kejahatan kami.


Hari ini, ketika aku telah mengumpulkan cukup uang bagi kelompok untuk pergi, kami tertangkap oleh orang-orang yang memperbudak kami. Karena tindak kejahatan kami, kami menjadi buronan.


Melihat harga penangkapan yang lumayan pada hari itu, kelompok orang dewasa berniat menangkap kami, hidup maupun mati. Jadi, rencana kabur kami digagalkan!


Berpencar ke segala arah, kelompok kami dibunuh dan jatuh satu persatu. Melalui berbagai perjuangan, aku berhasil lolos.


Tapi, sepertinya aku adalah satu-satunya yang tersisa.


Di malam yang gelap itu, bulan dan bintang tertutup awan hitam tebal. Hujan turun dengan deras, angin menerpa dengan kencang.


Sudah beberapa hari semenjak pelarianku dari pengejaran kelompok sialan itu. Aku belum makan sejak saat itu. Melewati berbagai jalan di pemukiman kumuh, kini aku tiba di sebuah lorong gelap.


Sepertinya, ini di wilayah pemukiman penduduk yang biasa. Namun karena malam, suasana di sini sangat sepi. Hanya suara hujan deras dan petir yang terdengar.


Suatu saat, aku berpikir ...


Untuk apa aku hidup?


Kenapa selama ini aku berusaha bertahan hidup?


Kenapa aku takut dengan peristiwa waktu itu?


Lagipula, aku telah merasakan derita yang pedih, untuk apa aku takut mati?


Haah, ada baiknya aku mengakhiri penderitaanku.


Tubuhku tergeletak, mataku terasa berat dan mengantuk. Tiba-tiba, aku merasa mati rasa di sekujur tubuh.


Apa ini?


Aku bertanya-tanya.


Apa aku akan mati?


Aku memaksakan senyum dan berpikir, 'Benar juga, kudengar ada suatu kepercayaan di sini. Siapa itu, ya ... sesuatu seperti dewa atau semacamnya.'


Sial! Apanya yang Dewa!


Aku ingin menangis.


Kehidupanku begitu menyedihkan! Untuk apa Dewa ada? Kenapa dia tidak menolongku!


Di tengah-tengah keputusasaan, tiba-tiba suara yang sama-sama terdengar. Terdengar langkah kaki beberapa orang.


Berusaha mengangkat kepala, aku melihat ke arah jalan. Tiba-tiba, mataku berair dan aku terpesona.


Apakah ini mimpi?


Itulah yang aku pikirkan saat itu.


Suara yang kecil, hangat dan lembut terdengar, bercampur dengan derasnya hujan, aku tidak mendengarnya dengan jelas.


"Apakah kamu ingin ikut denganku?"


Pada saat itu, yang aku rasa hanyalah keheningan dan cahaya.


Seorang gadis kecil yang cantik, pelayan pria paruh baya membawa payung dan lentera. Bagiku, momen itu sangatlah indah.


Seolah-olah malaikat — tidak, Dewi turun dan menemuiku.


Sosoknya terasa sangat terang, segala sesuatu di dunia tampak menghilang dan hanya ada sosok gadis kecil itu.


Aku tidak tahu apakah ini ilusi sebelum kematian. Mungkin penampilan indah ini muncul karena keadaan putus asa dan sekarat ku ini.


Aku berusaha membuka mulut, tapi itu sangat sulit. Pandanganku menjadi kabur dan gelap. Pada momen berikutnya, aku tergeletak dan tidak sadarkan diri.


Dengan senyuman kecil di wajahku yang kotor, aku tertidur dengan pulas tanpa kekhawatiran untuk pertama kalinya.


***


Tekan like jika kamu suka cerita ini.


Tekan love jika kamu suka novel ini.


Dukung author dengan vote dan hadiah.

__ADS_1


Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.


Terimakasih


__ADS_2