[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 143 ~ Dua Cecunguk


__ADS_3

Ketika berjalan di Kota Hiera, Zero masih merasakan tatapan dari banyak orang. Ternyata, orang-orang sekitar masih memperhatikan kelompoknya, padahal Balph telah berubah menjadi manusia bertudung untuk menyembunyikan kuping binatangnya.


Karena hal itu, dia berhenti, menyapu pandangan ke sekitar dan melihat bahwa banyak wanita sedang melihat dirinya dan kelompoknya dengan tatapan jatuh cinta. Zero baru menyadari bahwa penampilan dirinya dan yang lain cukup mencolok.


Pakaian serba hitam yang mencolok milik Zero; pakaian setengah telanjang yang menampilkan tubuh bagian atas milik Barosa dan Zeus; kecuali Balph yang bertudung, semua wanita melihat ke arah mereka dengan tatapan bergairah.


Zero mengerutkan kening, baru menyadari bahwa fokus perhatian orang-orang ini bukan pada Balph, melainkan dirinya!


Kelompok pria tampan itu menarik perhatian khalayak umum, terutama wanita. Tubuh yang atletis dan proporsional membuat para wanita merasa hidungnya berdarah. Sementara beberapa pria menonton karena semua wanita melihat ke kelompok Zero.


Terjadi diskusi di antara banyak orang.


"Siapa orang-orang ini? Aku baru pertama kali melihatnya. Sial! Wanita-wanita ini, kenapa mereka tidak memperhatikan diriku?" Seorang pria mendecakkan lidah dengan heran.


"Hei, lihat dirimu sendiri. Apa kau belum pernah bercermin?" Pria di sebelahnya mendecakkan lidah lebih heran melihat pria kurus kering sebelumnya.


Sementara itu, para wanita berdecak kagum.


"Kyaa, tampan sekali! Dan lihatlah tubuh itu … kyaa!"


"Hei, nak, apa kalian baru di sini? Biarkan kakak-kakak ini bersenang-senang dengan kalian."


.....


Pesona yang keluar dari Zero dan yang lainnya membuat mereka menarik perhatian.


"Ya ampun, ada-ada saja." Zero menggelengkan kepalanya acuh tak acuh. Wajah dinginnya membuat para wanita itu menjadi lebih menggila.


Tanpa memedulikan hal ini, Zero akhirnya sampai di sebuah penginapan.


Membuka pintu perlahan, suara lonceng terdengar ketika pintu terbuka.


"Permisi!"


Kling, kling, kling.


"Hei, nona, pesan satu paket makan siang!"


"Iya, tunggu sebentar. Sebentar lagi, aku akan datang!" Seorang wanita muda tengah sibuk dengan mengirimkan makanan ke berbagai meja.


Di jam makan siang ini, penginapan akan berada pada waktu yang sibuk. Banyak pemesanan yang menunggu untuk di selesaikan.


Orang-orang sedang berbicara.


"Hei, apa kau akan ikut Turnamen Tarung besok?" Pria paruh baya bertanya pada temannya yang lebih tua.


Pria tua menggelengkan kepala, "Tidak, turnamen itu terlalu sulit. Aku dengan Turnamen Tarung kali ini akan sangat meriah."


"Meriah? Memangnya kenapa?" tanya pria paruh baya.


"Hais, kau ini … apa kau tidak tahu kalau ada Pahlawan dari dunia lain tahun ini? Jelas, mereka akan mengikuti turnamen itu untuk menunjukkan popularitas dan kepercayaan."


"Hoo, jadi begitu. Seperti yang diharapkan, kau bisa tahu hal seperti ini."


Banyak percakapan, gadis tadi terus melewati berbagai meja untuk mengirim makanan yang dipesan.


Saat mendengar lonceng, gadis yang membawa makanan segera melihat ke pintu dan memberikan senyum hangat. "Selamat datang di penginapan Catfish."


Tiba-tiba, wajahnya membeku dan makanan di tangannya jatuh.


"Nona?" Pria yang sebelumnya memesan melihat ke pintu.

__ADS_1


Sekelompok pria tampan tiba-tiba muncul. Tidak ada yang merasakan keberadaannya, tetapi setelah memperhatikan, aura aneh bisa dirasakan. Itu aura semacam pesona dan martabat, keagungan yang tinggi.


Dalam sekejap, suasana penginapan yang berisik menjadi hening. Semua orang menatap ke Zero dan yang lainnya. Gadis yang terpana segera menjadi panik karena menjatuhkan makanan.


"Aduh, ah, bagaimana ini?" Gadis muda itu langsung membungkuk dan berusaha membersihkan makanan yang jatuh tetapi menjadi terkejut.


Makanan yang tadi terjatuh sebenarnya sedang melayang dan tidak jatuh ke tanah. Zero berjalan ke depan, makanan yang melayang terbang menuju Zero. Zero pun mengambilnya dan memberinya pada gadis itu.


Zero berkata, "Berhati-hatilah, lain kali."


Saat mendengar ini, mata mereka saling bertatapan, waktu serasa berhenti bagi gadis muda itu. Otaknya terasa kosong dan hanya merespon dengan kebiasaannya selama berkerja di penginapan, "Ah, iya, terimakasih."


Dia mengambil makanan itu. Sebelum tersadar, Zero berkata, "Ngomong-ngomong, di mana aku harus registrasi?"


Gadis muda segera tersadar, dia berkata dengan sedikit gugup, "Namaku Lucy, selamat datang di penginapan Catfish. Silahkan, saya akan meregistrasi Anda."


Dia menunjuk ke meja resepsionis.


"Oh, ya? Terimakasih."


Zero segera berjalan ke depan, gadis bernama Lucy itu mengikuti di belakang setelah mengirim makanan ke meja pemesan. Membawa pena dan lembaran kertas, Lucy itu membuka mulutnya, "Siapa nama Tuan?"


Zero segera menjawab sama seperti sebelumnya, "Zack!"


Dia juga memperkenalkan pelayannya, "Zeus, Zir (Barosa) dan …." Zero melirik Balph, "Balph."


Setelah menulis nama-nama itu, Lucy berkata, "Baiklah, karena nama kalian telah terdaftar, sekarang tinggal berapa kamar dan berapa lama kalian menginap? Setiap kamar memiliki dua kasur, apa kalian akan memesan dua kamar?"


Zero menjawab sambil mengangguk, "Satu malam, dua kamar."


"Baiklah, biayanya 100 Mill. Penginapan ini memiliki layanan kamar seperti makan 3 kali sehari, jadi itu harga yang wajar." Lucy menambahkan, bagi orang-orang dunia ini, 100 mill bisa dibilang berharga.


Menurut mata uang dunia ini, 1 Mill setara dengan 1 koin perunggu kecil, 10 Mill setara dengan 1 koin perunggu besar dan 100 mill setara dengan 1 koin perak kecil …


Saat tinggal di Karaztam, Zero sudah mendapat banyak dari Kerajaan Goethe, benua iblis dan ruang harta Barosa. Hal sepele ini, Zero memasukkan tangannya ke dalam saku celana, mengambil koin perak diam-diam dari Penyimpanan Sistem.


Setelah registrasi, Lucy memberikan dua kunci kamar kepada Zero. Dengan itu, Zero pun selesai dan pergi ke kamar yang diberikan.


Saat Zero dan yang lain pergi, keributan besar terjadi di ruang makan. Mereka membicarakan perihal identitas Zero dan membahas Turnamen Tarung.


Saat berada di koridor, Zero tiba-tiba berhenti. Dia berkata, "Kalian beristirahatlah dulu di sini. Aku akan pergi berkeliling."


Sosok Zero berkedip, dua kunci terlempar dan ditangkap Zeus. Pada saat yang sama, sosok Zero telah menghilang.


.....


Saat ini, Kota Hiera masih ramai, meski hari sudah siang. Orang-orang masih beraktivitas seperti biasa.


Di suatu tempat di Kota Hiera, sosok Zero tiba-tiba muncul dari ketiadaan. Zero menoleh ke kanan dan kiri. Dia berada di lorong yang lembab dan gelap. Tempat itu sepi, tetapi ketika Zero melihat ke dalam kegelapan lorong, dia bisa melihat beberapa orang yang berada di kedalaman lorong.


Zero mengerutkan keningnya dan menatap tajam ke depan, "Itu …"


Di kejauhan, rintihan seseorang terdengar beserta suara pemukulan.


"Dasar sampah, uang segini mana cukup! Jika kau tidak bisa memperoleh uang hari ini, kau akan tahu akibatnya!" Seorang pria jelek itu berkata dengan nada mengancam ketika dirinya menendangi seorang anak muda yang kumuh.


"Hentikan, tolong hentikan!" seru anak muda itu sambil meringkuk di tanah.


Di sebelahnya, pria gendut sedang memakan roti dan berkata, "Hei, hentikan itu, Bill. Dia tidak bisa mencari uang lagi. Mencari orang pengganti itu susah, tahu."


Pria jelek berkata dengan kasar, "Siapa peduli?! Jika dia tidak bisa, untuk apa dia terus hidup? Itu berarti kita harus mencari orang lain!"

__ADS_1


Pria gendut tidak bisa berkata-kata, dia hanya terus memakan roti lagi dan lagi. Sementara itu, anak muda yang dipukuli menjadi ketakutan.


Tiba-tiba, pria jelek itu tertawa jahat, "Hehehe, benar juga. Aku ingat kalau anak ini memiliki adik perempuan. Kalau kita menjualnya pada bangsawan yang tertarik, bukankah kita akan untung besar?"


Tiba-tiba, anak muda yang ketakutan itu menjadi marah. Rasa takutnya lebih lemah dari rasa marah yang dia miliki. Melihat kejadian ini di kejauhan, Zero tersenyum tipis.


Sebelum pria gendut itu merespon omongan pria jelek, Zero telah datang dan meninju pria jelek hingga terpental. Pria gendut yang terkejut langsung menjatuhkan roti.


"Siapa kau!?" teriak pria gendut sambil mengeluarkan tongkat dengan permata berwarna merah pucat di ujungnya dari pinggang.


Dia terkejut, tidak menyangka kalau ada orang yang tiba-tiba menyerang mereka. Bahkan dengan kemampuannya, pria gendut dan pria jelek tidak bisa merasakan kehadiran orang tadi.


Melihat lebih jelas, pria gendut menyipitkan matanya yang sudah sipit. Seorang pemuda berambut hitam panjang dengan pakaian serba hitam, berdiri tegak seolah-olah bisa bertahan dari badai. Aura martabat yang tinggi bisa dirasakan saat melihatnya.


Pria gendut tidak bisa membantu tetapi menelan ludah tanpa sadar. Pria jelek yang dipukul, jatuh tersungkur. Pukulan tadi penuh kejutan, tetapi tidak mengandung banyak kekuatan. Meski begitu, dia masih merasakan sakit di pipinya. Dia merasa bahwa wajahnya ini membengkak karena pukulan tadi.


Kali ini, Zero tidak langsung membunuh musuhnya. Dia memiliki pemikiran sendiri untuk mencari tahu hal yang terjadi lebih detail. Dari percakapan mereka ini, Zero bisa tahu kalau mereka tidak bekerja secara sembarangan. Mereka pasti memiliki kelompok, sebuah organisasi kriminal!


Suara yang dalam, dipenuhi keagungan dan teror, Zero berkata, "Kalian dua cecunguk, beraninya menindas orang di siang bolong."


Bulu kuduk terasa berdiri, pria jelek itu bangkit dengan kesulitan dan menghampiri rekannya.


"Sial, siapa orang ini?" Dia bertanya pada pria gendut. Menggertakkan gigi dengan marah, dia berkata, "Tidak peduli siapa dia, kita harus membunuhnya!"


Pria gendut mengangguk, pipinya yang tembem bergetar.


Tiba-tiba orang itu melompat, menerjang ke arah Zero. Saat di udara, dia mengeluarkan belati beracun dari belakang dan menyerang Zero.


"Mati!" Kekuatan tak kasat mata menambah kecepatan sekaligus ketajamannya.


"Wind Dagger Slash (Tebasan Belati Angin)!" seru pria jelek.


Pria jelek itu terbilang cukup kuat bagi penduduk dunia ini. Tapi karena beberapa alasan, dia tidak memiliki posisi yang bagus di organisasi.


Saat ini, dia seharusnya berada di level 130. Pikir pria gendut.


Saat lintasan belati mendekat, Zero hanya menggeser posisinya dan menghindar dengan gerakan minimal.


"Apa?" Pria jelek itu tercengang. Serangan yang dia lakukan termasuk serangan mendadak. Menurut pengalamannya, sulit bagi lawannya untuk bereaksi menghindar.


Si gendut juga terkejut, dia tidak menyangka kalau Zero bisa menghindar.


Zero, menghindari serangan cepat belati, dia mengulurkan tangannya, menggelengkan jari telunjuk dan kepala, dia berkata dengan nada mengejek, "Cecunguk rendahan, kau tidak akan bisa menyentuhku. Aku beri kau kesempatan, minta maaf sekarang dan pergi, jangan melakukan hal seperti ini lagi."


Dengan marah, pria jelek berteriak, "Minta maaf ayahmu! Gendut, bantu aku!"


Pria gendut yang terkejut segera sadar, dia menyadari bahwa Zero tidak bisa diremehkan. Jika ingin mengalahkannya, dia harus menyerang secara berkelompok.


Seperti kata-kata orang bijak, dua tangan tidak bisa melawan empat tangan.


Dengan itu, pria gendut maju ke depan.


***


Tekan like jika kamu suka cerita ini.


Tekan love jika kamu suka novel ini.


Dukung author dengan vote dan hadiah.


Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2