[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 168 ~ Kelompok Enam Orang


__ADS_3

World Domain adalah kemampuan khusus yang hanya bisa dilakukan oleh Dewa tingkat mitos.


World Domain merupakan semacam dunia pribadi dari Dewa. Di sana, merekalah yang berkuasa.


Mereka dapat membuat aturan sesuka hati, namun itu terbatas pada makhluk yang berada di bawahnya. Dengan kata lain, aturan yang mereka buat tidak akan mempengaruhi orang yang lebih, setara atau hampir sekuat dirinya yang masuk ke dalam World Domainnya.


Seperti Zeus yang pernah bertarung dengan Zero di dalam World Domainnya. Dia tidak bisa mempengaruhi aturan dunia pada Zero.


World Domain berbeda dengan Lord Domain milik Zero, tetapi memiliki konsep yang sama.


Secara khusus, kemampuan Lord Domain lebih praktis. Sementara World Domain perlu memasukkan target untuk menggunakan aturan dunia, Lord Domain hanya perlu membentuk zona saja.


Di sisi lain, Lord Domain sendiri memiliki keterbatasannya.


Lord Domain yang Zero miliki didapatkan setelah mengumpulkan Tiga Tato Penguasa, yaitu Penguasa Air Poseidon, Penguasa Neraka Hades dan Penguasa Alam Semesta Zeus.


"Jadi, apa yang akan kita bicarakan, Tuan?"


Zeus bertanya pada Zero yang menyesap tehnya.


Kolam air yang jernih dengan ikan hias di dalamnya dan jembatan indah di atasnya. Taman dengan bunga-bunga indah serta pohon yang dipangkas rapi.


Nuansa yang asri, tentram dan damai.


Berbeda dengan dunia luar yang sudah malam, matahari bersinar cerah di sini.


Sementara itu, Zero dan Zeus berbicara di bawah pohon teduh dengan kursi dan meja serta beberapa makanan ringan.


Zero meletakkan cangkir tehnya.


"Um, bagaimana bilangnya, ya."


Dia berusaha merangkai kata-kata yang akan digunakan.


"Ini masalah wanita," kata Zero dengan malu-malu.


"—!!!"


Tiba-tiba, mata Zeus tampak berbinar dan berdiri kaget.


"—!?"


Zero juga tersentak oleh gerakan tiba-tibanya.


"A-ada apa?" Zero bertanya dengan bingung.


"Ahem, ahem, maafkan saya."


Zeus berdeham untuk menenangkan diri dan meminta maaf sebelum duduk kembali.


"Bisa Anda ulangi lagi?"


"Ini tentang wanita. Aku dengar kau cukup berpengalaman tentang itu."


Zeus adalah Dewa yang memiliki banyak selingkuhan menurut mitologinya. Jadi, Zero memutuskan untuk bertanya pada Zeus.


"Oh, jadi begitu. Memang benar saya cukup berpengalaman di bidang 'itu', tetapi saya tidak terlalu paham mengenai percintaan."


Yah, itu jelas. Hubungan Zeus dengan wanita hanya didasari oleh nafsu saja.


Ngomong-ngomong, Zeus tidak tahu dan tertarik dengan konsep cinta, meskipun wanita yang dia tiduri mencintainya. Tapi, kebanyakan dari mereka menjadi membenci Zeus karena ditelantarkan.


Zeus berkata, "Meskipun saya tidak tahu tentang percintaan, saya akan memberitahu Tuan berbagai teknik untuk menaklukkan wanita."


Zero menutup satu matanya ketika menyesap cangkir teh sambil pura-pura tidak tertarik.


"Mmm … okelah, beritahu aku. Itu mungkin akan berguna suatu hari nanti."


"Tentu, Tuan. Saya berani menjamin bahwa semua wanita akan ditaklukkan dalam satu malam! Bahkan wanita yang tidak menampilkan emosinya dan wanita yang—"


Dan begitulah, obrolan dewasa Zero dan Zeus malam itu berlanjut hingga pagi hari.


.....


Keesokan harinya.


350 ribu tentara telah bersiap dan formasi pertempuran telah dibentuk.


Di antara prajurit, mereka saling mengobrol sambil berusaha tidak ketahuan oleh komandan mereka.


Ada yang gugup, ada yang bersemangat, ada yang malas, ada yang takut dan ada yang gelisah.


Berbagai perasaan campur aduk memenuhi perasaan para prajurit.


Berita kekalahan Divisi Ksatria Hitam dan Divisi Ksatria Kuning yang terkenal kuat telah menyebar. Itu sudah cukup untuk membuat moral para prajurit menurun drastis.


Medan perang ini ada di luar tembok Kota Hiera, ibukota Kekaisaran Paliji. Rumah kumuh dan sawah yang berada di sana dirusak dan diinjak.


Suatu saat, beberapa sosok keluar dari hutan.


"Mereka datang!" seru komandan baris depan dengan nada rendah.

__ADS_1


Para prajurit pun bereaksi dan bersiap, sementara suasana menjadi lebih tegang. Tapi, ada yang tidak beres.


"Hm? Hanya ada enam orang?"


Seorang prajurit berkata mewakilinya yang lainnya.


Berdiri di sisi hutan; Alexander, Raja Iblis Margus beserta empat Jenderal Iblis berbaris dengan urutan di atas.


Di suatu tenda yang merupakan markas pusat Kekaisaran Selestial, seorang pembawa pesan datang.


Prajurit pembawa pesan memperkenalkan dirinya, "Utusan Komandan Gilris, datang membawa pesan!"


Setelah serangkaian konfirmasi, orang di dalam tenda mengizinkan masuk.


"Masuk!"


Pembawa pesan tersebut pun masuk dengan hati-hati ketika membuka tirai tenda dan memberi hormat.


"Permisi."


"Ya, ada pesan apa?"


Seorang pria paruh baya di akhir usia 30 bertanya. Dia adalah Menteri Pertahanan atau Panglima Perang Kekaisaran Paliji. Dia adalah Mygy Peter.


Aura kharisma khas pemimpin membuat pembawa pesan gugup. Dia dengan usaha keras berkata, "Kami menemukan sekelompok musuh. Sayangnya tidak ada keberadaan pasukan lain, hanya ada satu kelompok yang terdiri dari 6 orang."


"Enam orang?"


Panglima Perang Mygy merenung. Setelah beberapa saat, dia bertanya, "Bagaimana penampilan mereka?"


"Menurut kesaksian beberapa prajurit yang selamat dari kota yang telah ditaklukan, enam orang tersebut adalah para petinggi musuh. Salah seorang pemuda di sana adalah pemimpin musuh."


"Pemimpin di garis depan? Lelucon apa itu?"


Pemimpin suatu pasukan merupakan inti dari pasukan. Jika rantai komando dari pusat rusak, maka pasukan yang berjumlah ribuan akan menjadi kacau, tidak teratur. Jelas, musuh yang lebih teratur akan dengan mudah melawan pasukan yang kacau.


Peter atau Panglima Perang Mygy tidak ingin percaya, tetapi itulah kenyatannya. Dia berdiri dan berkata, "Ada kemungkinan ini adalah umpan musuh. Kelompok enam orang itu mungkin samaran. Beri mereka serangan peringatan, kemudian serbu jika pasukan terlihat. Jika tidak ada pasukan yang terlihat, habisi mereka!"


"Baik!"


Pembawa pesan bergegas pergi dan menyampaikan perintah.


Sementara itu, di sisi hutan.


"Jadi hanya segini, ya, pasukan musuh."


Alexander memandang pasukan musuh. Tidak ada emosi apapun di mata ataupun penampilannya. Namun, terdapat ketidaksabaran jauh di dalam hatinya. Dia tidak sabar untuk bertemu tuannya, Zero.


Meski begitu, itu bukanlah anak panah biasa. Itu adalah anak panah yang telah ditingkatkan oleh beberapa jenis sihir pendukung sehingga kerusakan yang akan disebabkan cukup untuk menembus besi yang tebal.


"Margus!" seru Alexander, pelan.


"Baik!"


Seorang pria paruh baya dengan ciri-ciri penampilan iblis mulai terbang dengan sayap hitam khasnya.


Raja Iblis Margus maju dan mengepakkan sayapnya dengan keras. Angin yang kuat menerpa musuh, anak panah kehilangan kekuatannya sementara prajurit di depan kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


"Apa?"


"Woah, dia bisa menumbangkan seribu anak panah yang telah ditingkatkan dengan mudah."


"Hei, hei, bukankah ini buruk?"


Para prajurit musuh bergumam dengan terkejut, kagum dan takut.


Sementara itu, laporan datang ke markas pusat.


"Tidak mempan? Kalau begitu, mereka pasti prajurit elit. Perintahkan Divisi Penyihir ke-1 untuk memusnahkan mereka!"


Peter masih belum percaya kalau Alexander dan yang lain adalah para petinggi Kekaisaran Selestial. Dia sekarang mengira tiruan petinggi merupakan prajurit elit.


"Mulai persiapan!"


Di salah satu tempat, pasukan yang terdiri dari Penyihir merapalkan mantra.


"Divisi Penyihir ke-1! Serang!"


"""Fireball!"""


Selanjutnya ketika mantra selesai dilantunkan, kumpulan bola api terbang melengkung ke tempat Alexander.


"Sudahi buang-buang waktunya! Semuanya, habisi mereka!" Alexander tidak menunggu untuk bertahan lagi. Dia memerintahkan timnya untuk menyerang.


"Baik!"


Semua orang menyebar dengan bergegas. Ketika bola api mendarat di tanah, ledakan kumpulan bola api yang terjadi sangat besar.


Orang-orang Paliji bersuka cita karena mereka melihat after-image tim Alexander terkena serangan.


Sementara itu, teriakan juga terdengar dari area pasukan Kekaisaran Paliji.

__ADS_1


"Uwaaaa!"


"Gyaaa!"


"Apa!?"


"Ugh!"


Alexander menerobos musuh dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dia menggunakan Sihir Angin untuk menyelimuti tubuhnya dan memukul lawannya hingga tubuhnya terpelintir oleh angin yang berputar.


Pasukan musuh tidak sempat untuk merespon karena serangan itu. Pasukan serta komandan yang bingung kembali ke akal sehatnya.


"Dia ada di sana! Serang!"


"""Uooooh!!"""


Pasukan tombak menyerang dari segala arah.


"Ini tempat yang cocok."


Alexander yang berhenti menghentakkan kakinya ke tanah.


"Tanah Kehancuran!"


Tiba-tiba, tanah hancur. Tanah-tanah tersebut melebur, ada yang mencuat ke atas dan ada yang ke bawah. Peristiwa tersebut mirip dengan gempa.


Hal itu menyebabkan pijakan prajurit musuh menjadi tidak seimbang dan mereka terjatuh.


"Kemudian … Earth Thorn (Duri Tanah)!"


Tanah yang runcing seperti tombak muncul dari bawah. Para prajurit tertusuk oleh beberapa tombak di area tanah hancur di mana tombak tanah terbentuk.


Baju zirah besi dan kulit tidak berguna.


Semua orang tertusuk dan mati.


Sebanyak lima ribu orang dalam radius telah tewas.


Kemudian, Alexander kembali berlari dengan gesit di mana musuh berkumpul.


"Fire Burst!"


Dia mengayunkan tangannya ke depan dan ledakan api keluar dari tangannya. Api yang sangat besar dan panas menerpa pasukan musuh yang menjerit kesakitan.


"Aaargh!"


"Uwaah! Tolooong!"


Seketika itu juga, tubuh musuh menjadi arang, sedangkan armor mereka meleleh.


Di tempat lainnya—


Raja Iblis Margus terbang dengan sayapnya. Setelah berada di atas musuh, dia turun.


Saat ini, dia berada di tengah-tengah musuh. Dia membawa pedang panjang dan mengayunkannya secara melingkar.


"Absolute Slash!"


Sekumpulan musuh termutilasi menjadi beberapa bagian.


"Aaarrgh! Perutku!"


"Guwaah!"


Darah berceceran, daging dan organ dalam bertebaran.


Adegan itu bagaikan neraka itu sendiri.


"Ti-tidak mungkin … bagaimana bisa …"


Peter sang Panglima Perang yang melihat kekacauan itu dengan mata kepalanya sendiri terguncang. Keyakinannya akan kemenangan telah hilang sejak dimulainya pembantaian satu sisi.


Orang-orang di sekitarnya juga menjadi ketakutan.


Pada saat itu juga, seseorang berteriak dengan harapan di dalamnya.


"Petapa Gargus! Sang Penyihir Legenda, Sage Manusia, Gargus! Dia ada di sini!"


Mendengar suara itu, semua orang termasuk Peter melihat ke arah yang ditunjuk oleh prajurit itu.


Kebahagiaan yang muncul di tengah-tengah keputusasaan adalah … harapan.


***


Tekan like jika kamu suka cerita ini.


Tekan love jika kamu suka novel ini.


Dukung author dengan vote dan hadiah.


Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2