![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
'Gawat!' seru Phankar dalam benaknya.
Phankar ditembaki bola api oleh Zero dan memutar tubuhnya untuk menghindar. Namun, kejadian tak terduga terjadi.
"Explode!" seru Zero.
Bola api yang tidak mengenai Phankar meledak dengan hebat. Tekanan angin panas terasa dari jarak Zero yang cukup jauh.
"Fuuu~ Kuat sekali ledakannya, ya." kata Zero.
Asap abu-abu yang membumbung tinggi terlihat di tempat kejadian. Zero memeriksa dengan hati-hati ke dalam kumpulan asap. Namun, tidak ada benda yang tampak jatuh dari kumpulan asap.
"Apakah ledakan itu menghancurkan tubuhnya?" gumam Zero.
"Tidak, itu tidak mungkin. Daya ledak tadi tidak mungkin dapat membunuh divine beast dalam sekali serang. Apalagi hingga tidak ada sisa. Kalau begitu, di mana phanter itu berada?"
Akhirnya, asap menghilang. Namun, sosok Phankar tidak juga muncul.
"...!" Zero terkejut.
Zero melihat bayangan hitam yang ada di belakang kawanan serigala dan menyerang serigala dengan sangat cepat. Kecepatannya lebih cepat daripada kecepatan suara.
Itu memang hal yang wajar. Mengingat statistik Zero yang belum mencapai 1 miliar sudah setingkat kecepatan suara. Sedangkan Phankar memiliki kecepatan 9 miliar.
Kecepatan Phankar hampir menyamai kecepatan cahaya. Meski begitu, Zero masih mampu mengikuti alur serangan Phankar dengan deteksi dan pengalaman tempurnya.
Beberapa serigala mati dalam satu detik. Leher mereka terkoyak karena gigitan dan lainnya mati karena cakaran. Zero memutuskan untuk menggunakan kekuatan penuhnya. Zero memejamkan matanya.
"Uuuffffp ... huuuff." Zero menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya dengan perlahan.
Dalam kondisi ini, Zero seakan menyatu dengan alam. Zero merasakan semua yang terjadi dalam radius 10 km. Dunia terasa melambat.
Pikiran Zero berakselerasi dengan alam dan menyatu. Zero melihat setiap hal yang terjadi dalam jangkauannya meski dengan mata tertutup.
[Selamat!]
[Anda telah membuka potensi baru!]
[Anda mendapatkan Ultimate skill: Natural acceleration.]
[Anda telah meningkatkan Ultimate skill: Divine detector mencapai tingkat menengah.]
[Natural Acceleration.
Rank: Ultimate.
Tipe: Pasif (Aktif).
Sebuah skill yang memungkinkan pengguna untuk mempercepat pikiran. Kesadaran pengguna akan dibawa ke area sekitar dan dunia terasa lebih lambat.
Opsi:
*Meningkatkan statistik intligent dan insight sebanyak 200%.
*Penglihatan pengguna terhadap dunia menjadi lebih cepat 10 kali.
*Setiap mengaktifkan skill, jiwa pengguna akan dibersihkan. Sehingga kekuatan jiwa menjadi lebih murni dan statistik yang berhubungan dengan kesadaran meningkat sedikit.
*Pengguna dapat melihat segala sesuatu yang terjadi dalam area 10 km dan seluruh pergerakan menjadi lebih lambat.
Syarat penggunaan:
*Tingkat kefokusan yang ektrem.
konsumsi sumber daya: Tidak ada.]
[Divine Detector.
__ADS_1
Rank: Ultimate.
Tipe: Pasif.
Sebuah skill yang mampu mendeteksi segala sesuatu yang terjadi dalam radius 1,000,000 km. Kesadaran pengguna akan dibawa menuju sekitar, namun tidak menyatu dengan alam.
Opsi:
*Selama mengaktifkan skill, pengguna tidak dapat bergerak.
*Pengguna dapat mencari hal yang diinginkan dalam radius 1,000,000 km.
*Sudut pandang pengguna terhadap dunia menjadi berbeda.
Syarat penggunaan: Tidak ada.
Pemakaian sumber daya: 10% maksimal MP.]
Notifikasi system terdengar dan inderaku menjadi lebih tajam. Zero melihat Phankar yang sedang berusaha menyerang seekor serigala saat tubuhnya masih berupa bayangan.
"Sekarang!" teriak Zero.
Zero secara reflek menyerang Phankar dengan bola api sambil menuju ke arah Phankar. Rentetan bola api membombardir kawanan serigala dan Phankar. Serangan Zero tidak memperdulikan teman dan lawan.
Phankar terkejut ketika ada tembakan bola api, "Apa?! Bagaimana-!"
Phankar tidak menyelesaikan kalimatnya dan memutuskan untuk menghindari rentetan serangan Zero.
"Aku tidak akan bercanda lagi. Ayo, hadapi aku jika kau memang divine beast." seru Zero.
"Sigh, kau pikir aku peduli. Aku hanya ingin pengalaman," gumam Phankar dengan pelan. Namun, Ultimate skill: Natural acceleration memungkinkannya untuk mendengar perkataan Phankar, meski di tengah pembombardiran bola api.
Zero melesat maju menuju bayangan yang bergerak cepat menghindari bola api. Ekspresi Zero tampak sangat serius. Matanya menatap tajam ke arah di mana Phankar pergi.
"Flame sword!"
"...!" Phankar terkejut.
"Zero sword style, flame sword breaking the divinity!"
Seluruh api di tubuh Zero, termasuk bilah Flame sword berubah menjadi warna biru ketika Zero sedang menarik pedangnya ke belakang dan hendak mengayunkannya. Notifikasi system terdengar saat itu juga.
[Panas api pada 'Mad mode' telah ditingkatkan!]
[Panas api 'Mad mode' telah mencapai tingkat menengah.]
Suhu api mulai naik, tubuh Zero terasa membara. Tubuhnya menjadi lebih ringan dan menjadi semakin kuat. Itu adalah efek buff dari 'mad mode.'
Phankar yang terkejut, terlambat untuk menghindar. Kaki kanan depannya terputus oleh bilah Flame sword yang berevolusi dalam api biru yang memanjang.
Bekas alur ayunan pedang Zero menjalar hingga beberapa ratus meter ke depan.
'Ini lumayan juga, ya.' kata Zero dalam hati sambil melihat api biru di tubuhnya dan di bilah Flame sword.
'Namun ...'
Zero memperhatikan Phankar yang telah terbebas dari penggunaan Legendary skill: United with the dark. Kaki kanan depannya mengeluarkan darah ungu yang terus mengalir keluar. Phankar tersungkur dengan menahan rasa sakit dan erangan.
"Urrrk." erang Phankar.
Zero dan Phankar saling menatap. Mereka seolah-olah dapat mengidentifikasi kemampuan lawan hanya dengan bertukar tatap.
'Makhluk ini ... dia benar-benar berbahaya! Aku tidak tahu jelas ukuran kemampuannya. Aku hanya melihat kehampaan dalam matanya. Apa-apaan ini?!' kata Phankar dalam benaknya.
'Phanter ini, dia lumayan juga. Aku akan menjadikannya pelayanku.' kata Zero dalam hati.
Di saat Phankar dan Zero saling menatap, Balph dan kawanannya sedang berjuang untuk mengalahkan Lioka sang singa matahari.
__ADS_1
'Sial! Dia benar-benar kuat! Kekuatan kerjasama kami saja tidak akan mampu melawannya. Strategi apapun yang aku gunakan tidak akan pernah menang melawan kekuatan mutlak. Tapi, meski begitu, aku harus mengulur waktu untuk Tuan!' pikir Balph.
Balph dan kawanannya kewalahan dengan serangan yang dilancarkan oleh Lioka.
"Dengan ini! Aku akan mengeksekusimu!"
Lioka mengayunkan cakarnya ke kepala Balph. Namun, kejadian tak terduga terjadi. Itu bukanlah perkembangan yang diinginkan oleh Zero. Zero belum tahu konsekuensi dari membunuh seorang pelindung.
Tiba-tiba, pohon-pohon raksasa rubuh satu persatu. Getaran tanah terasa sangat kuat seperti gempa bumi. Pohon-pohon raksasa yang setinggi sekitar 5 km jatuh, diikuti dengan pohon lain.
Zero terkejut dan langsung melihat ke arah asal getaran. Begitu pula dengan yang lain. Phankar, Lioka, Balph dan kawanannya serta Zero melihat ke kedalaman hutan yang gelap nan sunyi.
Kreak!
Kreaaak!
Boooom!
Suasana saat itu sangat hening. Hanya ada suara pohon roboh dan gempa. Bayangan sesosok raksasa dapat terlihat dengan samar di sana. Itu adalah raksasa. Itu benar-benar raksasa. Raksasanya dewa dan divine beast.
Jika bagi manusia, dewa seperti raksasa yang memiliki tinggi puluhan meter hingga beberapa ratus meter, maka ini adalah dewa-nya para dewa. Itu adalah makhluk yang sangat besar. Tingginya melebihi dewa yang telah dilihat Zero.
Zero tercengang dan bertanya, "Apa ... itu?"
***
Bam, bam, bam, bam ...
Langkah kaki raksasa terdengar dan menggema di seluruh Great Forest Berm. Kecerdasan dan wawasan Zero telah meningkat pesat. Dia dapat mengetahui apa yang ada di sana dengan kemampuan Ultimate skill: Divine detector. Namun, dia tidak dapat mengukur tingkat kekuatan raksasa itu.
Tanpa diduga, tubuh Zero bergetar menggigil dan bulu kuduknya berdiri tanpa disadari. Itu karena Zero tidak dapat merasakan apapun dan perhatiannya terfokus pada bayangan raksasa.
"Itu adalah ... Titan!" seru Phankar, Balph dan Lioka secara bersamaan tanpa disadari.
Zero bertanya kembali pada Phankar, "Titan?"
"Ya," jawab Phankar.
Zero tahu penyebab tercengangnya Phankar. Zero tahu penyebab mengapa titan itu muncul. Zero hanya dapat memastikan satu hal dari semua informasi yang dia kumpulkan sejauh ini. Itu adalah ...
"Barier telah rusak," seru Phankar.
Barier adalah sebuah penghalang yang mempunyai fungsi khusus yang tersedia, tergantung pada metode pembuatannya. Sekarang, Zero tahu alasan pemimpin serigala Balph, beruang hitam raksasa Gorlo, burung hantu raksasa Oflo, kura-kura hijau raksasa Tock, macan kumbang hitam Phankar dan singa matahari Lioka, disebut sebagai pelindung. Itu karena hal yang ada di depannya.
Zero memang berpikir beberapa alasan mengapa binatang-binatang ini disebut sebagai pelindung. Tapi, ini tidak ada dalam pikirannya.
"Sial! Ini sudah terjadi! Aku harus menghentikannya!"
Lioka berseru dan bersiap menghadapi titan. Kaki Phankar yang terpotong telah tumbuh. Pelindung yang tersisa bersiap menghadapi titan.
"Sial! Aku belum bisa menghadapi titan pada kekuatanku saat ini, tapi ... Harga diriku akan terluka jika aku melanggar janji."
Kata-kata kutukan keluar dari mulut Phankar yang pendiam. Zero hanya melihat ketika Phankar dan Lioka berkumpul dan mengaum.
Sekarang titan itu telah berada satu kilometer di depan. Atmosfer lingkungan mereka mulai terasa berat. Suasana menjadi mencekam ketika titan itu berhenti berjalan.
"System, beri aku informasi mengenai titan!" seru Zero pada system.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tekan like jika kamu suka cerita ini.
Tekan love jika kamu suka novel ini.
Dukung author dengan vote dan hadiah.
Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.
__ADS_1
Terimakasih