[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 36 ~ Bahaya Yang Telah Datang


__ADS_3

Aufa Xydford. Dia adalah seorang wanita cantik yang memiliki bakat berpedang dan sihir. Dia adalah ahli pedang sihir. Penampilannya yang sangat cantik membuat orang-orang yang melihat permainan pedangnya, menjadi terkesima dan tertegun. Rambut oranye-nya mengingatkan kita pada langit saat fajar dan sore hari, dapat kita lihat darinya.


Terlahir di keluarga ternama sebagai penerus yang sangat menjanjikan bagi Keluarga Xydford, membuatnya terkekang oleh aturan keluarga dan membuatnya terbebani. Tapi, mau bagaimanapun, dia hanyalah perempuan. Dia tidak dapat menjadi kepala


keluarga dan adik laki-lakinya iri dengan kemampuan kakak perempuannya.


"Kenapa ... Kenapa malah dia yang memiliki bakat yang lebih daripada aku?!"


Sang adik juga depresi oleh bakatnya yang tidak dapat dibandingkan dengan kakak perempuannya.


Suatu hari, seorang murid sekolah beladiri Keluarga Xydford, bernama Kapzeth. Seorang pria dari keluarga rakyat jelata, tapi memiliki ambisi besar dan bakat yang mumpuni. Itulah Kapzeth.


Kapzeth dengan bakat dan keindahan permainan pedangnya saat berdual dengan Aufa, membuat Aufa terpesona. Bagaimanapun, Aufa hanyalah seorang wanita muda dan Kapzeth adalah pria muda. Mereka saling jatuh cinta.


Adik dari Aufa, Beqyd — Beqyd memerhatikan dan mengetahui mereka memiliki rasa cinta. Jadi, dia bersekongkol dengan tunangan dari Aufa. Tunangannya adalah bangsawan Baron, Dega de Vois.


Mendengar berita ini, dia memutuskan untuk bertindak. Tapi, Aufa dan Kapzeth telah pergi kabur. Dega mencarinya terus, namun hasilnya tidak pernah ada.


Ya, hasilnya tidak ada. Sampai saat 1 bulan setelah dia menyerah saja.


***


Trumble, trumble.


Suara gemuruh terdengar di Hutan Karle yang berasal dari hentakan kaki pasukan monster dan hewan buas yang di bawa seorang bangsa iblis. Iblis itu berasal dari ras Green Ogre dengan nama, Orgen.


Dia berjenis kelamin pria dan memiliki tubuh kekar dan besar seperti raksasa. Tingginya sekitar 3 meter dengan berat sekitar 500 kg. Massa ototnya yang besar dan ketat, membuat lengan dan anggota badan yang dilapisi otot terlihat tegang dan keras. Urat-urat pembuluh darah membesar dan menonjol sampai itu dapat terlihat hanya dengan melihatnya.


Malam itu, Desa Kotora dalam keadaan yang sama seperti biasanya di musim panas. Namun, tanpa di sadari ini mungkin adalah hal terakhir desa ini berdiri.


Tidak. Itu hanya kemungkinan saja. Yah, itu juga jika aku membantu mereka.


***


"Baiklah, kali ini giliranku untuk jaga malam, ya."


Potu — Seorang prajurit yang cukup berbakat. Dia bertugas menjaga desa di malam hari saat ini. Namun seperti biasa, dia cukup bersemangat dengan tugasnya.


Tapi, tidak, setelah dia merasakan kehadiran pasukan monster dan hewan buas.


"A-apa itu?!"


Tubuhnya mengigil dan bertanya pada dirinya sendiri. Dia bertanya-tanya, 'Apakah aku ketiduran?'


Dia merasa sedang bermimpi. Mimpi buruk yang seharusnya tidak pernah terjadi. Tapi, sekarang kejadian tak terduga telah terjadi.


Sebagai seorang prajurit, dia harus mengutamakan keselamatan warganya. Karena itulah, dia dengan sigap naik ke menara pengawas dan membunyikan lonceng.


Teng, teng, teng ...


Suara lonceng bergema di seluruh Desa Kotora. Dalam sekejap, semua orang yang ada di dalam rumah, keluar dan panik. Ini adalah bunyi lonceng kedua yang pernah terjadi sejak beberapa tahun lalu.


"A-ada apa ini?"


Para warga desa bertanya-tanya. Lalu, seorang prajurit yang membunyikan lonceng berteriak.


"A-ada kawanan monster dan hewan buas yang kemari. Orang-orang yang dapat bertarung, tolong bantu kami menghalau kawanan itu!" Potu menjelaskan dengan napas yang terengah-engah.


Para pengembara dan orang-orang asing yang tinggal di Desa Kotora, semuanya tahu tentang tanda dari bunyi lonceng ini. Semua pemburu, pengembara dan orang-orang yang menyukai desa ini, mulai bergerak menuju ke gerbang barat desa.


Suasana bar yang aku tinggali menjadi panik dan orang-orang yang suka bertarung pergi untuk menghadapi kawanan monster dan hewan buas.


Di sebuah bar, hanya aku saja yang tidak pergi keluar.


'Yah, meski Hagle dan Barosa juga tidak keluar.'


Kemudian aku bangkit dari kursi dan berkata, "Mari kita lihat, seberapa bagus pertunjukan ini!"

__ADS_1


Setelah menaruh koin emas di dekat gelas yang aku minum, aku pun berjalan keluar dari bar yang ada di bawah penginapan.


***


"Ayah, kawanan monster akan datang. Kita harus melawan mereka."


Ghiri memanggil ayahnya dan memberitahu berita yang diberikan seorang prajurit yang datang ke rumahnya.


"Apa? Kawanan monster?!"


Kapzeth yang sedang bingung dengan masalah yang akan terjadi karena masalah dengan bangsawan Baron, sekarang dia menjadi terkejut oleh kejadian kawanan monster yang akan datang.


Kapzeth terburu-buru dan mengambil semua peralatan untuk melawan kawanan monster.


"Ayo pergi!"


***


Banyak orang-orang yang telah mengungsi dan orang-orang yang pergi ke gerbang barat untuk bertarung. Meski begitu, mereka tidak merasa khawatir lagi.


Itu semua terjadi karena kehadiran Kapzeth dan anaknya Ghiri di medan pertempuran. Mereka mempercayai ayah dan anak itu.


Serigala hitam, harimau, monster rusa besar bertanduk dan makhluk lain, hendak menghancurkan tembok.


"Tembak!"


Potu memberi perintah pada pemanah dan anak panah ditembakkan dari dalam gerbang desa.


Pphiw, pphiw...


Tapi, semua anak panah tidak ada yang mengenai target. Anak panah yang ditembakkan hanya jatuh di tanah yang kosong.


Prajurit yang mengawasi keadaan dari menara terkejut. Matanya terbelalak karena melihat kejadian yang tidak bisa dipercaya.


Anak panah yang meleset ternyata disebabkan oleh oleh pusaran angin. Ini adalah manifestasi dari sihir angin milik ras green ogre.


"Se-semua anak panah telah meleset!"


Prajurit memberitahu semua orang dan mereka terkejut.


"Apa?! Apa yang sebenarnya terjadi?!"


Kapzeth bertanya kepada prajurit pengawas dengan nada keras dan keraguan yang sedikit samar.


"Tadi, ada pusaran angin yang cukup kuat untuk membelokkan anak panah, Pak!"


"Apa?!"


Saat Kapzeth berada di tengah kebingungan, gerbang mulai hancur oleh serangan rusa besar bertanduk.


Tidak butuh waktu lama, pintu gerbang yang terbuat dari kayu yang cukup tebal dan kuat, sekarang hancur. Kawanan monster dan hewan buas berhasil memasuki desa.


Di garis depan, ada Kapzeth dan anaknya, Ghiri. Mereka mengeluarkan pedang panjang yang ramping, tapi kuat.


"Ilmu pedang sihir, api yang membara ..."


Kedua orang itu melafalkan kalimat yang sama dan gerakan yang sama. Ghiri adalah orang yang kidal, sehingga tangan kirinya lebih mudah digerakkan daripada tangan kanannya.


Setelah menarik pedang dari sarungnya, mereka melangkahkan kakinya. Ghiri kaki kiri dan Kapzeth kaki kanan. Mereka berdampingan dengan Ghiri di sebelah kiri, sedangkan Kapzeth di sebelah kanan.


Mereka mengayunkan pedangnya dengan indah. Kaki mereka mulai bergerak seirama dan selaras sambil mengayunkan pedang. Hanya langkah kaki kiri dan kanan saja yang membedakan keselarasan mereka.


Seolah-olah sedang menari, mereka tampak terhanyut dalam tariannya. Pada langkah ke-5, api mulai keluar dari pedang.


"... jurus kedua, hukuman pedang api!"


Keduanya menyelesaikan gerakan dan mengayunkan pedang yang berapi. Ghiri mengayunkan dari kiri ke kanan, sedangkan Kapzeth mengayunkan dari kanan ke kiri. Mereka mengayunkan secara diagonal dan menghasilkan kobaran api di udara yang dilalui pedang.

__ADS_1


Serangan keduanya bersatu di tengah-tengah mereka. Kobaran api yang di hasilkan dari tebasan mereka berdua menjadi satu dan membentuk huruf 'V'.


Rusa besar bertanduk, hewan-hewan buas dan monster lain yang berada dalam radius 10 meter di belakang dan samping rusa, terkena serangannya. Tebasan nya memotong tubuh dan apinya membakar tubuh.


"Kieeeck!"


Kawanan yang terkena serangan gabungan Kapzeth dan Ghiri mengerang kesakitan. 3 monster dan 13 hewan buas berhasil di tumbangkan dalam sekali serangan.


"Wo-woaahh!"


Semua orang merasa kagum. Ekspresi putus asa dan ketakutan hilang dari wajah semua orang.


"Heee, segitu doang, kemampuan mereka, ya!"


Aku mengejek mereka dari atas rumah kepala desa.


"Yah, kurasa itu cukup hebat dibandingkan orang-orang lain, sih."


Aku memakluminya. Di dunia ini, kekuatan sangatlah penting. Tapi, perkembangan kemampuan orang-orang di dunia ini sangatlah lambat. Orang yang paling kuat saja hanya memiliki 2000-an pada statistik paling tinggi mereka.


Tapi, hal ini dapat di atasi dengan teknik, skill, sihir, energi dan yang paling penting adalah pengetahuan.


Semua orang merasa bersemangat dan moral para penyerang kawanan meningkat.


Tapi, itu hanya sesaat.


"Ya, hanya sesaat. Dia muncul."


Aku menyilangkan kedua tangan dan memperhatikan pertempuran mereka dari kejauhan.


Di sisi lain, putri kepala desa Kapzeth—Auna sedang melihat pertempuran di balik jendela di rumahnya. Meski jaraknya cukup jauh, dia mampu melihatnya. Asap tebal menutupi gerbang yang telah hancur dan sebuah kaki besar berwarna hijau muncul.


"Semoga kalian semua selamat! Aku mohon, dewa ... selamatkan lah mereka!"


Auna berdoa kepada dewa yang tidak diketahui siapa yang dia harapkan bantuan.


***


Step, step.


Dari kabut asap yang tebal akibat monster dan hewan buas yang terbakar, sebuah langkah kaki suara yang terasa berat di dengar semua orang.


Step, step.


Aroma daging yang terbakar hingga gosong memenuhi penciuman semua orang. Akhirnya, terlihat sebuah kaki yang besar dengan warna hijau tua dan otot-otot yang terlihat perkasa.


"A-apa itu?"


Salah seorang warga bertanya dengan nada ketakutan.


Tanpa waktu lama, sosok raksasa dengan kulit hijau muncul dan memenuhi bidang pandang semua orang.


Gigi taring yang berada di bawah, keluar dari mulut. Bagian tengah dahi terdapat dua tanduk yang saling berdempetan. Bagian tengah matanya berwarna hijau dan intinya berwarna merah. Kepalanya botak dan hanya terlihat kulitnya yang berwarna hijau saja.


Sebuah pedang besar dibawa di bagian belakang punggung. Bagian tubuhnya penuh bekas luka tebasan dan cakaran yang menambah kesan mengerikan. Ekspresi garang dan hembusan udara yang keluar dari hidungnya, menutupi wajahnya lagi.


Semua orang tertegun. Termasuk Kapzeth dan Ghiri. Semua orang tahu raksasa hijau itu. Itu adalah ...


"I-iblis!"


Kapzeth yang berpengalaman dalam berpetualang, langsung sadar dengan lawan yang ada di hadapannya.


Apakah Kapzeth mampu mengalahkan Orgen sang Green Ogre? Ataukah dia akan kalah dengan kekuatan Orgen?


Gulp.


Semua orang yang berada di sana menelan ludah untuk membasahkan tenggorokan mereka.

__ADS_1


__ADS_2