![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
Step, step.
Orgen berjalan melewati asap dari tubuh pasukannya yang terbakar oleh ilmu pedang milik Ghiri dan Kapzeth.
Ilmu pedang sihir, api yang membara — sebuah ilmu pedang sihir yang diciptakan oleh leluhur dari Keluarga Xydford. Aufa terlahir di keluarga itu. Tapi, dia kabur dan hidup dengan orang yang dicintainya.
Dia melahirkan 2 orang anak dan mereka bernama Ghiri dan Auna. Saat kedua anaknya masih kecil, dia telah ditemukan oleh Baron yang menjadi tunangannya. Dia mengancam bahwa desanya harus membayar pajak 5 kali lipat.
Suaminya yang merupakan kepala desa, menjadi bingung. Istrinya akan dibawa oleh Baron itu, jika tidak warga Desa Kotora akan menderita.
"Apa yang harus aku lakukan?" Kapzeth bingung. Dia membutuhkan kekuatan untuk mencapai keinginannya. Tapi, dia adalah orang lemah yang tidak berdaya.
Akhirnya, istrinya memutuskan akan pergi kepada Baron tersebut. Dia tidak ingin melihat wajah suaminya, Kapzeth menderita. Tapi, Aufa benar-benar bodoh. Dia meninggalkan Kapzeth dengan diam-diam dan Kapzeth lebih menderita.
Aufa telah diambil oleh Baron dan warganya harus membayar pajak 3 kali lipat. Kapzeth sangat sedih. Dia bahkan berniat untuk mengakhiri hidupnya. Tapi, dia tidak dapat melakukannya.
Dia harus menderita lebih lama lagi agar dapat mengurus warga dan anak-anaknya yang menderita.
"Kalian akan mati di sini!"
Suara serak dan mengerikan keluar dari mulut Orgen. Tidak ada yang memahami apa yang dia katakan. Mereka hanya mendengar suara seperti auman saja.
Tubuh mereka seketika bergetar ketakutan.
"La-lari?!"
Kapzeth menyuruh anak dan orang lain lari. Tapi, anaknya, Ghiri, tidak ingin meninggalkan ayahnya.
"Tidak, ayah. Aku akan menemanimu sampai selesai. Walaupun iblis itu dapat membunuh kita dengan cepat, tapi aku akan tetap menemanimu."
Ekspresi Kapzeth mengeras. Keningnya mengerut dan membentak Ghiri.
"Apa yang kamu katakan?! Apa kau ingin menyia-nyiakan pengorbanan ayahmu ini, hah?!"
Pengorbanan — Kapzeth berkorban untuk masa depan desa dan anak-anaknya. Dia telah menderita untuk waktu yang lama dan telah kehilangan istri kesayangannya. Tapi, dia masih tegar. Dia tidak ingin pengorbanan istrinya menjadi sia-sia.
"Cepat lari dan bawa adikmu?!"
"...?!"
Kapzeth benar, Ghiri telah melupakan alasan dia ingin menjadi kuat. Itu semua untuk adik perempuan yang dia sayangi, Auna.
Ghiri berlari membelakangi ayahnya yang sedang menghadapi Orgen dengan air mata yang berlinang.
Kapzeth melirik kembali kepada iblis yang ada di depannya dengan tatapan yang sangat tajam. Niat membunuh yang dipancarkan Kapzeth sempat membuat Orgen mundur satu langkah. Namun, selama dua minggu setengah dia tinggal di benua manusia, dia mengetahui banyak hal. Salah satunya adalah...
'Manusia itu lemah.'
Tapi, apa-apaan ini? Manusia di depannya sama sekali tidak merasa takut. Orgen bingung dengan niat membunuh yang besar tanpa rasa takut. Tapi, Orgen tersenyum ...
'Menarik sekali. Ini pertama kalinya aku merasakan sensasi untuk bertarung.'
Senyum Orgen tampak sangat mengerikan. Tapi, bagi Kapzeth yang telah memutuskan untuk tidak memperdulikan kehidupannya, dia sama sekali tidak peduli. Dia hanya menggengam pedang dengan kedua tangannya.
Orgen menarik pedang besar di belakangnya.
"Majulah, manusia!"
***
Di sebuah rumah yang berada di tengah Desa Kotora.
__ADS_1
"Aku mohon, kembalilah dengan selamat ... ayah ... kakak."
Auna berdoa di dalam kamarnya yang hanya diterangi lampu pelantik. Di kamar yang sunyi, dia mendengar suara langkah kaki yang tampak makin keras.
Tap, tap.
'S-siapa itu?'
Meski keluarganya adalah orang-orang yang ahli dalam seni pedang, Auna tidak memiliki bakat yang muncul. Jadi, dia sedikit takut.
Tap, tap.
Aku berjalan menuju kamar Auna, saat Orgen baru muncul dari balik asap.
Tok, tok, tok.
"Si-siapa itu?"
Aku mengetok pintu kamar Auna. Auna mulai ketakutan dan bertanya dengan suara keras yang bergetar.
"Aku penyelamat, aku akan menjawab doamu dengan apa yang akan kau korbankan. Boleh aku masuk?"
"Apa?"
Suara yang tidak dikenal masuk ke telinga Auna yang ketakutan. Tapi, suara lembut itu membuat dia merasa tidak takut.
"Lari?!"
Tiba-tiba sebuah teriakan warga yang menyerang kawanan monster di gerbang barat terdengar.
'A-apa yang terjadi?'
'Ayah ... kakak ....'
Auna merasakan firasat yang buruk untuk sesaat. Tapi, dia kembali mengingat apa yang aku katakan dari balik pintu.
"To-tolong masuk, Tu-tuan penyelamat!"
Akhirnya, Auna memutuskan untuk mempersilahkan orang misterius yang merupakan diriku. Aku — Crhono Zero langsung menjawab keputusan Auna dengan tindakan.
Clek.
Pintu terbuka dan sosokku terungkap. Pencahayaan yang kurang menyebabkan wajahku tidak terlalu jelas. Tapi, setelah dia mengarahkan lentera ke arahku, dia langsung terkejut dengan penampilanku yang mengenakan topeng DS.
Tubuh atletis dengan warna rambut yang sama dengan Auna. Pakaian dengan desain tak dikenal, tapi terlihat bagus. Pakaian ketat dengan warna hitam dan sarung tangan putih. Sosokku terlihat sangat misterius dan mencurigakan.
Namun, bagi Auna yang merasakan firasat buruk tentang ayah dan kakaknya, merasa dia harus mempercayaiku. Tidak ada pilihan lain.
"Apa ... apa kamu benar-benar dapat menolongku, Tuan Penyelamat?"
Auna bertanya padaku dengan air mata yang berlinang.
"Tentu saja."
"Ahhh!"
Auna tampak senang sesaat. Dia tidak tahu siapa aku dan kenapa aku menolongnya. Meski sebenarnya, aku menolong Auna karena kurang kerjaan saja.
"Tetapi, sebagai gantinya ... aku akan mengambil hal yang paling berharga bagimu."
Dengan nada datar dan tanpa peduli perasaan lawan bicara, aku membuat Auna terkejut.
__ADS_1
"A-apa?!"
"Haa ... haa ... haa ...."
Seseorang datang ke kamar Auna dengan napas yang terengah-engah.
"A .... Auna. Cepat, kita harus pergi. I ... iblis telah muncul!"
Ghiri memberitahu Auna untuk pergi dan terkejut dengan kehadiran seorang pria mencurigakan yang memakai topeng di kamar adiknya.
"Situasi macam apa ini, woi?!"
Pria mencurigakan sedang berada di kamar adiknya yang sedang menangis. Hal ini membuat Ghiri sebagai kakaknya menjadi marah.
"Berani-beraninya kamu!!"
Ghiri segera menarik pedangnya dan mengayunkannya ke arahku dengan marah.
"Kakak, tunggu!"
Auna hendak menghentikan serangan Ghiri. Tapi, itu semua sia-sia. Auna memejamkan matanya.
Suara tusukan ataupun tebasan pedang tidak terdengar sama sekali. Aku dengan santai menempelkan ujung telunjukku ke bilah pedang itu. Tapi, kekuatan serangan Ghiri terlalu lemah untuk menyerang-ku. Kekuatan Ghiri sekitar 300 dan aku memiliki milyaran poin pertahanan fisik.
Serangan Ghiri bahkan tampak lebih buruk daripada serangga, jika aku masih memiliki tubuh manusia normal.
"Apa?!"
Ghiri berteriak dengan terkejut. Serangan tanpa pandang bulu yang dipenuhi niat membunuh tidak dapat menggores ku.
"Kau harus cepat memilih. Jika tidak, ayahmu mungkin telah tiada."
Aku sedikit mengancam Auna agar tidak bisa menolak tawaranku. Ternyata hal ini sangat efektif.
Dari pembelajaran yang aku dapatkan di laboratorium, 'seseorang akan meminta tolong tanpa khawatir resikonya, jika mereka sedang terdesak ataupun hal yang berharga bagi mereka akan hilang.'
Memang benar bahwa manusia akan melakukan apapun untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Apalagi jika mereka sedang terdesak oleh waktu. Mereka akan seperti makhluk bodoh yang akan mengorbankan apa saja.
"Baiklah, aku terima syarat-mu itu."
Auna telah memutuskan dan mengatakan dengan mata percaya tanpa rasa khawatir. Aku pun tersenyum di balik topeng.
'Manusia memang ....'
"Tetapi, kau tidak boleh menyentuh keluarga-ku."
Di saat aku hendak mengatakan sesuatu di dalam hati, Auna dengan tegas menyatakan syaratnya. Aku sempat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Auna.
'Tidak disangka ... dia dapat berpikir seperti itu dalam waktu singkat.'
Di sisi lain, Ghiri yang berada di antara aku dan Auna, merasa bingung.
"Eh? Apa yang terjadi di sini?"
"Ada yang bisa memberitahuku?"
Tapi, aku dan Auna tidak menganggap keberadaan Ghiri.
"Hei!"
Ketegangan yang berlangsung sesaat, bagaikan waktu terlama dalam waktu singkat bagi Auna.
__ADS_1