![[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)](https://asset.asean.biz.id/-drop--supreme-world-s-system--sistem-dunia-tertinggi-.webp)
Area hutan hangus terbakar hingga radius beberapa ratus meter. Zero menatap kosong ke arah tanah yang menjadi seperti arang terbakar. Asap hitam terus-menerus keluar dan menutupi area.
'Sial! Aku harus cepat! Hanya tinggal beberapa menit lagi!'
Zero bergumam dalam benaknya dengan nafas terengah-engah sambil memegangi wajahnya. Api biru tampak mulai redup saat menyelimuti tubuhnya.
"Aku harus ke Balph dulu."
Zero berbalik dan menuju ke tempat Balph serta serigala lainnya. Sambil terbang, dia berpikir, 'Di mana tempat yang dapat dijadikan tempat istirahat, ya?'
'Tidak aku sangka. Dunia para dewa penuh makhluk berbahaya dan buas.'
'Aku kira hanya ada para dewa saja. Namun, ternyata banyak makhluk yang setingkat atau melebihi para dewa.'
Gumaman Zero berlangsung hingga dia tiba di tempat Balph dan serigala lain bersembunyi.
"Ah, sebelum itu, aku harus mematikan 'mad mode' dulu."
Kobaran api biru di tubuh Zero perlahan menghilang. Pakaian hitam yang Zero pakai hilang karena terbakar.
Tubuh indah Zero terekspos.
Sambil mencari pakaian di item box, Zero melihat-lihat tubuhnya.
"Sepertinya aku terlalu banyak bersantai."
Entah apa yang Zero pikirkan, padahal dia jarang istirahat akhir-akhir ini. Namun, satu hal yang pasti adalah Zero tidak menemukan satupun pakaian.
"Ah! Akhirnya dapat!"
Zero berhasil mengambil satu celana panjang dan celana panjang.
"Sigh, aku seharusnya tidak memberikan semua pakaianku kepada Alex."
"Yah, meski begitu, aku memiliki System, sih. Paling-paling celana ini akan hancur lagi. Jadi, aku tidak perlu membeli pakaian lagi dulu."
"Aku harus berhemat."
Zero mulai berlari dan menjadikan pohon sebagai lompatan untuk menuju Balph.
Sesampainya di sana.
"Balph, Apa kamu tahu tempat persembunyian yang aman di sekitar sini?"
Zero bertanya kepada Balph yang bersembunyi di sebuah gua dangkal. Itu seperti batu yang terdapat lubang di sampingnya dan membuat bentuk seperti gua. Zero terlihat sangat kelelahan. Nafasnya terasa berat.
"?! Ah, aku tahu, Tuan!"
Balph terkejut ketika mendengar suara Zero, karena dia tidak merasakan hawa kehadirannya.
'Seperti yang diharapkan dari, Tuan.' gumam Balph dalam benaknya.
Namun, ekspresi Balph segera menggelap.
"Namun ..."
"Namun?"
"Seperti yang Anda ketahui. Saya adalah 'guardian' dari Great Forest Berm. Jadi ..."
"Jadi, 'aku sudah lama tidak ke tempat itu dan mungkin tempat itu telah hilang.' Itu yang ingin kau katakan, benar?"
"I, iya, Tuan."
Zero menghela nafas seolah menjengkelkan. Padahal dia hanya ingin mengatur nafas. Namun, Balph menganggap helaan nafas Zero adalah bentuk kekesalannya. Balph merasa bersalah.
"Tidak apa. Kau tunjukkan saja lokasinya."
Zero menatap Balph dengan tatapan hampa.
"Ba-baik, Tuan."
Balph menjawab dengan menundukkan kepala karena merasa bersalah. Melewati hutan raksasa, Zero memutuskan untuk naik ke punggung Balph.
'Tubuh Tuan masih terasa panas hingga sekarang.' gumam Balph saat Zero naik ke punggungnya.
Zero pun di tuntun oleh Balph hingga keluar dari hutan.
"Tuan, ketika kita keluar dari wilayah Great Forest Berm, maka kita harus hati-hati. Para Titan sangat aktif di malam hari. Begitu juga dengan makhluk liar lainnya."
Balph menjelaskan apa saja yang perlu dilakukan saat keluar dari wilayah Great Forest Berm. Tanpa bersuara dan sembunyi-sembunyi, mereka akhirnya sampai di ujung hutan.
"Kita hampir keluar dari hutan, Tuan." (Balph)
"Oh, ya." (Zero)
Rerumputan menjulang tinggi melebihi tinggi rata-rata manusia. Zero melihat padang rumput raksasa yang sangat luas.
Perhiasan malam — Bintang-bintang menebar di sepanjang langit hingga cakrawala. Pemandangan spektakuler yang melebihi harapan. Terdapat genangan air bersih di depan. Sekarang, tempat itu menjadi jelas. Bukit dan pegunungan terbentang jauh di depan.
"Apakah di sini?"
Zero bertanya pada Balph yang sedang menghirup udara.
"Bukan. Ini masih wilayah yang sering di lewati Titan."
Balph mencondongkan mulutnya ke arah sebuah gunung.
"Kita akan pergi ke sana ... Ke arah pegunungan."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan kecepatan penuh. Balph menggunakan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya.
'Sepertinya, mulai dari sini tidak perlu terlalu waspada.' gumam Zero.
Setelah beberapa saat, mereka memasuki hutan yang baru lagi. Pohon-pohon raksasa menutupi hutan dengan rimbun. Kecepatan Balph mulai lambat. Tidak seperti sebelumnya, Balph berjalan lambat bukan karena hati-hati. Melainkan mereka hampir sampai tempat tujuan.
[Anda memasuki Great Forest Danaus!]
Dering System terdengar.
"Tinggal beberapa kilometer di depan. Tempat kelahiranku ada di sana!" kata Balph yang tampak senang
"Hooo, aku jadi ingin melihatnya. Bawa aku ke sana!" balas Zero.
__ADS_1
"Wooof~! Baik, Tuan!"
Balph mulai berlari lagi. Angin kencang mengguncangkan rambut Zero. Beberapa tanaman dan serangga seukuran batu besar bersinar di malam hari. Cahaya yang dipancarkan membuat efek seperti melihat cahaya mobil yang melaju di malam hari dengan cepat.
Cahaya tampak memanjang seperti dilukis. Akhirnya, Zero mendengar suara air terjun. Aroma sejuk terasa dan mencapai hidung Zero. Meski Zero tidak dapat merasakannya, Zero bisa tahu hanya dengan mengendalikan pernafasannya yang terasa lebih lega.
Balph berhenti berlari.
"Kita sudah sampai, Tuan!" ucap Balph.
"Oh, sudah sampai, ya?" tanya Zero.
"Apa ini tempatnya?" tanya Zero lagi.
"Iya, aku terlahir dan dibesarkan oleh orang tuaku di sini.
Zero melihat air mata menggenang di bola mata Balph dan tampak berkilau.
'Mungkin telah terjadi sesuatu di masa lalunya. Yah, setidaknya dia tidak terlalu terbawa emosi.' pikir Zero sambil turun dari punggung Balph.
Suara deras air terjun dan di bawahnya terdapat batu-batuan. Di bawah air terjun, terlihat air yang cukup dalam untuk seukuran manusia.
"Ini adalah salah satu anak sungai, dari Great River Danaus!" kata Balph.
"Mari, Tuan. Saya antar Anda ke tempat aman itu."
Kawanan serigala dan Zero mengikuti Balph. Balph pergi ke samping air terjun dan berteriak.
"PENGUASA ASLI HUTAN DANAUS ADALAH GREAT WOLF!"
Air terjun terbelah di tengah-tengahnya dan membentuk sebuah pintu masuk. Di dalamnya, terdapat gua yang terlihat gelap.
"Mari masuk, Tuan!"
"Ah, iya."
Zero mengikuti Balph yang melompat ke batu besar di tengah bawah air terjun dan masuk ke dalam gua.
'Bukankah ras milik Balph adalah Great Wolf Berm? Kenapa dia lahir di sini? Apa mungkin dia berevolusi karena tempat tinggalnya?' tanya Zero dalam benaknya.
'Yah, yang mana saja, aku tidak peduli. Tapi, aku akan menyelesaikan semua masalah yang akan menghampiriku.'
Ketika Zero melompat ke batu, percikan air mengenai tubuh Zero. Namun, air yang menyentuhnya langsung menguap.
Zero memperhatikan hal itu dan bergumam lagi, 'Tubuhku masih panas, ya.'
Serigala lain masuk ke dalam gua terlebih dahulu. Namun, Zero masih di luar dan memandangi bintang-bintang.
Balph yang menunggu di dalam merasa tidak enak.
"Tuan, Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Balph.
Zero menggelengkan kepala.
"Aku hanya ... Aku mungkin lelah."
"..."
Balph tidak membalas. Dia hanya maju ke depan dan duduk di samping Zero. Mereka melihat langit yang sama.
Zero lah yang membuka mulut pertama kali.
"Yah, saya rasa di sini tetap aman ... Seperti dulu."
Air mata menggenang di mata Balph ketika Zero melirik ke dirinya. Genangan itu tampak lebih banyak dari sebelumnya, seolah-olah matanya tidak dapat menahan dan akan menangis.
Zero menatap langit kembali.
"Kurasa kau benar."
"... Iya, Tuan."
"Bisa kau masuk dulu?"
" ...?"
"Aku ingin merasakan kesejukan air ini."
Zero melirik ke arah air terjun yang terbelah di atasnya.
"Baiklah, kalau begitu. Saya masuk dulu."
Balph masuk lebih dalam beserta serigala lain yang menunggu.
Zero menghela nafas.
"Haaa ... Musuh kuat akan terus muncul."
Zero duduk di batu itu.
"Tapi sebelum itu ... Aku harus mendinginkan tubuh dulu."
Air terjun yang terbelah mulai menyatu. Zero yang di bawahnya terkena kesejukan air itu.
'Aku mungkin tidak dapat merasakannya. Namun ... Setidaknya dapat membantu tubuh ini.'
Saat itu, uap air terus keluar ketika air terkena tubuh Zero. Zero duduk bersila sambil memikirkan hal yang akan dia lakukan di masa depan.
Keesokan harinya ...
Zero masih duduk bersila di atas batu besar, di bawah air terjun. Tubuhnya sudah tidak panas lagi. Itu karena air dari dunia dewa memiliki kandungan mana alam yang tinggi dan kesejukannya mempercepat pendinginan tubuh milik Zero.
Perlahan, sinar matahari bergerak dan mengenai mata Zero. Zero mulai membuka matanya.
"Waktunya latihan!"
Zero melakukan pemanasan dan melakukan beberapa teknik beladiri yang mampu meringankan beban tubuh. Ketenangan, keharmonisan dan kesempurnaan beladirinya berada di tingkat yang sangat tinggi.
Jika ada yang namanya 'dewa beladiri', maka Zero dapat dipastikan kalau dia mungkin setara atau lebih hebat darinya. Saat tinggal di bumi, Zero mempelajari berbagai teknik beladiri yang disediakan oleh laboratorium.
Dia menguasai semua yang dia lihat. Namun, tanpa diketahui oleh para ilmuwan dan peneliti, dia telah memodifikasi dan menyempurnakan gaya bertarungnya sendiri.
Dia sangat mahir dan dapat mengalahkan segala musuh yang disediakan oleh laboratorium. Dari beruang, buaya dan berbagai binatang buas lainnya hingga master seni bela diri terbaik yang mereka culik. Namun, beberapa tahun terakhir, Zero jarang menggunakan teknik beladirinya.
__ADS_1
Iya, itu sejak dia telah berhasil mengumpulkan semua pemegang System dan mulai bersekolah di SMA elite.
"Huff ...!"
Zero memukul angin dan keringat menyebar di udara karena dia memukul terlalu cepat. Angin yang dihasilkan sangat kuat dan membekas di salah satu pohon raksasa hingga bolong hingga ke beberapa pohon yang lain. Namun, itu belum cukup untuk merobohkan pohon raksasa. Mengingat bahwa diameter satu pohon biasanya memiliki panjang 30 meter.
"Tidak cukup. Pukulanku terlalu kecil!"
Zero menarik nafas dalam-dalam dan menyelesaikan latihan paginya. Keringat membasahi tubuhnya yang indah. Dia tampak begitu sempurna saat hendak meluncur ke kolam di bawahnya.
Slump!
Zero menyelam ke dalam kolam. Buih-buih mengikuti arah Zero pergi. Di dalam air, dia melihat beberapa ikan raksasa yang berkumpul.
'Apa itu? Ikan raksasa? Lumayan juga memakan mereka untuk sarapan.'
Gerombolan ikan menoleh ke arah Zero dan menghampirinya. Mulut mereka terbuka, seolah menemukan mangsa yang dapat di makan dengan mudah.
Flup, flup, flup.
Satu ikan raksasa menuju ke arah Zero dan akan memakannya.
Wiish!
Zero menghindar dan menendang mata ikan raksasa.
Bug!
Ikan raksasa terpental ke sisi batu dengan mata yang hancur dan berdarah.
Bam!
Dinding batu runtuh dan menenggelamkan ikan raksasa.
[Anda telah mengalahkan 'Danaus Gouramy.]
[Anda mendapatkan ...]
[Akumulasi pengalaman akan dijumlahkan dengan efek title dan skill yang Anda miliki.]
[Anda level up.]
[Anda mendapatkan item card ...]
Kemudian, Zero meledek gerombolan ikan raksasa dengan tangannya. Seolah-olah mengerti, gerombolan ikan raksasa saling menatap dan menyerbu Zero.
'Bagus! Ini baru namanya olahraga air!'
Beberapa saat kemudian ...
Balph bangun dan keluar dari gua. Aroma harum tercium ketika dia baru keluar.
"Aroma apa ini?"
Balph bertanya-tanya ketika Zero sedang membakar beberapa ikan raksasa. Itu adalah ikan gurami bakar dengan bumbu yang berasal dari negara bernama Indonesia.
Zero membeli berbagai bumbu seperti cabai, bawang putih, bawang merah dan kecap dari salah satu fitur System store. Oh, ya, dia juga membeli arang yang sangat benyak dan besar.
Tidak seperti biasanya, Zero mengaktifkan item card tanpa menghidupkannya. Sehingga tubuh gurami masih seperti waktu hidup dan segar.
Menusukkan tubuh gurami dengan kayu yang sangat tebal, Zero membolak-balikan ikan itu agar matang merata. Akhirnya, Zero selesai memasak dua ikan gurami raksasa.
"Balph, bangunkan serigala lain. Kita akan makan bersama."
"Baik!"
Balph berlari ke dalam gua dengan air liur yang menetes.
"Dasar, bersemangat sekali dia. Yah, bersemangat di pagi hari memang bagus, sih."
Dengan daun raksasa sebagai piring, Zero menyajikan makanan untuk para serigala dan dirinya secara terpisah.
"Kami telah siap, Tuan!"
Balph berteriak dengan bersemangat dan duduk dengan patuh.
"Bagus, kemarilah!"
Serigala lain dan Balph menghampirinya dan Zero memberikan ikan itu.
"Nih, silahkan dinikmati!"
"Woof~!"
Para serigala menggonggong seperti anjing.
"Hei, hei, jangan berisik kalau makan!"
"Woof!"
Para serigala menggonggong dengan pelan.
"Woahh~ Ini sangat enak, Tuan. Bagaimana cara Anda membuatnya?"
"Tentu saja itu adalah rahasia chef."
"Chef?"
"Iya, chef adalah ..."
Akhirnya, satu malam telah terlewati dengan selamat dan aman. Perjalanan untuk memiliki tubuh yang kuat akan panjang. Namun, dia akan tetap berjuang selama detak jantung yang menggebu itu terus berdetak.
'Benar, aku pasti akan menyelesaikannya!'
Zero menghela nafas dan mulai memakan makanan yang terasa hambar. Dia hanya bisa tersenyum pahit dan menerima kenyataan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tekan like jika kamu suka cerita ini.
Tekan love jika kamu suka novel ini.
Dukung author dengan vote dan hadiah.
__ADS_1
Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.
Terimakasih