[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)

[DROP] Supreme World'S System (Sistem Dunia Tertinggi)
Chapter 160 ~ Melawan Makishima


__ADS_3

"Pertandingan ke-10 hari ini, di sisi timur, Pahlawan dari dunia lain! Mari kita saksikan! Pahlawan Makishima!"


"UWOOO!"


Sorak sorai para penonton menggema di Arena Tarung ketika komentator menyambut Makishima.


Dengan senyum lembut di wajah tampannya, banyak wanita yang menggila. Dia melambaikan tangannya ke arah penonton ketika berjalan ke arena.


"Di sisi barat, petarung tak dikenal yang telah mengalahkan Goja dengan satu pukulan, Peserta Zack!"


"Ooooouuu!"


Banyak penonton yang tidak kalah banyak dari Makishima ikut bersorak untuk peserta itu.


Pemuda berambut hitam yang sedikit berwarna ungu ketika terkena sinar matahari berjalan dari pintu barat.


Kehadirannya begitu tipis, sehingga membuat orang tidak pernah menganggapnya ada. Tetapi jika dilihat dan memfokuskannya, maka mereka dapat memperhatikan pemuda itu meski terkadang terasa menghilang.


Akhirnya kedua pemuda berdiri berhadapan dengan jarak 10 meter.


Sekilas, mata mereka berdua saling memandang, seolah menembus penghalang untuk melihat isi hati masing-masing.


Aku menyeringai saat komentator memulai pertandingan.


"Tidak perlu basa-basi lagi, mari kita saksikan pertarungan kedua peserta!"


Para penonton dan komentator menghitung mundur jalannya pertandingan.


""3, 2,1!""


Saat hitungan terakhir, Makishima melesat ke arahku dengan gelombang Sihir Angin di kakinya.


"Wind Boost (Dorongan Angin)!" seru Makishima.


Tidak seperti pertandingan sebelumnya, Makishima lebih agresif untuk menyerang.


'Sepertinya dia menyadari kekuatanku,' pikirku.


Tapi, yah, paling-paling itu hanya sekilas saja. Makishima tidak mengetahui dengan pasti kekuatanku, dia hanya tahu bahwa aku adalah lawan terkuat yang selama ini pernah dia hadapi.


Saat ini, kami tidak menggunakan senjata apapun. Tapi, arena ini dipenuhi senjata usang yang berserakan.


Sambil melesat terbang rendah di udara, tangan Makishima mengambil pedang sepanjang satu meter.


Tanpa jeda, dia mempersempit jarak dariku dan menebas pedangnya.


Swish!


Sejak dimulainya pertandingan, baru satu detik berlalu. Tetapi Makishima telah mempersempit jarak dan menyerang dalam kurun waktu tersebut.


Benar-benar mengagumkan.


Aku menghindari serangan itu dengan gerakan minimal, kemudian menangkap tangan yang memegang pedang. Segera, aku mengangkat kaki dan berniat memberikan tendangan dengkul ke wajahnya.


"—!"


Makishima tersentak kaget, namun bergegas memblokir tendanganku dengan tangan yang lain. Saat tendanganku mengenai tangannya, bungan api memercik dan terjadi ledakan api.


Dengan kekuatan ledakan instan tersebut, seharusnya orang biasa akan terpental. Namun, aku melanjutkan tendangan menembus api ledakan dan menendang wajahnya.


Bugh!


"Ackh!"


Makishima mengeluarkan suara kesakitan secara spontan dan dirinya terlempar beberapa meter, jatuh tersungkur. Tendanganku tadi mengenai bagian pelipisnya, jadi dia pasti merasa pusing dan kesakitan oleh getaran di otaknya, jika tidak langsung pingsan.


Tampaknya dia masih bertahan.


"A-apa!? Luar biasa! Bagaimana ini bisa terjadi!"


Komentator terkejut, "Peserta Makishima terpental oleh tendangan peserta Zack!"


Di antara penonton juga terjadi keributan. Entah apa yang terjadi, tapi di sisi bangsawan dan keluarga kerajaan terjadi lebih banyak keributan dan keterkejutan.


Tujuan digelarnya Turnamen Tarung kali ini adalah menampilkan kekuatan Pahlawan demi menenangkan massa yang takut iblis.


Aku juga mengetahui tujuan tersebut.


Makishima mendapati pandangannya kabur dan kepalanya terasa sangat sakit, seperti disengat.


'A-apa yang telah terjadi?' Itulah yang dikatakan hati Makishima.


Serangan tadi membuatnya tersentak, pikirannya tidak bekerja dengan benar.

__ADS_1


Lagipula, serangan ku sebelumnya tidak diprediksi Makishima bahwa itu dapat menyerangnya. Dengan susah payah, dia memegangi pelipisnya dan mengalirkan Energi Sihir.


"Heal!"


Cahaya kehijauan muncul di telapak tangannya, kemudian terserap dalam kepalanya. Beberapa saat kemudian, rasa sakit dan pening yang dirasakan Makishima memudar.


Dia berdiri dengan sedikit goyah.


"Ugh, sialan, aku terlalu ceroboh."


Makishima bergumam ketika aku melihatnya berjuang untuk berdiri.


Kemudian, dia menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya.


"Namamu Zack, kan?"


"Benar … Tuan Pahlawan."


Aku memanggilnya 'Tuan Pahlawan' dengan nada mengejek. Tapi sepertinya dia tidak peduli.


"Kau kuat, jauh lebih kuat dari orang-orang yang pernah aku hadapi."


"....."


"Karena itu, buat aku bertambah kuat!"


Saat kalimat terakhir diselesaikan, dia berlari menuju diriku. Sepertinya dia telah menggunakan beberapa skill penguatan.


Kecepatannya memang telah melampaui manusia, dia secepat kuda perang yang berlari di medan perang.


"Baiklah, aku akan mengajarimu!"


Tapi bagiku, itu seperti jalannya siput yang sangat lambat.


Kali ini aku akan memerankan tokoh penjahat, yah, walaupun Makishima ini sebenarnya penjahat juga.


Lalu, aku berlari juga dan dalam sepersekian detik, jarak di antara kami menipis.


Makishima masih memiliki pedang rusak di tangannya, dia melemparkan pedang itu ke arahku.


Pedang berputar-putar tak menentu.


Dari cara melemparnya, dia jelas masih amatir.


Benar saja, ketika aku menangkis pedang itu, Makishima telah menciptakan pedang di tangannya yang terbuat dari Sihir Angin.


"Wind Blade!" seru Makishima.


Dia menusukkan pedang itu ke perutku, tapi itu belum selesai.


Tepat sebelum mengenaiku, dia menambahkan Sihir Api di serangannya.


"Inferno Blast!"


Pedang angin yang terdiri dari pusaran angin yang tajam mulai memercikkan bunga api.


Kemudian, angin dan api saling beresonansi.


Api yang membakar meletus dengan terarah ke arah diriku, sementara angin yang tajam menusuk tubuhku.


Makishima telah menyeringai dengan tampilan kejam, tapi aku juga balas menyeringai.


Tanpa diduga, serangan Makishima lenyap sementara sesuatu seperti tangan melesat dengan darah yang memuncrat.


Splat!


Senyum Makishima menegang ketika melihat tangannya menghilang dan darah keluar dengan deras.


"A … A …"


Makishima tergagap-gagap dengan mata terbelalak. Beberapa saat kemudian, rasa sakit yang intens menyebar ke seluruh tubuh dengan tangan yang terpotong sebagai pusatnya.


"Aaaarrrggghhh!"


Aku mengibaskan tangan yang telah memotong tangan Makishima. Meski begitu, aku tidak memiliki noda darah di sana.


Berkat kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata, aku juga berhasil membuat penonton tidak melihat.


Aku memasukkan jari ke telinga dan berkata, "Aduh, berisik sekali. Bukankah kau tadi ingin bertambah kuat?"


Makishima tersungkur dan menggeliat di tanah sambil meringis kesakitan. Wajahnya benar-benar terdistorsi oleh rasa sakit.


Air mata keluar, ingus dan air liurnya pun turut keluar.

__ADS_1


Aku memandangnya dengan jijik.


"Ewh, menjijikan. Apa kau tidak malu? Lihatlah penampilanmu itu."


Makishima yang menahan sakit menjadi marah dan menggertakkan gigi.


"Brengs*k … kau … Zack!"


Wajahku yang mengejek menjadi dingin karena perkataannya.


"Apa katamu?" tanyaku dengan intimidasi.


Makishima seketika itu juga merasakan kematian mendekati dirinya.


Aku pun mendekatinya, "Oke, oke, sepertinya kau masih belum belajar dengan benar. Biarkan aku mengajarimu sekali lagi."


Aku berjongkok dan meraih tangan lain Makishima yang masih normal. Kemudian aku menarik jari telunjuknya.


Clak!


"Ups, aku mematahkannya. Aku pernah membaca buku antropologi yang mengatakan bahwa jari itu memiliki peran yang penting. Contohnya, itu bisa membuat seseorang kehilangan keseimbangan saat mau dipatahkan."


"Aaaaargh!"


Makishima berteriak lagi saat aku menjelaskan.


"Hei, bisakah kau diam? Aku sedang mengajarimu."


"Urgh."


"Bagus, aku akan melanjutkannya. Oh iya, terutama bagian kelingking ini."


Aku menarik jari kelingkingnya.


"Meski ukurannya kecil, jika kau menarik kelingkingnya ke belakang seperti ini, orang yang lebih besar darimu pun bisa dikalahkan dengan mudah. Dia akan kehilangan keseimbangan oleh rasa sakit saat otot-ototnya bereaksi secara alami untuk menghilangkan kontraksi sehingga kehilangan kekuatan pada cengkraman."


Clak!


Aku mematahkan kelingkingnya.


"Ups, aku melakukannya lagi. Sial, aku harus berhati-hati, tapi mungkin tulangmu saja yang rapuh. Haish, bagaimana bisa tulangmu rapuh saat masih muda? Apa jadinya saat tua?"


"Aaarrgh!"


Makishima mengeluarkan jeritan yang menyakitkan lagi. Air mata keluar saat dia menahan rasa sakit.


Penonton dan komentator membeku oleh pemandangan tersebut.


"Benar juga, teknik mematahkan jari bisa kamu gunakan saat kau dicengkram atau dicekik. Aku merekomendasikan mematahkan jari kelingking seperti tadi. Kekuatan jari kelingking itu lemah tapi jika kau mematahkannya, itu akan mempengaruhi cengkraman lawan."


Aku menjelaskan lagi tanpa memedulikan jeritan Makishima.


"Baiklah, aku sudah mengajarimu untuk bagian jari. Sekarang aku akan mengajarimu cara mematahkan lengan lawan."


Mata Makishima menjadi dipenuhi teror saat aku meraih lengannya dan dia berteriak, "TIDAAAK!"


'Pelajaran' pun berlanjut hingga kondisi Makishima benar-benar mengenaskan. Matanya kehilangan vitalitas kehidupan, tampak layu dan mati.


Tangan, kaki dan anggota tubuhnya patah-patah dan dipenuhi memar hingga berdarah.


"Baiklah, sekarang ujian akhir. Mari kita lihat apakah kau benar-benar mendengarkan pelajaran ku atau tidak."


"....."


Aku melihat Makishima yang arah tubuh dan sendinya tidak normal.


"Umm, sepertinya kau tidak bisa melakukannya."


Lalu, aku mengalihkan pandanganku ke komentator.


"Hei, Tuan Komentator, pertandingan ini sudah selesai! Bisa kau umumkan pemenangnya?"


***


Tekan like jika kamu suka cerita ini.


Tekan love jika kamu suka novel ini.


Dukung author dengan vote dan hadiah.


Beri saran, kritik atau hal yang ingin ditambahkan dalam cerita di kolom komentar.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2